Jumat, Oktober 19, 2012

Akhirnya (aku tahu sedikit tentangnya) - Part 1

Entah beruntung, entah ini pertanda aku berjodoh dengannya, atau entah ini pertanda bahwa kami tidak akan bertemu untuk jangka yang waktu lama, aku lagi-lagi berkunjung ke rumah STM.

Kali ini aku bersama bunda. Masih dalam rangka membujuk ayah STM agar mau membantu pembangunan rumah tante Tri. Dalam kunjunganku sebelumnya bersama eyang, ayah STM belum menjawab ya maupun menolak.

Sayangnya, STM sedang tidak ada di rumah. Kata ayahnya, dia baru saja keluar ke rumah temannya.

Tapi nggak masalah, meski dalam kunjungan kali ini aku tidak bertemu dengan STM, aku tahu pekerjaannya.

Kami pulang, dengan membawa jawaban yang bakal membuat eyang kecewa.

Keesokan harinya, aku dan eyang balik lagi ke rumah STM. Yang menyambut kami adalah kakak STM. Ketika ditanya eyang kenapa dia ada di rumah orangtuanya, dia menjawab, "bantu ayah di sawah."

Kali ini STM ada di rumah. Tapi dia segera pergi setelah menjemput ibunya dari sawah. Entah pergi kemana. Kenapa sih dia tidak sopan? Kenapa tidak duduk bercengkerama dengan tamunya (atau minimal denganku)? Kenapa malah meninggalkan tamunya sendirian?

Oke, kami tidak sendirian. Kami masih ditemani oleh kakak STM, sebelum ibunya datang mengambil alih tempatnya.

Sementara menunggu ayah STM datang dari sawah, kami mengobrol dengan ibu STM. Aku secara tidak kentara menanyainya pertanyaan seputar STM. Dari perbincangan itu aku tahu usia STM. Dia lebih tua setahun dariku!

For your information, aku, ehn, lebih suka yang lebih tua. Tidak tua banget. Tidak seperti Raffi Ahmad juga. Dia setidaknya memiliki selisih usia denganku maksimal tidak lebih dari 5 tahun.

5 menit, 10 menit, 15 menit. Ayah STM tidak kunjung datang. Sementara STM juga tidak muncul lagi. Aku memaksa diriku untuk tidak bertampang bete seperti pertemuan kami di resepsi pernikahan tante Susi. Takut kalau seandainya dia muncul mukaku lecek dan dia takut mendekatiku atau salah-salah dia mengira aku tidak mau didekati olehnya.

Aku ber-ohh ria saat tahu menghilangnya dia sebentar itu karena dia mandi. Nyesel juga tadi tidak izin ke kamar mandi. Eits, bukan buat mengintipnya. Dalam beberapa kunjunganku, aku sering memikirkan skenario kami berpapasan tak sengaja, lalu mengobrol panjang lebar, tukeran nomor hape... Skip! Dan salah satu spotnya adalah kamar mandi.

Ibu STM meminta STM memberitahu ayahnya lagi. STM bilang tunggu sebentar, dia ganti baju dulu.

Beberapa detik setelah kepergiannya, aku berpura-pura ada telepon masuk. Padahal aku menyalakan salah satu lagu di musik player. Demi kesopanan, aku melangkah keluar lalu mematikan music player sambil akting ngedumel. Jangan heran, banyak orang sudah tahu aku memang berbakat jadi aktor. Aku sengaja melakukan akting ini sebenarnya... Masa kalian tidak bisa menebaknya? Apa perlu aku katakan? Oke, alasan sebenarnya aku ingin menunggu kedatangan STM.

Aku memang benci menunggu. Tapi bila yang ditunggu adalah STM... Entahlah, rasanya aku sanggup menunggu... Lumayan lama.

Cepatlah datang.
Cepatlah kembali.
Lihatlah aku menunggumu disini.
Kenapa kamu begitu lama?

Yang pertama kembali adalah kakak ipar STM. Disusul ayahnya. Aku memberinya salam dengan anggukan kepala.

Tapi dimana STM? Mungkinkah dia menggantikan tugas ayahnya mengairi sawah? Atau menggantikan ibunya menjaga agar burung-burung usil tidak jahil dengan memakan tanaman yang mereka tanam? Atau... Jangan-jangan setelah memberitahu ayahnya dia langsung pergi main?!

#bersambung

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 1 | Part 2 | Part 3Part 5 | Part 6 | Part 7

Share:

4 komentar:

  1. STM ? siapa dia ? kenapa harus inisial sih.. .-"

    BalasHapus
  2. STM bukan inisial dude. Baca deh di post pertama dan post kedua ;)

    BalasHapus
  3. stm tuh nama orang ya..?
    kirain sekolahan...

    BalasHapus
  4. Bukan, tapi julukan, heheh

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^