Rabu, Oktober 10, 2012

Pertanda

Pernah aku meminta pada Sang Maha Kuasa, "Ya Tuhan, bila dia bukan jodohku maka jauhkanlah dia dariku. Buat aku lupa padanya. Buat aku amnesia."

Dari situ kalian tahu, meski aku suka dan ingin sekali mengenal STM, aku benar-benar serius ingin melupakannya. Kalau bisa tidak bertemu dengannya.


Kesalahan terbesarku adalah kebiasaan burukku: sering menunda. Seandainya aku tidak menunda waktu untuk silaturahmi ke rumah sahabatku, sangat mungkin sekali aku tidak bertemu dengannya. Atau seandainya aku lebih lama lagi mandinya, mungkin saat aku keluar kamar mandi dia sudah pulang.

Tapi tidak. Sang Maha Kuasa ingin aku bertemu dengan STM. Ingin aku meleleh ketika melihat senyum STM yang menawan. Ingin aku melihat keindahan ciptaanNya.

Tapi untuk apa aku bertemu dengannya, lumer oleh senyumnya, tapi hanya rasa sakit(karena tidak bisa memilikinya) yang bisa kurasakan?

Aku rasa kami juga tidak bisa berteman. Aku takut aku hilang kendali. Getaran sedikit saja sudah terasa salah--kamu tidak boleh jatuh cinta pada keluargamu sendiri, bagaimana kalau aku sampai tiba-tiba menciumnya? Hubungan kedua keluarga akan langsung rusak seketika.

Langkah terbaik adalah melupakannya. Dan karena aku tidak sanggup melupakannya, aku meminta bantuan Sang Pencipta. Bantuan manusia yang berupa kata-kata aku rasa tidak akan cukup--karena kata-kata itu kalau nggak menyemangati, pasti menyuruhku tegar atau menasehatiku yang intinya balik lagi pada pengendalian terhadap diriku sendiri.

Berjabat tangan dengannya di pernikahan tante Susi saja nyaris membuatku hilang kendali.

Tapi Sang Maha Agung mempertemukan kami. Lagi. Di saat-saat yang tidak terduga.

Eyang Putri memintaku mengantarku ke rumah STM. Dia hendak bertemu dengan ayah STM. Dia hendak meminta ayah STM membantu pembangungan rumah tante Tri, anak angkat Eyang Putri.

Sesampainya kami di halaman depan rumah STM, kondisi pintu ruang tamu tertutup rapat. Pintu yang menuju dapur terbuka setengah. Mendengar kedatangan kami, dan mungkin saja dia sempat melihat kedatangan kami melalui salah satu jendela kacanya, dia membukakan pintu ruang tamu.

Dia mengganjal sebelah pintu agar tidak kembali menutup tertiup angin. Dia kemudian mempersilakan kami masuk. Balik badan, melangkah ke dalam supaya kami bisa mengikutinya.

Dia bilang dia sendirian di rumah. Dari tvnya yang masih menyala, dia sedang nonton acara gosip. Ayah dan ibunya masih di sawah.
Dalam keadaan biasa, mungkin aku tidak akan melewatkan kata-kata yang meluncur mulus dari mulutnya. Tapi ada yang menyita sedikit perhatianku. Caranya berjalan saat memberi jalan masuk bagiku dan eyang.

Mungkinkah dia sama denganku? Maksudku, mungkinkah dia punya masalah kaki yang sama denganku (saat musim kemarau, telapak kakiku sering pecah-pecah. Rasanya sakit sekali sehingga memaksaku berjalan dengan berjinjit)? Kalau benar, maka itu pertanda.

Bukan pertanda kali, aku mendengar suara di dalam kepalaku, suara lain yang entah kenapa selalu sinis pada pemiliknya, Itu sih mau-maunya kamu.

Setelah basa-basi sejenak, dia minta izin memanggil orangtuanya. Selama dia pergi hanya satu hal yang memenuhi pikiranku, waktu. Dan satu hal itu menyulut banyak sekali pertanyaan, kapan dia balik? Kenapa dia lama sekali? Berapa jauh jarak rumah ke sawah keluarga mereka?

Beberapa menit kemudian, dia balik dengan membonceng ibunya. Lalu beberapa menit kemudian ayahnya datang dengan sepeda onthel.

Ada hal mengecewakan setelah itu. STM pergi. Tidak pergi dengan motor old Veganya. Malah bisa jadi dia masih berada di dalam rumah. Yang jelas tidak di dalam kamarnya, karena aku tahu betul letak kamarnya, dan ruang tamu. Mungkin dia di kamar mandi atau dapur. Tapi kalau di kamar mandi, saat itu sore hari, kenapa dia begitu lama? Atau kalau di dapur, kenapa dia berlama-lama disana? Kenapa tidak balik ke ruang tamu menonton acara gosip yang sempat dia tonton tadi atau masuk ke kamarnya, ganti baju kalau habis mandi, bahkan hingga kami pamit pulang?

Atau bisa juga di rumah orangtua tante Susi atau ke rumah tetangganya.

Atau bisa juga dia menghindariku. Seperti yang mungkin dilakukannya saat pernikahan tante Susi. Meski aku mencoba berpikir positif, pikiran negatif itu datang memperingatkanku agar aku tetap waspada pada pesona STM yang selalu sukses bikin aku uring-uringan.

Atau kepergiannya ini pertanda. Pertanda bahwa dia tidak... Punya feeling padaku.

Terlalu banyak hal aku anggap pertanda. Jadi pertanda mana yang benar. Yang menyiratkan bahwa aku dan dia memang berjodoh. Atau yang mengumumkan bahwa dia sama sekali tidak punya feeling padaku.

Dalam perjalanan pulang, aku memutuskan, aku tidak akan lagi mengekang rasa penasaranku terhadap dirinya. Capek juga membendung keinginan untuk tahu segala hal tentang dia. Mungkin aku bisa mencari fesbuknya.

Eh, tapi gimana cara cari fesbuknya? Aku hanya tahu nama depannya. Nama depannya pun nama yang pasaran. Aku sama sekali tidak tahu nama belakangnya. Mencari satu dari semilyar... Ada yang memberi kursus "mencari jarum di tumpukan jerami" tidak di sekitar tempat tinggal kalian? Kalau ada, kasih tahu aku. Aku mau mendaftarkan diri.

---

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 1 | Part 2 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Share:

5 komentar:

  1. wah yang padamu..ya....he.hehe.. dah ungkapin aja...dari pada..bisulen..lho..he.he... #kabuuur....

    BalasHapus
  2. cie... cie.... sekedar cerita, ato kisah nyata nie _^

    Mampir blog q jga eaaa_^

    canduiptek.blogspot.com

    BalasHapus
  3. ini pertanda masih ada lanjutan kisahnya ya :)

    BalasHapus
  4. >> Paling Asik
    Makasih kunjungannya :)

    >> Fajar
    boleh juga kalau tokohnya dibikin bisulan :))

    >> Captain Al_Cha
    Fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata :D
    Siap!

    >> BlogS of Hariyanto
    Iya, bener mas. Tinggal dikit kok :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^