Selasa, Agustus 21, 2012

Cinta di Hari Lebaran

Dua motor Yamaha Vega R tipe lama terparkir di halaman depan. Satu di bawah naungan pohon sawo. Satu lagi di sebelah pohon jeruk purut.

Kedua alisku terangkat, Siapa kira-kira tamu kali ini?

Kusampirkan handukku pada kawat jemuran. Aku baru selesai mandi. Oke, aku mengaku aku bangun kesiangan. Bunda tidak mempermasalahkannya atau memarahiku. Salah satu keuntungan setelah kemarin berjalan kaki nyaris dua kilo menyodorkan tangan kanan pada para tetangga--terlepas kenal atau tidak dengan mereka. Adikku pernah nyeletuk, kenapa menyalami mereka, kita nggak kenal dan nggak punya salah dengan mereka. Dan, aku punya jawabannya karena kebetulan beberapa hari yang lalu aku mendapatkan jawabannya. Jabat tangan itu berarti silarurahmi. Siapa tahu dengan jabat tangan itu mengantarkan pada kita teman baru atau, yah... pacar baru.

Aku tadi pagi bangun pukul tujuh. Itu pun karena dibangunkan ibu. Seperti yang aku bilang, bukan untuk dimarahi tapi dimintai bantuan menggoreng lauk. Apalagi kalau bukan, tempe. Setelah itu aku sarapan. Aku memang kadang punya kebiasaan buruk, sarapan dulu baru mandi. Kebiasaan itu muncul ketika aku berganti kebiasaan gosok gigi pagi--gosok gigi setelah sarapan, begitulah saran yang dianjurkan oleh dokter gigi.

Sambil sarapan, aku menonton Spongebob sejenak. Dilanjutkan Avatar: The Legend of Aang--iya, GlobalTv menayangkannya lagi. Setelah itu...

Aku belum mandi. Aku masih harus melakukan sesuatu yang lain dan nyuci baju. Oke, kita skip bagian itu. Aku mandi sekitar pukul sebelas. Sebab setelah itu aku mau pergi silaturahmi ke rumah sahabatku--harusnya sih ini giliran dia ke rumahku tapi karena dia tidak kunjung datang juga, jadinya aku yang pergi kesana.

Kembali ke dua motor yang terparkir di halaman depan. Motor yang terparkir di dekat pohon jeruk purut adalah motor pacarnya adikku. Motor satunya lagi adalah motor yang dikendarai oleh titisan malaikat dan saudarinya.

Tidak mata kalian tidak menipu. Aku memang bilang titisan malaikat.

Aku sempat terpana sebentar di depan pintu--kamar mandi ada di luar dan kamarku untuk saat ini ada di sebelah ruang tamu--ketika menatap sosoknya yang sempurna duduk berhimpitan di sofa bersama saudarinya. Mau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Apa kalian tidak bisa menebaknya? Kalau tidak bisa menebaknya berarti kalian kalah sama nenek-nenek cerewet desa sebelah yang tahu banget saat itu aku pengen banget membekukan waktu dan hidup disitu selamanya.

Membekukan momen dimana mataku dan mata Sang Titisan Malaikat (STM)bersitatap. Bibirnya tersungging, menampilkan senyum yang sanggup membuat pedagang es bangkrut. Alih-alih membalasnya, aku malah--aku menyesal telah melakukannya--melengos, masuk kamar. Aku takut. Takut detak jantungku yang bertalu-talu terdengar oleh telinganya yang sempurna.

Jangan tanya dia sesempurna apa. Pokoknya di mataku dia sempurna!

Aku pernah melihat STM sebelumnya. Tepatnya lebaran tahun kemarin. Tentu saja parasnya yang rupawan (hei, aku hanya manusia normal yang tentu saja suka dengan keindahan yang ditangkap indera penglihatan) kontan menarik perhatianku. Saat itu bunda mengajak silaturahmi ke rumah buyut. Nah, di rumah buyut ini berjejer banyak rumah anak-anak dan cucunya. Rumah yang pertama kali kami datangi adalah rumah orangtua STM dan STM-lah yang menyambut kami.

