Minggu, Desember 18, 2011

Siapa cepat, dia boleh duduk dimana saja

Masih ingatkah kalian dengan masa ketika kalian masih polos, Masih duduk di bangku Sekolah Dasar alias SD?

Saat ditanya seperti itu, kalian pasti terdiam. Melompatkan diri ke lemari berkas di dalam bank data utama (baca: otak). Mencari file-file lama dan mulai menjawab, “dikit” atau “ada yang ingat, ada yang enggak. Kenapa?” Atau (kalau mau narsisan dikit) “tumben-tumbenan tanya gitu. Mau kenal aku lebih jauh ya?”

Banyak hal datang dan pergi. Menambahkan cerita tersendiri pada kisah kehidupanku. Salah satunya ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ada begitu banyak hal yang masih aku ingat hingga hari ini. Dan karena aku sudah setuju untuk mengerjakan pe-er dari sahabatku, (nama bekennya) Hasrul, maka aku akan membaginya “sedikit” kenanganku pada teman-teman (biar nggak dibilang narsis, haha)

Aku sengaja membuatnya sebagai list lebih supaya aku nggak ngelantur dan membuat cerita ini sepanjang novelet.

Satu-satunya anak cowok yang mau duduk dengan anak cewek
Jumlah murid kelas satu adalah 18. Dari 18 itu ada tiga cewek bernama Kristin, Ludia, dan Tatik. Karena ganjil dan bangku harus diisi oleh dua orang, maka aku terpilih menjadi teman sebangku Tatik (karena teman-temanku dulu tidak ada yang mau duduk dengannya--seingatku sih gitu).

Rika Umami, maybe she is my first crush, haha
Diantara semua murid cewek pindahan, mungkin dia yang paling meninggalkan kesan bagiku.
Hal yang paling aku ingat (ada beberapa poin aku lupa) adalah ketika aku dan sahabatku, Hadi, dan beberapa anak lain main entah-apa-aku-lupa. Tim dibagi dua kelompok. 3 cowok dan 3 cewek. Entah apa yang kami lakukan, yang aku ingat, tim yang kalah harus dijewer oleh tim lawan. Semua anak saling jewer-menjewer bergantian. Tapi aku dan Rika nggak mau. Aku hanya mau dijewer oleh Rika. Dan begitu pula sebaliknya.

“Cie, Ferry (panggilan akrabku dulu, haha) dan Rika, udah kayak orang pacaran aja,” celetuk Hadi. (Well, kata-katanya beda, tapi kurang lebih seperti itu)

Ketemu Michael Ferry
Entah siapa dia, aku saja lupa bagaimana wajahnya. Yang aku ingat dia keturunan Tionghoa, dia tampak sedih, dan namanya Michael Ferry. Yang menanyakan namanya kalau nggak salah sih Hadi, terus dia memanggilku mendekat dan berkata, “nama kalian sama-sama Ferry.”

Kami bertemu dia ketika jam pelajaran olahraga. Karena lapangan sekolah kami kecil, dan lapangan terdekat kurang nyaman dan panas, guru olahraga kami mengajak ke (mungkin) bekas lapangan parkir dari mall kecil, Sinar (FYI, saat aku SD aku tinggal di Surabaya dan Sinar sendiri merupakan tempat aku dan teman-temanku sering nongkrong buat main game koin --bukan ding-dong).

Jadi ada apa dengan Michael Ferry, selain namanya sama kayak nama depan kamu, Jun?

Nggak ada. Aku hanya ingat dia ramah, itu saja.

#gubrak

Tergila-gila pada kasti
Kami sekelas, baik cowok maupun cewek yang berjumlah 5 orang saja--Tatik udah pindah, 3 cewek murid pindahan lain adalah Rika, Dani, dan Yanti (dulu ada Stella, tapi dia hanya setahun bersekolah di tempat kami, SDN Sukomanunggal IV), suka banget bermain kasti. Kami sekelas juga patungan buat beli tongkat kasti warna hijau, kuning, dan pink yang besar dan bola kasti agar kami tetap bisa main kasti sepulang sekolah.

Aku cukup jago. Aku juga nggak pernah mecahin kaca. Lariku juga cepat. Masa-masa SD adalah masa dimana aku sangat bahagia di dalamnya. Bahkan kadang aku rindu dengan masa-masa itu.

Ngomong-ngomong, siapa ya yang terakhir bawa pemukul kasti hasil patungan tadi? Apa mungkin Hadi? Hmm...

Rebutan bangku
Ini dia kenangan yang paling aku ingat. Terjadi saat aku duduk di bangku kelas 5--atau kelas 6?

Gimana sih, Jun? Katanya paling ingat? (¬_¬)

Heheh, namanya juga kenangan lama (/_\)

Bu Sudji, wali kelas kami di kelas 5 dan 6, mengusulkan agar tidak monoton maka setiap seminggu sekali kami harus berpindah-pindah bangku. Satu bangku hanya diduduki oleh satu orang. Minggu ini deret satu, maka minggu kedua deret dua, dan seterusnya. Hal itu menginspirasi anak-anak juga untuk menetapkan aturan.

