Senin, Oktober 01, 2012

Seandainya

Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi secepat ini.

Sebenarnya aku senang. Jantungku berdentam-dentam tak karuan ketika Bunda memberitahuku kami akan menghadiri resepsi pernikahan Tante Susi. Perlu kalian tahu, rumah orangtua Tante Susi, tempat resepsi pernikahan Tante Susi dan suaminya digelar, bersebelah dengan rumah Sang Titisan Malaikat (STM). Tapi, sejujurnya, aku sedikit takut. Takut makin terbayang-bayang olehnya.

Sialnya, sesampainya di sana, orang pertama yang kami, aku dan bunda, lihat adalah STM!

Saat itu STM hendak beli es batu. Tapi dia kontan turun saat melihat kedatangan kami dan menyalami kami. Yang pertama disalami bunda--tentu saja, kemudian aku.

Ketika kulit kami bersentuhan, setruman itu... Aku masih ingat rasanya setruman itu. Nikmat, bikin ketagihan, menggelembungkan ketidakrelaan, dan mengutuk waktu kenapa tidak bergerak dalam slow-motion.

STM pamit lalu menyalakan motornya. Sementara bunda melangkah masuk ke rumah orangtua STM, aku menatap kepergian STM hingga dia berbelok masuk ke sebuah rumah.

Aku menghela napas panjang. Aku tahu datang ke sini adalah ide buruk. Buktinya sekarang aku dijangkiti badmood. Lebih parah lagi, aku mencium aroma STM yang tertinggal di tanganku.

Baunya wangi. Padahal itu baru tangan, gimana dengan badannya? Aku jadi penasaran, kira-kira dia pakai parfum atau sabun apa ya.

Ibu menggiringku untuk menyalami ayah STM. Muncul keengganan di dalam diriku. Siapa sih yang memberi peraturan salaman mesti dan kudu pakai tangan kanan? Lalu bagaimana kalau aroma STM yang melekat di telapak tanganku tersapu oleh... Aroma lain?

Sebelum kujulurkan tanganku, menyodorkannya ke ayah STM, kudekatkan telapak tanganku ke wajah, menghirupnya dalam-dalam, mencoba mematrinya dalam ingatan.

Bila diperhatikan secara saksama, aku menyalami ayah STM dengan tergesa-gesa. Mungkin karena itulah, aroma STM yang tertinggal masih ada di telapak tanganku dan aku bisa menghirupnya lagi seolah itu adalah oksigen.

STM kembali tidak sampai lima menit. Tempat pertama yang dia kunjungi esnya belum jadi. Jadinya dia mesti beli di tempat lagi. Dia kemudian mengajak seseorang--kenapa bukan aku?--terus beli es yang tempatnya lumayan jauh. Aku menduga jauh sebab dia pergi selama bermenit-menit lamanya.

Selama dia mencari es batu, aku duduk di teras rumah orangtua Tante Susi. Tidak banyak yang kulakukan. Makan rawon yang porsinya seuprit. Minum minuman mineral gelas. Mencium aroma STM yang tertinggal (lagi dan lagi)--aku merasa sudah seperti seorang yang sakit jiwa. Bercengkrama dengan telepon genggam--untunglah aku sedang tidak mengaktifkan paket internet, bisa-bisa aku membombardir internet dengan kegalauanku.

Oke, aku mengaku. Semua kegiatan itu hanya pengalih perhatianku. Yang aku lakukan sebenarnya adalah menunggunya datang. Menunggunya beristirahat. Menunggunya punya waktu senggang di mana aku bisa mengajaknya mengobrol.

Dia balik. Tapi anehnya dia tidak masuk ke halaman rumah. Seseorang yang menemaninya membawa balok es sepanjang sekitar 100 meter dengan karung plastik, menaruhnya di dapur, kemudian balik menempati kursi di belakang punggung STM-ku (jangan protes deh. Suka-suka aku dong mau menggunakan kata ganti milik pada sebutanku).

Sekali lagi, aku menatap kepergian mereka hingga mereka menghilang di tikungan.

Tak tahan duduk-duduk di teras, aku memutuskan untuk jalan-jalan. Berhenti sejenak untuk melihat singgasana pengantin. Selama sesaat, aku berkhayal diriku memakai jas bersama STM dan duduk di singgasana tersebut, sebelum kuhalau jauh-jauh bayangan itu dari pikiranku. Hal yang kesempatan terjadinya kecil tidak seharusnya mengendap terus-terusan di otak. Harus segera dilenyapkan, supaya tidak menimbulkan angan-angan semu. Supaya aku tidak timbul pengharapan yang sia-sia.

