Selasa, Desember 31, 2013

Goodbye 2013, Hello 2014

Umur 2013 tinggal beberapa menit lagi. Sudah siapkah kamu menyambut kedatangan 2014?

Apa, bagaimana denganku? Aku siap sekali. Malah tak sabar sebenarnya. Tidak, tidak. Tidak ada yang spesial di tahun 2014. Maksudku, aku tidak tahu akan apa yang terjadi di kehidupan saat tahun tersebut, tapi sepanjang pengetahuanku hingga detik ini tak ada acara spesial yang aku tunggu-tunggu ketimbulannya (?) Dan tentu, bila ada yang spesial datang menghampiri aku tak bakal menolaknya. Aku tak sabar menanti pelukan 2014 lebih karena tak ada yang membuatku tak rela berpisah dengan 2013.
Share:

Kamis, Desember 05, 2013

Senin, November 18, 2013

KUKIS PEDAS: Kumpulan Kisah Pendek Fantasi

Selama sekitar dua tahun terakhir ini, bisa dibilang aku kurang produktif dalam menulis novel. Malah jauh lebih produktif menulis review buku dan curhat colongan daftar harapan.

Bukan hal yang salah memang. Tapi juga bukan hal yang benar. Sebab, beberapa orang sudah menanyakan kapan lanjutan Peri Cinderella, yang aku kasih judul, Taman Cahaya (berasa kayak buku rohani nggak sih?), terbit?

Dan aku merasa bersalah karena hingga kini masih stuck di bab 5 karena ide untuk buku terakhir masih perlu penelitian lagi.

Namun bukan berarti aku berhenti nulis sama sekali. Selama dua tahun terakhir ini aku cukup sering menulis cerita pendek, juga cerita seri yang terinspirasi dari kehidupan pribadi. Kebanyakan karena ada iming-imingnya aka ada hadiahnya, sehingga membuatku bersemangat dan merasa tertantang. Beberapa bergenre realistic fiction. Ada satu yang horror, yang kemudian aku kirimkan ke majalah. Ada pula yang absurd, yang kemudian menjadi salah satu pilar untuk naskah baru. Lebih banyak yang fantasi.

Aku mengumpulkan yang fantasi. Menyatukannya dalam satu buku digital yang kuberi judul KUKIS PEDAS: Kumpulan Kisah Pendek Fantasi.
Share:

Kamis, November 14, 2013

Review Cerpen Majalah Story edisi 42

Saat aku ulang tahun kemarin, salah seorang sahabatku, Ryana as Roro, mengirimi dua hadiah bacaan: The Rise of Nine karya Pittacus Lore dan majalah Story yang bikin aku penasaran bagaimana cerpen-cerpen di dalamnya—secara di daerah tempatku tinggal majalah ini belum pernah aku lihat batang hidungnya.

Err, meski secara literal dia tak punya hidung ._.
Share:

Minggu, November 03, 2013

Sabtu, Oktober 26, 2013

Temanku Bilang Aku dan OPPO N1 Ditakdirkan Hidup Bersama

Aku menghela napas panjang berulang kali. Indikasi yang sangat jelas bahwa aku sedang bermuram-durja. Kesedihan dan kegalauan itu diakibatkan oleh “jatuh sakit”-nya Sherina—nama ponselku, kalau kalian bertanya-tanya dia siapa.

Dia kolaps dini hari tadi. Dan pagi tadi aku langsung melarikannya ke service center terdekat.

Aku menghela napas panjang sekali lagi. Menatap awan kelabu yang menggelayut rendah di langit Nganjuk. Seolah-olah langit pun sedang ikut bersedih bersamaku.

“Kenapa kamu?” tanya Dude, sahabatku, yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingku di emperan rumah.

“Sherina… dia…” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku.

“Bermasalah lagi dia?” tanyanya lagi, dengan nada yang biasa digunakan saat dia berkata, “Sudah kubilang, kan?”

Aku mengangguk.

“Kenapa nggak ganti hape saja sih?”

“Lalu gimana dengan Sherina? Dia ponsel pertama yang membantuku mengerjakan tugas kuliahku. Menulis posting di blog dan bahkan menulis cerpen dan naskah-naskahku yang nantinya akan menjadi novel bestseller di seluruh dunia.”
Share:

Rabu, Oktober 23, 2013

Sherina di Rawat Inap (lagi)

Hari ini, tepatnya dini hari tadi sekitar setengah tiga-an, saat aku hendak menyelesaikan review Kisah-kisah Tengah Malam karya Edgar Allan Poe untuk diposting besok di Story Eater Tales, tiba-tiba saja papankuncinya tidak bisa digunakan. Saat ditekan, tidak tak ada karakter yang muncul di layar. Hanya trackpad yang bisa digunakan. Itu pun hanya terbatas untuk fungsi kursor saja.

Tentu saja rasa panik langsung menyerangku. Semua deadline lomba menulis yang aku ikuti, semua naskahku yang menjerit minta dikelarin, belum lagi hutang review yang masih tersisa dua--dan masih akan terus bertambah seiring berlalunya waktu. Dan jangan lupa kumpulan ebooks yang menunggu giliran untuk kulahap.
Share:

Selasa, Oktober 15, 2013

Kebiasaan Aibileen

Pada awalnya, aku hanya penasaran dengan salah satu sejarah Amerika: soal permasalahan orang kulit putih dan orang kulit hitam. Sehingga saat kak Riri, yang mengadakan giveaway berhadiah buku dan mengatakan aku menjadi salah satu pemenangnya, setelah aku berpikir ulang dan sedang malas membaca buku serial, aku menjatuhkan pilihanku pada The Help karya Kathryn Stockett.
Share:

Senin, Oktober 14, 2013

Dear Crush [5]

Aku terus menunggu dan menunggu. Menunggumu dengan sabar. Menunggumu sendirian. Menunggumu memisahkan diri dari teman-temanmu. Tapi saat itu tak kunjung datang. Padahal aku sudah merasa siap mengajakmu bicara. Tapi tidak di depan mata teman-temanmu atau orang-orang.

Dengan reputasi yang melekat di diriku aku takut... Tentu saja, aku sudah lama tahan omongan buruk mereka tentangku, tapi kalau sampai mereka mencelamu aku takut... kamu tak memberiku kesempatan untuk mendekatimu barang sejengkal.

Namun, anehnya, saat hal itu tiba, kesempatan aku dan kamu tinggal berdua dalam satu ruangan, saking kagetnya aku malah terpaku di tempatku.
Share:

Jumat, Oktober 11, 2013

Rasa Bangga itu Teman Sekaligus Musuh

Mobil yang kutumpangi akhirnya mengurangi kecepatan lajunya. Sudah tak tahan rasanya aku ingin segera curhat (baca: mencurahkan hajat). Sambil menunggu sopir menginjak pedal rem, tangan kiriku bersiap-siap di handle pintu. Siap membukanya lebar-lebar saat ban mobil berhenti menggelinding. Namun sayangnya, sebagai seorang yang membanggakan profesionalitasnya, aku harus menunda panggilan alam itu demi tampil menawan di tengah-tengah ingar-bingar teriakan orang-orang. Beberapa merupakan para fansku.

"Jun! Jun!" jerit beberapa fansku, tepat ketika salah satu kakiku menyentuh karpet merah.

"Jun, marry me, Jun!" pekik seorang gadis—yang kemudian diikuti gadis-gadis lainnya. Kedua tangan mengangkat tinggi-tinggi papan bertuliskan Marry Me dengan tinta warna-warni dan dihiasi gambar-gambar hati.

Saking ngebetnya pengen segera nongkrong di toilet, aku nyaris lupa dengan acara yang hendak aku hadiri.
Share:

Kamis, September 12, 2013

Midnight Movies on TV

Aku merasa kecewa dengan banyak penyensoran yang dilakukan di televisi. Yang mungkin juga bagus, secara aku bisa memanfaatkan waktuku untuk hal lain. Seolah penontonnya hanya anak-anak. Atau jangan-jangan orang dewasa di Indonesia itu bermental anak-anak sehingga penyensoran itu diperlukan? Atau karena nggak sesuai dengan budaya ketimuran? Kadang aku mempertanyakan, sebenarnya seperti apa sih budaya ketimuran? Mungkinkah terus melakukan sesuatu yang tabu secara sembunyi-sembunyi meski masyarakat telah tahu?

Oke, singkirkan sejenak soal itu.

Btw, beberapa minggu terakhir ini, saat aku begadang, sering sekali aku secara tak sengaja menonton film bagus yang ditayangkan tengah malam oleh salah satu stasiun tv swasta.