Bergetar. Hatiku bergetar saat itu. Sebagai seseorang yang sering membaca buku, aku tahu apa arti getaran itu. Bolak-balik aku mengarahkan pandanganku, mencoba mengalihkan perhatianku ke arah lain dan bukan ke arahnya, tapi gagal. Berkali-kali sudut mataku mengajakku menyerap sosoknya sebanyak mungkin.

Dia kemudian minta diri, hendak cuci baju. Jangan salahkan aku ketika terbersit niat untuk izin ke kamar mandi, mengajaknya ngobrol, meminta nomornya dan facebooknya--agar ketika rindu menyerbu aku tinggal buka facebooknya dan memandangi foto di album-album facebooknya. Aku hanya manusia lemah yang tidak bisa menghentikan dorongan menginginkan kasih sayang seseorang. Tapi aku tidak melakukannya. Melakukan apa yang dipikirkan benakku, maksudku.

Sepulang dari silaturahmi, aku mencoba menghapus gambar yang tadi aku download dari memori otakku. Sedikit demi sedikit aku mulai lupa padanya. Hingga dia muncul di hadapanku setahun kemudian--hari ini. Duduk di salah satu sofa di ruang tamu, menatapku yang hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana kain 7/8. Tanpa bisa mencegah ingatan mengenai pertemuan kami dulu membanjiri otakku.

Di kamar, aku bertanya-tanya apa dia masih ingat denganku sambil menenangkan ledakan di dalam dadaku. Aku heran tubuhku tidak meledak dengan jantungku berdetak secepat kecepatan pesawat jet.

Aku bersyukur aku hendak pergi ke rumah sahabatku sehingga aku bisa menggunakan baju baruku. Kemeja kotak-kotak oranye, cokelat, putih dan celana panjang hitam dengan banyak saku. Setelah mematut diri di depan cemin, merapikan rambutku yang basah, beberapa hembusan napas panjang ala-ala ibu melahirkan, kulangkahkan kakiku dengan mantap--sedikit gentar sih sebenarnya, tapi aku cukup piawai menyembunyikannya--ke ruang tamu.

Kuulurkan tanganku pada STM. Aliran listrik seketika menyengat telapak tanganku. Tapi tidak seperti kabel listrik yang terkelupas, tangan STM ini bikin aku ingin berlama-lama menyentuhnya. Kukuak sedikit bibirku, dia membalasnya, sebelum kulepaskan--dengan tidak rela--tangannya dari genggamanku. Betapa singkatnya waktu salaman itu. Kenapa dulu tidak ada tradisi bersalaman lebaran itu minimal satu hari sih?!

Lalu kuulurkan tanganku pada saudarinya yang tak kalah rupawannya. Tapi dia tidak memiliki efek seperti STM yang bisa membuat jantung, otak, dan hatiku serentak berderik.

Hal yang kusesali selanjutnya, aku pergi menghampiri bunda. Sumpah, aku marah-marah bahkan menjeritkan kata tolol di otakku berulang-ulang. Kenapa aku tidak duduk di sebelahnya... Maksudku, di sofa juga, mengajaknya mengobrol, mengenalnya lebih jauh?! Kenapa aku malah bilang gini, "Ayo, katanya mau ikut," kataku. Tapi pada bunda.

Sayangnya, bunda kali ini sedang tidak sibuk. Dia pun langsung menyambut ajakanku. Padahal rencananya aku pengen ke rumah dude habis makan siang. Alhasil, waktuku bersama STM--oke, kami tidak duduk bersama dan tidak berada di ruang yang sama, tapi terserah aku dong mau sebutnya--tinggal bentar.

Ketika bunda ganti baju, STM berkunjung ke rumah keponakanku. Aku mengambil jemuran--kemarin--yang telah kering sebelum berangkat. Bukan karena takut kehujanan, tapi takut warnanya pudar karena terpapar matahari terlalu lama.

Seraya mengambil jemuran satu persatu, aku berharap bisa melihat STM sekali lagi, untuk terakhir kalinya, sebelum berangkat. Aku bergumam, berharap, berdoa semoga aku bisa bertemu dengannya sekali lagi.

