Kamis, November 01, 2012

Akhirnya (Aku dan Dia dipertemukan) - part 2

Dia datang. Sang Titisan Malaikat datang juga. Jangan percaya dengan ekspresi datar yang hadir di wajahku. Sebab hatiku lebih semerbak dari musim semi dan jantungku berdetak lebih kencang dari tabuhan drum marching band.

Aku menatap ke arahnya. Dia menatap balik ke arahku. Kulemparkan senyum padanya. Dia balas tersenyum padaku.

"Kok diluar?" Tanya STM. "Ayo, masuk."

Aku tersenyum lagi dan menggeleng. "Nggak. Aku di... sini saja."

Dia turun dari motor old Veganya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Entah dia menyadarinya atau tidak, sudut mataku tidak pernah lepas darinya. Aku ingin mengabadikan setiap gerak-geriknya dalam memori otakku. Aku tak mau kehilangan satu momen pun.

Dia keluar lagi. Dia memintaku masuk lagi. Aku menggeleng lagi dan bergeming di tempat duduk di teras rumahnya. Teras yang sama dimana dia pernah meminta hal yang sama di hari pernikahan Tante Susi.

Dia mengambil sesuatu dari motornya dan balik ke dalam rumah.

Oke, aku mengaku. Sebenarnya aku sengaja duduk di teras dengan harapan memancing STM bergabung denganku. Selama ini dia selalu berkeliaran kemana-mana sebab aku selalu dikelilingi oleh orangtua yang sedang berdiskusi. Padahal aku, dan aku rasa dia tahu, tidak terlibat dalam diskusi itu. Tapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa aku berada di antara perbincangan "seru" para orangtua.
Aku pernah membaca dalam sebuah artikel, ada hal yang mesti dihindari untuk mengundang seseorang datang kepada kita: pastikan kita sendirian. Hal itu akan menimbulkan keberanian dalam diri seseorang untuk mendekati kita.

Analogikan saja sekarang aku seorang yang punya kail. Aku melemparkan kailku itu ke dalam sungai. STM adalah salah satu penghuni sungai itu. Penghuni paling istimewa dalam sungai itu. Aku berharap umpanku dimakan STM. Dua kali dia melihat umpanku, dia sama sekali tidak tertarik.

Akankah ada hingga tiga kali dia melihat umpanku?

Aku nyaris menyemplungkan diri dalam keputusasaan ketika dia akhirnya datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.

Akhirnya... Aku nyaris melompat dari tempat dudukku dan melonjak-lonjak, jumpalitan kesana kemari saking senangnya.

Akhirnya... Dia tidak pergi entah kemana. Dia datang dan duduk di sampingku. Apakah aku bermimpi? Aku mencubit lenganku, tentu saja aku melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Sakit. Berarti aku tidak bermimpi.

Akhirnya aku dan dia dipertemukan. Hari itu tentu saja menjadi salah satu hari favoritku dalam hidupnya.

Akhirnya, setelah sekian lama menunggu... Air mata bahagia melesak naik. Tapi aku tidak mengijinkan keluar. Malu dong aku nangis di hadapan orang yang kusukai.

Dia sekarang ada di depanmu, apa yang akan kamu lakukan? sebuah suara yang terdengar tegas menggema di dalam diriku.

Mengajaknya mengobrol?

Kamu tolol atau pura-pura tolol sih? Ini kesempatanmu mengungkapkan isi hatimu. Kita tidak akan tahu apakah kita bakal bisa ketemu dia lagi.

Ayah STM menyiratkan keengganan membantu pembangunan rumah Tante Tri. Bisa jadi hari ini adalah hari terakhirku bertemu STM sebelum bertemu dia lagi di hari lebaran.

"Aku dengar, kamu lebih suka diem di rumah ketimbang jalan-jalan keluar. Apa itu benar?" STM memulai pembicaraan. Sebenarnya aku malu dia mengetahuinya. Aku langsung membayangkan banyak cap yang kuterima dari teman-temanku: kuper, cupu, kudet, tapi aku mengangguk--karena pada dasarnya memang itulah kenyataannya.

“Apalagi sih yang kamu tunggu? Kamu nggak... Nunggu dia yang mengatakan cinta kan?”

Hmm... Mungkin.

"Serius kamu tidak suka jalan-jalan?" Tanya STM, ada sedikit kekagetan dalam nada suaranya.

Aku mengangguk.

"Kenapa?" Seolah aku sudah gila lebih suka diam di rumah daripada melanglang buana.

"Kenapa ya..." Aku sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Apa karena pekerjaan? Mungkin benar, kegiatan melamun dan menulis lebih aman dan asyik dilakukan di rumah.

Kulihat dia serius menunggu jawabanku.

Lakukan sekarang atau nggak usah lakukan sama sekali. Ini kesempatan bagus. Katakan kamu suka dia. Katakan kamu suka dia!

Aku berdeham, membersihkan tenggorokanku. "Ehm, sebenarnya... aku... suka..."

#bersambung

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 6 | Part 7

Share:

3 komentar:

  1. DHUARRR! Ni adegan terakhir bikin penasaran yak. :)) *lempar bom ke jun*

    BalasHapus
  2. >> Kezedot
    makasih :)

    >> Asti
    Harus itu :)))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^