Kamis, Desember 29, 2011

Cinderella's Fairy : Chapter #1

Chapter #1 Cinderella's Fairy


Apa mungkin aku akan diberinya  kesempatan lagi? Saphira bertanya-tanya dalam hati. Matanya tidak bisa berhenti menatap wanita berotot yang sedang membaca sebuah buku tebal di depannya. Entah apa yang dibacanya hingga keningnya berkerut. Sampulnya berwarna putih polos. Tidak ada setitik tulisan pun yang bisa dibacanya untuk mengetahui judul buku itu. Mungkin itu buku tulis. Mulut wanita itu terkunci rapat. Kata-kata yang nanti dilontarkannya akan menentukan masa depan Saphira.
Wanita berotot itu meletakkan buku besar yang sejak tadi dipegangnya di atas meja. Mulutnya sedikit terkuak. Jantung Saphira berdetak lebih cepat, mulutnya komat-kamit membaca doa tanpa suara.
Semoga dia memberiku kesempatan lagi, semoga dia memberiku kesempatan lagi...

Namun wanita berotot itu hanya bersin. Saphira mendesah kecewa. Sudah hampir satu jam mereka duduk berhadap-hadapan. Tapi wanita berotot itu belum  menunjukkan tanda-tanda untuk mengabulkan permintaannya: memberinya satu kesempatan lagi. Harapan, meski kecil, masih bercokol di hati Saphira. Selama wanita itu belum berkata tidak atau menggelengkan kepala, dia tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk. Dia masih ingin berkunjung kembali ke dunia manusia.
Saphira berusaha keras untuk mengabaikan kata-kata temannya yang kembali terngiang di kepalanya. Kesempatan keempat? Hal mustahil untuk diperoleh. Bahkan meski dirinya adalah murid Akademi Peri paling cemerlang sekalipun. Ditambah fakta bahwa Kemaro, kepala Akademi Peri, wanita dengan badan yang kekar, bukanlah orang yang memiliki kemurahan hati.
“Kamu masih ingat dengan Riska, Saphira?” wanita kekar itu mendadak bertanya, sambil menyeka hidungnya dengan saputangan.
“Saya… iya, saya masih ingat,” Saphira hendak menjelaskan perihal Riska, tapi kemudian buru-buru meralat ucapannya.
Tentu Saphira masih ingat dengan Riska. Cinderella ketiga yang menjadi tanggung jawabnya. Riska meninggal karena kecelakaan. Kecelekaan jelas bukan kesalahannya. Namun hanya ada satu fakta ketika Riska tak bisa bersatu dengan Pangerannya. Tugasnya sebagai Peri Cinderella gagal!
Wanita berotot itu mengangguk. Raut mukanya menunjukkan kekecewaan. Saphira menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali dia menghela napas panjang sejak dia terkurung di ruangan itu. Dia mulai bisa menebak apa yang akan terlontar dari bibir Kemaro.
Sejak kecil Saphira bermimpi bisa tinggal di dunia manusia, bumi. Almarhum orang tuanya sering menceritakan keindahan bumi. Airnya yang jernih seperti kristal. Dedaunan hijaunya yang mengingatkannya pada batu zamrud. Gunung-gunung yang menjulang gagah yang kadang menggunakan topi salju di puncak kepalanya. Belum lagi aneka flora dan faunanya yang beraneka ragam. Dia ingin sekali menjelajah tiap sudut bumi untuk melihat semuanya.
Dalam impian terliarnya, dia ingin sekali mencoba hidup sebagai manusia.
Ketika Penugasan pertamanya di Bumi, Saphira merasa sedikit kecewa. Mungkin orangtuanya terlalu berlebihan dalam menceritakan keindahan bumi. Dia sulit sekali menemukan yang namanya air jernih. Hampir setiap air sungai yang ditemuinya airnya berwarna cokelat. Dan bila beruntung, mendapatkan bonus barang-barang yang mengambang. Sama halnya dengan hutan. Penebangan liar jelas yang terparah. Saphira menyayangkan tindakan mengubah areal hutan menjadi pemukiman manusia.
Tapi bukan berarti bumi tidak indah. Masih banyak keindahan yang ditawarkan olehnya. Bahkan manusia itu sendiri merupakan karya seni yang tiada duanya.
“Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir,” kata Kemaro di luar dugaan.
Butuh beberapa detik bagi Saphira untuk memahami kalimat yang dilontarkan oleh Kepala  Akademi Peri sebelum dia bersorak gembira.
“Maaf,” katanya buru-buru ketika melihat tatapan Kemaro yang tidak senang.
“Jangan senang dulu. Ini--” dia bersin lagi. Tampaknya dia terkena flu. “--kesempatan terakhirmu. Aku hanya memberimu waktu dua minggu.”
Mata Saphira kontan membesar. “Dua minggu?? Tapi...”
Dua minggu adalah waktu yang sangat singkat. Waktu standar penugasan seharusnya antara empat sampai enam bulan. Namun bila Kepala Akademi Peri telah berkata dua minggu, maka Saphira harus menerimanya. Satu protes saja akan membuatnya kehilangan Penugasan ini. Dan itu artinya dia akan terperangkap di Komunitas Peri selamanya.
Sebenarnya Komunitas Peri sama indahnya dengan bumi. Tanahnya yang seputih kapas. Langitnya yang selalu cerah dan ditaburi bintang-bintang--baik siang maupun malam. Hanya saja, Komunitas Peri tidak seluas bumi. Flora dan faunanya juga tidak sebanyak di bumi. Pemandangan terindah ada di sekitar istana Ashan--tempat Ratu Peri dan keluarganya tinggal. Tapi beberapa lokasinya, terutama yang ada penjaganya, terlarang untuk umum.
Kalau pun Saphira beruntung, dia masih bisa menjadi Penjaga Perbatasan. Mungkin tidak sesuai dengan hatinya, Penjaga Perbatasan tidak diijinkan meninggalkan Komunitas Peri. Tapi itu lebih baik dari pilihan karir bekerja di pabrik produksi yang kerjanya duduk seharian.
“Kamu keberatan?” Tanya Kemaro. “Waktu dua minggu terlalu lama? Mau...”
“Tidak,” sambar Saphira. “Dua minggu saya rasa... cukup.” Saphira menampilkan senyum terbaiknya. Berterima kasih karena masih diberi kesempatan. Apalagi yang bisa dia lakukan?
Kemaro memberi Saphira benda yang sudah tidak asing lagi baginya. Bola bening keempat yang diterimanya. Bola seukuran buah leci. Bola yang akan menuntunnya menemukan Cinderella dan pangerannya.
“Hati-hati dengan pilihanmu,” kata Kemaro sebelum Saphira mengucapkan terima kasih sekali lagi, pamit, dan berjalan keluar.
Sebenarnya kata-kata terakhir Kemaro adalah sebuah pesan khusus. Setiap peri pasti mendapatkannya ketika Penugasan. Saphira mendengar desas-desus bahwa pesan khusus itu ramalan dari Kepala Akademi Peri.
Sangat dianjurkan untuk mematuhi apa yang dikatakannya. Tapi tidak semua kata-katanya mudah dimengerti. Seperti saat penugasannya sebagai peri pendamping Riska. Hingga sekarang, Saphira tidak bisa memahami arti kalimat Kemaro: “Hindari konfrontasi. Belum waktunya.”
Kadang Saphira bertanya-tanya, apakah sebuah kalimat bisa dikatakan ramalan bila kalimat itu mengandung teka-teki? Kenapa tidak menggunakan kata yang lebih mudah dipahami, semisal “hati-hati, ada lubang di jalan” daripada kalimat misterius seperti “perhatikan sekitar, berhati-hatilah karena kegelapan akan menelanmu.” Kadang kalimat seperti itu cukup membuat frustasi.
“Gimana?” Sambut Lado, sahabat Saphira, yang sedari tadi menunggunya di luar ruang Kepala Akademi, sambil membenahi letak topi rajutnya. Topi yang tak pernah sedetik pun terlepas dari kepalanya—setidaknya saat berada di luar rumahnya.
Saphira pernah bertanya kenapa Lado selalu memakai topinya. Alasannya sangat sederhana, warna topi itu sesuai dengan cahaya cokelat yang memancar dari sayapnya. Saphira sering menyebutnya topi anak-anak. Bentuknya yang kecil hanya menutupi sebagian kepala Lado. Rambut bagian depannya mencuat seolah mencakar keningnya.