Bunda memanggil namaku. Aku tidak bisa berlama-lama memunguti jemuran. Langkahku mendadak berat dan butuh setengah diseret untuk bisa membuatnya bergerak. Kutaruh jemuran di atas kasur.

Bunda telah siap. Biasanya dandannya lama kenapa hari ini bisa secepat kilat?

Ya Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya sekali lagi. Masa aku mesti ketemu dia setahun lagi? Aku tahu dia sudah lulus sekolah dan kini telah bekerja. Tapi aku tidak tahu dia bekerja dimana dan masih tinggal bersama orangtuanya atau tidak.

Bunda berteriak memanggil namaku. Memintaku mengeluarkan motor ke teras.

Kepanikan mengisi tiap sudut tubuhku. Otakku kebingungan antara menuruti perintah ibuku atau keinginan hatiku yang ingin menunggu sebentar. Menunggu hingga STM dan saudarinya pulang.

Bunda berteriak lagi. Kali ini suaranya mendesak. Aku yang ngajak kenapa dia yang bersemangat pergi? Well, aku dan dude memang sudah kayak saudara jadi ya bisa dimaklumi kalau bunda pengen segera bertemu dengannya dan ibunya si dude.

Kulihat jam dinding. 17 menit sebelum tengah hari. Kenapa STM dan saudarinya lama sekali di rumah keponakanku? Apa aku bakar saja rumah itu?

Sebenarnya penyelesaiannya mudah saja. Aku bisa datang bertandang ke rumah keponakanku dan melihatnya sekali lagi. Tapi, karena ayah keponakanku kurang waras dan tidak mengizinkanku dan keluargaku menginjakkan kakinya di rumahnya (dan aku juga telah berjanji tidak akan pernah dalam sejuta tahun akan menginjakkan kakiku satu senti pun di lantai rumahnya), jadinya aku terpaksa menunggunya keluar.

Kudorong sepeda motorku keluar. Biasanya aku benci sekali ketika motorku sulit sekali dinyalakan. Tapi kali ini dengan dua kali sentakan kick-starter motorku menyala.

Aku mesti menunggu satu tahun lagi.

Bunda melangkahkan kakinya ke pinggir jalan. Menungguku.

Ohh, Tuhan. Seandainya aku punya keberanian mengingkari janji yang telah kubuat. Demi cinta, Re, kenapa tidak kamu lakukan saja?! Sebuah suara, mungkin dari hati kecilku, muncul memenuhi rongga kepalaku. Tapi...

Belum sempat aku membantah suara itu, hatiku bersorak ketika mesin motor tiba-tiba mati dan minta dinyalakan lagi, saudari STM muncul di ambang pintu rumah samping keponakanku--pintu yang sama yang digunakan mereka untuk masuk tapi. Lalu mataku melihatnya. Sosok terindah yang pernah diciptakan oleh Sang Maha Kuasa.

Lalu pertanyaan (protes) itu akhirnya bergaung di benakku. Berulang-ulang. Kenapa dia harus jadi saudaraku?! Maksudku, coba kami tidak ada hubungan keluarga. Maksudku, coba hubungan keluarga itu bersatu ketika kami menikah.

Oke, pikiranku mulai error. Bahkan menyusun kalimat saja suka berarti ambigu gitu, hingga kelabakan sendiri mencari padanan katanya demi membuat kalian mengerti.

Nyaris saja kukubur harapanku, nyaris saja aku menggerakkan motorku, nyaris saja aku menurunkan kaca helmku, dia muncul. STM dengan senyumnya yang meneduhkan itu.

Tahu kami akan pergi, STM dan saudarinya berjalan menghampiri bunda. Menyalami beliau. Aku mencoba membaca ekspresi pada wajah rupawan STM, tapi wajahnya tidak menunjukkan kekecewaan sepertiku.

