Minggu, Mei 20, 2012

Seberapa nikmat mie soto jamur Sotoji?

Beberapa hari yang lalu, sahabat baikku, Srulz, memberiku dua bungkus sotoji. Mie bihun jamur instan.

Oia, FYI, dia mendapat (banyak) mie sotoji--dia mengaku mendapat satu kardus--karena blognya berhasil menjadi salah satu finalis dalam lomba blog yang diadakan oleh mie sotoji tersebut.

Nah, karena aku sahabatnya yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong (eaaa, hahah), dia membagi nikmatnya mie bihun jamur instan itu. Seperti apa kira-kira rasanya? Apakah sesuai dengan seleraku? Apakah sotoji berhasil membuat lidahku bergoyang lincah?


Sebelum membahas rasanya, kita "preteli" dulu "bajunya" (?).
Soal komposisi warna, seperti mie rasa soto pada umumnya, didominasi warna hijau. Ada logo halal di pojok kanan bawah. Ketika kita membaliknya untuk menilik bagian belakang "bajunya", seperti biasa, kita menemukan tata cara memasaknya. Tapi... Tunggu dulu, dimana lipatan tambahan yang biasa ditemukan di "punggung baju" mie pada umumnya? Bagaimana aku membukamnya?

Tenang saudara-saudara, ada "sobekan" kecil di sisi bungkus yang bisa membantu kita membukanya dan mengeluarkan isinya.

Selain bihunnya, kita akan mendapati bumbu utama, bumbu pedas, minyak sotonya, dan... Apa ini? Bungkusnya lebih besar daripada bungkus bumbu lainnya. Sobekan kecil di pinggir bungkus, sama seperti "baju" terluarnya, memudahkannya untuk dibuka. Ternyata isinya jamur.

Semua orang juga bisa menebaknya itu jamur kali, Jun. Kenapa kamu sampai lebay gitu pakai tanya-tanya segala? (--")

Aku melihat ada sedikit masalah disini. Maksudku, ya, beberapa orang pasti menebak isinya jamur. Tapi apa tidak lebih baik dengan menambahkan tulisan di bungkusnya? Juga pada bumbu-bumbu lainnya. Kalau ditambahkan tulisan pasti akan lebih baik. Beberapa orang ada yang membuang bumbu pedasnya karena alergi. Bagaimana seandainya mereka, yang alergi, karena tidak tahu mana bumbu ini-itu tak sengaja menuangkan bumbu pedas? Kemungkinannya ada dua: dia tidak jadi memakan mie-nya dan... Alerginya kambuh.

Rasa mie sotoji lumayan. Kebetulan baru-baru ini aku suka jamur. Ibuku pernah membuatkanku sup wortel dan tambahan yang belakangan kuketahui adalah jamur. Dan aku menyukainya. Tapi aku merasa rasanya kurang nendang. Rasanya jauh dari ekspetasiku.

Yah, malas beli deh aku kalau gitu.

Eits, tunggu dulu. Aku belum selesai. Memang aku merasa kurang dengan rasanya, tapi bukan berarti aku tidak menghabiskannya. Bukan karena terpaksa ya. Aku ini cirii orang yang suka pilih-pilih makanan, dan bila aku tidak suka dengan suatu makanan, maka aku jelas akan membuangnya.

Apa, jadi kamu membuangnya, Jun?! Dan kamu mengakuinya di internet? Bagaimana kalau ada orang sotoji yang membacanya?! O,o

Kamu fitnah banget sih, Little Heart. Siapa bilang aku membuangnya? (--") aku menambahkan nasi ke dalamnya. Dan... Rasanya berubah dari lumayan ke enak! Sumpah, nggak bohong. Ibuku pun, kami makan berdua, bilang juga lebih enak bila ditambahkan nasi.

Atau mungkin pihak sotoji bisa menduganya? Maksudku, karena orang Indonesia baru dikatakan makan kalau menelan nasi. Dan rasa sotoji ini jadi lebih enak ketika dimakan ditemani nasi.

Aku sendiri tidak tahu.

Sayangnya, kenapa si dude hanya memberiku dua bungkus? #eh

P.S. Aku lupa mengabadikan momen-momen ketika menikmatinya :|
Share:

3 komentar:

  1. itu di kasih 2 bungkus... maksudnya satu lagi buat saya.

    saya malah bosen makan nasi mulu

    BalasHapus
  2. hoo... kenapa? karena hanya tinggal 2 bungkus... :wkwkw :D

    BalasHapus
  3. >> Sam
    bukan :))
    Iyakah? :O Coba ubi :))

    >> Srulz
    sayang sekali :))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^