Beberapa film ulangan. Beberapa lagi film pertama kali lihat.
Share:

Rabu, September 11, 2013

Jack the Giant Slayer

Judul: Jack the Giant Slayer
Produksi: New Line Cinema, Legendary Pictures, Original Film
Tahun rilis: 2013
Durasi: 114 menit
Genre: fantasi - retelling - action - adventure
Cast: Nicholas Hoult (Jack), Ewan McGregor (Elmont), Eleanor Tomlinson (Isabelle), and many more.
Stew score: Sugar free (untuk mengetahui artinya silakan ke sini)
Target penonton: Teen (14 tahun ke atas)

Tahu dongeng Jack dan biji kacang ajaib? Yang Jack menukar ternaknya dengan seorang tua dengan biji kacang itu loh, yang ketika ditanam keesokan harinya pohonnya tingginya sampai menusuk langit. Jack memanjatnya, lalu dia menemukan istana raksasa dan angsa bertelur emas.

Nah, Jack the Giant Slayer ini membuat versi baru dari dongeng tersebut.

Singkirkan bagian angsa bertelur emasnya dan perbanyak jumlah raksasanya.

Di Jack the Giant Slayer (pembunuh raksasa), awal masalahnya tetap sama, yakni kacang ajaib yang menghubungkan bumi dengan pulau langit yang merupakan tempat tinggal raksasa. Bangsa raksasa suka membuat kekacauan dan kerusuhan, hingga seorang raja turun tangan, membuat mahkota dari jantung raksasa yang bisa mengendalikan semua raksasa. Bagaimana dengan raksasa yang ingkar? Lebih baik aku tidak "membuka" terlalu banyak. Takut menghilangkan nafsu makan (baca: rasa penasaran) kalian.
Share:

Selasa, September 10, 2013

Minggu, September 08, 2013

Settingankah?

Akhirnya ajang Miss World yang tahun ini akan digelar di Indonesia menjadi buah bibir. Maksudku, sebelum mendekati malam puncaknya yang akan dihelat akhir bulan September ini, acara Miss World yang akan ditayangkan di 160 negara tampak kurang diperhatikan. Maksudku, yang memberitakannya hanya stasiun tv tertentu saja. Tapi sekarang, sejak banyak kontra muncul, beritanya muncul hampir di semua tv Indonesia. Mungkinkah settingan?
Share:

Sabtu, Agustus 10, 2013

Lebaran Tahun Ini

Lebaran tahun ini terasa sepi. Sama sepinya seperti bulan puasanya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Aku masih curiga hal itu dikarenakan oleh hatiku yang masih juga belum disemarakkan oleh seseorang #tsah.

Lebaran hari pertama.
Setelah melaksanakan sholat yang dipanjatkan setiap satu tahun sekali, dan setelah sungkem pada eyang dan orangtua, aku bersama orangtua, kakak dan suaminya dan anaknya (atau keponakanku), berangkat untuk silaturahmi pada sanak-saudara.

Sama seperti suasana silaturahmi pada umumnya. Kami salaman. Ngobrol sebentar (yang dimonopoli oleh orangtua, aku biasanya baru buka mulut saat ditanya, atau kalau sedang penasaran saja), lalu lanjut ke rumah saudara selanjutnya.
Share:

Kamis, Agustus 08, 2013

Puasa Tahun Ini

Bulan Ramadhan tahun ini terasa sepi. Aku ngerasa tahun ini antusias masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan agak berkurang. Atau hanya aku saja yang merasakan kesepian itu? Apa mungkin sepinya imbas dari hatiku yang sepi? #tsah
Share:

Minggu, Agustus 04, 2013

Salah Kira

Tiga hari yang lalu, secara mengejutkan, aku mendapatkan telepon dari jasa ekspedisi barang. Katanya, kurirnya mendapatkan kesulitan menemukan alamat rumahku.

Pikiran pertama yang melintas di kepalaku adalah: "Pasti ini jasa ekspedisi selain Pos Indonesia, JNE, Tiki, Pandu Logistik dan GDE." Yang merupakan jasa ekspedisi yang sering menghampiri tempat tinggalku.

Pikiran kedua yang melintas di kepalaku: "Paket apa kira-kira? Setahuku aku tidak menang apa-apa. Ulang tahunku juga sudah lewat. Atau... Mungkinkah paketku yang tak pernah sampai? Atau mungkin paket dari seseorang?"

Aku yakin 80% paket itu paket dari seseorang.
Share:

Jumat, Juli 19, 2013

Barang yang Tak Pernah Dicuci dari Awal Pemakaian

I think everyone in the worlds have some thing that never wash. I have many.

Barang pertama, tentu saja, buku. Hanya orang hilang akal atau hilang kesadaran yang menyiramkan benda cair ke buku.

Barang kedua, ponsel atau telepon genggam atau telepon seluler atau handphone (busyet, aliasnya banyak banget yak?) Kecuali (calon ponselku dalam waktu sekat) Xperia Z, pernahkah kalian dengan sengaja mencelupkan ponsel kalian, dengan tujuan mencucinya, ke dalam air?

Barang ketiga, lemari pakaian. Nggak usah pakai penjelasan. Kalian pasti bisa menebak alasannya.

Absurd banget nggak sih postingan ini?!

Absurd banget pasti. Tapi meski absurd, mengandung kebenaran yang membuat kalian mengangguk-anggukkan kepala, atau minimal memikirkan ketiga benda yang aku sebutkan, bukan? *udah sotoy, kepedean pulak!*

Entah apa pendapat kalian, tapi kadang aku sering gemas dengan ketiga benda di atas dan ingin mencucinya. Mengingat benda itu dipegang oleh tangan, dan tangan merupakan konduktor kuman nomor satu!

Share:

Minggu, Juni 23, 2013

Andai BB Q Punya Buku Harian #XLBBQ10

Oktober 2010
Seorang kurir mengantarkanku ke rumah calon pemilikku. Akhirnya aku bisa terbebas dari kardus yang menyelubungiku.

Pemilik baruku, namanya cukup panjang tapi biasa dipanggil Jun, tampak kegirangan ketika melihatku. Seolah-olah telah lama menantikan kedatanganku. Rasanya menyenangkan sekali dinantikan!

Jun mengamatiku. Membolak-balikku, menyerap setiap lekuk tubuhku. Tapi dia tak langsung menjejalkan isi perutku(batja: sim card dan baterai), melainkan membatja buku manual bagaimana cara memperlakukanku dengan baik dan benar. Dia tak ingin merusak hadiahnya yang didapatnya dengan susah payah.

"Halo, Sherina,” sapanya sekaligus memberiku nama, setelah memasukkan isi perutku dan membuat wajahku (batja: layar LCD) bercahaya. "Aku rasa kita berdua akan menjadi teman yang baik."

Di hari yang sama, Jun mengajakku ke warnet. Dia hanya mencoba fitur standar telepon (telepon dan sms), tanpa mencoba fitur yang lain. Tampaknya aku merupakan smartphone pertamanya. Tampaknya dia anak yang suka berhati-hati dan mencari info sebanyak-banyaknya soal sesuatu sebelum memulai percobaan.

Di warnet, Jun mencari tahu soal paket internet blackberry. Bagaimana cara registrasi. Bagaimana cara mengatur settingan internet di dalam tubuhku. Dan tentu saja, menengok biaya penggunaannya.

Di hari yang sama, saat malam bertahta, dia sudah tahu banyak soal paket internet untuk blackberry dan mulai memenuhi memoryku dengan banyak aplikasi.

Desember 2010
Setelah Jun berusaha mempertahankannya, akhirnya dia melepaskan pelindung layarku.

Tahun 2011
Tahun terbaik kehidupanku.

April 2012
Jun frustasi. Aku frustasi.

Hal ini disebabkan oleh tombol "R" atau "3" rusak, tak berfungsi dengan baik. Ketika ditekan, tak ada huruf yang muncul di layar. Kefrustasian Jun disebabkan oleh dilema. Dia ingin membawaku ke service hp, tapi kantongnya kering kerontang. Sementara aku frustasi karena telah membuatnya dilema dan gusar dan sedih dan bentuk emosi-emosi lain, antonim kegemberian.

"Maafkan aku, Sherina," kata Jun sedih. "Kayaknya aku menekan tombol-tombolmu terlalu kasar. Mulai sekarang aku akan lebih lembut memperlakukanmu."

Dia menyatakan kegusarannya di sosial media. Ada temannya yang membantu. Dan ternyata solusinya sederhana sekali: tekan tombol "R/3" dengan kuat dan lamaaaa.

Voila! Tombol "R/3" kembali normal.

November 2012
Akhir bulan November, masalah tombol "R" kembali lagi. Dan solusi sederhana, menekan keras dan lama, tidak bekerja kali ini.

"Kenapa, Sherina? Kenapa, kenapa? Kenapa tombolnya... Apa salahku?" tanya Jun. Dia tampak stres sekali. Dia telah memperlakukanku dengan lembut tapi aku... Mengecewakannya sekali lagi.

