Selasa, September 25, 2012

Mimpi (2)

Mimpi (1) bisa dibaca disini.

---

Kulepaskan tangan cewek yang semenjak kubuka mata berada di dekatku dan memanggilku Jun. Kakiku secara otomatis mendekati Dude dan pria berambut ekor kuda (bek). "Dude, apa yang kamu lakukan disini?" Kata-kata itu kontan meluncur keluar setelah jarak kami tinggal satu langkah.


Dude menolehkan mukanya ke arahku. Tapi dia mengacuhkanku. Dia sedang bicara serius dengan pria bek.

"Kamu sudah tahu resikonya?" Tanya pria bek santai pada Dude.

"Aku tahu," balas Dude, wajahnya terlihat sangat desperate. Ada apa dengannya?

Dude memang sering tampak murung tapi tidak sampai desperate. Pasti dia mendapat masalah berat. Tapi apa? Dia tidak pernah menceritakannya padaku. Sahabat macam apa aku sampai tidak tahu dia mendapat apa. Atau mungkin karena dia selalu tampak strong, selalu menyembunyikan masalahnya, menyimpannya sendiri. Atau mungkin karena aku kurang peka. Tidak berinisiatif menanyainya dulu--seringnya terlalu takut dianggap ikut campur urusannya.

"Kenapa kamu ikutan lomba ini?" Akhirnya aku menanyakannya.

"Kamu sudah menandatangi surat pernyataannya?" Tanya pria bek pada Dude.

Dude mengangguk. "Aku juga sudah membuat surat wasiat."

"APA?" Aku mendengar suaraku naik satu oktaf.

Dude mengacuhkanku. "Jika terjadi apa-apa denganku... Akan ada uang santunan, kan?"

"Ya," jawab pria bek.

"Kalau begitu, 80% buat keluargaku. 15% buat sahabatku"--dia mengedikkan kepalanya ke arahku--"dan sisanya buat disumbangkan."

"Kamu ngomong apa, Dude?" Aku menariknya pergi, tapi dia bergeming. Tubuhnya memang lebih besar dariku. "Ayo pergi dari sini."

"Tidak," tolaknya.

"Siapa dia?" Tanya cewek yang mengaku kenal denganku, cewek yang sama yang mengajakku ke bar.

"Dia sahabatku," jawabku pendek.

"Sahabatmu?" Dia menatap Dude dari atas ke bawah. "Ohh, oke. Senang bertemu denganmu."

"Jadi main nggak nih?" Desak si pria bek. Beberapa penonton menyorakinya "huuu", beberapa yang lain mendukungku... untuk pergi dan membiarkan Dude sendiri.

"Jadi," jawab Dude.

"Jangan!" Kataku menahan langkahnya. Kuhalangi jalannya dengan menyilangkan kakiku di hadapannya. "Jangan lakukan ini. Kamu bisa..."

"Singkirkan kakimu," kata Dude.

"Kamu punya masalah apa?" Jelas pertanyaan ini terlambat aku tanyakan. "Kita bisa cari solusinya bersama-sama."

"Tidak," Dude menggeleng. "Singkirkan kakimu," ulangnya.

"Kamu tahu ini sama artinya dengan bunuh diri!"

"Kamu tidak tahu apa-apa. Lebih baik kamu menyingkir."

"Apa yang ingin kamu capai? Ingin membuat orang-orang ini"--tanganku membuat gerakan melingkar--"impresif? Bahkan kamu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya."

"Pergilah, Fer. Seperti yang..." Dia tampak enggan untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi mungkin melihat kekhawatiran berlebihan di wajahku dia meneruskan kalimatnya yang terpotong, "Seperti yang kamu lakukan beberapa tahun lalu."

Pergi... Beberapa tahun lalu? "Apa maksudmu?" Aku bertemu dengannya minggu lalu di tempat kerjanya. Ini aneh.

"Aku butuh uang, oke? Dan dengan ikut ini aku bisa mendapatkannya. Tak peduli aku menang atau kalah aku bakal tetap mendapatkannya."

"Jadi ini masalah uang?" Aku sedikit mencemoohnya. "Aku bisa bantu. Berapa yang kamu butuhkan?"

"Jadi nggak nih?" Tanya pria bek tak sabar. Ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai batu.

Dude mendorong tubuhku. Aku nyaris saja jatuh bila seandainya teman cewekku tidak menahan tubuhku.

"Jangan lakukan itu, kumohon," kataku. "Kumohon!" Aku menaikkan nada suaraku. "Demi aku. Demi persahabatan kita!"

Dude terus menanjak naik, seolah-olah suaraku tidak mencapai indera pendengarannya.

Dia tidak bisa dicegah. Jadi percuma saja aku mengejarnya. Aku menutup mataku. Berdoa semoga dia berhasil melakukan lompatannya.

"Yang diatas, apa kamu siap?!" Teriak pria bek, menanyai Dude.

Aku bisa melihat ketakutan pada ekspresi wajahnya, tapi Dude tetap mengacungkan jempolnya.

Semoga dia berhasil. Ya Tuhan, semoga dia berhasil dan selamat.

Dia mundur beberapa langsung, pasang kuda-kuda, berlari sangat kencang, mulutnya berteriak kencang...

Dia pasti berhasil.

Dia menghentakkan sebelah kakinya sebelum melompat. Dia melayang sejenak di udara. Gaya gravitasi mulai menghelanya.

Dia pasti menang. Dia pasti mendapatkan uangnya.

Dia melesat terlampau jauh. Bila dihitung dan mempertimbangkan gaya sentrifugal....

Oh, tidak. Tidak. Dia tidak akan berhasil. "TIDAAAAK!"

