Minggu, September 16, 2012

Drama E-KTP

Bunda menunjukkan sebuah surat padaku. Saat itu masih pagi buta, jadi aku nggak membaca betul apa yang ditunjukkan, apa isi surat itu. Yang aku ingat, dan aku perhatikan betul, adalah nama tanteku beserta suaminya.

Baru setelah siang, saat semua nyawaku (buset, berapa kira-kira jumlah nyawaku? #jayus) telah terkumpul, aku tahu surat itu surat untuk digunakan mengantri e-ktp di kecamatan.

Bupati Nganjuk, melalui baliho dan poster-poster gede yang terpampang di beberapa sudut jalan, menghimbau kepada masyarakatnya untuk segera mengurus e-ktp. Jadi aku sih tidak terlalu terkejut. Semua ada waktunya. Dan kebetulan warga kecamatan tempat tinggalku lebih lambat dari kecamatan yang lebih besar.


Langsung diskip aja ke proses antrinya di kantor kecamatan. Beuh, lama banget! Beberapa warga ternyata sudah ada yang mengantrikan nomornya sejak kemarin malam. Alhasil, meski aku dan bunda datang pagi, kami mendapatkan nomor urut 70-an.

Sempat ada kejadian unik berhubungan dengan mengantri. Setelah beberapa jam, aku... Mendapat panggilan alam. Mana panggilan alam yang "besar" lagi. Aku sempat kelabakan mencari kamar mandi. Aku menemukannya, tapi... Kamar mandi itu hanya kamar mandi. Tidak dilengkapi "tempat menabung."

Selama kurang lebih satu setengah jam kemudian, aku mencoba mengabaikan panggilan alam itu. Tidak, aku tidak sampai keringatan seperti saat makan makanan pedas. Oke, aku keringatan sedikit. Hanya sedikiiiit lho. Enelan #eh.

Aku mondar-mandir nggak jelas. Kepalaku berputar ke segala arah, mataku jelalatan, mencari dimana letak... Kamar mandi yang tidak hanya bisa digunakan untuk mandi saja, tapi bisa digunakan "menabung" juga.

Mana daya hidup Sherina di ujung tanduk. Harusnya sih tadi aku kepikiran bawa charger. Ada stop kontak nganggur di balai kecamatan. Entah boleh digunakan oleh umum atau tidak, yang jelas daya hidup Sherina bakal penuh sebelum namaku, bunda, dan bapak (dia datang belakangan, tidak bareng denganku dan bunda) dipanggil.

Gara-gara itu aku tidak bisa menggunakan waktu antri yang lama itu untuk mengerjakan hal yang lebih berguna, semisal melanjutkan novelku atau membaca ebook.

Untungnya, ada banyak sosok-sosok fresh bertebaran di sana. Dari yang cute, lucuk, sampai yang super-indah. Kehadiran mereka setidaknya membantuku sejenak melupakan kebutuhan "menabung"-ku.

Sudut mataku melihat ada dua kamar kecil lainnya di ujung belakang kantor kecamatan. Dilema menghinggapiku. Bolehkah umum menggunakannya? Ataukah kamar mandi dua itu hanya diperuntukkan untuk karyawan kantor kecamatan?

Selama beberapa menit aku mondar-mandir sambil melirik ke arah dua kamar mandi itu. Menunggu. Menimbang-nimbang. Berharap semoga ada satu saja orang umum kesitu yang bisa kugunakan sebagai patokan--juga alasan tidak ditegur sendirian. Tapi hingga lima belas menit berlalu, tidak ada yang melakukannya.

Akhirnya aku nekad. Kulangkahkan kakiku selangkah, dua langkah, tiga, empat, banyak langkah. Ragu-ragu tanganku menyentuh handel pintu kayu salah satu kamar mandi--sebelah kiri. Aku bersyukur ketika melihat ada "tempat menabung" di dalamnya. Tapi aku tidak jadi masuk kamar mandi itu.

Tidak, tidak ada yang menegurku. Beberapa karyawan kantor kecamatan ada yang melihatku tapi mereka tidak mengambil tindakan apa-apa. Bukan pula "kebutuhan itu" mendadak hilang. Tapi aku ingin membandingkan kamar mandi kiri dan kanan, mana yang lebih bersih. Biasanya, kebersihan suatu kamar mandi mempengaruhi "pemuasan panggilan alam" (baca: pengeluaran feses).

Kamar mandi kanan lebih bersih.

Setelah aku kelar memuaskan panggilan alam, beberapa orang mengikuti jejakku. Dibilang bangga menjadi orang yang pertama mulai... Nggak juga. Semua orang kalau sudah merasa kepepet banget (atau kebelet banget) pasti akan melakukannya.

Setelah itu, aku tidak lagi merasa uring-uringan. Aku tidak mondar-mandir lagi. Aku bisa tenang duduk di bangku, melamunkan apa saja. Nama kami tampaknya masih lama dilontarkan melalui pengeras suara. Bahkan kami sempat jajan bakso--paginya belum sempat sarapan, bunda kira dengan datang pagi-pagi kami bisa segera pulang, cukup dijadikan pengingat tidak melakukannya untuk kedua kalinya.

Bapak datang beberapa menit sebelum nama kami dipanggil.

Saat nama kami dipanggil, surat antrian dikembalikan kepada kami untuk diserahkan pada petugas di dalam. Petugas di dalam bertugas memasukkan data penduduk, foto wajah, foto mata, dan scan sidik jari semua jari.

Pastikan nama kalian sama seperti nama akte kelahiran, ijasah sekolah (terakhir). Kalau tidak... Well, kalian mesti melakukan apa yang aku lakukan: membawa fotocopy ijasah SMK. Gara-garanya nama di KTP-ku disingkat huruf belakangnya.

Alhasil aku mesti pulang ke rumah. Untungnya, aku nggak perlu ke tempat fotocopy, karena sisa fotocopy zaman dulu, yang dulu dipakai buat daftar kuliah, masih ada.

Ketika aku kembali ke kantor kecamatan, tidak ada satu pun orang umum. Para karyawan kecamatan bersantai di kecamatan. Itu artinya mereka sedang istirahat. Dan itu artinya, aku mesti menunggu lagi.

Badanku kontan lemas saat salah satu karyawan bilang aku mesti nunggu hingga satu setengah jam ke depan. Padahal aku sudah menunggu sejak pagi. Aku sampai tidak sarapan hanya karena bunda ingin segera pulang, nyatanya kami tetap pulang siang. Apalagi aku, lebih siang lagi. Bunda pulang dengan suaminya, sementara aku... Gara-gara nama disingkat...

Nyaris saja aku membalikkan badan, nyaris saja aku melangkahkan kakiku ke tempat dimana aku meninggalkan motorku, salah satu karyawan mengajukan diri memasukkan data-dataku ke database.

Hnn, baik sekali dia. Semoga kebaikannya dibalas nanti oleh Sang Maha Penyayang.

Setelah kelar, lagi-lagi surat antrian dikembalikan padaku. Kata salah satu karyawan, "Surat ini jangan sampai hilang. Nanti digunakan lagi untuk mengambil ektp-mu."

Sebelum menyalakan motor, aku menarik napas dalam-dalam. Memenuhi rongga dadaku dengan oksigen. Akhirnya, kelar juga. It's time to go gome. It's time to brunch, filling stomatch with something delicious.

***

Semoga pengalamanku diatas sedikit memberi referensi teman-teman yang belum mengurus ektp. Alhamdulillah bila bisa membantu banyak.
Share:

6 komentar:

  1. wew.. :D e-ktp ya JUN.. hmm.. sepertinya duluan daerah kecamatanmu, daripada daerah kecamatanku.. :D

    BalasHapus
  2. weh..tempat saya sudah poto om..sejak akhir tahun kemarin..cuman sampe sekarang belum jadi..entahlah..kok bisa ya.. padahal era sekarang khan era online.. jadi data dah bisa langsung di terima di pusat..hadew..

    BalasHapus
  3. >> Dude
    iyakah? :O

    >> fajar
    hnn... begitulah :p

    BalasHapus
  4. Aku juga dari tahun kemarin... tapi hasilnya belum keliatan tuh -__-

    BalasHapus
  5. aku dapet panggilan tanggal 17 Juli dan baru dateng ke kecamatan tanggal 11 September,
    alhasil cuma nunggu bentar, gak sampe 10 menit udah bisa pulang :P

    BalasHapus
  6. jun tulisan lu keren banget. lanjut terus ya

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^