Jumat, Februari 08, 2013

Dear Crush

Orang bilang, untuk mengobati patah hati, atau agar bisa segera move on dari cinta masa lalu, adalah dengan jatuh cinta lagi.

Aku bisa bangga aku sudah bisa move on. Aku sudah bisa merelakan mantanku pergi dari sisiku. Tapi aku tidak menyangka bisa menemukan seseorang yang lain, yang tiba-tiba memenuhi kepalaku secepat itu.

Kamu.

Apakah aku mudah jatuh cinta?
Share:

Kamis, Februari 07, 2013

The Reviewers #1

Ketika kalian masuk ke sebuah kafe, dan menemukan di salah satu meja ada seorang cowok mengenakan baju berlapis-lapis–bukan karena dia kedinginan tapi memang itulah stylenya, coba untuk melihatnya lebih teliti lagi. Perhatikan apakah tangannya membawa buku atau matanya tampak serius menatap layar notebooknya, apakah ada buku notes kecil dari disket bekas dan sebatang pena warna biru di atas mejanya, apakah dia ditemani oleh secangkir es teh.

Bila ketiga pertanyaan itu jawabannya adalah ya, mungkin saja itu aku.

Namaku Jun. Di sela-sela waktuku belajar guna meraih gelar S1, aku menyibukkan diri sebagai seorang reviewers–aku sengaja menggunakan istilah bahasa asing sebab aku belum nemu padanan kata yang pas untuk jenis pekerjaanku itu (kalau bisa disebut pekerjaan, secara aku tidak dibayar untuk melakukan ini–kalau pun dibayar, bayarannya juga buku).

Sebelum menjadi reviewers, aku hanyalah seorang kutu buku. Kutu buku yang hanya membaca buku sebagai hiburan atau mencari pembelajaran. Aku, saat itu, belum tertarik untuk “mengobrak-abrik” unsur instrinsik-ekstrinsik, keselarasan kisah, masuk akal atau tidaknya kisah hingga chemistry antar tokoh, dan seterusnya dan seterusnya. Bagiku, dulu, sebuah cerita itu bagus ketika bisa membuat pembaca terkejut di akhir dan dilengkapi kalimat-kalimat oenjoe yang bisa di-quote.

Tapi sekarang semua hal menjadi perhatianku. Dari nama tokoh, apakah nama tokoh A ini cocok digunakan di negara ini dan di masa ini dan apakah disertai penjelasan kenapa dia memiliki nama seperti itu. Kita tahu setiap negara memiliki bahasanya masing-masing. Nama Sri, misalnya. Sangat umum di Indonesia dan India, tapi apa kalian akan percaya ada orang pribumi bernama Sri di Jepang?

Lalu masuk akalnya sebuah kisah. Menurut kalian, masuk akal tidak setelah makan bakso, terus dilanjut dengan adegan dua tokohnya ciuman, eh, salah satu tokohnya merasakan rasa buah di bibir tokoh lainnya? Akan masuk akal bila dijelaskan bila si tokoh sempat ke kamar mandi dan memulas lipstik aroma buah-buahan ke bibirnya, atau rasa baksonya adalah rasa buah-buahan–yang akan lebih aneh atau bisa juga terlihat unik di mata orang lain (hebat dong bisa gabungin daging dengan buah dan rasa buahnya masih terasa).

Dibanding novel genre lainnya, aku lebih sering mempertanyakan ketidakmasuk-akalan kisah bergenre fantasi. Apalagi bila tidak disertai penjelasan. Semisal Harry Potter. Mrs. Rowling benar-benar habis-habisan membangun dunia sihir di dalam novel serialnya hingga sulit untuk tidak bisa tidak mempercayai kalau dunia sihir itu ada.

Sifat kritisku itu tidak berhenti begitu saja–oh ya, efek samping menjadi reviewers adalah kamu bakal jadi sangat kritis pada semua jenis media cerita, ini menurutku sih. Aku juga jadi kritis pada film. Aku juga tidak makan bulat-bulat apa-apa yang disajikan oleh sinetron atau film TV. Sampai-sampai aku tidak bisa menikmati jalan sebuah cerita gara-gara terlalu sibuk mencari kesalahan.

