Minggu, Oktober 28, 2012

Wall-E

Oke, aku mengaku, aku telat nonton film animasi itu. Dan bagi kalian yang sudah nonton, mungkin akan mengalami dejavu ketika membaca catatanku yang satu ini.

Tapi tidak ada yang buruk dengan dejavu yang ini aku rasa. Lagipula Wall-E juga film keren yang sarat makna.

Niat awalku nonton film ini adalah aku butuh referensi dunia robot dan luar angkasa, untuk riset naskah baruku. Dan boleh dibilang, aku tidak dikecewakan.

Wall-E diawali dengan kondisi bumi yang didominasi oleh gedung-gedung tinggi... Eh, tunggu dulu, itu bukan gedung. Itu tumpukan sampah! Bahkan tumpukan sampah itu menggunung, menjulang mengalahkan tinggi gedung yang sudah tidak dihuni lagi. Kondisi bumi saat itu sudah tidak dihuni oleh manusia. Satu-satunya yang bergerak di bumi adalah robot. Robot-robot berbentuk persegi yang bertugas "merapikan" sampah.

Wall-E adalah salah satu robot itu. Dan, percaya atau tidak, dia adalah satu-satunya robot yang tersisa. Semua teman-temannya sudah rusak. Temannya satu-satunya adalah kecoa. Dia sering mengumpulkan beberapa barang. "Makanan"-nya adalah matahari. Kalau malam dia pulang ke rumahnya yang bentuknya mirip kontainer. Tingkahnya nyaris mirip manusia--dia menyampirkan "alas kaki"-nya, dia nonton tv, dia tergerak oleh adegan cinta manusia.

Di satu hari tugasnya, Wall-E tak sengaja menemukan sebuah tunas di dalam kulkas. Dia lalu membawanya ke rumahnya.

Suatu hari, dia mendengar ada pesawat datang. Pesawat itu mengangkut robot yang mirip telur berbalik. Dan, Wall-E... Sebut saja, dia terpesona olehnya. Sayangnya, robot itu, namanya Eve (tapi Wall-E memanggilnya Eva), kurang ramah. Dikit-dikit mendengar gangguan, dia meledakkan gangguan itu. Beberapa kali Wall-E nyaris jadi korbannya.

Hingga Eve diajak pulang oleh Wall-E ke rumahnya. Saat Wall-E menunjukkan tunas yang ditemukannya, secara tak terduga Eve menghisap tanaman itu, menyimpannya di dalam tubuhnya kemudian dia langsung sediam telur.

Wall-E terus memanggil Eve, menggoyang-goyangnya, tapi Eve bergeming. Wall-E mengira Eve habis daya. Tapi berjam-jam menjemur Eve di bawah matahari, Eve masih sama diamnya.

Hingga pesawat yang membawa Eve datang mengambil Eve. Entah apa yang ada pikiran Wall-E, mungkin dia mengira Eve diculik oleh pesawat itu, sehingga dia berusaha menyelamatkan Eve. Sayangnya dia malah terbawa keluar angkasa. Melewati matahari, saturnus, keluar bima sakti, menuju awan (yang seingatku tempat dimana bintang baru dibentuk) dimana ada pesawat Axiom yang merupakan rumah manusia yang tersisa.

Di Axiom, hidup manusia sangat nyaman. Mereka duduk dalam sebuah bangku yang jalurnya sudah ditetapkan. Mereka berinteraksi dengan temannya melalui komputer tanpa layar di depan kepala mereka, makan dan minum atau butuh apapun tinggal bilang, ganti baju tinggal pencet tombol, hanya saja hidup serba nikmat itu berakibat obesitas.

Phew, aku bisa saja menuliskan semua adegan dalam film itu. Tapi posting ini bakal jadi makin panjang kalau aku melakukannya.

Dari fakta ilmiah, creator Wall-E ini telah memikirkan banyak hal matang-matang. Semisal kecoa yang menjadi satu-satunya makhluk hidup yang bertahan di bumi (tumbuhan satu itu jangan dihitung ya). Wall-E dan Eve berinteraksi dengan bahasa isyarat, satu-satunya interaksi lisan mereka adalah memanggil nama. Memang, peralatan disini canggih-canggih, tapi mereka bukan android atau robot yang dibungkus menyerupai manusia.

Penggambaran ekspresinya juga boleh. Untuk Wall-E komplit gerak tubuh dan mata. Sementara Eve hanya monitor matanya.

Obesitas yang diderita oleh seluruh manusia, karena mereka hanya makan dan duduk saja. Bergerak dengan duduk, melakukan apa saja dengan duduk.

Pesan tersiratnya keren. Sampah yang tak tertanggulangi bikin bumi tak layak huni. Manusia butuh interaksi secara nyata dengan manusia lainnya, tidak di depan layar. Manusia butuh disadarkan atau "digoyang" untuk keluar dari zona nyamannya yang membuat lupa sekitarnya.

Ada momen favoritku, dimana sentuhan membangkitkan cinta pada dua manusia yang "tersadarkan".

Pesan tersirat lainnya yang nggak kalah keren: keindahan itu tetap ada bila penikmat keindahan mau menjaga dan memeliharanya, dan untuk mencapai sesuatu yang "wow" tidak bisa dilakukan secara instan, harus diperjuangkan.

Meski keren, tentu saja ada kekurangan dalam film Wall-E. Aku hanya menemukan dua "cacat". Pertama, soal tunas yang ditemukan oleh Wall-E. Tunas itu berwarna hijau, padahal ditemukan Wall-E di dalam kulkas. Seperti kita tahu, klorofil atau zat hijau daun diperoleh dari sinar matahari. Jadi bagaimana tunas itu berwarna hijau kalau tidak terkena matahari? #CMIIW

Kedua, saat Wall-E rusak berat dan Eve mengganti semua bagiannya, termasuk bagian dalamnya. Wall-E sempat hilang ingatan tapi ingat kembali saat Eve menggenggam tangannya. Dari kacamata cinta, adegan ini memang so sweet. Tapi ada yang aneh, jika komponen di dalamnya diganti, itu artinya memorynya ikut terbuang bersama komponen lama. Tapi Wall-E bisa langsung ingat semuanya.

Kekurangan-kekurangan itu bisa kumaklumi kok. Lagian Wall-E melebihi ekspetasi awalku. Aku tidak menyangka Wall-E menghadirkan kisah cinta yang begitu mengharukan. Tindakan-tindakan Wall-E pada Eve, bener-bener bikin merinding. Apa yang dilakukannya berhasil membuat hatiku mengharu-biru. Belum lagi pesan-pesan moral yang tersirat di dalamnya. Ditambah keseruan adegan kejar-kejaran.

Wall-E langsung masuk dalam lemari film favoritmu. Bagaimana dengan teman-teman, bagi yang udah nonton bagaimana kesan kalian pada film ini? Bagi yang belum, tertarik buat nonton? Rugi banget lho kalau nggak nonton ;)

Share:

4 komentar:

  1. Yup! ah he was really sweet. Did u remember the scene when he was struck by lightning as he was trying to make Eve alive again? Tht was sweet yet funny :)) and the important point was the message of this movie. Worth to watch! :D

    BalasHapus
  2. aku minta filmnya dunk.. :D wkwk :D yang banyak ya. :D wkwk :D

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^