Melihat wajah sahabatnya yang tampak cemas sekaligus ingin tahu  timbul ide jahil di benak Saphira. Dia langsung memasang muka sedih sambil membayangkan seolah dia tidak diberi kesempatan oleh Kemaro. Meratapi nasibnya yang malang karena hanya bisa melihat bumi dari kejauhan. Dan untuk lebih meyakinkan lagi Saphira menghela napas yang sangat panjang. Hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi selama satu jam di dalam kantor Kemaro dia tak henti-hentinya menghela napas panjang keputusasaan--semacam latihan tanpa sadar.
“Lado, Aku... ” entah darimana getaran dalam suara Saphira. Dia sampai geli melihat reaksi sahabatnya. “Nggak kuat.”
Siapa yang tidak akan iba? Saphira telah menunggu saat ini begitu lama.  Untuk mengajukan diri ke Penugasan ulang, butuh waktu paling sedikit satu tahun. Seperti mengulang satu tahun masa sekolah. Para murid yang mengulang Penugasan disatukan dalam satu kelas khusus: kelas Nomor dua.
Entah kenapa diberi nama Nomor Dua. Mungkin angka dua dikonotasikan sebagai perulangan. Ruang kelasnya juga sangat luas. Dua kali lipat dari kelas biasa.
“Kamu yang sabar ya, Saphira,” kata Lado, matanya menatap Saphira iba. Dia meraih tangan Saphira. Menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya.
“Paling tidak aku masih bisa jadi Penjaga Perbatasan.” Saphira menundukkan kepalanya dalam. Bibirnya dibuat bergetar—Saphira sangat ahli dalam memperagakan bibir yang kedinginan—seolah itu usaha terakhirnya agar air matanya tak tumpah.
“Tapi itu pekerjaan berat.” Lado terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Kekhawatiran yang menurut Saphira berlebihan.
Penjaga Perbatasan adalah pilihan karir bagi peri yang kebanyakan tidak lulus Penugasan selama tiga kali berturut-turut. Murid Akademi Peri masih dinyatakan lulus dari sekolah. Tapi selama masa hidupnya dilarang berkunjung ke Bumi. Dalam kasus Saphira, bisa dikatakan dia sangat beruntung.
Tapi ada juga yang memang sejak awal menginginkan pilihan karir penuh bahaya itu. Lado tidak salah menyebutnya sebagai pekerjaan berat. Sebab setiap hari Penjaga Perbatasan harus siap siaga menghadapi serangan dari pixie.
Pixie masih merupakan bangsa peri. Hanya mereka tidak seperti peri, yang  ramah pada manusia. Mereka makhluk penuh amarah dan ingin mengambil alih bumi dari tangan manusia. Tangan yang menurut mereka membuat bumi rusak dan sakit-sakitan.
Namun tugas Penjaga Perbatasan belum apa-apanya bila dibandingkan dengan tugas Penjaga Perdamaian. Penjaga Perdamaian bertugas di Bumi—salah satu keuntungannya. Memastikan para pixie tidak membuat onar. Memastikan mereka tidak membuat skenario kecelakaan; sedikit hal yang paling disukai para pixie.
Tidak semua kecelakaan hasil perbuatan pixie. Seperti kecelakaan Riska contohnya. Saphira yakin hal itu bukan ulah pixie. Hal itu murni suratan takdir. Ditambah fakta tak terlihat satu pun Penjaga Perdamaian berkeliaran di dekat lokasi Riska mengalami kecelakaan. Penjaga Perdamaian memiliki alat khusus, teknologi peri yang canggih, yang bisa mendeteksi keberadaan para pixie melalui sihir terakhir yang mereka lancarkan.
Bila Saphira lulus kelas Penyembuhan Pertama, mungkin dia akan memilih melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi supaya bisa berkarir sebagai Penjaga Perdamaian. Tentunya prioritasnya supaya bisa bebas keluar masuk ke Bumi. Seperti Lado yang tahun depan lulus dan mulai bertugas di sana.
Bila seorang peri memilih untuk melanjutkan pendidikannya lebih tinggi, maka dia harus belajar tiga tahun lagi.
“Sebenarnya, aku nggak kuat… nahan ketawa.” Tawa Saphira kemudian meledak.
“Dasar!” Lado ikut tertawa, setelah pemuda peri itu menoyor pelan kepala sahabatnya. “Jadi?“