Padahal aku telah menjadi ponsel sekaligus komputernya. Aku digunakannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Menulis draft blognya. Dan yang terpenting, merajut kata demi kata yang nantinya menjadi novel bestseller internasional. Btw, Jun seorang penulis. Dan dia belum memiliki sebuah komputer atau laptop.

Dengan kata lain, Jun menggantungkan mimpi dan cita-citanya padaku. Hal itu makin memperburuk rasa bersalahku.

Desember 2012
Awal bulan Desember, dia tahu bagaimana menggunakan huruf "R" dan angka "3" tanpa menekan tombol "R/3."

Untuk angka 3, dia menggunakan tombol symbol. Sementara untuk "R", Jun menggunakan fitur copy-paste yang kupunya. Agak merepotkan, tapi kegusaran dan kesedihannya lama-lama terhapus dari wajahnya.

Januari 2013
Aku sendiri tak tahu bagaimana tubuhku bekerja. Terlalu banyak komponen, semuanya berukuran mikro, atau mungkin lebih kecil lagi. Atau mungkin, aku terlalu malas untuk mengetahui sistem tubuhku sendiri karena telah terbiasa diatur oleh Jun.

Tapi omong-omong, aku memang dibuat untuk diset oleh manusia bukan untuk bekerja sendiri.

Aku tak bisa menjelaskan kenapa, tapi entah bagaimana tombol "R/3" kembali normal. Bolehkah aku menggunakan kata ajaib?

Maret 2013
Minggu terakhir bulan Maret tahun 2013 adalah salah satu minggu yang tak bisa kulupakan. Aku tahu ada yang salah denganku. Aku merasa tak enak badan sejak bateraiku menggembung. Dan ketika daya bateraiku tinggal sedikit...

"Oh my God, Sherina... Apa yang terjadi padamu?" Jun memandang wajahku (batja: layar) yang seputih awan. "Kali ini apa salahku?"

Dia mencoba melepas bateraiku dan memasangnya, cara standar bila aku mengalami keabnormalan. Setelah beberapa kali percobaan, dia tahu aku bisa bekerja normal ketika bateraiku di atas 70% atau sedang diisi makanan (batja: di-charge).

"Aku nggak mungkin terus-terusin nyambungin kamu ke listrik, Sher," kata Jun muram. "Udah kayak hamil besar tapi di punggung." Jun terkekeh mendengar leluconnya sendiri. Hanya sebentar, sebelum kesedihan menyergapnya kembali.

"Aku tahu usiamu nyaris 3 tahun," kata Jun lagi. "Kalau boleh kutambahkan, kamu adalah 'temanku' yang paling awet dan sampai sekarang belum tersentuh tangan tukang servis."

"Seandainya rusakmu parah, Sherina. Semisal LCD-mu yang rusak, aku mungkin lebih memilih... Mencari penggantimu. Aku tahu kamu teman yang baik tapi..." Jun memalingkan wajahnya. Jemarinya dibenamkan pada kedua matanya yang terpejam. "Tapi bila ini adalah waktumu... Beristirahat, aku akan mengikhlaskanmu. Beneran aku akan mengikhlasmu. Tapi sebelum itu bisakah... Bisakah kamu bertahan hingga aku menemukan penggantimu?"

Juni 2013
Kondisiku tidak 100% bagus. Tapi aku masih hidup. Dan yang terpenting... Jun masih menyayangiku.

Solusi dari masalahku yang dijuluki sebagai white screen, ternyata sangat sederhana: baterai baru. Namun Jun sudah terlanjur menyerahkanku untuk dirawat inap selama kurang lebih nyaris satu bulan di tukang servis. Tapi tak apa, dia tak menyesalinya. Karena OS-ku yang dulunya 4.6, kini telah menjadi OS 5. OS tertinggi untuk jenisku, Blackberry Curve 8520.

Aku tadi bilang kondisiku sudah tak 100%. Akan aku jelasku. Tombol "E" atau "2" bermasalah. Kadang tanpa ditekan dia memunculkan huruf E atau angka 2 di mukaku. Dan tombol "I", tak bisa digunakan sama sekali. Jadi mesti pakai cara merepotkan: copas.

Meski begitu, Jun tak tampak gusar atu sedih. Dia menerimanya seolah tak terjadi apa-apa. Entah karena dia sudah terbiasa, atau karena dia sangat menyayangiku. Aku tak tahu. Jun tak pernah mengatakannya.

Note: Catatan ini diikutsertakan dalam kontes #XLBBQ10 yang diadakan oleh XL.
Share:

Jumat, Mei 31, 2013

Cara Praktis Isi Pulsa

"Sisa pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini."

Gawat! Kenapa justru di saat aku sangat membutuhkan pulsa, pulsaku malah habis?!

"Kamu punya pulsa?" Aku menanyai sahabatku dalam bisikan, yang kebetulan malam ini aku minta menginap di rumahku. Orangtuaku sedang berada di luar kota dan baru balik besok pagi.

"Nggak," katanya muram, dengan berbisik pula, sambil menggelengkan kepala. "Tapi paket internetku masih ada banyak. Kamu mau beli--"


Omongannya selanjutnya tak terdengar jelas. Pikiranku diambil alih lagi oleh kepanikanku yang makin membesar!
Share:

Senin, Mei 27, 2013

Dear Crush [4]

Kita saling pandang!

Aku tidak percaya, kamu memandangku? Benar-benar memandangku?!

Hati kecilku bilang, agar aku tidak membodohi diri sendiri. Dia juga bilang kamu tidak sedang memandangmu. Tidak secara spesifik. Kamu memandang, atau tepatnya memindai, siapa saja yang ada di sekitarmu.

Hati kecilku juga memperingatkanku kalau aku mesti membuang jauh-jauh imajinasiku mengenai matamu yang menyorot ke arahku lebih lama dari pada ke arah yang lain. Sebab pada kenyataannya, kita saling pandang hanya dalam hitungan detik. Bukan menit.

Coba menit, aku pasti sudah lompat kegirangan. Atau coba berjam-jam, atau boleh satu detik saja asal dibumbui oleh bibirmu yang melengkungkan senyuman, dan aku akan menyatakan diriku sebagai manusia paling bahagia di dunia.

Aku tahu satu senyuman tidak bisa diartikan kalau kamu juga merasakan apa yang
kurasakan. Tapi satu senyumanmu menandakan kalau kamu memberiku lampu hijau, sehingga aku bisa meningkatkan statusku yang dari pengintai, menjadi personalia--menanyai banyak hal tanpa perlu menebak-nebak lagi dari kejauhan. Dari secret admirer jadi teman.

Seandainya aku bisa jadi temanmu...

Aku sudah mencoba mengumpulkan keberanian untuk mendekatimu. Tapi, tiap kali aku hendak mendekatimu, entah kenapa selalu ada gempa di dalam tubuhku yang sontak menguapkan keberanianku.

Mungkin belum sekarang saatnya.

Mungkin aku masih harus bersabar sedikit lagi.

Atau mungkin saat itu tak akan pernah datang, kecuali aku sanggup mengendalikan gempa bumi di dalam tubuhku?

Andai aku bukan aku.

Andai aku seorang ekstrovert.

Andai aku lebih asertif lagi.

Apa mungkin sudah saatnya untuk menyewa jasa dukun?

Share:

Kamis, Mei 16, 2013

SMS Menang Undian

Pernahkah kalian mendapatkan sms menang undian seperti ini?




Sms yang membunyikan hp itu, memenuhi inbox itu, entah kenapa datang pas di jam-jam konsenstrasi beberapa orang pikirannya terdistraksi atau belum "full" sepenuhnya?

Dulu, aku pernah dapat sms kayak gitu. Tapi kali ini agak lebih canggih. Pakai pin BB dan blog!

Aku sih tetap ngakak, ya. Maksudku, kalau emang membawa nama perusahaan besar, kayak penyedia jasa telekomunikasi seluler di negeri, harusnya tidak menggunakan blog GRATISAN kayak blogspot atau wordpress! XD

Sebenarnya, ini kali kedua aku mendapatkan sms yang isinya serupa. Tentunya dari nomor yang berbeda--dan mungkin oknum yang berbeda. Tapi kali ini aku sudah gerah, makanya kemudian aku menyalakan kipas angin, eh maksudnya, aku membuat posting ini. Dengan harapan bisa membantu teman-teman agar lebih waspada dengan sms menang undian yang jelas-jelas penipuan seperti ini.

Share:

Rabu, Mei 15, 2013

Talk about Future

At recent days, I often think about the future. Not near future or far future for setting of my manuscript, but future of mine.

