Minggu, September 23, 2012

Mimpi

Dimana aku?

Telingaku dibanjiri oleh alunan musik yang menghentak-hentak. Di sekelilingku ada banyak manusia melompat, bergoyang mengikuti irama musik cadas yang memenuhi ruangan.

Apa aku... Tapi itu mustahil.

Tapi kesadaranku mustahil salah. Aku sering melihat tempat seperti ini di TV, di film-film. Tapi aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kakiku sama sekali di tempat musik dinyalakan keras-keras, di mana orang-orang berdansa serampangan sambil berteriak-teriak seperti ini.

Bagaimana aku bisa sampai di sini? Setahuku di Nganjuk belum ada yang namanya bar. Atau mungkin sudah ada? Aku kan juga kurang bergaul.


"Jun!" Seorang gadis berambut panjang bergelombang, ala-ala Shakira tapi tidak pirang, menepuk pundakku. Siapa dia? Mungkinkah salah satu teman dunia mayaku--karena hanya teman dunia maya yang memanggilku dengan nama tengahku tersebut?

"Ya?"

"Dasar penulis! Nggak di rumah, nggak di sini kerjaannya ngelamun mulu!" Teriaknya sambil terkekeh-kekeh. "Bisa nggak kamu lupain sejenak naskah-naskahmu? Aku mengajakmu kesini buat have fun, bukan buat mikirin itu."

Dia yang mengajakku ke tempat ini? Itu menjelaskan satu hal. Tapi kenapa aku bisa menyetujuinya? Maksudku, aku tidak mau menjudge orang yang datang ke tempat ini adalah orang yang kurang bener--seperti yang kebanyakan orang bilang, termasuk ibuku (entah kalau sampai dia tahu aku berada disini, mungkin dia akan mencincangku). Bagiku datang ke tempat ini buang-buang waktu. Pertama, aku kurang gitu suka dance, meski musik yang aku suka berirama beat. Kedua, bising. Aku suka keramaian. Tapi keramaian ini terlalu bising dan asing.

Alih-alih bertanya dia siapa, aku malah berkata, "Gimana kalau kita pergi dari sini?"

Aku menduga cewek mirip Shakira--hanya rambutnya--itu bakal menolak usulku. Tapi tidak. Malahan dia yang menarik lenganku.

Di luar ternyata sudah pagi. Dilihat dari kondisi langitnya sekitar pukul 5 pagi.

Cewek itu terus menarik tanganku. Entah kenapa aku tidak berusaha menepis. Entah kenapa aku tidak memperhatikan sekitar seperti yang biasa aku lakukan. Aku bahkan tidak tahu kami baru melewati apa saja, di mana pintunya, di mana tempat parkirnya, mungkinkah kami ke bar dengan jalan kaki?

Tahu-tahu saja kami berada di pinggir jalan. Jalannya sudah beraspal. Kiri kanannya tumbuh lebat pohon dan rumput liar.

"Mau kemana sih?" Tanyaku.

"Ada deh," jawab cewek itu sambil mengedipkan mata. "Kamu pasti bakal menyukainya. Tempatnya segar."

"Kita nggak pulang aja?"

Cewek itu terkekeh. "Justru itu. Sebelum pulang kita mandi dulu."

"Mandi?"

"Iya, mandi. Lengket banget ini badan."

Nyaris aku bertanya di mana tempat mandinya. Jalan ini kelihatannya tidak memiliki ujung--keanehan yang lain, apa tadi kami berteleportasi? Kemudian dia mengajakku berbelok. Dan aku mendengar suara merdu itu. Suara air yang jatuh dari ketinggian, membentur kolam air di bawahnya.

Yang mengejutkan, meski masih pagi tempat itu sudah ramai oleh orang. Ada yang berendam di dalam kolam. Ada yang ngobrol di pinggir kolam dengan kedua kaki tercelup ke dalam kolam. Ada juga seorang pria yang, entah apa yang ada di pikirannya dan entah kenapa orang-orang mengabaikannya, telanjang bulat tanpa sehelai pakaian menempel di badannya. Dia membelakangi kami, tubuhnya melekat di dinding batu seolah memeluknya. Tapi kebanyakan orang memandang seseorang yang berdiri di puncak air terjun yang bila dibandingkan dengan Sedudo tidak terlalu tinggi itu.

Tiba-tiba saja orang yang berada di tengah kolam berenang ke pinggir, seseorang pria tinggi dengan rambut panjang diekor kuda, berdiri di tempat yang tinggi--tapi lebih rendah dari puncak, berteriak ke arah pria yang berdiri di puncak.

"Siap?!" Teriak pria berambut ekor kuda.

Pria di puncak menganggukkan kepala lalu melangkah mundur beberapa langkah, melakukan kuda-kuda, kemudian berlari, terjun ke dalam kolam air terjun.

Aku akui dia punya nyali yang besar.

"Kita ke atas yuk," ajak cewek di sebelahku. Tanpa menunggu persetujuanku dia menarik lagi tanganku. Dia mengajakku di tempat di mana pria berambut ekor kuda berdiri.

Seolah pria yang melompat dari ketinggian dan masih hidup belum cukup memberiku kejutan, aku menemukan si Dude, sahabat baikku, sedang bicara dengan pria berambut ekor kuda. Dia mendaftarkan diri sebagai peserta lompat dari ketinggian.

A-apa? Dia pasti bercanda.

#Bersambung

Share:

12 komentar:

  1. cie~
    shakira tak berambut pirang,
    fans barumu ya mas? :P

    BalasHapus
  2. peserta lompat dari ketinggian ??? :o bunuh diri kah ? :o

    BalasHapus
  3. >> Ulfah dan Dude
    Jawabannya akan ada di sekuelnya :)

    BalasHapus
  4. tempat-nya seperti kolam-kolam nudis layaknya yang banyak dilakukan di luar negeri....imajinatif banget...oke ditunggu kelanjutannya....salam :)

    BalasHapus
  5. lompat dr ketinggian utk mandi...ogah ah, mau mandi kok kayak mau bunuh diri saja..

    #salam utk shakira ya

    BalasHapus
  6. heran deh, di blog kak nan nama gue jadi coretanulfah,
    di sini jadi coretan ulfah,
    dan sejak kapan pemilik blog ini manggil aku ulfah?
    ini balikinnya gimana biar jadi rmaryana lagi :(
    harusnya just this time bukan always...
    huaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    BalasHapus
  7. >> Bo Hariyanto
    Ehm, makasih.
    Lanjutannya sudah muncul ^^

    >> Ririe Khayan
    Memacu adrenaline mbak ._.
    Nanti kalau saya ketemu lagi akan saya sampaikan ._.

    >> Ulfah
    karena kamu gunain openid.
    Pake google atau name/url dijamin bakal beda.

    BalasHapus
  8. dipanggil ulfah lagi -_-"
    berasa gimana gitu

    BalasHapus
  9. udah tuh udah ganti :|
    bukan coretan ulfah lagi tapi rmaryana :P
    pengennya sih ganti jadi maryana grint,
    tapi apa daya tidak bisa XD
    dan kalau ganti jadi maryana hutcherson kesannya agak maksa,
    seumuran soalnya :P
    *lha apa hubungannya -_-"

    BalasHapus
  10. wah, wah, pake nama artis semua :)))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^