Ketika dia bergerak menghampiriku, kontan kutundukkan wajahku. Selain menyembunyikan rona merah di pipiku, aku tidak mau dia melihat kekecewaan yang terpahat di wajahku. Hanya sekilas, sebab aku sadar ini adalah detik-detik terakhir aku bisa memahat sosoknya di otakku--dan aku tidak menyesali karena hingga detik ini, sehari setelah pertemuan itu, aku masih bisa mengingat jelas setiap lekuk tubuhnya, senyumnya, matanya, model rambutnya, bajunya.

"Mau kemana, mas?" Kata STM sambil mengulurkan tangannya.

Aku menyambut uluran tangannya sambil bertanya-tanya terlalu cepat tidak aku menerima uluran tangan itu. Setruman itu kembali lagi. Kutahan dorongan untuk memeluknya, merangkulnya, memenjarakannya (dalam penjara hatiku) atau mengajaknya pergi denganku. Tapi mana bisa aku melakukannya? Maksudku, aku bukan tipe anak yang suka membantah kata-kata ibunya. Lalu bagaimana dengan saudarinya? STM tentu tak akan tega membiarkannya luntang-lantung sendirian. Itu pun belum tentu dia mau pergi mau denganku. Dan kalau pun dia mau pergi, apa dia mau bertanggungjawab akan "kerusakan" yang ditimbulkan olehnya, menyelami cinta terlarang bersamaku? Aku menyebutkan cinta terlarang karena mungkin hubungan ini berpotensi pada incest. Apalagi ibu STM berasal dari pihak keluarga bapak--aku telah menanyakan ini pada bunda dan ya, tidak ada harapan sama sekali.

"Mau ke, ehm, rumah temenku," jawabku. Mau ikut? Imbuhku dalam hati.

Pelan-pelan genggaman tangan kami terlepas. Doraemon, boleh nggak aku pinjam penghenti waktumu? Hiro, bisa nggak kamu hentikan waktu sebentar--atau selamanya juga boleh? Aku ingin saat ini tidak segera berakhir. Tapi bunda menungguku, dan STM sama sekali tidak tahu apa yang kurasakan--dan kalau dia tahu sangat mungkin sekali dia menjauhiku.

Genggaman itu akhirnya terlepas. Menyisakan penyesalan kenapa aku tidak menanyakan nomor teleponnya. Atau facebooknya. Atau twitternya.

Meski setelah dipikir-pikir, ada hikmahnya juga aku tidak menanyakannya. Rasa rindu datang lebih cepat dari yang aku prediksikan. Rasa rindu itu nyaris membunuhku. Terus-menerus membuat mataku berair. Entah kenapa aku mendadak cengeng gini. Sebelum-sebelumnya, ketika aku merasa... Oke aku harus menyebutnya, ketika aku merasa jatuh cinta tidak sampai gini-gini amat. Apakah itu artinya... Love at first fall? Jadi cinta yang sebelum-sebelumnya?

Aku rasa alasannya jauh lebih sederhana. Aku tidak punya harapan...  Memiliki dia.

Sampai jumpa di lebaran tahun depan, STM, kataku dalam hati sesaat setelah aku kembali menyalakan mesin motorku. Menggelindingkannya ke rumah sahabatku sambil mengedip-edipkan mataku yang memanas.

Atau mungkin tidak ada pertemuan ketiga. Siapa yang tahu tahun depan dia sudah menikah. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Aku tidak akan sanggup melihatnya menggandeng tangan pasangannya dan tersenyum bahagia bersama mereka. Bagaimana aku bisa tersenyum kalau hatiku terasa seolah ditusuk-tusuk jarum?

Oke, aku belum tahu bagaimana rasanya. Aku belum pernah ditinggal menikah oleh (mantan-mantan) pacarku. Tapi bila tidak bisa memilikinya rasanya sesakit ini, gimana ketika melihatnya dimiliki oleh orang lain?

Lebih baik menghindarinya ketimbang aku merasakan hatiku dibekam duri.

***

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7
***

Kisah diatas dibuat dalam rangka merayakan Hari Raya Lebaran 1433 H.

Selamat Hari Raya Lebaran teman-teman.
Minal Aidzin Wal Faidzin, bila ada kata atau posting yang tidak berkenan di hati teman-teman, mohon maaf lahir dan batin ya (^_^)

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^