Seperti film Lord of the Rings: The Returns of the King dan Two Tower, dimana luka Frodo berpindah pipi, luka Merry juga berpindah, dan Harry Potter and the Sorcerers Stone dimana Harry pindah duduk. Aku harus memaksa diriku bahwa itu biasa. Namanya juga manusia. Kata orang, bukankah manusia tempatnya salah?

Selanjutnya, setiap nonton film dimana aku menaruh ekspetasi besar, aku menaruh buku catatanku, notebook, apapun yang bisa ditulis, jauh-jauh dari ruang teve.

“Mau sampai jam berapa, Jun, disini?” Santi, salah satu waiters di kafe yang jadi langgananku, tiba-tiba saja berada di sampingku dan menanyaiku.

“Bentar lagi mungkin,” kataku tanpa mengalihkan mataku dari bacaanku. Tinggal beberapa bab lagi. Aku bisa menyelesaikannya malam ini. “Kenapa?” imbuhku.

“Baca buku apa sih?” Dia balik bertanya.

“Mockingjay. Buku terakhir dari serial The Hunger Games.”

Meski aku tidak melihatnya, entah kenapa aku merasa dia mengangguk-anggukan kepala. “Bisa nggak kamu lanjutkan bacaanmu nanti?”

“Ada apa?” Kali ini aku menatap ke arahnya, Santi meringis.

“Aku mau minta bantuanmu.”

Bantuan apa nih? “Kalau aku sanggup, aku pasti membantumu.”

“Aku yakin kamu akan mengatakan itu,” Santi tersenyum lebar. “Bantu aku… Bisa nggak kamu pulang sekarang?”

Pulang?

Refleks aku menyapukan pandangan ke sekitar. Kafe sudah sepi. Aku satu-satunya pelanggan. Malahan, semua bangku sudah ditaruh terbalik di atas meja. Bagaimana… bagaimana mereka bisa merapikan kafe tanpa membuat keributan? Atau jangan-jangan telingaku mendadak bolot?

Aku meringis. Santi meringis. Mungkin dunia juga ikut meringis.

Buru-buru aku merogoh sakuku dan menyerahkan bayaran untuk minumanku.

Waktu, terkadang juga kondisi di sekitarku, sering terlupakan ketika aku sedang membaca buku–dan nonton film.

Share:

Rabu, Februari 06, 2013

Meet Christopher

Aku melempar Eragon setelah tiga malam bergumul dengannya. Dia memantul-mantul di atas kasur. Tak memprotes tindakanku yang kasar padanya.

Bagaimana dia bisa memprotes? Dia hanya sebuah novel. Novel yang aku sayangi. Novel yang membuatku mengurungkan niatku untuk pergi dari dunia ini setelah bab 1 selesai aku tuntaskan.
Lalu kenapa aku melemparnya bila aku menyayanginya? Itu ungkapan iriku pada sang Penulisnya, Christopher Paolini. Dia bisa membuat cerita yang begitu indah. Lebih indah dari novel-novel yang pernah aku baca sebelumnya.

Meski aku suka melempar novel bagus. Bukan berarti aku melemparkan ke sembarang tempat. Kalau sampai tergores sedikit saja–bahkan hanya berupa garis, aku pasti akan menyesalinya.
Dulu, aku pernah tanpa sengaja menjatuhkan pisau ke atas Incognito. Pisau itu menancap. Membuat lubang di cover dan beberapa halaman depan. Untungnya tidak sampai bagian prolog. Namun hal itu membuatku gila. Merawat Incognito seperti pesakitan hingga aku lupa dia hanya sebuah novel. Orang-orang bilang aku sakit jiwa. Tak sedikit juga yang nyeletuk, “Mungkin dia akan menikahi novelnya.” Tapi aku acuhkan. Mereka belum pernah merasa apa yang aku rasakan.
Aku memeluk Eragon. Lalu mencatat dalam hati, “Aku harus bertemu dengan penciptamu.”
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Senyum terus tersungging di bibirku. Aku yakin rumah sakit jiwa tak bisa menanganiku.

Share:

Selasa, Februari 05, 2013

Netbook #3

Aku menyeret kedua kakiku menjauhi panti asuhan tersebut. Oke, ini adalah hal paling gila yang aku lakukan, merelakan impianku untuk sesuatu yang… mulia. Tapi entah bagaimana aku merasa apa yang aku lakukan ini adalah tindakan yang tepat. Meski hati terasa berat. Meski rasa sesal, yang tanpa perlu ijin, memenuhi dadaku, aku terus menyeret kakiku agar mau menuruti tuannya untuk segera pulang.

Aku tak mengambil rute yang sama dengan saat proses pengejaran–jelas aku tak mau bersempit-sempit di gang antara dua toko tersebut. Saat aku menabrak pengendara sepeda tadi aku ingat itu taman dekat rumah.

Mungkin memang belum waktunya aku memilikinya, kataku dalam hati.

Memiliki netbook adalah impianku sejak dulu. Sejak aku mengenal komputer. Sejak aku bercita-cita jadi penulis. Tapi bukankah tak perlu memiliki komputer untuk bisa jadi penulis? Mr Clive Barker, penulis novel yang aku kenal lewat karyanya yang spektakuler: Abarat, bahkan tidak memiliki komputer. Dia lebih memilih menulis novelnya secara konvensional: di lembaran buku tulis. Mungkin aku bisa menirunya. Siapa tahu aku bisa menjadi penulis besar seperti dirinya?

“Kak Ilham!”

Ada sebuah suara yang sangat familiar memanggilku dari kejauhan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pemanggil. Ternyata Febri, adikku. Dia berdiri di seberang jalan. Sambil tersenyum padaku dia memberi aba-abar agar aku menunggunya menyebrang.

“Weis, selamat ya!” katanya sambil memukul bahuku dengan bercanda. Diantara semua orang di rumah hanya Febri yang aku kasih tahu mengenai pembelian netbook. “Ayah sama bunda pasti bangga!”

Aku tersenyum gugup. Bila aku bercerita yang sebenarnya, kira-kira bagaimana reaksi Febri? Mengingat emosinya yang masih labil. Dan soal ayah bunda, aku rasa mereka tak perlu tahu masalah ini–yang tak menjadi soal selama Febri tak membuka mulutnya.

“Gimana, udah dapat netbook?” Tanya Febri. Kami kemudian berjalan bersisian.

“Aku… ehm, belum. Kayaknya aku harus pikir-pikir lagi deh, Feb. Mungkin lain kali.”

“Kenapa?”

Aku terdiam. Pikiranku masih sedikit kalut. Sebenarnya aku ingin sendiri dulu, untuk menenangkan berbagai pikiran yang berkecamuk.

“Aku ingat… aku masih punya kebutuhan lain yang lebih mendesak.”

Kulihat Febri mengangguk-anggukan kepalanya. Tampaknya dia percaya.

“Jadi, darimana kamu?” tanyaku.

“Dari rumah.”

“Kenapa kamu disini?”

“Tentu saja mencarimu, kakakku yang tersayang. Oia, tadi kamu lupa bawa hape ya?”

Aku memeriksa kantong depan celanaku. Tak ada yang timbul disitu. Mungkin terlalu bernafsunya diriku hingga aku lupa membawa hape.

“Aku tinggal di rumah. Kenapa kamu mencariku?”

“Mengajakmu pulang,” dia terdiam sejenak. “Ada yang ingin bunda bicarakan kepadamu.”

“Penting ya?”

“Penting banget!!”

“Kalo gitu kita harus bergegas.”

Kami berjalan pulang tanpa berbincang-bincang lagi. Apa yang ingin bunda bicarakan denganku ya? Hal penting apa yang membuat wanita yang melahirkan dirinya itu hingga meminta adiknya mencarinya? Apa mungkin sesuatu yang gawat, seperti sesuatu yang buruk?

Pikiran macam apa itu, ilham? Aku memperingatkan diriku sendiri.

Bunda kontan tersenyum sumringah saat melihat kedatangan kami. Dari senyumnya sudah jelas ini bukan berita buruk.

“Ada apa, Bun?” tanyaku saat kami berhenti di depan beliau. “Kata Febri…”

Bunda tidak menjawab. beliau malah memelukku. Matanya kemudian menitikkan air mata. Ada apa sih ini? Tadi senyum sekarang menangis? Apa ada dua berita, baik dan buruk?

“Selamat ya nak, impianmu terwujud!” kata beliau sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

“Selamat? Impian? Maksud bunda apa?” Apa beliau sedang menggigau? Apa tadi Febri menceritakan sesuatu pada beliau? Tapi aku kan baru saja kehilangan… maksudku, impianku tertunda karena suatu sebab.

“Barusan bunda mendapat telepon. Kamu menang lomba blog. Dan kamu menjadi juara satu!”

Bulu kudukku meremang. Aku rasanya hendak meledak. Aku tak menyangka semuanya berkembang di luar dugaan. Aku tadi kehilangan uang untuk membeli netbook. Sekarang, aku mendapat kabar aku akan memiliki netbook–hadiah bagi pemenang pertama.

“Aku mau minum!” kataku. Entah kenapa aku jadi merasa tenggorokanku kering kerontang.

~FIN~

Share:

Senin, Februari 04, 2013

Netbook #2

Aku memutar badanku. Aku tidak percaya aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkan uangnya yang dijambret. Dengan langkah gontai sambil meyakinkan diri bahwa aku harus ikhlas, aku meninggalkan sang pencuri itu yang sedang bersukacita bersama teman-temannya di bangunan yang hampir roboh itu. Say good bye to netbook.

————————————————–
*beberapa menit sebelumnya*
Setelah satu menit berlalu aku masih bengong dan memandangi tanganku yang kosong. Amplop coklatku… impianku…

“HEI! BERHENTI!!” Aku berteriak sambil menghapalkan ciri-ciri seseorang yang merenggut amplopku. Dia mengenakan jaket berbahan jeans dan topi dengan tulisan Freedom.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mengumpulkan tenaga sebelum mengejar dia-perenggut-mimpiku. Penjambret itu tampaknya tahu dia dikejar. Berulang kali dia menatap ke belakang dan makin mempercepat ayunan kakinya.

Tak ada yang bisa menghancurkan mimpiku, tak kan ada yang bisa!! teriakku dalam hati. Apalagi dia maling!
Dia berbelok ke arah celah sempit antara dua toko baju. Saat aku sampai di mulut gang, dia sudah berada di ujung satunya. Aku menduga, pencopet itu tahu seluk beluk daerah sekitar sini. Dia bahkan tahu ada jalan sempit ini–yang untuk melewatinya harus memiringkan badan. Mana temboknya masih bata lagi. Tanganku tergores ketika melewati celah sempit itu. Luka yang ditimbulkannya tak begitu parah jadi aku mengabaikannya.

Aku melihat pencopet itu berlari makin cepat. Tak mau kalah dengannya, kupercepat ayunan kakiku. Entah berapa kali aku nyaris menabrak orang-orang. Entah berapa kali kata maaf meluncur dari mulutku.
Berulang kali pencopet itu masuk ke halaman rumah orang. Berulang kali pula tatapan heran–dan kadang juga amarah–melayang ke arah kami. Bahkan ada yang hingga berteriak mengeluarkan seluruh penghuni kebun binatang.

Yang membuat aku takjub, pencopet itu lari begitu cepat. Dan dengan lincah lompat sana, lompat sini. Membuat aku yang jarang berolahraga ini kewalahan.

BRUUK!!

Aku menabrak pengendara sepeda. Pengendara itu langsung turun dan menanyakan keadaanku. “Kamu baik-baik saja?”

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sang pencopet. Dia berlari dua kali lebih cepat. Ya ampun, aku bisa kehilangan jejaknya!!

“Hei, kamu baik-baik saja kan?!” teriak pengendara sepeda yang tampaknya kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya.

