Rabu, Januari 11, 2012

Next Destination: Stars in the Sky #2

Tuhan sering bicara pada kita. Kita hanya harus peka pada pertanda yang diberi oleh-NYA.

Seperti yang dibahas di bagian satu, ada tiga novel yang dipinjamkan Fifit, temanku di MTs, yang paling aku ingat. Dua buku diantaranya sudah aku sebutkan di part #1, kini giliran buku ketiga. Buku karangan salah satu penulis favoritku, Meg Cabot.


Meg Cabot. Tahukah kamu bahwa sebelum dia aktif menulis novel-novel Young-adult dia menulis novel-novel ala-ala harlequeen dengan nama Patricia Cabot? Kalau pun tidak tahu, sekarang kalian tahu, hehe.

Aku mengenal Meg Cabot pertama kali--jelas masih karena Fifit--lewat bukunya All-American Girl. Buku yang unik. Mengisahkan mengenai seorang gadis yang menyelamatkan presiden dari teroris.
Apa itu buku ketiga yang kamu maksud, Jun?
Bukan. Bukan itu. Buku yang lain. Salah satu buku dari serial yang, menurutku, melambungkan namanya: Princess Diaries. Buku ke-(berapa) dari seri itu: Princess in Waiting (PiW).

Di PiW, Mia, tokoh utama dari kisah itu, berlibur di Genovia, negeri yang akan diperintahnya suatu saat nanti. Banyak masalah yang ditimbulkannya karena terlalu banyak meracau. Lalu kemudian dia sadar, dia tidak jago dalam urusan bahasa lisan. Dia sadar dia lebih bagus ketika menulis.

Mia secara garis besar memiliki kesamaan denganku. Kurang asertif. Terkesan pendiam tapi kalau sudah ngomong susah untuk dihentikan. Dan... Kami sama-sama suka banget menulis.
Hampir setiap kejadian, dulu sebelum aku kenal blog, aku sering menuliskan peristiwa sekecil apapun--dari menemukan kerikil berbentuk unik, hingga mendapat lauk tambahan untuk makan malam--di dalam buku harianku.

Apa ini pertanda? Aku bertanya dalam hati. Apa aku menjadi penulis saja?
Seperti yang aku tuangkan dalam bagian satu dari tulisan bersambung ini, aku berdoa meminta dan bertanya pada Tuhan, apa yang bisa aku lakukan di masa depan? Dan DIA menjawabku. Dengan cara sederhana, lewat novel young-adult yang dipinjamkan oleh temanku.

Semenjak itu, aku bukan orang yang sama lagi. Aku memiliki pegangan. Aku memiliki tujuan. Hidup terasa indah dan tak monoton lagi.

Kemudian, aku mulai menulis. Kisah yang terinspirasi dari game di Playstation, Final Fantasy. Danny dan Planet Reath. Cerita fantasy, tentu saja.
Setelah kelar lima bab, aku menunjukkannya pada Fifit. Dia bilang bagus. Dia paling suka bab dua, bab yang juga aku sukai. Aku masih ingat komentarnya, “masa baru di bab awal tokoh utamanya sudah mati?” Meski setelah dibaca lanjutannya, dia tahu itu semacam "efek kejutan", hahah.

Lalu, bagaimana kelanjutan naskah Danny dan Planet Reath? Dikirimkan ke penerbit tapi ditolak, atau selesai tapi teronggok di sudut kamar?

#to-be-continued...

Share:

12 komentar:

  1. aku paling senang dengan semua pengetahuan ini, terima kasih sudah berbagi ilmu

    BalasHapus
  2. waiting for your full story in our 'hiding room' ;) *if you get what i mean* ;) by the way.. Nice article though :)

    BalasHapus
  3. >> Gubuk ilmu
    dan hanya itu komentarnya :))

    >> DMK
    ini tulisan harian sih, senang bila kamu suka :))))

    >> Asti
    thanks. Ditunggu aja ya :D

    BalasHapus
  4. naskah baru ya?
    keep writing bro,
    apapun yang terjadi nanti,
    jangan dipedulikan dulu,
    yang lebih penting prosesnya,
    ya kan?
    :)
    salam pena,

    note:kali ini postingnya langsung aku baca, kagak pake copas :p

    BalasHapus
  5. >> Maryana
    Bukan naskah baru
    oke, pasti dong. Kamu juga ya, sis ^^

    PS. Yakin nih baca langsung? cepet-cepet pasti :))

    BalasHapus
  6. emang lagi jadwal blogwalking,
    jadi kebaca langsung,
    hayoh,
    gantian!baca postingku yang panjanggggggggggggggggggggggggg

    BalasHapus
  7. >> Sang Cerpenis
    hahah, iya nanti kak, masih belum jadwalnya :p

    >> rmaryana
    males ah :))

    BalasHapus
  8. di cubit geura ku sayah....
    *keluar tanduk*
    gak semua panjang kok.......
    ntar mah ada yang pendek... :p

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^