Rabu, November 14, 2012

Akhirnya - part 3

Aku berdeham, membersihkan tenggorokanku. "Ehm, sebenarnya... aku... suka..."

Dia melirikku, menunggu aku menyelesaikan kalimatku.

"Sebenarnya... aku suka..." Lidahku mendadak kelu. Kenapa di saat seperti ini lidahku tidak bisa diajak kompromi? Kenapa di saat Sang Titisan Malaikat (STM) berada di sebelahku mulutku sulit mengucapkan kalimat dengan lancar?

"Sebenarnya... Aku suka jalan-jalan juga," akhirnya aku menuntaskan kalimatku. "Tapi hanya jika ada yang mengajakku keluar." Dia menatapku sekilas, tampak tidak terkesan. "Aku kadang main ke tempat kerja temanku. Dia kerja di warnet."

"Warnet mana?" Akhirnya dia merespon juga. "Warnet di depan pom bensin?"

"Bukan. Tapi warnet di belakang pom bensin--" sebenernya bukan belakang sih, tapi sudahlah.

"Ohh, Green," katanya.

"--Green Net," kataku, hampir bersamaan dengannya. "Aku sering main kesana."

Dia mengangguk-angguk. Entah apa arti anggukan itu.

Kemudian dia menanyakan tempat kuliahku. "Kamu kuliah di kampus A, kan?"

"Yap."

"Ambil apa?"

"Informatika. Teknik Informatika." Keren ya cara jawabku. Berasa kayak James Bond ngenalin diri. Bond. James Bond.

"Semester berapa?"

"Tujuh. Tapi sekarang aku sedang pekael."

"Pekael dimana?"

Kasih tahu nggak ya? Pengennya sih jawab kayak gitu, tapi ini aku sedang bicara dengan STM, nggak boleh bercanda gitu (heh? Aturan dari Hong Kong?!) "Di kantor yang bergerak di bidang informasi dan informatika."

"Sampai kapan kamu pekael?"

"Aku sendiri nggak tahu sampai kapan."

"Kok?"

"Jadi instrukturku memintaku untuk membuat sebuah aplikasi komputer dan dia bilang, aku harus menyelesaikan aplikasi itu sebelum aku kelar pekael."

"Wah, pasti susah ya bikin aplikasi itu," dia tampak prihatin.

"Banget." Aku setuju dengannya.

Obrolan kami berjalan lancar. Awalnya obrolannya fokus membahas diriku, tapi kemudian aku bisa membelokkannya untuk membahas tentang dirinya.

Secara lebih tua dariku, tentu saja dia sudah lulus sekolah lebih awal dariku. Dan aku sedikit terkejut ketika dia menceritakan pengalaman hidupnya, terutama pengalaman kerjanya di beberapa kota besar--hanya dua sih, Jakarta dan Surabaya.

Pertama, Jakarta.

Dia di Jakarta menjadi pegawai di kedai bakso. Katanya sih gajinya lumayan, tapi bosnya... Singkatnya bosnya itu resek. Dia dan teman-temannya, STM tidak berangkat ke Jakarta sendirian tapi bersama kroni-kroninya, akhirnya memutuskan hengkang dari tempat kerja itu.

Dia memutuskan pulang kampung. Sementara teman-temannya, aku tidak sempat menanyakannya. Dia juga tidak menceritakannya.

Lalu di kota Surabaya.

Dia cukup lama di sana. Dan cukup banyak juga pekerjaan yang digelutinya disana. Yang paling aku ingat adalah kisahnya bekerja di konveksi boneka dan toko elektronik di mall.

Di konveksi boneka gajinya sedikit, jadi tidak cukup untuk biaya hidup di kota besar kedua di Indonesia itu.

Di toko elektronik, gajinya lumayan tapi tuntutan kerjanya gila-gilanya. Dia cakep, tentu saja. Tapi cakep saja tidak cukup. Dia harus menjaga kebersihan dirinya. Dia harus menjaga penampilannya. Tidak boleh bau badan alias mesti wangi dan harus memenuhi target penjualan bulanan, kalau tidak maka dia dapat sanksi yang lumayan berat.

"Belum lagi ada persaingan antar karyawan," kata STM, matanya menerawang mengingat masa lalu. Sementara mataku tak bisa lepas dari memandanginya. Wajahnya yang rupawan, rambutnya yang lurus, bibirnya yang bergerak-gerak minta dilumat... Eh, apa yang barusan aku pikirkan?

"Aku kerja di bagian Toshiba," lanjut STM.

"Toshiba?" Ulangku.

"Laptop, kulkas, AC, mesin cuci, apapun elektronik bermerk Toshiba menjadi bagianku. Pernah suatu kali ada pelanggan yang datang ke lorongku. Tapi tiba-tiba karyawan lain dari bagian elektronik lain-lain datang sambil ngomong ke calon pembeliku, 'mending beli barang di lorong saya pak, bu. Lebih bagus dan lebih murah lagi dari Toshiba', dan pelanggan-pelanggan itu pun terbujuk rayuannya."

