Selasa, Februari 21, 2012

[Cerpen Fiksi-Fantasy] Freeze

Berhati-hatilah ketika mengucapkan sesuatu. Terutama di saat emosi menggelegak, saat dimana apapun (misalnya, seluruh penghuni kebun binatang, harapan-harapan buruk, hal-hal yang dianggap tabu) bisa meluncur dari mulut kita. Bagaimana bila ada malaikat lewat, tanpa peringatan dan ucapan selamat, lalu mengabulkan apa yang terlontar--walaupun itu harapan yang buruk?
Yang pasti sudah sangat terlambat untuk menyesal.
Tiga minggu sebelumnya.
Ibuku berteriak memanggilku dari ruang tengah. Suaranya cukup keras mengingat lapangan di depan rumah kami sedang sangat berisik. Khusus untuk dua minggu ke depan, di malam hari, lapangan itu beralih fungsi menjadi pasar malam.
Aku balas berteriak meminta beliau untuk menunggu sebentar. Inspirasi sedang mengalir lancar. Rasanya tanggung kalau ditinggalkan sekarang. Takutnya ide-ide yang berlompatan di benakku menguap dan tidak sempat aku bungkus di lembaran-lembaran microsoft word.

“Lama sekali. Kamu ngapain aja?” Tanya ibuku sambil meluruskan taplak bermotif polkadotnya yang kusut dipuntir-puntir jemarinya. Dia duduk bersandar di sofa panjang.

Di sampingnya, ayahku menangkap setiap gerak-gerikku dengan tatapan tajam. Seolah hendak menerkamku. Tangannya terlipat di depan dada. Ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai tak sabar.

Kali ini apa kesalahanku?

“Nulis,” jawabku sambil menghempas diri di sofa tunggal di depan mereka. “Kalau ditinggal takutnya hilang lagi idenya.”

“Kamu masih nulis juga?” Pertanyaan aneh dari ayahku.

Aku mengangguk. Malas menjawabnya.

“Tapi jangan dijadikan pekerjaan utama.”

“Kenapa? Menjadi penulis itu impianku.”

“Karena itu bukan pilihan karir yang menjanjikan!” Wajah ayahku memerah karena menahan amarahnya. Mungkin bila ibuku tidak melempar pandangan memperingatkan dia sudah meledak. Dan kadang aku berharap ledakannya bermakna denotasi. “Kamu nggak bakal dapat uang dengan menjual coretan nggak jelas.”

“Jadi aku dipanggil kemari cuman untuk diceramahi lagi?”. Tanyaku kecut. “Kenapa sih ayah dan ibu tidak pernah mengerti? Sampai kapan kita mengulang percakapan ini? Kita sudah ratusan kali membicarakannya.”

“Tentu sampai kamu merubah pendirianmu yang nggak berguna itu.”

“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, sayang,” imbuh ibuku. Dia memalingkan mukanya ke arah lain. Jelas menghindari tatapanku. Aku sering memintanya untuk membantuku meyakinkan ayahku. Tapi tampaknya dia gagal. Atau mungkin enggan melakukannya. “Coba ikuti saran ayahmu…”

“Sampai kapan pun, bahkan mungkin sampai dunia berakhir, Aku tetap ingin jadi penulis,” potongku. “Dan tulisanku bukan coretan nggak jelas. Aku akan menerbitkannya dalam bentuk buku. Jangan sedih kalau nanti bukuku bestseller.” Aku kemudian berdiri dari tempat dudukku Meninggalkan ruang tengah, dengan langkah menghentak, kedua tangan terkepal, rahang terkaup, kembali ke kamarku.

“Kembali kesini, ayah belum selesai ngomong!” Akhirnya, amarahnya muncul juga ke permukaan.

“Sudahlah, mas.” Tepat saat aku mendorong pintu kamarku dengan kasar, menutupnya dengan dibanting--hingga dinding-dinding kamarku sedikit bergetar, sayup-sayup aku mendengar ibuku berusaha menenangkannya.

“Mulai bulan ini ayah nggak sudi biayai kuliah kamu! Buktikan... Buktikan kalau kamu bukan beban di rumah ini!” Suaranya menggelegar. Aku yakin suaranya terdengar hingga puluhan meter. Bahkan aku membayangkan orang-orang di pasar malam, yang mungkn sedang menikmati gula-gula, sampai tersedak.