Supaya aku tidak menunggunya atau mencaritahu apa dia punya sedikit feeling padaku.

Adikku tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia mengajakku berfoto-foto. Atau lebih tepatnya, dia menyuruhku menjadi fotografer untuknya.

Dalam keadaan normal, aku mungkin bakal menyulitkannya sebelum menuruti permintaannya. Tapi karena situasinya sedang tidak normal (maksud lo?), jadinya aku kontan menyetujuinya.

Halaman rumah orangtua STM menjelma spot pemotretan--tidak ada pilihan tempat lain, bukan aku juga yang menyarankan. Tepat sebelum adikku gantian jadi fotografer, dia pengen punya fotoku di ponselnya, STM datang dengan sepeda motor Vega old version-nya.

Dia masih sibuk, tentu saja. Baru turun dari motor langsung menuju dapur. Terus pergi lagi, beberapa menit setelahnya.

Setelah capek berfoto-foto ria, aku dan adikku duduk di bangku kayu di teras rumah orangtua STM. Adikku mengecek foto-fotonya, sementara aku mengecek kondisi jantungku. Apa masih berdetak atau telah berhenti gara-gara bekerja terlalu keras memompakan darah ke seluruh tubuh.

Jantungku masih berdetak. Tapi detakannya tidak sekencang tadi. Tidak sekencang ketika ada STM berada di sekitarku.

"Kamu kenapa sih, Mas?" Tiba-tiba adikku bertanya. Entah kesambet apa anak itu tumben-tumbennya menanyakan keadaanku.

Selama sesaat, aku ragu hendak menjawab apa. "Kenapa memang?" Tanyaku balik, jawaban aman. Tidak terkesan menjaga jarak, dan tidak terkesan merasa terganggu.

"Wajahmu lecek banget," tembaknya.

Aku terkejut. Sejelas itukah? Aku yakin adikku kesambet. Biasanya dia anaknya kurang tanggap. Kesambet adalah penjelasan paling logis kenapa dia mendadak bisa membaca suasana hatiku.

Belakangan aku tahu, dia bisa menebak kegundahanku karena di foto wajahku terlihat sangat kusut.

Telingaku menangkap bunyi sepeda motor dan... Itu dia. STM datang. Kali ini dia tidak menuju dapur rumah ortu Tante Susi. Dia masuk ke rumahnya, dimana untuk mencapai pintu mesti melewatiku dan adikku.

"Masuk, yuk," kata STM sambil menunjuk ke dalam tempat tinggalnya.

Apa nih maksudnya? Mengajakku masuk demi basa-basi karena, ya, kami keluarga. Atau mengajakku masuk supaya aku masuk, mengikutinya ke dalam dan kami kemudian mengobrol--jangan pikir aku memikirkan hal vulgar ya, soalnya itu sama sekali tidak salah. #eh

Vulgar itu tukeran nomor ponsel. Bukan yang lain. Boleh percaya, boleh tidak.

Adikku mengusulkan agar kami pulang. Dia sudah bosan. Apalagi udara sangat panas. Andai di pernikahan orang lain, mungkin aku langsung mengiyakan. Tapi lokasi pernikahan ini, dimana aku ada kemungkinan makin mengenal STM, tidak memungkinkan aku mengatakan persetujuan. Aku tidak mau. Aku masih menunggu dia keluar rumah. Baru setelah itu, baru setelah melihatnya untuk (kemungkinan besar) terakhir kalinya, aku akan ikut adikku menghadap ke bunda dan mengajaknya pulang.

Tapi dia tidak kunjung keluar. Lima menit, sepuluh menit... Aku tahu dia tadi masuk kamarnya--untuk saat ini aku hanya tahu nama dan letak kamarnya di dalam rumah. Aku berlagak melemaskan kakiku dengan berjalan-jalan, padahal mata melenggak-lenggok mencuri pandang ke arah kamarnya. Pintunya tertutup. Entah bagaimana, aku tahu dia sudah tidak berada di dalamnya. Aku merasa dia tidak ingin bertemu denganku. Aku tidak asal merasa, alasan kenapa dia memilih lewat pintu lain bukannya lewat lagi di hadapanku memunculkan dugaan itu.

Kuhirup sekali lagi aroma wangi di telapak tanganku. Mungkin karena terlalu sering kuhirup, wanginya tidak "sekuat" ketika pertama kali aku dan... Kalian pasti bosan aku mendengarku mendeskripsikannya lagi.

Atau melemahnya aroma itu pertanda, agar aku segera melupakannya saat itu juga. Tapi bagaimana bisa?!