“Aku diberi kesempatan, Do! Kamu percaya itu? Aku diberi kesempatan!” Saphira buru-buru menutup mulutnya. Tidak ingin Kemaro menghampiri mereka, Saphira mengajak Lado berjalan bersisian, sambil mengobrol, menuju pintu gerbang sekolah.
“Kali ini kamu pasti bisa lulus,” kata Lado, kedengaran sangat yakin. Seharusnya itu kalimat yang diucapkan oleh Saphira. Tiga kali Lado mendengar sahabatnya mengucapkannya, membuatnya jadi hapal sendiri. “Kamu tahu, kamu adalah peri pertama yang melakukan penugasan lebih dari tiga kali!”
“Aku tahu. Aku tahu,” kata Saphira, senyum merekah di bibirnya. Tapi kemudian teringat dengan waktu yang diberikan oleh Kemaro, dan wajahnya sontak digelayuti mendung. “Sebenarnya, aku agak kurang yakin bisa...”
“Tumben pesimis,” kata Lado, heran. “Biasanya kamu menganggapnya sepele dan dengan angkuhnya bilang 'aku pasti lulus.' Ada apa?”
Mungkin itulah penyebab kegagalan Saphira tiga kali berturut-turut. Dia terlalu percaya diri. Terlalu tinggi menilai diri. Terlalu menyepelekan tugasnya.
“Entahlah. Mendadak aku merasa tak yakin bisa melakukannya.”
“Jangan begitu. Bagaimana kamu mencapai keberhasilan bila kamu sendiri merasa tak yakin?”
Saphira tertawa. Terpukau oleh kalimat bijak sahabatnya. “Kamu benar. Kalau begitu aku harus bergegas.”
“Kenapa? Main ke Kafetaria dulu yuk. Kita rayakan penugasan keempatmu. Mungkin kita bisa pesan secangkir sari buah.”
Saphira menggeleng. Seandainya dia mendapatkan penugasan dengan waktu standar, tanpa perlu pikir dua kali dia akan menerima ajakan Lado.
“Dompetmu kering ya?”
Saphira tertawa lagi. “Salah satunya. Tapi aku harus bergegas.”
“Emang Bumi mau kiamat ya?”
Saphira terkikik. “Tentu saja tidak.”
“Lalu,” Lado berdecak. “Kenapa kamu terburu-buru?” Tanya Lado lagi dengan penekanan tiap suku kata di akhir kalimatnya.
“Kemaro hanya memberiku waktu dua minggu.”
“Dua minggu?!” Lado sampai menghentikan langkahnya. “Tapi waktu Penugasan kan standarnya empat atau enam bulan?”
“Kamu tahu Kemaro. Dia hanya memberi penawaran. Ambil atau kau menolaknya.”
“Mungkin kamu salah dengar. Bisa saja Kemaro bilang dua bulan tapi kamu dengarnya dua minggu.”
“Telingaku masih berfungsi dengan baik. Trims.”
“Tapi waktu segitu mana cukup?”
“Cinderella dan pangerannya sebenarnya sudah saling jatuh cinta. Tugas kita sebagai peri Cinderella, memastikan cinta mereka bersatu.”
Lado sering mendengar kalimat itu meluncur dari mulut sahabatnya. Biasanya kalimat itu terlontar setelah Saphira mengucapkan keoptimisannya bahwa dia akan lulus.
“Itu artinya kamu tidak ada waktu jalan-jalan lagi.”
“Soal itu… ” Saphira meringis.
 Saat penugasan-penugasan sebelumnya Saphira selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Jalan-jalan ke sumatra mencari bunga Raflesia Arnoldi yang dari informasi yang didapatkannya merupakan bunga terbesar di dunia. Lalu ke Jawa Barat untuk melihat jenis-jenis anggrek. Terutama dia ingin menyaksikan anggrek macan yang katanya jenis anggrek terbesar. Terakhir saat Penugasan Riska, Saphira menyempatkan diri untuk melihat kupu-kupu di Bantimurung, Sulawesi Selatan. Dia penasaran apa kupu-kupu disana benar-benar ditangkap lalu diawetkan.
“Aku tidak bisa mencegahmu untuk itu. Tapi jangan buang-buang waktu penugasan dengan jalan-jalan memenuhi hasrat manusiamu.”
Hasrat manusia adalah istilah Lado untuk menyebut rasa ingin tahu Saphira yang berlebihan pada bumi dan manusia.
“Aku janji akan mendengar nasihatmu kali ini.”
“Aku harap begitu. Lagipula dengan kamu lulus Penugasan ini, kamu bisa leluasa jalan-jalan di Bumi.”
Lado menawarkan diri untuk mengantar Saphira hingga ke stasiun Plang-Gi. Stasiun penghubung antara dunia peri dan manusia.