Actualy, I think about it everyday. My future, I mean. Not just today or a few days ago. My parent did well, implanted that thought since we--my sisters and I--were young. You must do it if you want your future is bright. You shouldn't do that if you want to bring sun to your future.
Share:

Jumat, Mei 03, 2013

Hamil Duluan

Pernah tahu atau dengar lagu Hamil Duluan? Lagu yang sempat jadi kontroversi karena liriknya dianggap sama sekali tidak mendidik?

Benarkah tidak mendidik? Menurutku lirik lagunya malah mendidik. Tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga orangtuanya.

Sebenarnya, aku sudah lama ingin menuliskan ini tapi baru bisa aku realisasikan saat ini. Mungkin Sang Pencipta baru mengizinkan aku menuliskan ini saat ini.

Hamil Duluan emang lagu ini lagu lama. Kasus lama. Kontroversinya mungkin sudah lama pula terlupakan. Lagunya sendiri mungkin sudah dilarang tayang di televisi atau muncul di konser yang disiarkan oleh televisi.

Perlu dicatat, aku bukan penggemar lagu Hamil Duluan ini. Aku bukan teman pencipta lagunya. Aku bukan pula tim manajemen artisnya. Aku tidak ada hubungannya dengan mereka semua. Cuman aku agak "tergelitik" ketika mendapati berita lirik ini dibilang tidak mendidik.

Dibanding lagu-lagu lain yang dianggap tidak mendidik, seperti "Makan Duren di Malam Hari..." atau "Love One Night Stand," seperti yang aku bilang tadi, Hamil Duluan masih mending karena...

Mengajarkan para pendengarnya atau penikmat musiknya untuk PINTAR MEMILIH.

Aku cuplik bagian reff-nya ya:
Kuhamil duluan
Sudah 3 bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Kuhamil duluan
Sudah 3 bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Dari reff-nya saja, sudah jelas mengatakan, "Kalau mau hamil di luar nikah, lakukan apa yang ada di lirik. Tapi kalau tidak ingin hamil di luar nikah, maka jangan pacaran di tempat gelap dan jangan tidur berdua dengan seseorang yang belum sah atau seseorang yang masih dalam status pacaran."

Tidak mendidik? Mungkin hal itu mesti dikaji ulang.

Atau anak-anak dilarang menentukan pilihannya sendiri? Atau orangtua merasa pilihan anaknya sendiri tidak sebaik kalau mereka yang memilihkan? Sebenarnya hal ini sudah banyak dikatakan, tapi kalimat ini masih aktual: siapa sih yang akan menjalani kehidupan si anak? Si anak atau si orangtua?

Bila orangtua tidak memberi kesempatan bagi anak memilih yang terbaik baginya, menurutku, si anak jadi tidak terbiasa atau lebih buruk lagi tidak percaya diri dengan pilihannya sendiri. Dia akan selalu bergantung oleh pilihan seseorang yang dirasa punya status lebih tinggi darinya. Hal itu mungkin berpotensi mematikan kreatifitas.

Lagipula, bukankah anak zaman sekarang kebanyakan telah sulit ditakuti dengan mitos-mitos seram? Juga, kebanyakan anak zaman sekarang lebih suka "membuktikan larangan" ketika mereka dilarang melakukan sesuatu?

Hal itu kalau ditilik lagi adalah salah satu pembelajaran seorang anak dalam mencari baik dan benarnya sesuatu.

Hamil Duluan mungkin adalah satu contoh mengenai pembelajaran "memilih dengan baik dan benar" dengan cara fun. Toh, zaman sekarang emang ada lagu anak-anak yang anak-anak banget? Selama lagu anak-anak tidak mendatangkan untung... Yah, tahu sendiri dong lanjutannya.

Inilah pendapatku, terlepas entah penulis lagunya bikin lagunya sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Bagaimana pendapatmu?

Share:

Selasa, April 30, 2013

Perihal Hukum Perlindungan Anak

Sudah bukan hal mengejutkan lagi anak-anak sering dipukul, ditendang, disiksa atau diperlakukan jahat oleh orang dewasa. Tampaknya hampir setiap hari berita semacam itu muncul di televisi di acara-acara News. Dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Tapi untungnya, ada undang-undang yang melindungi anak-anak tersebut.

Tapi bagaimana dengan anak-anak nakal, yang menyiksa batin tidak hanya ibunya tapi semua anggota keluarganya, yang akhirnya membuat orangtuanya atau orang di sekitarnya terpaksa sering memukulnya guna menghentikan kenakalannya? Apakah undang-undang Perlindungan Anak tetap berlaku? Apakah pemukulan yang sering itu sudah bisa dikatakan kekerasan terhadap anak?

Mungkin sebagian dari kalian tidak setuju dengan tindakan keras itu, tapi apakah dengan bertindak lembut pada kenakalan anak menjamin kenakalan itu hilang? Tidak?

Tapi kan dengan melakukan kekerasan pada anak juga belum tentu menghapus kenakalan pada anak-anak.

Ya, itu juga benar.

Jadi, apa yang mesti dilakukan kalau bersikap kasar nggak baik, tapi bersikap lembut juga nggak... Tunggu, mungkinkah bersikap ditengah-tengahnya, kasar tapi sekaligus lembut?

Yah, mungkin. Apakah hal itu mungkin bisa dilakukan semua orang?

Oke, aku terlalu jauh melantur. Actually, postingan ini sebenernya bentuk rasa penasaran, apakah tindakan orangtua, atau keluarga dekat, terpaksa memukul anak-anak demi (mencoba) menghentikan kenakalan anak-anaknya bisa memidanakan si orangtua? Anyone can give an answer?

Share:

Cowok di perempatan Braan

Ini bukan cerpen, bila kalian tanya aku. Atau mungkin cerpen. Sebab aku tidak membuatnya berseri atau sepanjang tembok China.

Ini kisah nyata. Kisahku sendiri. Pengalamanku.

Saat itu Senin malam, tanggal 22 April. Sekitar pukul sepuluh kurang lima belas menit. Aku sampai di perempatan Braan, Jombang.
Share:

Minggu, April 28, 2013

Temporary Habit

It's trouble for me for some days internet cafe near my house gone close temporary. The owner, his name Roni, and known him well, just brought his computer, cable, all of build internet cafe, his internet cafe, to his new house.

Actually, I felt happy for him. For his new house. Actually His house nearest than his brother's house--before moved Roni leaned space in his brother's--from my home. But, I don't have patience to wait Roni finish his new internet cafe in his own house. You know, I'm the online king. I can't life without connect to E-World just one day.

You may call me overwhelmed or what, but it's the real fact of me. Internet be my personal drugs since I knew it.

So, I find new spot to connect E-World. Green Net. Actually, it's old spot for me. Years ago, before Roni run his cafe I always online in there.

Why I chose to came back to Green? Well, Green has good service. They have a comfy matras for each cublice. But... I have to ride motorbike to reach that place. Imaginee it, if I ride there everyday, and I must online an hour minimum (an hour charge is two thousands rupiah), how much it cost?

I hope I can have my Blacke, my old bike, again. But the old Blacke was damage years ago.

I have one more reason why I, erm, hate my new temporary habit. In Green sometime, in depends time, the connection being rubbish. It the worst feel in the world when the browser alert me or message me that the webpage can't load cause "server not found", "connection was reset", bla, bla, bla.

I wish Roni open his "new" internet cafe as soon as possible. Perhaps Green have more comfy facilities rather than Roni's, but about connection, Roni's more stable than Green.

Share:

Kamis, April 25, 2013

Books to Movies

Ngomongin soal buku yang dijadikan film, atau film yang diadaptasi dari buku, denganku adalah ngomong dengan topik yang tidak akan pernah kehabisan bahan obrolan. I love books. I love movies too--especially, western movies or made by Hollywood. Books and movies are like an air for me (lebay nggak sih? Hahah, tapi begitulah kondisinya. Teman-temanku yang juga menggemari film, tapi tidak "segila" aku, sampai-sampai mengatakan, aku kayaknya mesti coba berkarir di bidang film.)
Share:

Senin, April 01, 2013

Dear Crush [3]

Entah hanya halusinasiku atau namamu mendadak ada di mana-mana? Ketika aku menyalakan TV, namamu muncul sebagai nara sumber. Ketika aku membuka portal berita di internet, namamu lagi-lagi muncul. Ketika aku melanjutkan membaca novel, novel yang belum kelar kubaca, secara kebetulan muncul karakter baru dan namanya persis sama dengan namamu!
Share:

Minggu, Maret 24, 2013

Satu Pagi bersama Yamaha Xeon RC

Aku terjebak. Terjebak kemacetan yang lumayan parah. Mobil yang kutumpangi tidak bisa bergerak baik ke depan mau pun ke belakang.

Berulang kali aku menghembuskan napas panjang. Pengennya sih mengucapkan kekesalan dalam bentuk ucapan tapi aku malu dengan dua tetanggaku, pemilik mobil yang kutebengi, yang duduk di kursi depan. Alhasil aku memenuhi timeline sosial mediaku dengan kata-kata keluhan yang, masih demi pencitraan, tersembunyi dalam kata-kata "sehat" (buah dan sayuran adalah "kata pengganti" makian versiku).