"Ayo," desak adikku.

Tersaruk-saruk aku mengikuti langkahnya. Ingin sekali aku menangis. Tapi mana mungkin aku melakukannya? Lagipula, di masyarakat Indonesia, cowok itu didoktrin mesti kuat dan dilarang menangis.

Bayangan STM memenuhi rongga mataku. Dia telah berganti baju. Baju bagus. Dia kelihatan sangat memukau--meski sebenarnya dia bakal lebih sangat memukau bila tidak mengenai sehelai benang pun. Keringat yang tadi membuat wajahnya berkilat telah hilang. Wajahnya tampak fresh. Mungkin dia baru saja dari kamar mandi, membasuh mukanya. Hilangnya dia lewat pintu belakang menjelaskan beberapa hal. Dan kini dia sedang bercengkerama dengan bunda.

Tapi itu bukan bayangan, itu nyata. Dia memang sedang mengobrol dengan bunda. Apa kira-kira yang mereka obrolkan? Apakah tentang diriku?

Mereka berdua melihat kedatanganku dan adikku.

"Sini duduk," dia menyerahkan tempat duduknya padaku. Tanpa membantah, sambil membayangkan prospek aku bisa duduk bersebelahan dengannya, aku melangkah mendekat.

Di luar dugaan, dia berdiri dan berjalan menjauh. Lebih menjengkelkan lagi, adikku menduduki bangku yang masih hangat dengan aroma STM.

Sial banget!

Adikku mengumumkan maksud kedatangan kami menemui bunda. Aku diam saja. Kalian tahu apa sebabnya.

STM berjalan ke arah kami. Timbul harapan di hatiku bahwa dia hendak duduk mengobrol bersama kami. Tapi ternyata tidak. Tidak benar dia berjalan ke arah kami. Dia berjalan ke rumahnya.

Sesuatu meledak di dadaku. Ayo, ini kesempatanmu. Kejar dia! Sebuah suara muncul dari dalam benakku. Mumpung dia sendirian.

Aku bimbang.

Demi pelangi yang cemerlang, buruan kejar dia! Kamu mau kenal dia lebih lanjut kan?

Aku manggut-manggut.

Kalau begitu tunggu apalagi? Kejar dia. Ajak obrol dia. Minta nomor hapenya.

Tapi...

Oh My Goose, apalagi yang kami bimbang kan? Kamu nggak bakal tahu kapan bakal ketemu dia lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

Benar juga. Apa yang dikatakan suara dari dalam benakku itu, maksudku.

Aku berdiri dari tempat dudukku. Baik bunda dan adikku melihatku, tapi mereka tidak bertanya kenapa aku berdiri. Aku memang dikenal sebagai cowok yang tidak bisa duduk diam--tapi suka tidur, hahah. Aku tahu kemana harus mengejarnya. Selama dia tidak menyalakan motornya lagi.

Tepat di detik terakhir, aku mengurungkan niatku.

Tidak, pikirku, lebih baik rasa ini harus dihentikan.

Dengan aku mengenalnya lebih jauh, dengan aku tahu nomor ponselnya, aku bakal berharap...

Hubungan ini... Terlarang. Aku tidak seharusnya menyukai keluargaku sendiri. Tidak seharusnya aku mengharapkan dia juga punya sedikit feeling padaku.

Seandainya dia bukan keluargaku. Seandainya dia orang lain.

Tapi bila dia bukan keluargaku, bagaimana aku bisa mengenalnya?

Demi menghalau lagu Cinta Terlarang-nya The Virgin yang terngiang-ngiang di telingaku, aku berkata seperti ini pada ibu dan adikku, "Kupanaskan dulu motornya."

Mereka mengangguk. Aku pun berlalu pergi. Menemukan sepeda motor STM tidak lagi berada di mana terakhir dia meletakkan. Semua pintu rumahnya juga telah tertutup rapat.

Kuabaikan rasa penasaranku yang mempertanyakan posisi STM kali ini.

Lebih cepat melupakannya, lebih baik.
============================
Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 1 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7
============================
Share:

5 komentar:

  1. cerita yg bagus. Kalo suka bilang aja, jangan d tahan2. Entar jd uring2an lho :)

    BalasHapus
  2. aaaaaaaaaaa , mantep mas ceritanya .

    BalasHapus
  3. >> Asti
    Makasih.
    Iya, tokoh aku bakal uring"an di chapter selanjutnya :))

    >> Ikrom Rahmadi
    makasih :)

    BalasHapus
  4. Mihihi..ditunggu chapter selanjutnyaa ^^/

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^