STM tampak sedikit sedih. Tanganku nyaris menyentuh bahunya, dengan maksud hendak menghiburnya. Tapi kuurungkan niat itu. Bagaimana pun Nganjuk itu kota kecil, orang-orangnya tidak seperti di kota besar yang kebanyakan tidak pedulian.

"Tapi itu nggak benar! Merk Toshiba kan merk paling dipercaya kebanyakan orang Indonesia sebagai merk yang terbaik," kataku, bukan mencoba menghiburnya--meskipun kalau kalimatku itu menghiburnya, itu merupakan bonus yang diterimanya. Aku ngomong berdasarkan fakta.

"Mungkin calon pembeli itu bukan orang kebanyakan itu," ringisnya.

Kupalingkan pandanganku sekilas. Aku tak tahan melihat kesedihan yang membayang pada wajahnya.

Setelah di Surabaya dia balik ke Nganjuk. Siapa juga yang bakal tahan bekerja di tempat dengan seabrek aturan? Aku pun ogah!

Di Nganjuk pun dia sering berpindah pekerjaan. Dia pernah bekerja di percetakan dan beberapa tempat lainnya. Di percetakan, dia betah. Sayangnya, percetakan itu bangkrut. Jadi mau tak mau STM mesti mencari pekerjaan lain.

"Jadi sekarang, kakak kerja apa sekarang?" Sebenarnya aku sudah tahu kerjaannya sekarang dari ayahnya beberapa hari yang lalu. Aku melakukannya supaya dia tidak berhenti bicara.

Tapi dia mengunci mulutnya. Ekspresinya juga sulit dibaca.

Apa, apa aku salah menanyainya? Apa dia marah? Tapi marah kenapa? Ditimbang dari sudut mana pun pertanyaanku pertanyaan lumrah, lalu kenapa dia tidak menjawabnya? Apakah dia malu dengan pekerjaannya sekarang?

Sambil menunggunya menjawab pertanyaanku, atau mungkin tidak menjawab pertanyaanku, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan, "Kapan-kapan kita jalan-jalan yuk?"

Saat aku mengatakannya, kira-kira apa jawabannya? Tentu saja hanya ada dua kemungkinan jawaban. Tapi apa ada alasan dia menolak ajakanku? Biasanya tidak ada yang menolak ajakan jalan-jalan keluar sebagai TEMAN.

Kadang aku bertanya-tanya, otak bisa memerintah tangan, kaki, lidah, mata dan kelopaknya, bibir, dan masih banyak lagi, tapi kenapa tidak bisa memerintah jantung? Jantungku kini bertalu-talu, begitu kerasnya hingga aku bisa mendengarnya. Seolah jantung itu tiba-tiba pindah tempat di dekat telinga, hingga aku khawatir STM bisa mendengarnya.

Aku menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, menenangkan jantungku. "Kap--"

Seseorang keluar dari ruang tamu. Otomatis mata kami--aku dan STM--menatap ke arah orang itu. Orang itu ayah STM. Dia tersenyum ramah ke arahku, tapi matanya... Ada sesuatu dalam matanya yang, mungkin hanya perasaanku, terkesan bertolak belakang dengan keramahan yang tercetak pada bibirnya.

Aku menatap ke arahnya. Lalu aku menatap ke STM. Sanggupkah aku melanjutkan kalimatku di depan ayah STM?

Aku pasti sanggup. Aku pasti bisa. Aku hirup napas panjang sekali lagi.

"Kap--"

"Ayo, pulang," ajak eyang putri yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.

Ada yang punya nuncaku? Boleh deh pukul kepalaku hingga aku pingsan. Mungkin saat terbangun aku sadar bahwa perjalanan ke rumah STM sore ini sekedar mimpi saja.

Seandainya aku punya sedikit ekstra keberanian, atau seandainya aku punya kecenderungan membangkang yang parah, mungkin aku bisa menyelasikan kalimatku yang terpotong hingga dua kali.

Yang aku sesali adalah, kenapa ketika obrolan tadi aku tidak menyelipkan pertanyaan mengenai nama lengkapnya, sekolahnya, nomor ponselnya atau minimal alamat facebook--ini pertanyaan yang harusnya paling alami ditanyakan secara tadi di awal-awal kami ngobrol soal warnet.

Eyang Putri berjalan ke halaman. Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan bergerak menuju motorku--balik lagi ke dalam rumah untuk ambil helm tapi tentu saja aku telah kehilangan kesempatanku.

"Aku akan berkunjung ke rumahmu," teriak STM sebelum aku menyalakan motor.

"Oke," jawabku sambil menganggukkan kepala. "Aku pasti menunggu kedatanganmu... Kak," imbuhku dengan suara yang hanya bisa didengar oleh diriku sendiri.

Kunyalakan motorku. Kugelindingkan mendekat ke arah eyang putri yang berdiri menungguku. Saatnya pulang. Saatnya meratapi ketidakberdayaanku di dalam ruangan seluas 3x4 meter.

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau

Part 1 | part 2 | part 3 | part 4 | part 5 | Part 7
Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^