Share:

Senin, Maret 11, 2013

Dear Crush [2]

Ketika kerinduanku akan dirimu berkecamuk seperti badai, hal pertama yang akan kulakukan adalah membayangkanmu. Aku tidak pernah kesulitan dalam membayangkanmu. Aku punya daya imajinasi yang tinggi--salah satu hal yang bisa aku banggakan. Cukup menarik ingatanku tentangmu dan wajahmu bakal langsung hadir di hadapanku.
Andai aku tahu namamu, aku bakal sambil menyebut namamu berulang-ulang.

Aku sering berlatih di depan cermin. Berlatih mengajakmu berkenalan. Aku bahkan mengarang percakapan yang akan keluar dari mulutmu. Tentu saja dengan jawaban yang aku inginkan.

Misalnya...
Share:

Jumat, Maret 08, 2013

Roti atau Nasi?

Ketika mesti memilih menu sarapan, mana yang akan pilih Roti atau Nasi? Dan kenapa?

Kalau aku, jelas bakal pilih nasi. Aku orang Indonesia. Sesuai dengan kebanyakan masyarakat Indonesia, rasanya kurang afdol kalau makan nggak pakai nasi. Dan lagipula, menurut perkiraanku, nasi jelas lebih mengenyangkan ketimbang roti.
Share:

Rabu, Maret 06, 2013

Reading in the Morning 1st Anniversary Giveaway

Reading in the Morning adalah salah satu blog buku Indonesia yang tampaknya paling sering mengadakan giveaway. Ya, setidaknya itu setahuku. Tahun kemarin saja tiap satu bulan sekali blog buku itu mengadakan satu giveaway. Tentu saja hadiahnya buku. Hanya saja, ini yang bakal kalian suka, harga bukunya... Tidak dibatasi! Selama buku itu menurut sang penulis blog bagus.
Share:

Jumat, Februari 08, 2013

Dear Crush

Orang bilang, untuk mengobati patah hati, atau agar bisa segera move on dari cinta masa lalu, adalah dengan jatuh cinta lagi.

Aku bisa bangga aku sudah bisa move on. Aku sudah bisa merelakan mantanku pergi dari sisiku. Tapi aku tidak menyangka bisa menemukan seseorang yang lain, yang tiba-tiba memenuhi kepalaku secepat itu.

Kamu.

Apakah aku mudah jatuh cinta?
Share:

Kamis, Februari 07, 2013

The Reviewers #1

Ketika kalian masuk ke sebuah kafe, dan menemukan di salah satu meja ada seorang cowok mengenakan baju berlapis-lapis–bukan karena dia kedinginan tapi memang itulah stylenya, coba untuk melihatnya lebih teliti lagi. Perhatikan apakah tangannya membawa buku atau matanya tampak serius menatap layar notebooknya, apakah ada buku notes kecil dari disket bekas dan sebatang pena warna biru di atas mejanya, apakah dia ditemani oleh secangkir es teh.

Bila ketiga pertanyaan itu jawabannya adalah ya, mungkin saja itu aku.

Namaku Jun. Di sela-sela waktuku belajar guna meraih gelar S1, aku menyibukkan diri sebagai seorang reviewers–aku sengaja menggunakan istilah bahasa asing sebab aku belum nemu padanan kata yang pas untuk jenis pekerjaanku itu (kalau bisa disebut pekerjaan, secara aku tidak dibayar untuk melakukan ini–kalau pun dibayar, bayarannya juga buku).

Sebelum menjadi reviewers, aku hanyalah seorang kutu buku. Kutu buku yang hanya membaca buku sebagai hiburan atau mencari pembelajaran. Aku, saat itu, belum tertarik untuk “mengobrak-abrik” unsur instrinsik-ekstrinsik, keselarasan kisah, masuk akal atau tidaknya kisah hingga chemistry antar tokoh, dan seterusnya dan seterusnya. Bagiku, dulu, sebuah cerita itu bagus ketika bisa membuat pembaca terkejut di akhir dan dilengkapi kalimat-kalimat oenjoe yang bisa di-quote.

Tapi sekarang semua hal menjadi perhatianku. Dari nama tokoh, apakah nama tokoh A ini cocok digunakan di negara ini dan di masa ini dan apakah disertai penjelasan kenapa dia memiliki nama seperti itu. Kita tahu setiap negara memiliki bahasanya masing-masing. Nama Sri, misalnya. Sangat umum di Indonesia dan India, tapi apa kalian akan percaya ada orang pribumi bernama Sri di Jepang?

Lalu masuk akalnya sebuah kisah. Menurut kalian, masuk akal tidak setelah makan bakso, terus dilanjut dengan adegan dua tokohnya ciuman, eh, salah satu tokohnya merasakan rasa buah di bibir tokoh lainnya? Akan masuk akal bila dijelaskan bila si tokoh sempat ke kamar mandi dan memulas lipstik aroma buah-buahan ke bibirnya, atau rasa baksonya adalah rasa buah-buahan–yang akan lebih aneh atau bisa juga terlihat unik di mata orang lain (hebat dong bisa gabungin daging dengan buah dan rasa buahnya masih terasa).

Dibanding novel genre lainnya, aku lebih sering mempertanyakan ketidakmasuk-akalan kisah bergenre fantasi. Apalagi bila tidak disertai penjelasan. Semisal Harry Potter. Mrs. Rowling benar-benar habis-habisan membangun dunia sihir di dalam novel serialnya hingga sulit untuk tidak bisa tidak mempercayai kalau dunia sihir itu ada.

Sifat kritisku itu tidak berhenti begitu saja–oh ya, efek samping menjadi reviewers adalah kamu bakal jadi sangat kritis pada semua jenis media cerita, ini menurutku sih. Aku juga jadi kritis pada film. Aku juga tidak makan bulat-bulat apa-apa yang disajikan oleh sinetron atau film TV. Sampai-sampai aku tidak bisa menikmati jalan sebuah cerita gara-gara terlalu sibuk mencari kesalahan.

Seperti film Lord of the Rings: The Returns of the King dan Two Tower, dimana luka Frodo berpindah pipi, luka Merry juga berpindah, dan Harry Potter and the Sorcerers Stone dimana Harry pindah duduk. Aku harus memaksa diriku bahwa itu biasa. Namanya juga manusia. Kata orang, bukankah manusia tempatnya salah?

Selanjutnya, setiap nonton film dimana aku menaruh ekspetasi besar, aku menaruh buku catatanku, notebook, apapun yang bisa ditulis, jauh-jauh dari ruang teve.

“Mau sampai jam berapa, Jun, disini?” Santi, salah satu waiters di kafe yang jadi langgananku, tiba-tiba saja berada di sampingku dan menanyaiku.

“Bentar lagi mungkin,” kataku tanpa mengalihkan mataku dari bacaanku. Tinggal beberapa bab lagi. Aku bisa menyelesaikannya malam ini. “Kenapa?” imbuhku.

“Baca buku apa sih?” Dia balik bertanya.

“Mockingjay. Buku terakhir dari serial The Hunger Games.”

Meski aku tidak melihatnya, entah kenapa aku merasa dia mengangguk-anggukan kepala. “Bisa nggak kamu lanjutkan bacaanmu nanti?”

“Ada apa?” Kali ini aku menatap ke arahnya, Santi meringis.

“Aku mau minta bantuanmu.”

Bantuan apa nih? “Kalau aku sanggup, aku pasti membantumu.”

“Aku yakin kamu akan mengatakan itu,” Santi tersenyum lebar. “Bantu aku… Bisa nggak kamu pulang sekarang?”

Pulang?

Refleks aku menyapukan pandangan ke sekitar. Kafe sudah sepi. Aku satu-satunya pelanggan. Malahan, semua bangku sudah ditaruh terbalik di atas meja. Bagaimana… bagaimana mereka bisa merapikan kafe tanpa membuat keributan? Atau jangan-jangan telingaku mendadak bolot?

Aku meringis. Santi meringis. Mungkin dunia juga ikut meringis.

Buru-buru aku merogoh sakuku dan menyerahkan bayaran untuk minumanku.

Waktu, terkadang juga kondisi di sekitarku, sering terlupakan ketika aku sedang membaca buku–dan nonton film.

Share:

Rabu, Februari 06, 2013

Meet Christopher

Aku melempar Eragon setelah tiga malam bergumul dengannya. Dia memantul-mantul di atas kasur. Tak memprotes tindakanku yang kasar padanya.