“Siapa cepat, dia duduk dimana pun dia suka,” entah siapa yang bilang gitu. Mungkin Hadi. Dia itu sahabatku yang otaknya selalu dipenuhi ide gila, hahah.

Semua berjalan lancar. Nggak ada apapun yang terjadi. Hingga, aku dan Dani rebutan bangku no dua di baris pertama (baris di depan meja guru). Kami berdua sampai nangis lho hanya demi bangku ini. Ejekan dari seseorang, dan bujukan Hadi agar aku duduk di bangku ketiga, bangku depan tempat duduknya, tidak kuhiraukan.

Akhirnya, karena nggak ada yang mau kalah, hingga acara tangis bareng, Dani diseret ibunya pulang (ibunya adalah guru di sekolah kami). Hari itu dia bolos sekolah, kayaknya.

Pas aku nemuin Dani di Facebook, dia nyeletuk, “eh ini Ferry kan, yang rebutan bangku sama aku dulu?”

Aw aw aw, ternyata bukan hanya aku yang ingat dengan hal itu XD

Well, masih banyak cerita menarik yang terjadi di SD. Tapi nggak mungkin semua nya aku ceritakan. Ada juga kejadian menarik ketika kunjungan tim penyuluh mengenai bahaya cacingan. Ada juga ketika saat kami, kebanyakan sih melibatkan aku dan Hadi kadang juga Darma, sahabatku yang lain, tapi dia sering nggak masuk jadi dia melewatkan banyak hal, berpetualang entah kemana dengan naik sepeda. Ohh iya ada satu lagi, kenang-kenangan dari mereka.

Maaf belum berakhir, satu lagi ya.

Dua!

Satu! Kamu kira iklannya Ayu ting-ting (--")
Nah, itu foto guntingan kuku dari Hadi dan Darma. Kenangan-kenangan mereka sebelum aku pindah ke Nganjuk. Aku pindah ke Nganjuk, ke tempat eyangku, meneruskan sekolah disana (ato disini), karena alasan klise: ekonomi.

Awalnya gini, aku dan Hadi disuruh Bu Sudji buat fotokopi. Nah, di tempat fotokopi itulah guntingan kuku itu dijual disitu. Selama menunggu petugas memfotokopi dokumen, mataku tak bisa lepas melihat guntingan kuku itu. Ada gambar kucingnya! Dulu aku terobesi dengan apapun yang ada kucingnya. Dulu aku juga sangat terobsesi untuk bersih-bersih kukuku. Harga gunting kuku itu 2500. Itu udah mahal banget di jaman itu.

Berarti kamu suka Hello Kitty ya Jun, secara dia kan kucing?

Hello kitty?? Yang bener aja! Suka juga sih, tapi nggak sampai terobsesi, haha :p

Ketika hari-hari terakhir di sekolah, Hadi dan Darma bersikap aneh. Klise sih sebenarnya, tapi jaman dulu kan aku lugu banget, jadi aku nggak tahu kalau mereka ternyata hanya akting. Saat itu aku berkata dalam hati, “Apa salahku? Kenapa mereka marah-marah padaku?”

Pas mau pulang sekolah, mereka menarikku ke belakang kelas. Karena mereka marah-marah, aku pikir aku mau dihajar habis-habisan, nggak tahunya mereka malah minta maaf. Lalu memberiku hadiah gunting kuku itu sebagai hadiah perpisahan karena kepindahanku.

Tentu aja aku terharu. Aku juga malu karena telah berprasangka buruk pada mereka. Lalu berterima kasih pada mereka :')

Hingga kini gunting kuku itu masih ada dan masih kugunakan. Well, karena hanya gunting kuku ini yang bisa menggunting kuku jempol kakiku. Dua gunting kuku udah jadi korban dan patah ketika mencoba menggunting kuku jempol kakiku.

Tuhkan, panjang banget postingan ini (--") langsung aja kemana pe-er ini aku teruskan. Ini dia daftarnya

1. Dunan
2. Edda

Nah, bagi yang mendapat pe-er (HARUS DITERIMA) mohon segera dikerjakan ya =p

Seberapa banyak teman-teman ingat dengan memory di masa kalian masih mengenakan seragam merah-putih?

Share:

6 komentar:

  1. Oalah... dapet PR... (~_~
    Oke deh... dapet bahan postingan lagi (T^T

    BalasHapus
  2. waah,, dapat PR lagii
    totalnya jadi 3 #pingsan
    tp temanya sama
    hihiihihi :p

    nanti ku kerjain, jun.
    konsen proposal penelitian dlu hehehe :D

    BalasHapus
  3. flash back..nih.. indahnya masa kecil..

    BalasHapus
  4. Wow.. more about Jun in the past is on here.. ^^ Good article, bebs ;)

    BalasHapus
  5. masa2 sekolah memang paling banyak cerita. ini sebenernya bisa jadi novel ketimbang postingan pendek gini, he

    BalasHapus
  6. >> Rinaldy
    hahaha

    >> Edda
    sip, haha

    >> Fajar
    iya, hehe
    Masa kecil adalah masa-masa indah dimana hidup tidak serumit sekarang, haha

    >> Asti
    haha, Thanks :p

    >> Rusydi Hikmawan
    Aduh, gimana ya? Masa SD terlalu sederhana untuk dijadikan novel :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^