Dari semua dongeng peri yang beredar di kalangan manusia, yang paling sesuai dengan kenyataannya adalah mengenai pelangi sebagai jembatan penghubung dunia manusia dan dunia peri. Setiap peri memancarkan cahaya dari sayapnya—tubuh juga, tapi tak seterang sinar yang dipancarkan oleh sayap. Warna cahayanya beragam. Seperti warna pelangi itu sendiri. Menyamarkan kedatangan para peri ke Bumi.
Stasiun Plang-Gi letaknya tidak terlalu jauh dari Akademi Peri. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Atau kurang dari lima menit dengan terbang.
Saphira memang ingin cepat-cepat pergi dan melaksanakan tugasnya. Tapi dia ingin berjalan kaki. Menikmati langit cerah Komunitas Peri. Langit yang selalu cerah. Terutama ketika matahari pulang ke peraduannya. Bintang dengan genitnya mengedipkan mata ke siapa saja yang menatapnya.
Sesampainya di stasiun Plang-Gi mereka disambut oleh keramaian yang telah menjadi ciri khas tempat itu. Meski dari luar bangunannya terlihat kecil, stasiun Plang-Gi sanggup menampung lima ratus peri di dalamnya. Dalam Harian Peri--satu-satunya surat kabar di Komunitas Peri, Saphira pernah membaca stasiun Plang-Gi merupakan tempat terluas keempat setelah istana Sang Ratu, alun-alun, dan Akademi Peri. Dan karena letaknya di pinggir--Komunitas Peri terletak di langit, stasiun Plang-Gi menjadi tempat pertama dengan jumlah Penjaga Perbatasan terbanyak.
“Aku harus beli tiket dulu,” kata Saphira, sambil berjalan ke loket lima yang antriannya sedikit. Hanya ada tiga peri yang mengantri disana. Dua peri bersayap merah. Satu lagi bersayap hijau.
Saphira tidak bisa tidak membandingkan stasiun Plang-Gi dengan stasiun di Bumi yang pernah dikunjunginya. Ketika  di Penugasan keduanya dia pernah melihat orang-orang saling serobot untuk mendapat giliran pertama mendapatkan tiket. Saking jengkelnya Saphira nyaris menyihir manusia-manusia tak kenal sopan-santun itu bila Cinderellanya tak melarangnya.  Di stasiun manusia, Saphira juga menemukan beberapa orang yang memiliki tiket berlebih kadang menjualnya  dengan harga lebih mahal sedikit—biasanya mereka disebut calo oleh manusia. Pemandangan yang biasa ditemukan di stasiun-stasiun di Bumi tapi tidak di Plang-Gi. Di Komunitas Peri kata antri dijunjung tinggi. Mungkin karena peri memiliki umur panjang maka mereka merasa tidak perlu terburu-buru seperti halnya manusia.
Sayangnya dia tidak bisa menilai bagian dalam kereta api manusia. Cinderella keduanya membatalkan perjalanannya.
“Tujuan?” Tanya peri penjual tiket saat tiba giliran Saphira.
“Indonesia.”
Di dekat pintu masuk stasiun Plang-Gi Saphira sempat mengintip sedikit isi bola beningnya untuk memastikan tempatnya bertugas. Dia bersyukur Kemaro selalu memberinya Penugasan di Indonesia. Salah satu negara di bumi yang menurut Saphira memiliki keindahan alam tiada duanya.
Dia juga menunjukkan bola beningnya pada penjual tiket. Bukan untuk memamerkannya, tapi untuk mendapat potongan setengah harga tiketnya. Biasanya penjual tiket menatap bola bening tak senang. Seolah mereka berharap bola itu tak pernah diciptakan. Yang sebenarnya konyol. Ketika mereka kecil dan masih menjadi salah satu murid di Akademi Peri mereka pasti menerima bola bening dengan gembira. Tanda seorang peri sudah cukup belajar di Akademi dan waktunya untuk Penugasan. Kecuali dia memilih melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi seperti Lado. Mereka yang melanjutkan ke tingkat dua tak mendapat bola bening.
“Sudah saatnya,” kata Lado muram.
Saphira sudah kembali berdiri di hadapannya. “Kamu kenapa sih?” Tanya Saphira sambil mengikat rambut biru panjangnya membentuk ekor kuda. “Seolah ini Penugasan pertamaku saja.”