Bagaimana dia bisa memprotes? Dia hanya sebuah novel. Novel yang aku sayangi. Novel yang membuatku mengurungkan niatku untuk pergi dari dunia ini setelah bab 1 selesai aku tuntaskan.
Lalu kenapa aku melemparnya bila aku menyayanginya? Itu ungkapan iriku pada sang Penulisnya, Christopher Paolini. Dia bisa membuat cerita yang begitu indah. Lebih indah dari novel-novel yang pernah aku baca sebelumnya.

Meski aku suka melempar novel bagus. Bukan berarti aku melemparkan ke sembarang tempat. Kalau sampai tergores sedikit saja–bahkan hanya berupa garis, aku pasti akan menyesalinya.
Dulu, aku pernah tanpa sengaja menjatuhkan pisau ke atas Incognito. Pisau itu menancap. Membuat lubang di cover dan beberapa halaman depan. Untungnya tidak sampai bagian prolog. Namun hal itu membuatku gila. Merawat Incognito seperti pesakitan hingga aku lupa dia hanya sebuah novel. Orang-orang bilang aku sakit jiwa. Tak sedikit juga yang nyeletuk, “Mungkin dia akan menikahi novelnya.” Tapi aku acuhkan. Mereka belum pernah merasa apa yang aku rasakan.
Aku memeluk Eragon. Lalu mencatat dalam hati, “Aku harus bertemu dengan penciptamu.”
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Senyum terus tersungging di bibirku. Aku yakin rumah sakit jiwa tak bisa menanganiku.

Share:

Selasa, Februari 05, 2013

Netbook #3

Aku menyeret kedua kakiku menjauhi panti asuhan tersebut. Oke, ini adalah hal paling gila yang aku lakukan, merelakan impianku untuk sesuatu yang… mulia. Tapi entah bagaimana aku merasa apa yang aku lakukan ini adalah tindakan yang tepat. Meski hati terasa berat. Meski rasa sesal, yang tanpa perlu ijin, memenuhi dadaku, aku terus menyeret kakiku agar mau menuruti tuannya untuk segera pulang.

Aku tak mengambil rute yang sama dengan saat proses pengejaran–jelas aku tak mau bersempit-sempit di gang antara dua toko tersebut. Saat aku menabrak pengendara sepeda tadi aku ingat itu taman dekat rumah.

Mungkin memang belum waktunya aku memilikinya, kataku dalam hati.

Memiliki netbook adalah impianku sejak dulu. Sejak aku mengenal komputer. Sejak aku bercita-cita jadi penulis. Tapi bukankah tak perlu memiliki komputer untuk bisa jadi penulis? Mr Clive Barker, penulis novel yang aku kenal lewat karyanya yang spektakuler: Abarat, bahkan tidak memiliki komputer. Dia lebih memilih menulis novelnya secara konvensional: di lembaran buku tulis. Mungkin aku bisa menirunya. Siapa tahu aku bisa menjadi penulis besar seperti dirinya?

“Kak Ilham!”

Ada sebuah suara yang sangat familiar memanggilku dari kejauhan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pemanggil. Ternyata Febri, adikku. Dia berdiri di seberang jalan. Sambil tersenyum padaku dia memberi aba-abar agar aku menunggunya menyebrang.

“Weis, selamat ya!” katanya sambil memukul bahuku dengan bercanda. Diantara semua orang di rumah hanya Febri yang aku kasih tahu mengenai pembelian netbook. “Ayah sama bunda pasti bangga!”

Aku tersenyum gugup. Bila aku bercerita yang sebenarnya, kira-kira bagaimana reaksi Febri? Mengingat emosinya yang masih labil. Dan soal ayah bunda, aku rasa mereka tak perlu tahu masalah ini–yang tak menjadi soal selama Febri tak membuka mulutnya.

“Gimana, udah dapat netbook?” Tanya Febri. Kami kemudian berjalan bersisian.

“Aku… ehm, belum. Kayaknya aku harus pikir-pikir lagi deh, Feb. Mungkin lain kali.”

“Kenapa?”

Aku terdiam. Pikiranku masih sedikit kalut. Sebenarnya aku ingin sendiri dulu, untuk menenangkan berbagai pikiran yang berkecamuk.

“Aku ingat… aku masih punya kebutuhan lain yang lebih mendesak.”

Kulihat Febri mengangguk-anggukan kepalanya. Tampaknya dia percaya.

“Jadi, darimana kamu?” tanyaku.

“Dari rumah.”

“Kenapa kamu disini?”

“Tentu saja mencarimu, kakakku yang tersayang. Oia, tadi kamu lupa bawa hape ya?”

Aku memeriksa kantong depan celanaku. Tak ada yang timbul disitu. Mungkin terlalu bernafsunya diriku hingga aku lupa membawa hape.

“Aku tinggal di rumah. Kenapa kamu mencariku?”

“Mengajakmu pulang,” dia terdiam sejenak. “Ada yang ingin bunda bicarakan kepadamu.”

“Penting ya?”

“Penting banget!!”

“Kalo gitu kita harus bergegas.”

Kami berjalan pulang tanpa berbincang-bincang lagi. Apa yang ingin bunda bicarakan denganku ya? Hal penting apa yang membuat wanita yang melahirkan dirinya itu hingga meminta adiknya mencarinya? Apa mungkin sesuatu yang gawat, seperti sesuatu yang buruk?

Pikiran macam apa itu, ilham? Aku memperingatkan diriku sendiri.

Bunda kontan tersenyum sumringah saat melihat kedatangan kami. Dari senyumnya sudah jelas ini bukan berita buruk.

“Ada apa, Bun?” tanyaku saat kami berhenti di depan beliau. “Kata Febri…”

Bunda tidak menjawab. beliau malah memelukku. Matanya kemudian menitikkan air mata. Ada apa sih ini? Tadi senyum sekarang menangis? Apa ada dua berita, baik dan buruk?

“Selamat ya nak, impianmu terwujud!” kata beliau sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

“Selamat? Impian? Maksud bunda apa?” Apa beliau sedang menggigau? Apa tadi Febri menceritakan sesuatu pada beliau? Tapi aku kan baru saja kehilangan… maksudku, impianku tertunda karena suatu sebab.

“Barusan bunda mendapat telepon. Kamu menang lomba blog. Dan kamu menjadi juara satu!”

Bulu kudukku meremang. Aku rasanya hendak meledak. Aku tak menyangka semuanya berkembang di luar dugaan. Aku tadi kehilangan uang untuk membeli netbook. Sekarang, aku mendapat kabar aku akan memiliki netbook–hadiah bagi pemenang pertama.

“Aku mau minum!” kataku. Entah kenapa aku jadi merasa tenggorokanku kering kerontang.

~FIN~

Share:

Senin, Februari 04, 2013

Netbook #2

Aku memutar badanku. Aku tidak percaya aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkan uangnya yang dijambret. Dengan langkah gontai sambil meyakinkan diri bahwa aku harus ikhlas, aku meninggalkan sang pencuri itu yang sedang bersukacita bersama teman-temannya di bangunan yang hampir roboh itu. Say good bye to netbook.

————————————————–
*beberapa menit sebelumnya*
Setelah satu menit berlalu aku masih bengong dan memandangi tanganku yang kosong. Amplop coklatku… impianku…

“HEI! BERHENTI!!” Aku berteriak sambil menghapalkan ciri-ciri seseorang yang merenggut amplopku. Dia mengenakan jaket berbahan jeans dan topi dengan tulisan Freedom.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mengumpulkan tenaga sebelum mengejar dia-perenggut-mimpiku. Penjambret itu tampaknya tahu dia dikejar. Berulang kali dia menatap ke belakang dan makin mempercepat ayunan kakinya.

Tak ada yang bisa menghancurkan mimpiku, tak kan ada yang bisa!! teriakku dalam hati. Apalagi dia maling!
Dia berbelok ke arah celah sempit antara dua toko baju. Saat aku sampai di mulut gang, dia sudah berada di ujung satunya. Aku menduga, pencopet itu tahu seluk beluk daerah sekitar sini. Dia bahkan tahu ada jalan sempit ini–yang untuk melewatinya harus memiringkan badan. Mana temboknya masih bata lagi. Tanganku tergores ketika melewati celah sempit itu. Luka yang ditimbulkannya tak begitu parah jadi aku mengabaikannya.

Aku melihat pencopet itu berlari makin cepat. Tak mau kalah dengannya, kupercepat ayunan kakiku. Entah berapa kali aku nyaris menabrak orang-orang. Entah berapa kali kata maaf meluncur dari mulutku.
Berulang kali pencopet itu masuk ke halaman rumah orang. Berulang kali pula tatapan heran–dan kadang juga amarah–melayang ke arah kami. Bahkan ada yang hingga berteriak mengeluarkan seluruh penghuni kebun binatang.

Yang membuat aku takjub, pencopet itu lari begitu cepat. Dan dengan lincah lompat sana, lompat sini. Membuat aku yang jarang berolahraga ini kewalahan.