“Mas!” ibuku memperingatkannya lagi. Kali ini dia berhasil membuat suaminya bungkam.
Aku menatap langit. Cahaya menyilaukan lampu-lampu dari pasar malam membuat rasi-rasi bintang, yang biasanya bisa meredakan kegelisahanku, tidak tampak jelas. Aku menghela napas panjang. Aku rasa aku harus menggunakan opsi lain. 

Mungkin mengobrol bisa meredakan sedikit kegelisahanku.

Baru saja aku berniat mengirim pesan singkat ke Tarra, kekasihku, dia telah lebih dulu mengirimiku pesan singkat. Mau tak mau senyum kecil tersungging di bibirku. Mungkinkah dia merasakan apa yang kurasakan sekarang? Bahwa aku sedang butuh penghiburan.

Aku salah menduga.

Pesan singkatnya bukannya menghiburku, malah membuat pikiranmu makin kusut.

Aku tahu, nggak sopan mengatakan ini lewat sms, jadi aku minta maaf sebelumnya. Aku ingin kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.

Ponselku bergetar. Bukan karena ada pesan singkat atau telepon masuk, aku tidak mengaktifkan fitur getarnya. Getaran itu disebabkan oleh tanganku yang gemetar.
Aku membalas pesan singkat. Secepat yang aku bisa.

Kenapa? Nggak ada orang lain sebaik kamu di dunia ini untuk berada di sisiku.

Balasannya tiba satu menit kemudian.

Kata yang indah. Tapi ada orang lain di luaran sana yang pantas menerimanya bukan aku.

Dia benar-benar ingin putus denganku.

Apa salahku? Apa karena kebiasaan ngelamunku? Aku bisa merubahnya. Demi kamu.

Dalam hitungan detik, bukan menit lagi, aku sudah menerima balasannya.

Karena ada orang lain! Jangan salahkan aku. Kamu yang mendesakku untuk berterus-terang.

Dia mengirim pesan singkat lagi, sebelum aku sempat memilih pilihan reply. Sebenarnya aku sendiri sudah tidak memiliki kekuatan untuk itu. Jujur saja, aku sedikit kaget mengetahuinya. Hingga membuat syaraf-syarafku lambat refleksnya.

Jangan sms lagi.

Tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan. Seolah aku terperosok masuk ke dalam palung yang dalam. Kepalaku pening. Tidak hanya satu masalah, aku dihantam oleh dua masalah dalam waktu kurang dari setengah jam! 

“Baiklah. Seolah aku nggak bisa hidup tanpa kalian!” Nyaris saja aku membanting ponselku saking kesalnya. Kesal boleh, tapi jangan merusak barang-barang. Terutama barang-barang milik sendiri. 

Lagipula ini masalah biasa. Biasa menimpa orang pada umumnya. Berbeda pendapat dengan orangtua. Diselingkuhi pacar. Tidak baik terlalu larut dalam masalah. Apalagi aku sedang dalam proses menulis bukuku. Masalah itu tidak boleh mengganggu konsentrasiku, merusak suasana hatiku. “Akan aku buktikan aku bisa hidup sendiri tanpa kalian!”

Keesokan harinya.
Aku mengerjakan kegiatan seperti biasanya. Bangun pagi. Mencelat masuk ke kamar mandi—aku punya kamar mandi sendiri di dalam kamar. Tanpa gosok gigi. Aku biasanya menggosok giginku setelah sarapan pagi nanti, sebelum berangkat ke kampus. 

Sedih boleh. Tapi bukan alasan untuk bolos kuliah. Meski ayahku bilang dia tidak mau membiayai kuliahku lagi.

Entah kenapa suasana rumah pagi ini terasa sepi. Kulirik jam tangan digitalku. Jam delapan lebih delapan menit. Jam segini biasanya ibuku nonton TV. Istirahat sehabis gedubrakan di dapur menyiapkan sarapan. Tapi aku tak mendengar suara apapun. Jangankan FTV pagi yang biasanya dilihat ibuku, suara kendaraan yang lalu lalang di jalanan di depan rumah tak tertangkap telingaku.

Jangan-jangan...

Kubuka pintu kamarku sambil mengorek-ngorek telingaku. Tampaknya kotoran menumpuk hingga suara susah menembus masuk. 

Aku menemukan ibuku sudah standby di depan TV. Dari posisi tangannya, lurus ke depan, tepatnya ke arah lampu indikator di badan bagian bawah TV, dia hendak mengganti channelnya. Aku tidak heran. Gambar di TV diam tak bergerak.

“Bu,” panggilku seraya bergerak mendekat ke arah ibuku, bermaksud mencium tangannya, pamit pergi ke kampus. “Aku berang--” kalimatku menggantung. Mulutku menganga. Aku menggoyang tubuhnya. Tubuhnya kaku. Dan beku. Tak bisa kugerakkan.

Apa yang terjadi?

Aku menekan tombol di remote. TV merespon lebih baik dari ibuku. Tapi semua channelnya sama. Sama-sama diam membeku.

Aku berlari keluar. Telingaku benar. Aku tidak bisa mendengar bunyi kendaraan berseliweran karena semua kendaraan membeku. Aku mendekati mereka satu-persatu. Menggoyang-goyangkan tangan di depan mata beberapa orang. Mata mereka bergeming. Rasa takut mulai menghampiriku. Aku berlari-lari kesana kemari seperti orang kesetanan. Mencari orang-orang sepertiku. Yang masih bisa bergerak ditengah-tengah lautan benda-benda beku.

“HOY, ADA ORANG DISINI?” Aku berteriak sekencang-kencangnya. Kalian boleh anggap aku gila. Aku sendiri beranggapan begitu. Aku mengulangnya lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Ratusan kali aku berteriak. Suaraku nyaris habis. Tenggorokanku sudah melampaui batas kemampuannya. Tapi tak satu pun dari hamparan manusia di sekitarku yang menjawabnya.

Satu kesimpulan yang bisa aku tarik: Seluruh dunia membeku. Kecuali aku!

Saat ini.
Kini aku hidup sendiri. Aku melakukan semua hal sendiri. Cari makan sendiri--supermarket terdekat dan rumah tetanggaku sumber makanan tanpa batas yang bisa aku manfaatkan. Masak sendiri. Alat-alat, benda-benda mati, bisa berfungsi sementara ketika kusentuh. Bukan hal mudah, tapi aku bisa melakukannya.
Harusnya kedua orangtuaku melihatku ketika memasak. Hasilnya luar biasa buruk, tapi rasanya sangat enak.

Aku tetap menulis. Kali ini di buku tulis. Catatan harian. Demi menjaga kewarasanku. Meski aku yakin, bila aku membukukan apa yang terjadi padaku kini, aku percaya kisah ini akan berderet di rak bestseller di toko buku.

Menyesal.

Terkadang aku berhalusinasi menemukan kata itu tercetak di dinding kamarku. Kadang di langit-langit rumahku. Tidak jarang juga di genangan jelantah di wajan bekas menggoreng tempe dan tahu. Di jalan aspal. Dimana-mana.

Teradang aku tertawa seperti seorang pesakitan. Bahkan aku takut memandang wajahku sendiri, yang dipenuhi bulu-bulu, di cermin.

Kenapa di saat marah, kenapa di saat ada malaikat lewat, aku malah berharap sesuatu yang aku sesali di kemudian hari. Coba aku melontarkan harapan-harapan baik. Semisal, orangtuaku setuju dan mendoakan anaknya sukses dengan pilihan karirnya sendiri.

Sisi baiknya, aku tidak perlu khawatir lagi siapa yang akan membiayai kuliahku. Aku terpaksa meliburkan diri hingga bumi kembali berputar. Hingga bumi beserta isinya kembali bergerak.

Jam digitalku berbunyi. Memberitahuku, empat jam lagi tiga minggu menjadi tiga minggu lebih sehari. Matahari sudah tak bisa diandalkan untuk menunjukkan waktu. Dia bersinar sepanjang hari. Mengingat bumi berhenti berotasi.

Lucu.

Dari semua barang, jam rongsokan ini satu-satunya yang berfungsi dengan baik. Lebih baik dari semua peralatan yang hanya aktif ketika kusentuh terus-terusan.

Sempat terlintas di benakku untuk bunuh diri. Tapi tidak. Bagaimana bila keesokan harinya adalah hari dimana dunia kembali bergerak? Bagaimana bila keesokan harinya orang-orang, binatang, semua hal terbebas dari kebekuannya?
Sempat pula aku mengulang apa yang aku lakukan malam sebelum kebekuan ini dimulai. Tapi hasilnya nihil.