“Habis rasanya sepi tanpa kehadiran si peri cerewet dan jahil yang membuat aku terus-terusan khawatir,” kata Lado lalu tertawa.
“Siapa peri cerewet dan jahil itu?” Tanya Saphira pura-pura marah.
Lado terkekeh. “Ada deh.” Dia kemudian memberikan pelukan selamat jalan. Melambaikan tangan begitu Saphira masuk ke koridor pemberangkatan.
Sambil menunggu giliran menyeberang, Saphira mengintip lagi bola beningnya. Mencari tahu nama Cinderella yang menjadi tanggung jawabnya kini. Empat huruf melepaskan diri dari deretan keduapuluh enam abjad lalu berpendar merah.
Rosa. Nama yang cantik.
Saphira berjalan mantap ke arah jalur nomor 62. Penugasan sebanyak empat kali berturut-turut di tempat–negara–yang sama membuatnya merasa tidak perlu membaca jalur mana yang bisa digunakannya menyeberang di tiketnya. Ratusan jalur di stasiun Plang-Gi diberi nomor berbeda. Dan tiap jalur mewakili satu negara di Bumi.
Petugas yang ditempatkan di tiap pintu masuk jalur selain memastikan tak ada satu peri pun yang akan salah masuk jalur,  mereka juga bertugas memeriksa tiket sebelum seorang peri diperbolehkan menyeberang.
“Penugasan lagi?” Tanya peri pria penjaga jalur. Saking seringnya mereka bertemu, mereka jadi saling kenal meski tak mengetahui nama satu sama lain.
“Yang terakhir,” jawab Saphira seraya menyerahkan tiketnya.
Peri penjaga jalur itu menerima tiket dari Saphira. Melihatnya sekilas lalu memasukkannya ke kotak kecil di sampingnya. Kotak itu bersinar sebentar.
“Semoga beruntung.”
Cinderella dan pangerannya memang ditakdirkan bersama. Dan sudah saling mencintai sejak lama. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Masa depan adalah sesuatu yang belum pasti. Semua hal mungkin terjadi.
Siapa yang bisa menjamin Saphira tidak teledor lagi dan membiarkan Cinderellanya telat mendatangi pesta dansa seperti Penugasan perdananya? Atau bagaimana bila  Cinderellanya menghilangkan sepatu kacanya tidak hanya satu, tapi keduanya, sehingga pangerannya tak bisa menemukannya layaknya di Penugasan keduanya? Dan bagaimana bila kecelakaan yang menimpa Riska di penugasan ketiganya terulang lagi?
Saphira butuh lebih dari keberuntungan untuk lulus. Selama ini dia selalu ketiban sial.
“Terima kasih,” kata Saphira sambil tersenyum. “Aku sangat membutuhkannya.”
Dia menunggu sebentar sebelum berjalan masuk ke jalur keberangkatan. Ketika jalurnya berubah warna menjadi putih—tanda bahwa jalurnya sudah disesuaikan dengan tujuannya, Saphira berderap masuk setelah berteriak, “Indonesia. Aku datang!!”
-End of Chapter #1-

PS. Cinderella's Fairy merupakan novel pertamaku yang diterbitkan secara self-publishing. Novel ini sudah bisa dipesan di nulisbuku.com. Hanya dengan Rp. 37.000,- Kamu sudah bisa memiliki kisah dari Saphira dalam melaksanakan penugasannya sebagai Peri Cinderella, yakni menyatukan cinta antara Cinderella dengan pangerannya. Bila masih bingung bagaimana caranya teman-teman bisa membaca tata-caranya di halaman ini.

PSS. Sinopsis bisa dibaca disini
Share:

5 komentar:

  1. I've already bought your book! :p Now i'm waiting on its sequels ;)

    BalasHapus
  2. Ditunggu saja ya dan doakan semoga lancar :)

    BalasHapus
  3. wah udh bisa buat novel..
    kereennn..

    oh iya bisa minta komentarnya gak disini?
    http://herzablog.blogspot.com/2011/11/seandainya-saya-menjadi-anggota-dpd-ri.html
    makasih yah sblmnya :)

    BalasHapus
  4. makasih, makasih,

    jangan lupa beli ya, haha

    BalasHapus
  5. keren,,,salam kenal yah,

    boleh dong tuker link, buka link http://www.cosmoflorist.com/ ini yah,



    makasih.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^