BRUUK!!

Aku menabrak pengendara sepeda. Pengendara itu langsung turun dan menanyakan keadaanku. “Kamu baik-baik saja?”

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sang pencopet. Dia berlari dua kali lebih cepat. Ya ampun, aku bisa kehilangan jejaknya!!

“Hei, kamu baik-baik saja kan?!” teriak pengendara sepeda yang tampaknya kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya.

Aku berbelok ke jalan dimana pencopet itu menghilang. Aku mengutuk dalam hati. Dia telah menghilang!!
Ketika aku memainkan rambutku dengan frustasi, ekor mataku menatap jaket jeans itu. Jaket jeans yang sama yang dipakai oleh pencopet itu. Dia sedang dikerubuti oleh anak-anak kecil.

“Panti Asuhan Kasih Ibu,” aku membaca plank di depan bangunan yang hampir roboh itu.

#bersambung

Share:

Minggu, Februari 03, 2013

Netbook #1

Aku menarik napas lega. Tinggal selangkah lagi dan aku bakal bisa memilikinya. Benda yang selama ini hanya bisa aku mimpikan. Benda yang selama ini aku idam-idamkan–bahkan hingga mengalahkan wanita hamil yang lagi pengen mangga. Oke, nggak seperti itu. Itu lebay namanya.

Dengan uang yang kini ada digenggamanku–terbungkus amplop coklat–aku bisa membuat benda idamanku tersebut menjadi milikku. Sebuah netbook. Sekarang masih nangkring di etalase toko Elle, tapi dalam waktu beberapa menit benda itu bisa aku bawa pulang.

Setelah sekian lama aku bersusah payah. Sekian lama aku mengumpulkan ranting demi ranting dari uang sakuku. Ayah dan bunda pasti tercengang saat anaknya bisa membeli hal yang paling diinginkannya dengan usahanya sendiri. Terbayang di pikiranku, mereka akan tersenyum bangga. Ayah akan menepuk-nepuk punggungku, dan bunda akan menangis haru sambil menawariku apa aku mau dibuatkan keripik tempe–makanan favoritku? Yang pasti akan kujawab ya.

Toko komputer ada di seberang jalan. Lalu lintasnya sedang ramai, sial. Aku menghembuskan napasku perlahan. Ritualku dalam menenangkan diri. Tenang, Ilham, bentar lagi kamu memiliki sebuah netbook baru, kataku dalam hati.

Karena lalu lintas tak kunjung sepi, jadi aku memutuskan untuk melangkah pelan sambil sedikit-sedikit tangan memberi lambaian.

Aku menghirup nafas dalam-dalam sekali lagi. Ingin membau aroma terakhir sebelum memiliki netbook tersebut. Konyol memang. Tapi aku ingin menikmati setiap momennya.

Kuulurkan tangan kananku untuk mendorong pintu toko Elle yang terbuat dari kaca. Tiba-tiba aku merasa benda yang aku pegang di tangan kiri–amplop coklat tadi–memiliki keinginan sendiri. Melompat dari tanganku dan tak ingin dibelanjakan. Yang baru kusadari kemudian… aku telah dicopet!!

#bersambung

Share:

Sabtu, Februari 02, 2013

Keluar dari bayang-bayang

Andi memutuskan untuk meninggalkan Luna. Dia sudah tak tahan terus-menerus bersandiwara hanya untuk bisa mendapatkan perhatian cewek yang hingga kini masih menggetarkan hatinya. Juga sudah jengah dengan omelannya “kamu harusnya gini…” dan “Kalau Edward…”

Hampir dua bulan Andi menjelma jadi bayangan. Berpura-pura menjadi orang lain–atau tepatnya tokoh fiksi–mungkin mudah. Tapi hal itu membuatnya merasa lelah. Rasanya seperti berada di penjara. Tak ada napas kebebasan. Tapi itu belum semuanya, Luna juga sangat menghayati perannya sebagai kekasih Edward yang masih berstatus sebagai manusia.Banyak hal konyol–kebanyakan membuat Andi dongkol–yang dilakukan oleh Luna. Misal, Edward tidak bisa makan karena dia vampir. Maka ketika mereka jalan bareng, Andi hanya bisa menelan ludah menatap Luna makan dengan sangat perlahan. Apalagi di hari pertama mereka kencan, Andi mengosongkan perutnya agar bisa menyantap hidangan makan malam bersama gadis pujaannya.

Kemudian dia sadar bukan hanya hatinya yang lelah, tapi badannya pun tersiksa.

Untungnya sih Luna tidak pernah meminta dirinya digendong Andi, seperti Edward yang kemana-mana membawa Bella dengan menggendongnya. Bisa-bisa tulang-tulangnya rontok semua.

2 hari yang lalu…

“Lun, boleh ngomong sesuatu nggak?”

“Ngomong aja, Ed.”

Nama itu lagi, batin Andi. Entah kenapa setiap nama itu dipanggil ada semacam arus listrik yang menyengat hatinya. Membuatnya kesakitan.

“Karena ini sulit, jadi aku langsung saja ngomongnya.”

“Mau ngomong apa sih?” Luna menatap Andi heran.

“Aku… nggak mau jadi Edward lagi,” kata Andi cepat.

“Maksudmu apa, Ed?”

“Bisakah kamu memanggil namaku? Namaku Andi. Bukan Edward.”

“Tapi…”

“Aku udah capek Lun setiap hari bersandiwara jadi tokoh fiksimu. Aku juga capek tiap hari harus dandan dulu hanya untuk bisa duduk disampingmu dan kamu perkenalkan pada teman-temanmu.”

“Tapi, kalo kamu nggak jadi Edward… kita…”

“Kita tak bisa bersama lagi? Ya, aku rasa aku tahu konsekuensinya.”

“Kamu nggak serius kan Ed…”

“Andi, namaku Andi, Luna. Bukan Edward. Dan hingga napas terakhirku, namaku tetap Andi.

Luna kontan terdiam. Dia menangkupkan telapak tangannya di wajahnya.

“Aku ingin pulang,” katanya kemudian.

“Aku antar kamu pulang,” Kata Andi kemudian.

Hingga detik ini, Andi masih mencintai Luna. Bahkan dia yakin dia tak bisa menghapus ingatannya akan gadis itu hingga maut menjemputnya. Dia sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Luna mencintai Edward. Bukan mencintainya–meski dia berusaha menjadi bayangan tokoh fiksi tersebut.

Menyesal? Rasa itu sempat hinggap di hati Andi. Tapi segera ditepisnya. Setiap kali mengingatnya dia tersenyum. Setidaknya sekarang hatinya merasa lega. Dia bisa jadi diri sendiri. Tak perlu berlagak sok cool. Tak perlu bangun pagi untuk mempersiapkan dandanan ala vampir. Dan yang terpenting, tak perlu lagi main kucing-kucingan hanya untuk menikmati sepiring nasi.

“Aku mencintai Luna apa adanya,” Andi merebahkan dirinya di tempat tidurnya. “Sayang dia tidak mencintaiku seperti apa adanya diriku.”

“Yang namanya cinta itu, sob,” Reza yang duduk di depan komputernya menimpali. “Harus seimbang. Take and give. Orang sering bilang, ‘pilihlah dicintai daripada mencintai’ karena mencintai rasanya lebih sakit…”

“Aku telah merasakannya,” sahut Andi, matanya kini terpejam. “Tapi bukan berarti aku kapok untuk mencintai. Masih banyak ikan di lautan yang bisa ditangkap.”

“Dan mungkin kail pancingmu di kali selanjutnya menangkap ikan yang tak terobsesi untuk mengubah penangkapnya menjadi idolanya,” imbuh Reza sambil tertawa sebelum kembali berkutat dengan komputernya.

========================================

Dan akhirnya, selesai sudah Cerita Seri Mencintai bayangan ini. Untuk membaca kisah lengkapnya, bisa klik label tulisan ini.

Cerita seri yang bisa diringkas jadi satu cerita ini sebelumnya pernah diposting di blogku yang lain, Story Eater Tales.

Share:

Jumat, Februari 01, 2013

Menjadi Bayangan

Andi terkejut saat dirinya merubah penampilannya seperti yang diinginkan–atau begitulah–oleh Luna, menjadi Edward Cullen. Ternyata hal itu sangat mudah sekali. Tak seperti yang dibayangkannya. Bedanya, bila Edward Cullen menjadi pusat perhatian setiap hari, maka dirinya berada di bawah naungan lampu sorot dalam waktu beberapa hari saja.


Banyak komentar mengenai dirinya. Dari yang berkata bahwa Andi makin keren. Ada juga yang tidak peduli. Ada juga yang cekikian tiap kali dia lewat. Bahkan ada yang terang-terangan tak menyukainya di hari kemunculan perdananya di kampus, mereka–yang tak suka–matanya kontan membelalak dan langsung pasang jarak. Seolah Andi mendadak terserang penyakit ayan.

Andi sendiri sih tak ambil pusing. Yang terpenting adalah reaksi Luna. Pendapat cewek yang menggetarkan hatinya itulah yang terpenting.

“Hai,” Andi menyapa Luna setelah berhari-hari mereka tak saling berkomunikasi.

Luna menatap Andi tertegun. Selama beberapa menit awal dia tak mengenali bahwa cowok yang menjulang di hadapannya adalah Andi.

“Andi?” tanyanya ragu.

Andi menganggukkan kepala.

“Kamu… emm, ganteng banget. Mirip…”

“Edward? Ya, demi kamu.”

“Demi aku? Kenapa?” Luna sadar itu pertanyaan bodoh. Dia jelas tahu apa alasannya. Andi pun tampaknya tak tertarik untuk menjelaskannya.

“Jadi… Maukah kau menjadi pacarku?”
———————————————-
Menjadi bayangan. Itulah yang dilakukan Andi lakukan setiap hari. Sikap Luna juga jadi sangat manis terhadapnya. Dengan sabar dia membimbing Andi agar menjadi sangat mirip dengan Edward. Andi tak pernah memprotes. Dia mau saja dikoreksi Luna. Dan menghitung kata-kata Luna “seharusnya…” Atau “Kalau Edward pasti…” menjadi lelucon tersendiri. Hal itu bukan masalah besar untuknya.

Asal dekat dengannya, asal dia jadi pacarku, batin Andi. Meski dia merasa ada sesuatu di sudut hatinya yang akhir-akhir ini mulai menyeruak keluar.

Teman sekost-nya sampai keheranan. Andi sangat berubah drastis. Dari orang yang biasanya banyak omong, mendadak jadi orang yang pendiam agar terlihat cool.

“Cinta benar-benar membuat orang gila,” katanya saat Andi memakaikan celak di bawah matanya.

Andi menghentikan kegiatannya untuk berpenampilan seperti vampir. “Mungkin kamu benar.”

“Tapi apa benar itu yang namanya cinta? Bukannya cinta menerima kita apa adanya?”

Andi menarik napas berat. Seakan dia sedang mengangkat benda berjuta ton di punggungnya.

“Perjalanan cinta itu panjang. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk meraihnya.”

“Dengan menjadi orang lain?”

“Salah satunya itu.” Andi tergelak. “Susah lho berdandan ala vampir gini.”

“Aku sudah membaca novelmu itu. Dan Edward, juga Bella, mereka saling mencintai tanpa merubah penampilan mereka. Tanpa menutupi siapa mereka sebenarnya. Dan menurutku, seberapa keras kamu meniru Edward, kamu nggak bakal bisa menyamai dia.”

“Aku sadar soal itu kok,” Andi terdiam sebentar. “Yang aku bis atiru dari Edward adalah aku hanya bisa mencintai dia. Hanya dia.”


“Dan apakah dia benar-benar tulus mencintaimu? Atau dia mencintai badut di hadapanku?”

“Mungkin awalnya dia hanya menatap penampilanku. Gimana pun Luna itu cewek yang baik. Tak masalah bagiku bila harus berpenampilan seperti ini. Menjadi bayangan. Bagiku, dia mau menjadi pelabuhan cintaku hal itu tak menjadi masalah. Mungkin… dengan seiring berjalannya waktu, dia bisa menerimaku apa adanya.”
——————————————–
Thanks To @yesiiwijaya yang telah membantu memberikan inspirasi ini.

Share:

Kamis, Januari 31, 2013

Melawan Bayangan

Kalau boleh jujur, Andi sangat malu pada dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak kelepasan bicara saat berada di taman kampus seminggu yang lalu. Seharusnya dia bisa mengontrol emosinya. Dan seharusnya dia masih bisa bercanda bersama Luna mentertawai kekonyolan Parto dan para wayangnya. Tapi apalah daya nasi telah menjadi bubur. Tidak bisa dikembalikan menjadi nasi lagi. Tapi mungkin lebih enak bila ditambahkan ayam, jadi rasa buburnya lebih mantap.

Reza, teman satu kostnya, melihat perubahan dalam diri Andi. Nggak biasanya temannya yang satu itu malas kuliah. Tapi beberapa hari terakhir ini, tiap diajak berangkat bareng dia selalu menolaknya.

“Loe lagi ada masalah sama Luna ya, Ndi?” tembak Reza tanpa basa-basi.

“Kelihatan banget ya?”

Reza ketawa kecil. “jelas malah.”

“Gue nggak tau, Za. Gimana ya cara melawan bayangan?”

“Bayangan? Maksud loe?”

“Kemana aja sih loe Za, semua orang juga pada tahu kalo Luna menggilai Edward Cullen.”

“Ohh, soal dia sangat mencintai tokoh fiksi itu?”

Andi diam saja. Dari sini teman kost sekaligus sahabatnya itu pasti tahu seberat apa masalahnya. Dilihatnya Reza memegang dagunya–tanda dia sedang memikirkan suatu hal.

“Mungkin bila dia mencintai seseorang yang nyata, mungkin gue masih bisa… masih punya kesempatan…”

“Gue rasa ini bukan soal nyata ato tidaknya. Tapi memang ada dua masalah…”

“Dua?”

“Gue tanya sama loe, Luna sadar nggak dengan apa yang dilakukannya?”

Andi mengangguk.

“Dari sini udah jelas….”

“Jelas apanya?”

“Jangan motong kata-kata orang dong!”

“Maaf, hehehe.”

“Dari sini udah jelas…” Reza mengulang kembali kata-katanya yang sempat terputus tadi. “Luna masih mengharapkan orang lain dalam hidupnya. Emang dia sebodoh itu hingga berpikir dia bakal menghabiskan hidupnya untuk mencintai tokoh yang hanya ada di novel?”

“Tapi dia pernah bilang ‘kenapa ya, karakter Edward tidak ada di dunia ini’ apa itu belum cukup membuktikan bahwa dia memberikan seluruh hatinya untuk tokoh imajiner tersebut?”

“Kemana aja sih loe, Ndi,” Reza mengembalikan kata-kata Andi sambil cengengesan. “Itu mengindikasikan… tipe cowoknya adalah seperti Edward,” Kata Reza sambil menyandang tasnya. “Satu-satunya cara untuk melawan bayangan tersebut adalah dengan kamu menjadi Edward Cullen.”

Andi kontan terdiam. Benar juga apa yang dikatakan sahabatnya itu. Tapi…

“Masa aku mesti jadi vampire dulu?”

Kata-kata terakhir Andi direspon dengan derai tawa Reza. Bahkan masih kedengaran cukup jelas meski sahabatnya tersebut sudah jauh diluar rumah. Dia lalu menggeledah rak bukunya. Menarik salah satu buku, lalu menenggelami novel Twilight milik Luna yang–atas paksaan Luna–dipinjamnya.

Share:

Rabu, Januari 30, 2013

Mencintai Bayangan

“Sampai kapan kamu menciumi poster itu?” celetuk Andi. Untuk kesekian kalinya Luna kepergok sedang menciumi poster tokoh idolanya, Robert Pattinson yang sedang berperan sebagai Edward Cullen.

“Ini bukan poster, ini gambar. Kalo poster kan ukurannya besar, ” sergah Luna.

“Bagiku sama aja. Hanya karena ukurannya seukuran postcard…ah, ukuran itu nggak penting.”

“Lalu yang penting apa? Aku gila gitu? Karena mencintainya karakter yang diperankan Robert Pattinson?”
Share:

Selasa, Januari 29, 2013

Paranorman

Jika kamu punya kelebihan bisa melihat dan bicara pada hantu, bagaimana perasaanmu? Senang? Sedih? Takut? Merasa aneh?

Bila jawabanmu adalah keempat hal itu, maka kamu harus kenal dengan Norman. Dia bisa melihat dan bicara dengan orang mati. Dia senang, sebab dia masih bisa bicara dengan neneknya. Dia sedih, sebab tidak ada yang memahaminya. Dia merasa aneh, sebab dia memang tidak normal. Orang-orang di sekitarnya, bahkan kakak dan ayahnya, memintanya untuk berhenti bersikap aneh--seolah dia bisa memilih memiliki sebuah berkah ajaib.
Share:

Sabtu, Januari 26, 2013

Flavours.me: Kartu Nama Online [2]

Masih ingat dengan about dot me, salah satu layanan kartu nama online yang bisa kalian gunakan untuk menempatkan semua situs atau social media kalian dalam satu halaman? Kalau kalian lupa, mungkin coretan ini bisa bikin kalian ingat.

Aku menemukan satu lagi layanan yang sama. Alamat situsnya adalah Flavours dot me.
Share:

Sabtu, Januari 05, 2013