Jumat, April 06, 2012

Saat Melati Pergi

12.03

Dua menit lagi. Setelah itu Melati genap empat hari tidak pulang. Kemana dia? Tidak biasanya dia jalan-jalan begitu lama. Tidak biasanya dia mengacuhkan panggilan sayangku. Tidak biasanya dia menolak bau racikan nasi dan kepala ikan, makanan kesukaannya, yang kusiapkan.

Mel, dimana kamu, Mel? Kataku dalam hati. Anak-anakmu membutuhkanmu.


Melati adalah nama kucingku. Penamaan yang kurang pas sebenarnya. Harusnya nama itu diberikan pada kucing dengan bulu seputih bunga Melati. Sedang Melati punya tiga warna bulu. Putih, hitam, dan oranye.

Nama Melati diberikan oleh nenekku. Sebenarnya setiap kucing dirumah ini dipanggilnya Melati. Termasuk ketiga anak Melati yang sekarang tidur di dekat tungku api, tempat biasanya ibuku memasak. Aku dulunya hendak menamainya Tarra. Tapi karena dia tidak mau menoleh ketika kupanggil dengan nama pemberianku, maka Melati resmi menjadi namanya hingga sekarang.

Hingga dia menghilang.

Pikiran bahwa Melati sudah tiada menghantamku. Dia tidak pernah pergi lebih dari 24 jam. Dia butuh tidur kan? Kuperiksa karung berisi kulit padi di dapur--salah satu dari banyak tempat tidur favorit Melati. Kosong. Bahkan tidak ada tanda-tanda pernah digunakan olehnya. Dia tidak mungkin tidur di rumah orang. Dia tidak mungkin juga tiduran di jalanan.

Kuhalau pikiran itu dengan keras. Melati tidak mungkin tidur untuk selamanya. Dia masih hidup. Dia pasti pulang menemui anak-anaknya. Dia sayang dengan anak-anaknya. Dia tidak akan membiarkan anak-anaknya kehausan. Tidak hanya haus akan air susunya, tapi juga haus akan kasih sayangnya.

Si hitam-putih selama beberapa hari ibunya menghilang kondisi kesehatannya memburuk. Dia menolak ikan yang kuberikan. Dia menolak makan apapun!

Tidak heran tubuhnya lemas. Tidak heran dia malas melakukan apapun kecuali meringkuk menghangatkan diri di dekat tungku perapian--kami masih menggunakan tungku untuk memasak. Tidak seperti kedua saudaranya, si oranye dan si fotocopy-Melati, yang bergerak lincah kesana-kemari. Berkeliling rumah. Saling mengejar ekor. Bermain-main. Bersukaria. Seolah tak sadar ibunya telah menghilang selama lebih dari 96 jam. Seolah berpura-pura ibunya baik-baik saja di luaran sana dan segera pulang membawakan daging buruang.

Tiga hari kemudian, tepatnya dini hari, ketika aku... Memenuhi panggilan alam, aku menemukan si hitam-putih diam tak bergerak dalam tidurnya. Posisinya mencurigakan. Saat kusentuh kulitnya... Aku salah. Dia tidak sedang tidur. Dia terbujur kaku! Dia sudah meninggal!

Aku mendekap mulutku. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Malah aku pernah meramalkannya dengan berkata ini pada ibuku, "si hitam-putih mungkin tidak bisa bertahan." Tapi aku tidak menyangka akan secepat itu. Apa yang membunuhnya? Suhu udara yang menggigiti kulitnya yang dilapisi bulu jarang? Atau kerinduannya pada ibunya? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menanyainya. Lagipula tidak ada sekolah atau kursus bahasa kucing.

-bersambung-

Share:

7 komentar:

  1. bebs... :'( itu yg kamu bilang udh ga adayg mana? Pusa atau Pusi?

    Doain yg terbaik aja yah buat Mel, hun :')

    BalasHapus
  2. bukan keduanya :)

    yap, tentu :)

    BalasHapus
  3. setiap kali cerita, kok endingnya, buat galau gitu ya... ada apa sebenanya.. :lol

    BalasHapus
  4. ohh kucingmu yg blm di kasi nama itu ya? ._.a

    BalasHapus
  5. nama kucingnya cantik ya...setahun lalu kucing di rumah ortu saya juga meninggal. Habis berantem kayaknya, pulang-pulang tubuhnya ada luka..dinihari di temukan sudah meninggal di dapur dengan posisi tubuh membujur ke arah utara. Sekarang sdh ada gantinya, kucing warna hitam dengan ekor yg panjang...masih belum jinak karena baru dapat dari tetangga...

    BalasHapus
  6. >> Srulz
    kan lagi musim :))

    >> Asti
    iya kayaknya :))

    >> Abed saragih
    silakan :))

    >> Ririe Khayan
    makasih :)
    wah, mesti sabar (kasih perhatian) agar kucingnya tidak kabur :p

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^