Senin, April 30, 2012

Ibu, kakak, dan adikku

"Apa yang kamu banggakan dari seorang perempuan?" Tiba-tiba seseorang yang terbentuk dari debu muncul dihadapanku dan menanyaiku.

"Apakah harus seorang perempuan?" Aku melontarkan pikiran pertama yang terlintas di pikiranku.

"Sebenarnya satu sosok perempuan sudah cukup..."

"Tidak cukup," potongku. "Setidaknya bagiku. Mereka semua... membuatku bangga."

"Apa yang kamu banggakan dari... Tiga perempuan tersebut?" ulangnya dengan sedikit perubahan.

"Pertama adalah Ibuku. Tidak peduli panas, hujan dia melakukan banyak hal untuk kami. Membanting tulangnya demi memastikan kami terlindung dari sergapan panas dan hujan. Dan makan tiga kali sehari." Aku berhenti sejenak. "Kemudian kakakku. Dia sosok istri yang tegar dan ibu yang tegas namun tidak pernah sekalipun menggunakan kekerasan. Dalam mendidik anaknya dia tak pernah main tangan. Suaminya berwatak keras, dan coba tebak apa yang dilakukan kakakku untuk melunakkan watak keras kakak iparku? Kakakku meluluhkan kekerasan kakak iparku dengan kelembutan. Keras bertemu dengan keras hanya akan menimbulkan hantaman."

"Terakhir adikku. Dia adalah sosok yang tegar. Kepintarannya, menumbuhkan iri dan dengki pada beberapa teman. Tidak jarang beberapa temannya tersebut mengganggunya atau mem-bully-nya. Dia sedih tapi menyembunyikan kertekanannya. Dia ingin tampak kuat layaknya batu karang di depan temannya."

Aku selesai dengan ceritaku. Sosok di depanku diam sejenak sebelum memberikan respon.

"Terima kasih," katanya sambil menunjukkan wajahnya yang jelas dia bukan dari bumi. " Aku kira semua manusia... Makhluk yang buruk. Banyak manusia bumi tidak menghargai perempuan. Padahal karena perempuan-lah manusia berkembang dan menjadi makhluk paling dominan di muka bumi. Awalnya kami ingin mengambil alih dengan... Lupakanlah. Yang jelas, gara-gara ucapanmu aku jamin serangan itu dibatalkan.Selamat tinggal, Jun," katanya sebelum muncul angin, entah darimana, dan menghapus sosoknya.

Aku terpaku di tempatku berdiri. Aku baru saja berbicara dengan alien!


P. S. Beberapa unsur bersifat fiksi (alien bersosok debu) demi membuat tulisan ini tidak biasa-biasa saja :p
P.S.S Word count: 293
Share:

Sabtu, April 28, 2012

Saat Melati Pergi #2

Prekuel Saat Melati Pergi bisa dibaca disini.

Tinggal dua.

Anak Melati yang hidup tinggal dua.

Memelihara kucing selama bertahun-tahun membuat hatiku semakin hari semakin kebal akan serangan kesedihan. Aku sedih--jangan salah mengerti. Tapi setidaknya tidak pernah sampai meraung-raung menangisi mereka seperti saat umurku masih di angka satuan. Setiap tahun selalu begitu. Induk kucing melahirkan beberapa anak, dan diantaranya pasti meninggal. Entah satu, entah dua, entah tiga, entah semuanya. Pasti ada yang meninggal.
Share:

Jumat, April 13, 2012

Cara daftar Goodreads

Kalau kamu pecinta buku, rasanya belum lengkap tanpa memiliki akun Goodreads. Tempat dimana para booklover berkumpul dan berdiskusi, memberi rating buku, mereviewnya dan mengkomentari review orang lain. Dan bila kamu adalah seorang penulis, Goodreads akan menjadi situs yang tepat untuk mengenalkan bukumu pada dunia :D

Bagaimana cara memiliki akun di Goodreads? Berikut langkah-langkahnya.
Share:

Senin, April 09, 2012

[Cerpen Fiksi-Fantasi] Beast Revenge

Lelaki itu kelabakan mencari tempat perlindungan. Dia terus mencoba membuka setiap pintu yang ditemuinya. Tapi semua pintu tidak mau membuka. Semua pintu terkunci!

Dia menatap ke balik punggungnya. Menatap tepat ke arahku. Rasa takut membayang di wajahnya yang dibanjiri keringat. Mungkinkah dia masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu?

Meski belum pernah melihatku sebelumnya--secara langsung, Ini kali pertama kami bertemu, dia pasti ingat dengan apa yang telah diperbuatnya di masa lalunya. Menyuruh dan membayar orang untuk membasmi hama yang mengancam produksi perusahaannya. Dan kebetulan hama itu adalah kami. Orangutan.
Share:

Jumat, April 06, 2012

Saat Melati Pergi

12.03

Dua menit lagi. Setelah itu Melati genap empat hari tidak pulang. Kemana dia? Tidak biasanya dia jalan-jalan begitu lama. Tidak biasanya dia mengacuhkan panggilan sayangku. Tidak biasanya dia menolak bau racikan nasi dan kepala ikan, makanan kesukaannya, yang kusiapkan.

Mel, dimana kamu, Mel? Kataku dalam hati. Anak-anakmu membutuhkanmu.

Share: