Rabu, Januari 30, 2013

Mencintai Bayangan

“Sampai kapan kamu menciumi poster itu?” celetuk Andi. Untuk kesekian kalinya Luna kepergok sedang menciumi poster tokoh idolanya, Robert Pattinson yang sedang berperan sebagai Edward Cullen.

“Ini bukan poster, ini gambar. Kalo poster kan ukurannya besar, ” sergah Luna.

“Bagiku sama aja. Hanya karena ukurannya seukuran postcard…ah, ukuran itu nggak penting.”

“Lalu yang penting apa? Aku gila gitu? Karena mencintainya karakter yang diperankan Robert Pattinson?”


Andi menelan ludah. Bimbang antara ingin mengatakan unek-uneknya yang selama ini bersemayam di sudut hatinya. Kalau dikatakan, bisa jadi dia akan mendapatkan jackpot berupa kata-kata pedas. Tapi kalau dia mendiamkan saja… Akhirnya dia memilih opsi pertama.

“Kenapa ya, karakter Edward tidak ada di dunia ini? Kamu tau kenapa nggak Ndi?” mata Luna masih saja lekat melihat gambar Edward. “Kok ada ya cowok yang mencintai ceweknya setengah mati. Udah ganteng, tinggi, keren, cool, pokoknya dia cowok yang pas banget dijadikan pacar dunia akhirat deh!”

“Tapi dia hanya karakter rekaan Lun.” Sambil berkata Andi duduk di samping Luna. “Dan kalopun ada, mungkin hanya salah satu dari sifat yang kamu sebuti tadi.”

“Kamu tau nggak sih, tiap hari aku selalu bertemu dengannya…”

“Di dalam mimpi. Kamu udah menceritakan berjuta-juta kali ke aku…”

“Tapi aku nggak pernah bosan menceritakannya.”

“Ehm Lun… kamu pernah berpikir nggak kalo rasa cintamu yang berlebihan itu menjadi semacam…”

“Aku tahu, ” potong Luna. “Cinta dan kegilaan… bukankah itu yang dibilang orang? Aku tau aku sangat terobsesi dengan Edward. Aku juga tau, aku hanya mencintai bayangan. Bayangan yang aku ciptakan sendiri. Tapi mau gimana lagi, namanya juga cinta bukan? Seperti kilat dan menyambar siapa saja. Dan kebetulan kilat itu berasal dari tokoh fik…”

“Omong kosong tau nggak. Itu sangat tidak adil! Sangat tidak adil bagiku!”

“Hah?” Luna menatap Andi tak mengerti. “Kenapa tidak adil bagimu?”

“Aku jadi serba salah. Kamu begitu mencintai tokoh yang bahkan nggak hidup di dunia kita.”

“Kamu serba salah kenapa sih?”

“Pernahkah kamu berpikir… untuk membuka hatimu untuk orang lain? orang yang jelas bukan bayangan.

Yang memiliki cinta sebesar Edward, tapi tak memiliki apa yang ada padanya.”

Luna terdiam. Hampir di setiap benda yang dimilikinya pasti bertuliskan Mrs. Cullen. Teman-teman yang dimilikinya juga diminta untuk mengakui bahwa Edward si vampir menawan itu sudah menjadi miliknya, dan tak boleh ada yang merebutnya.

“Aku sayang kamu, Lun. Aku cinta banget sama kamu. Tapi cintamu pada bayangan itu terlalu besar. Aku… udah menyerah. Berbagai upaya yang aku lakukan untuk membawamu ke jalan yang benar…”

Luna tertawa kecil. Masih sempat aja si Andi bercanda di saat seperti ini.

“Bila memang aku jadi temanmu. Maka aku akan menerimanya. Meski….” Andi tidak melanjutkan kalimatnya. Dia lalu menyentuh bahu Luna dan berlalu pergi. Meninggalkan Luna sendiri.

Share:

2 komentar:

  1. Eh ini di post lagi? :O

    BalasHapus
  2. iya, di post lagi, soalnya di stew nggak boleh ada posting selain buku ._.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^