Saat itu aku berharap ada Hermione, atau Harry, atau Ron melancarkan mantra Wingardium Leviosa. Tapi sayangnya, mereka hanya tokoh fiksi. Dan kalau pun mereka datang... semuanya sudah terlambat.

Tubuh Dude sudah menghantam lantai batu sangat keras. Aku bahkan bisa mendengar tulang di seluruh tubuhnya luluh-lantak.

"Oh, tidaaak!" Teriakku sambil menghampiri tubuhnya. "Tidak, Dude. Tidak, jangan..."

Bagaimana ini? Dia sudah tidak bernapas. Denyut nadinya juga sudah berhenti.

"Dude, bangun. Bangun!" Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu dia tidak akan bangun.

"Bangun, Dude. Cepat bangun!" Aku bahkan sampai menampar-nampar pipinya. "OMG, kenapa kamu bodoh banget sih?!" Tanpa sadar ada yang membanjiri pipiku. "Kenapa kamu bodoh banget ikut acara konyol ini? Kenapa?"

Temen cewekku tiba-tiba saja berada di sampingku. Dia kemudian melingkarkan kedua tangannya pada tubuhku. "Dia sudah nggak ada."

---

Rasanya sangat tidak nyaman.

Mimpi paling buruk tentang sahabatku.

Bila benar aku meninggalkan sahabat terbaikku bertahun-tahun yang lalu, apa ini artinya aku terlempar ke masa depan? Atau... Ini gambaran kami di masa depan? Atau sesuatu yang lain?

Berbagai spekulasi muncul seiring "nyawaku" terkumpul.

Herannya lagi, masih sempat-sempatnya aku ingat dengan satu film yang berkisah soal persahabatan: The Social Network.

Dan omong-omong soal film itu, karakter Mark mengingatkannya akan diriku, sementara Eduardo si Dude itu. Sama seperti Mark, aku sering sibuk dengan duniaku sendiri. Sementara Eduardo dan Dude sama-sama sahabat yang baik. Eduardo yang langsung mengunjungi asrama sahabatnya demi mengetahui kondisinya setelah diputuskan pacarnya. Dude yang datang menjengukku saat tahu aku sakit dan membawakanku sebutir apel. Apel yang sangat sulit kumakan. Bahkan dari masuk SMP tidak pernah ada yang melakukan hal manis seperti itu padaku.

Dia melakukan tugasnya sebagai sahabat dengan baik. Dan aku meninggalkannya? Aku pasti sedang mabuk saat itu.

Aku menarik napas lega. Untunglah, semua kejadian itu hanya mimpi.

"Tumben kemari," kata Dude saat malamnya aku berkunjung ke tempat kerjanya.

"Kenapa? Nggak boleh?" Tanyaku sambil nyengir.

"Bukan gitu. Tapi biasanya dirimu sms dulu sebelum kesini."

Aku tertawa kecil. "Hari ini anti-biasa."

Seorang cewek datang menghampirinya. Mengangsurkan pembayaran pada Dude. "Jadi, ada keperluan apa kamu kemari? Soal cover lagi?"

"Bukan," aku terkekeh. "Aku bahkan nggak bawa flashdisk."

"Terus?"

Gara-gara mimpi konyol tadi siang. Aku jadi pengen periksa apa dirimu baik-baik saja. "Pengen ngobrol aja," jawabku.

Entahlah. Apakah itu ingatan di masa laluku. Atau ramalan masa depan. Atau pikiran yang terbentuk dari sesuatu yang mengerikan. Atau mungkin pertanda dari Sang Maha Kuasa. Atau mungkin kisah di semesta lain.

Aku menampar pipiku sendiri. Tampaknya aku terlalu banyak nonton film.

Tuh kan aku malah berspekulasi lagi. Lebih baik aku fokuskan diriku pada obrolanku dengan Dude.

*) Kisah ini bukan fiksi, FYI. Main source adalah mimpiku saat tidur siang. Tapi mimpi juga bukan hal nyata kan? Jadi... #nahlho #bingung-bingungdah XD

Share:

8 komentar:

  1. wew.. ternyata begitu ceritanya... :D
    terharu bacanya.. :D

    bahkan aku ngga bisa menulis cerita untuk sahabatku... :D

    BalasHapus
  2. Indeed. You really had a bad dream. T.T
    btw, itu knp ada tlisan Dan Brown d bwh? ._.

    BalasHapus
  3. MImpi-nya panjang nian ya? bisa jd cerpen tuh...

    #apa kabar Dude?

    BalasHapus
  4. >> Dude
    iya, gitu, hehehe
    Belum dicoba udah nulis gitu -,-

    >> Asti
    hehehe, maaf, itu harusnya buat di STEW. Tapi sudah diedit kok ^^

    >> Ririe Khayan
    Mungkin karena semua detailnya dimasukin, makanya bisa jadi panjang ^^
    Dudenya baik-baik saja mbak ^^

    BalasHapus
  5. it's just a comment,
    jangan marah ya...
    sesungguhnya aku lebih penasaran sama Shakira tak berambut pirang.
    entahlah, hanya menduga saja, pastilah perempuan itu dikenal namun entah dimana :)
    meski sempet khawatir ama dude, :p
    jangan lompat jangan lompat jangan lompat

    BalasHapus
  6. kenapa mesti marah?

    Nggak kenal. Di sekitarku, selain adik dan kakakku, tidak ada yang berambut keriting kayak mie.

    BalasHapus
  7. beda ya ama mimpiku
    *ya iya lah ro -_-"
    kalau aku justru sering yakin sama orang yang ada di mimpiku,
    kayak cerita mimpiku di blog yang kata mas jun panjang itu :p
    #radapromosi :P

    BalasHapus
  8. mungkin orang yang ada di mimpiku ada di masa depan? siapa yang tahu?

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^