Nasi telah menjadi bubur. Daripada memandangi bubur itu dengan isak tangis atau, lebih buruk lagi, membuangnya, aku memilih untuk melahapnya. Menikmati kelembutan teksturnya di mulutku.

“Oke, apa menu makan malam hari ini, chef Rino?”

Satu pertanyaan yang masih mengganjal di hatiku, bahkan terkadang membuatku sulit memejam mata di kala aku harus tidur, Apa aku pantas menerima semua ini?

------------
Note:
Tulisan ini dikutsertakan dalam Lomba Fiksi Fantasy 2012 yang diadakan oleh 9 Lights Production
Info lengkap: http://9lightsproduction.multiply.com/journal/item/12/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012
Share:

16 komentar:

  1. Aku suka ceritanya ^^ terus munculkan ide-ide hebatmu ya ^_^

    BalasHapus
  2. pesan dalam cerita yg kamu buat bagus.. mengingatkan untuk selalu berhati2 dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut kita..
    membaca karya2mu selalu menyenangkan.. ^^~~

    BalasHapus
  3. wah jun... idenya keren banget..
    tapi terlalu singkat menurutku :)

    anyway.. keep writing \(^o^)/

    BalasHapus
  4. ceritanya kok sedih sih?punya kak nan juga sedih,kayaknya cuma punya saya yang gak sedih sama sekali... :(


    note : saya gak sangka kalau mas jun baca punya saya. gak ada jejaknya! kalau saya punya Snow Apple saya bakal bikin perhitungan sama mas jun :|
    serius...
    ;)

    BalasHapus
  5. waduh jng bunuh diri ntar jd hantu gentayangan heee heee

    BalasHapus
  6. ceritanya kayak beneran ya... penangkapan saya terasa ada pesan bahwa saat kita berbicara atau saat kita berbicara dalam hati harus lebih hati - hati...

    terkadang memang sulit jika ada perbedaan pendapat dari orang tua, saya pun hingga detik ini jam 09.02 tgl 24 FEBRUARI 2012 masih ada yang orang tua saya tidak setuju...

    BalasHapus
  7. Serem banget, kalo semua membeku kecuali kita doang kaga :D, pesennye dapet.. ajarin bikin piksi kayak gini dongg....^_^ *sukses trusss

    BalasHapus
  8. Mantap sob.
    Teruslah berkreasi :D

    BalasHapus
  9. lanjutkan :D

    BalasHapus
  10. waahhh ceritanya keren.. sukses yak kontesnya :)

    BalasHapus
  11. Nah cerpen yang ini kentara kalau memang cerpen! Aku suka :) yang penjual cookies itu pesannya tidak tersampaikan. Ini keren! pesannya jelas :)

    BalasHapus
  12. >> Asti
    makasih. tentu saja ^^

    >> Okty
    makasih. Senang deh ada yang suka dengan karya"ku ^^

    >> Finda
    Ntar kalau kepanjangan malah nggak jadi cerpen lagi :p
    I will \^^/

    >> Rmaryana
    well, akhir bahagia terlalu monoton :p
    emang kalo punya snow apple mau buat apa? nggak mempan ya :p

    >> Sam Rinaldy
    kenapa nih? :o

    >> Suratman adi
    tenang aja, nggak bunuh diri kok sob :))

    >> Agusbg
    semoga kamu dan orangtua kamu menemukan jalan tengah atas masalahmu ya :)

    >> Naya
    Amin. makasih ya Nay ^^
    hnn, ajarin ya, keep writing aja, terus nulis dan nulis. Jangan terbatasi oleh aturan ;)

    >> Betha Pujangga alam & Penulisalam & media online
    Makasih. Tentu :D

    >> Niee
    makasih :)

    >> Dweedy
    hehehe, makasih Nan :D

    BalasHapus
  13. bang ceritanya bagus banget,,,

    tapi saya tidak mengerti dengan endingnya...
    gimana itu cerita endingnya..

    BalasHapus
  14. >> Msupandri boeze
    Makasih :)

    Endingnya... sengaja digantung. Bisa disesuaikan dengan imajinasi pembaca masing-masing. Rencananya sih saya akan mengembangkan kisah ini jadi novel. Mohon doanya ya :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^