Sabtu, April 28, 2012

Saat Melati Pergi #2

Prekuel Saat Melati Pergi bisa dibaca disini.

Tinggal dua.

Anak Melati yang hidup tinggal dua.

Memelihara kucing selama bertahun-tahun membuat hatiku semakin hari semakin kebal akan serangan kesedihan. Aku sedih--jangan salah mengerti. Tapi setidaknya tidak pernah sampai meraung-raung menangisi mereka seperti saat umurku masih di angka satuan. Setiap tahun selalu begitu. Induk kucing melahirkan beberapa anak, dan diantaranya pasti meninggal. Entah satu, entah dua, entah tiga, entah semuanya. Pasti ada yang meninggal.

Apakah memang seperti itu? Apakah kami yang salah yang karena membiarkan Melati (seperti yang pernah aku bilang, semua kucing di rumahku diberi nama Melati. Aku sendiri hanya memanggil Melati pada induk kucing, dan memanggil anak-anaknya dengan Pusa, Pusi, Puspita, Pupus, dst asal mengandung kata Pus di dalamnya) mengurus anak-anaknya seorang diri? Atau kucing-kucing yang hidup di rumah kami selalu tertiban kemalangan? Aku tidak tahu. Yang aku tahu semua makhluk di muka bumi ini tidak hidup selamanya. Jangan menyebut makhluk-makhluk imortal ala vampir, werewolf, peri dan lain-lainnya. Karena jelas yang aku maksud adalah makhluk-makhluk hidup yang tampak lebih nyata.

Aku berharap sejak saat itu semua baik-baik saja. Aku berharap aku tidak perlu menghadapi kematian lagi. Dan harapan benar-benar menjadi... Jauh dari kenyataan ketika kudapati si Pusa, si bulu oranye, tidak lagi menanggapi ajakan "bermain" sodarinya, Pusi, si bulu tiga-warna (putih, hitam, oranye) mirip ibunya.

Beberapa hari kemudian dia lebih suka tidur daripada jalan-jalan atau berlari-lari mengitari rumah. Aku tahu kucing "hobi" tidur, tapi aku nggak akan terlalu khawatir kalau Pusi tidak menolak untuk makan. Ya, dia menolak untuk makan. Bahkan ikan pindang yang biasanya dimakannya dengan lahap!

Aku memohon kepadannya untuk memakan. Aku menggendongnya, mendekatkannya ke piring makan para kucing. Pusi lahap sekali menyantap hidangannya. Tak masalah bagiku. Dia dalam masa pertumbuhan. Berbeda dengan Pusa yang menatap malas pada piring. Dia lalu menekuk kakinya, menyambung tidurnya yang tadi terganggu olehku. Tanpa menyentuhkan mulutnya pada makanan yang telah kusiapkan.

Mungkin dia sedang kenyang. Mungkin juga dia sedang tidak nafsu makan. Mungkin pula dia kurang suka dengan menu yang aku sajikan.

Satu hari berlalu. Dua hari. Tiga hari. Kadang Pusa makan. Tapi hanya sedikit. Jelas tidak cukup untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya.

Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Begitu pula dengan kesabaranku. Kesabaranku semakin lama semakin kurus. Aku tidak ingin dia mati. Aku ingin dia hidup. Berdua bersama saudarinya.

"Ayo dong makan," kataku frustasi sambil mendorong mulutnya menyentuh makanannya di piring. Dia berontak. Aku melepaskannya seketika.

Harapanku yang sempat terbenam kembali terbit dan bersinar. Dia berontak. Itu lebih baik daripada dia bergeming!

Oke, kali ini kamu tidak akan kupaksa untuk makan, kataku dalam hati.

Tapi dia makin lebih banyak tidur. Aku sering mengguncangnya. Aku takut dia tidur untuk selamanya. Aku takut dia tidak membuka kelopak matanya lagi.

Rasa lega membanjiri dadaku begitu dia meresponsku dengan meongan kecil--mungkin agar aku menghentikan guncanganku. Lemah. Sarat kerinduan (Pusa sering menatap lubang ventilasi yang biasa digunakan Melati untuk masuk rumah).

Aku mengerti sekarang. Dia butuh nutrisi dari susu ibunya, Melati. Dan saat Melati pergi, dia membawa serta nutrisi tersebut.

#Bersambung

Share:

4 komentar:

  1. melati kembalilah pulang... he.he.he.

    BalasHapus
  2. kucing ya... kucing dirumahku bagaikan tanaman... setelah kucingnya ilang, ntah kemana dia pergi, ada aja yang lewat, singgah, kemudian menetap dirumah... :D hohoihohoo .. :D

    BalasHapus
  3. aduhh.. makin kesini ceritamu makin sedih, bebs... -_-
    huaaaaa.... pulang Mel... :(

    BalasHapus
  4. >> Srulz
    iye dude, aku suka banget sama kucingmu yang dari "hutan" itu. Gede dan enak banget buat dipeluk :D

    >> Asti
    heheh, sebenarnya mau bilang makasih, tapi kok nggak pas ya.
    Kisah kehilangan memang selalu bikin sedih :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^