Aku berbelok ke jalan dimana pencopet itu menghilang. Aku mengutuk dalam hati. Dia telah menghilang!!
Ketika aku memainkan rambutku dengan frustasi, ekor mataku menatap jaket jeans itu. Jaket jeans yang sama yang dipakai oleh pencopet itu. Dia sedang dikerubuti oleh anak-anak kecil.

“Panti Asuhan Kasih Ibu,” aku membaca plank di depan bangunan yang hampir roboh itu.

#bersambung

Share:

Minggu, Februari 03, 2013

Netbook #1

Aku menarik napas lega. Tinggal selangkah lagi dan aku bakal bisa memilikinya. Benda yang selama ini hanya bisa aku mimpikan. Benda yang selama ini aku idam-idamkan–bahkan hingga mengalahkan wanita hamil yang lagi pengen mangga. Oke, nggak seperti itu. Itu lebay namanya.

Dengan uang yang kini ada digenggamanku–terbungkus amplop coklat–aku bisa membuat benda idamanku tersebut menjadi milikku. Sebuah netbook. Sekarang masih nangkring di etalase toko Elle, tapi dalam waktu beberapa menit benda itu bisa aku bawa pulang.

Setelah sekian lama aku bersusah payah. Sekian lama aku mengumpulkan ranting demi ranting dari uang sakuku. Ayah dan bunda pasti tercengang saat anaknya bisa membeli hal yang paling diinginkannya dengan usahanya sendiri. Terbayang di pikiranku, mereka akan tersenyum bangga. Ayah akan menepuk-nepuk punggungku, dan bunda akan menangis haru sambil menawariku apa aku mau dibuatkan keripik tempe–makanan favoritku? Yang pasti akan kujawab ya.

Toko komputer ada di seberang jalan. Lalu lintasnya sedang ramai, sial. Aku menghembuskan napasku perlahan. Ritualku dalam menenangkan diri. Tenang, Ilham, bentar lagi kamu memiliki sebuah netbook baru, kataku dalam hati.

Karena lalu lintas tak kunjung sepi, jadi aku memutuskan untuk melangkah pelan sambil sedikit-sedikit tangan memberi lambaian.

Aku menghirup nafas dalam-dalam sekali lagi. Ingin membau aroma terakhir sebelum memiliki netbook tersebut. Konyol memang. Tapi aku ingin menikmati setiap momennya.

Kuulurkan tangan kananku untuk mendorong pintu toko Elle yang terbuat dari kaca. Tiba-tiba aku merasa benda yang aku pegang di tangan kiri–amplop coklat tadi–memiliki keinginan sendiri. Melompat dari tanganku dan tak ingin dibelanjakan. Yang baru kusadari kemudian… aku telah dicopet!!

#bersambung

Share:

Sabtu, Februari 02, 2013

Keluar dari bayang-bayang

Andi memutuskan untuk meninggalkan Luna. Dia sudah tak tahan terus-menerus bersandiwara hanya untuk bisa mendapatkan perhatian cewek yang hingga kini masih menggetarkan hatinya. Juga sudah jengah dengan omelannya “kamu harusnya gini…” dan “Kalau Edward…”

Hampir dua bulan Andi menjelma jadi bayangan. Berpura-pura menjadi orang lain–atau tepatnya tokoh fiksi–mungkin mudah. Tapi hal itu membuatnya merasa lelah. Rasanya seperti berada di penjara. Tak ada napas kebebasan. Tapi itu belum semuanya, Luna juga sangat menghayati perannya sebagai kekasih Edward yang masih berstatus sebagai manusia.Banyak hal konyol–kebanyakan membuat Andi dongkol–yang dilakukan oleh Luna. Misal, Edward tidak bisa makan karena dia vampir. Maka ketika mereka jalan bareng, Andi hanya bisa menelan ludah menatap Luna makan dengan sangat perlahan. Apalagi di hari pertama mereka kencan, Andi mengosongkan perutnya agar bisa menyantap hidangan makan malam bersama gadis pujaannya.

Kemudian dia sadar bukan hanya hatinya yang lelah, tapi badannya pun tersiksa.

Untungnya sih Luna tidak pernah meminta dirinya digendong Andi, seperti Edward yang kemana-mana membawa Bella dengan menggendongnya. Bisa-bisa tulang-tulangnya rontok semua.

2 hari yang lalu…

“Lun, boleh ngomong sesuatu nggak?”

“Ngomong aja, Ed.”

Nama itu lagi, batin Andi. Entah kenapa setiap nama itu dipanggil ada semacam arus listrik yang menyengat hatinya. Membuatnya kesakitan.

“Karena ini sulit, jadi aku langsung saja ngomongnya.”

“Mau ngomong apa sih?” Luna menatap Andi heran.

“Aku… nggak mau jadi Edward lagi,” kata Andi cepat.

“Maksudmu apa, Ed?”

“Bisakah kamu memanggil namaku? Namaku Andi. Bukan Edward.”

“Tapi…”

“Aku udah capek Lun setiap hari bersandiwara jadi tokoh fiksimu. Aku juga capek tiap hari harus dandan dulu hanya untuk bisa duduk disampingmu dan kamu perkenalkan pada teman-temanmu.”

“Tapi, kalo kamu nggak jadi Edward… kita…”

“Kita tak bisa bersama lagi? Ya, aku rasa aku tahu konsekuensinya.”

“Kamu nggak serius kan Ed…”

“Andi, namaku Andi, Luna. Bukan Edward. Dan hingga napas terakhirku, namaku tetap Andi.

Luna kontan terdiam. Dia menangkupkan telapak tangannya di wajahnya.

“Aku ingin pulang,” katanya kemudian.

“Aku antar kamu pulang,” Kata Andi kemudian.

Hingga detik ini, Andi masih mencintai Luna. Bahkan dia yakin dia tak bisa menghapus ingatannya akan gadis itu hingga maut menjemputnya. Dia sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Luna mencintai Edward. Bukan mencintainya–meski dia berusaha menjadi bayangan tokoh fiksi tersebut.

Menyesal? Rasa itu sempat hinggap di hati Andi. Tapi segera ditepisnya. Setiap kali mengingatnya dia tersenyum. Setidaknya sekarang hatinya merasa lega. Dia bisa jadi diri sendiri. Tak perlu berlagak sok cool. Tak perlu bangun pagi untuk mempersiapkan dandanan ala vampir. Dan yang terpenting, tak perlu lagi main kucing-kucingan hanya untuk menikmati sepiring nasi.

“Aku mencintai Luna apa adanya,” Andi merebahkan dirinya di tempat tidurnya. “Sayang dia tidak mencintaiku seperti apa adanya diriku.”

“Yang namanya cinta itu, sob,” Reza yang duduk di depan komputernya menimpali. “Harus seimbang. Take and give. Orang sering bilang, ‘pilihlah dicintai daripada mencintai’ karena mencintai rasanya lebih sakit…”

“Aku telah merasakannya,” sahut Andi, matanya kini terpejam. “Tapi bukan berarti aku kapok untuk mencintai. Masih banyak ikan di lautan yang bisa ditangkap.”

“Dan mungkin kail pancingmu di kali selanjutnya menangkap ikan yang tak terobsesi untuk mengubah penangkapnya menjadi idolanya,” imbuh Reza sambil tertawa sebelum kembali berkutat dengan komputernya.

========================================

Dan akhirnya, selesai sudah Cerita Seri Mencintai bayangan ini. Untuk membaca kisah lengkapnya, bisa klik label tulisan ini.

Cerita seri yang bisa diringkas jadi satu cerita ini sebelumnya pernah diposting di blogku yang lain, Story Eater Tales.

Share:

Jumat, Februari 01, 2013

Menjadi Bayangan

Andi terkejut saat dirinya merubah penampilannya seperti yang diinginkan–atau begitulah–oleh Luna, menjadi Edward Cullen. Ternyata hal itu sangat mudah sekali. Tak seperti yang dibayangkannya. Bedanya, bila Edward Cullen menjadi pusat perhatian setiap hari, maka dirinya berada di bawah naungan lampu sorot dalam waktu beberapa hari saja.


Banyak komentar mengenai dirinya. Dari yang berkata bahwa Andi makin keren. Ada juga yang tidak peduli. Ada juga yang cekikian tiap kali dia lewat. Bahkan ada yang terang-terangan tak menyukainya di hari kemunculan perdananya di kampus, mereka–yang tak suka–matanya kontan membelalak dan langsung pasang jarak. Seolah Andi mendadak terserang penyakit ayan.

Andi sendiri sih tak ambil pusing. Yang terpenting adalah reaksi Luna. Pendapat cewek yang menggetarkan hatinya itulah yang terpenting.

“Hai,” Andi menyapa Luna setelah berhari-hari mereka tak saling berkomunikasi.

Luna menatap Andi tertegun. Selama beberapa menit awal dia tak mengenali bahwa cowok yang menjulang di hadapannya adalah Andi.

“Andi?” tanyanya ragu.

Andi menganggukkan kepala.

“Kamu… emm, ganteng banget. Mirip…”

“Edward? Ya, demi kamu.”

“Demi aku? Kenapa?” Luna sadar itu pertanyaan bodoh. Dia jelas tahu apa alasannya. Andi pun tampaknya tak tertarik untuk menjelaskannya.

“Jadi… Maukah kau menjadi pacarku?”
———————————————-
Menjadi bayangan. Itulah yang dilakukan Andi lakukan setiap hari. Sikap Luna juga jadi sangat manis terhadapnya. Dengan sabar dia membimbing Andi agar menjadi sangat mirip dengan Edward. Andi tak pernah memprotes. Dia mau saja dikoreksi Luna. Dan menghitung kata-kata Luna “seharusnya…” Atau “Kalau Edward pasti…” menjadi lelucon tersendiri. Hal itu bukan masalah besar untuknya.

Asal dekat dengannya, asal dia jadi pacarku, batin Andi. Meski dia merasa ada sesuatu di sudut hatinya yang akhir-akhir ini mulai menyeruak keluar.

Teman sekost-nya sampai keheranan. Andi sangat berubah drastis. Dari orang yang biasanya banyak omong, mendadak jadi orang yang pendiam agar terlihat cool.

“Cinta benar-benar membuat orang gila,” katanya saat Andi memakaikan celak di bawah matanya.

Andi menghentikan kegiatannya untuk berpenampilan seperti vampir. “Mungkin kamu benar.”

“Tapi apa benar itu yang namanya cinta? Bukannya cinta menerima kita apa adanya?”

Andi menarik napas berat. Seakan dia sedang mengangkat benda berjuta ton di punggungnya.

“Perjalanan cinta itu panjang. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk meraihnya.”

“Dengan menjadi orang lain?”

“Salah satunya itu.” Andi tergelak. “Susah lho berdandan ala vampir gini.”

“Aku sudah membaca novelmu itu. Dan Edward, juga Bella, mereka saling mencintai tanpa merubah penampilan mereka. Tanpa menutupi siapa mereka sebenarnya. Dan menurutku, seberapa keras kamu meniru Edward, kamu nggak bakal bisa menyamai dia.”

“Aku sadar soal itu kok,” Andi terdiam sebentar. “Yang aku bis atiru dari Edward adalah aku hanya bisa mencintai dia. Hanya dia.”


“Dan apakah dia benar-benar tulus mencintaimu? Atau dia mencintai badut di hadapanku?”

“Mungkin awalnya dia hanya menatap penampilanku. Gimana pun Luna itu cewek yang baik. Tak masalah bagiku bila harus berpenampilan seperti ini. Menjadi bayangan. Bagiku, dia mau menjadi pelabuhan cintaku hal itu tak menjadi masalah. Mungkin… dengan seiring berjalannya waktu, dia bisa menerimaku apa adanya.”
——————————————–
Thanks To @yesiiwijaya yang telah membantu memberikan inspirasi ini.

Share: