Minggu, November 18, 2012

Sampai Jumpa di Lebaran Tahun Depan

"Apa kita akan berkunjung lagi ke sana, Yang?" Tanyaku pada Eyang Putri.

"Tidak," kata Eyang Putri mantap. "Mbah Tari tidak mau."

Seperti dugaan bunda. Mbah Tari, ayah Sang Titisan Malaikat (STM), tidak mau membantu pembangunan rumah Tante Tri.

Saat aku mendengar Eyang Putri bilang tidak tadi, ada rasa yang sangat kukenal menyusup ke dalam hatiku: kekecewaan.

Kalian pasti bisa dengan mudah menebak penyebab kekecewaanku. Ya, aku tidak bisa bertemu dengan STM lagi.

Aku mungkin bisa saja datang ke situ, main atau berkunjung, tapi apa jawabanku ketika ditanya, "Kenapa kamu kemari?"

Aku nggak mungkin menjawab sekedar silaturahim atau main doang. Lebih tidak mungkin lagi aku bilang pengen ketemu sama kak STM--lagian apa mereka tahu singkatan atau julukan yang aku berikan pada salah satu anak mereka, dalam hal ini anak tengah.

Dengan berkunjung ke rumah itu, otomatis orang-orang akan mengira aku naksir kak STM. Siapa lagi yang bisa aku ajak bicara hal-hal masa kini selain dia? Di rumah Mbah Tari hanya ada tiga penghuninya, Mbah Tari dan istrinya, dan kak STM. Dua saudari kak STM yang kakaknya sudah menikah dan satunya lagi bekerja di Surabaya.

Inilah kenapa aku dulu meminta Sang Pencipta menghapus rasa itu. Aku dan STM tidak mungkin bersatu. Berpotensi incest, karena dia berasal dari pihak keluarga ayahku.

Selama perjalanan pulang, hatiku digelayuti tidak hanya oleh kekecewaan tapi juga kesedihan. Ingin rasanya aku menggunakan kecepatan penuh supaya kami bisa cepat sampai rumah. Supaya aku bisa segera mengurung diri di kamar. Supaya aku bisa segera menumpahkan air mata yang mati-matian aku bendung sambil diiringi lagu Forget You-nya Gwyneth Paltrow featuring Glee.

Meski cengeng gini, aku masih tahu diri agar tidak menangis di depan umum.

Aku masih ingat dengan kata-kata STM sebelum aku pulang, "Aku akan berkunjung ke rumahmu."

Satu minggu. Dua minggu. Satu bulan, berbulan-bulan... Dia tidak kunjung merealisasikan ucapannya.

Aku salah. Harusnya aku tidak menanggapinya secara serius. Sehingga aku tidak perlu menantinya, karena kalimat itu... Aku tahu aku terus menyangkal kebenarannya, tapi kata-kata itu memang hanya basa-basi doang.

Atau sebenarnya dia tahu aku... Ingin mengenalnya lebih jauh? Makanya dia mengatakan hal itu? Bila benar dia melakukannya, dia benar-benar orang terjahat di dunia.

Selamat tinggal STM, ucapku dalam hati, aku tahu harusnya aku tidak membiarkan rasa ini berkembang leb--ah, sudahlah. Semakin dipikir lagi akan semakin menyiksa hatiku.

Sampai jumpa lagi di lebaran tahun depan, kak STM--aku yakin kita masih punya kesempatan bertemu dengan lebaran lagi.

TOMAT TAMAT.

Baca kisah selengkapnya: Cinta di Hari Lebaran

Atau


========
Wuih, nggak nyangka, kisahku di hari lebaran bisa berkembang hingga seperti ini :))

Kalau ada yang tanya, apakah ini fiksi ataukah ini kisah nyata? Jawabannya, keduanya. Ada bagian yang fiksi ada juga bagian yang terjadi di kehidupanku.

Gimana menurut kalian kisah seri ini? Keren? Bikin terharu? Bikin gemas? Bikin sebal? Malas baca secara bahasanya kurang enak dicerna?
Tuliskan semua kesan, saran atau kritik kalian di kolom komentar ya :)

Share:

1 komentar:

  1. sejujurnya setengah dari diri percaya kalau semuanya adalah cerita nyata...
    yah...
    tapi setengahnya lagi tidak percaya...

    karena aku belum pernah 'melihat' laki-laki bisa membeberkan perasaannya dengan detail tanpa peduli siapa yang diajak bicara :))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^