Senin, Februari 27, 2012

Bocah penjual cookies

Bocah lelaki itu sengaja melepaskan sepatu bututnya di luar dapur. Sepatu yang kekecilan itu kadang mendecit ketika digunakan berjalan. Misinya mengendap-ngendap di dapur akan gagal bila dia menimbulkan kegaduhan.
Bocah itu berjingkat masuk. Kepalanya berputar kesana-kemari. Rasa cemas membayang di wajahnya. Pintu dapur yang terhubung ke luar rumah bisa terbuka kapan saja. Jendela kaca bisa membuat seseorang yang berada di luar rumah mengetahui aksinya.

Tanpa sadar dia menahan napasnya.
Satu langkah. 
Dua langkah.
Tiga langkah.

Dia berhasil tiba di meja dapur.

Dia kembali menelan kekecewaan saat menemukan satu piring dan diletakkan tepat di tengah meja. Jauh dari jangkauan tangan mungilnya.

Bocah itu menatap pintu dan jendela sekali lagi. Masih tidak ada tanda-tanda orang mendekat.

Perlahan sekali dia menarik salah satu kursi kayu. Tenaga kecilnya tidak mampu membuat kursi itu bergeser. Dicobanya lagi. Kali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya. Kursi kayu itu akhirnya menyerah dan menuruti keinginan si bocah kecil berumur 9 tahun itu, mundur beberapa puluh senti.

Sebelum dia memanjat kursi yang baru digesernya, bocah itu memandang sekitarnya lagi. Dia cukup khawatir derit kursi beradu dengan lantai tadi didengar seseorang. Seseorang yang ditakutinya setengah mati.
Tapi tidak. Orang itu tampaknya masih sibuk di luar. Bocah itu berharap semoga orang itu berada selama mungkin di luar rumah melakukan entah apa.

Tiga buah donat saling bertumpuk di atas piring itu. Baru saja bocah itu mengangkat salah satu donat. Nyaris saja mulutnya dibanjiri rasa manis roti dan meisses cokelat. Pintu yang sejak tadi ditatapnya lekat tertutup. Seseorang yang ditakutinya muncul dari pintu lain. Pintu dari ruang tengah.

"Apa yang kamu lakukan?!" Bentak wanita itu. Matanya yang tajam mengulitinya. Rambutnya yang sebahu mencuat berantakan, menambah kesan kegarangannya. Tangannya terangkat. Refleks si bocah merendahkan kepalanya, pasrah menerima pukulan dari wanita itu. "Itu bukan buat kamu!"

-Versi lengkap akan hadir dalam buku kompilasi cerpen bersama gank twitter kami, hehe-

Share:

11 komentar:

  1. Indeed. Very tragic. aku beneran ga menduga akhirnya dia akan menghembuskan nyawa terakhirnya :(

    Tapi ceritanya bagus, bebs. Makin mateng aja nih nulisnya... :D *iyalahh*

    Good luck, bebs! :D

    BalasHapus
  2. lebih baik akhirnya seperti ini dari pada pulang dan dimarahi..

    BalasHapus
  3. Ini bab 1 lagi ya jun? -,-” tega nian kamu membuatku penasaran lagi (_ _")_/'(><”|!) *timpuk*
    well seperti biasa efek “penasarannya” mantap! Tapi kenapa menggunakan kata cookies? bukan kue kering coklat saja? lebih Indonesia ._. tapi kepanjangan ya?
    hmm alurnya cepat, terlalu cepat untuk saya :p tapi secara keseluruhan si bagus. Tapi baru bab 1-nya, kalau sudah baca keseluruhannya baru bisa memberikan penilain secara mendalam ._. *ya ampun bahasaku* #plak

    BalasHapus
  4. Ceritanya ditulis sendiri ya gan?

    BalasHapus
  5. >> Asti
    Makasih, hehe. Doain menang ya? :p

    >> Okty
    Hehehe

    >> Dweedy
    Bukan. Ini cerpen, Nan. jadi nggak perl penilaian mendalam :p
    soalnya dalam peraturan kontesnya harus ada unsur cookiesnya :))

    >> Mas Jamal
    tentu saja mas :)

    BalasHapus
  6. Taman Bacaan ikutan menyimak cerpennya brother...

    BalasHapus
  7. Cookiesnya beracun dude ?? yang dimakan anak kecil itu ??? :o :lol:

    BalasHapus
  8. >> taman bacaan
    silakan bro :)

    >> dude
    mungkin, hahah
    Mau coba? :p

    BalasHapus
  9. sadis ceritanya... :(

    kasihan si anak kecil

    BalasHapus
  10. >> SCB & R10
    heheh, nggak semua kisah harus berakhir dengan Happy ending :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^