Jumat, Februari 08, 2013

Dear Crush

Orang bilang, untuk mengobati patah hati, atau agar bisa segera move on dari cinta masa lalu, adalah dengan jatuh cinta lagi.

Aku bisa bangga aku sudah bisa move on. Aku sudah bisa merelakan mantanku pergi dari sisiku. Tapi aku tidak menyangka bisa menemukan seseorang yang lain, yang tiba-tiba memenuhi kepalaku secepat itu.

Kamu.

Apakah aku mudah jatuh cinta?

Mungkin.

Tapi yang jelas bukan karena tampilan fisik. Atau jangan-jangan aku mudah jatuh cinta pada mereka yang tampilannya biasa saja? Tidak kurang. Tidak berlebihan. Biasa saja.

Atau mungkin karena aku biasa-biasa saja sehingga aku tidak berani suka pada seseorang yang luar biasa?

Atau mungkin aku hanya kagum? Tapi kalau kagum kok bisa aku terus memikirkanmu? Kalau kagum, kenapa aku tidak bisa menghapus sosokmu dari otakku? Kalau kagum, kenapa aku tidak memikirkan artis idolaku sesering memikirkanmu?

Aku pertama kali melihatmu ketika hari pertama masuk kuliah setelah liburan semester. Aku menemukannya duduk bergerombol bersama anak-anak yang aku yakin mahasiswa baru--wajah-wajah yang belum pernah kulihat. Tapi meski kamu berada di tengah keramaian, kamu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menatapmu secara berlebihan. Kamu seolah berada di dalam duniamu sendiri. Mungkin karena telingamu disumpal dengan headset yang mungkin sedang mendendangkan musik dari ponselmu.

Jujur saja, kamu bukan yang paling keren diantara teman-temanmu. Wajahmu nggak mulus dan bersih--cukup banyak jerawatnya. Gaya rambutmu juga pasaran. Banyak yang lebih keren darimu. Ada juga yang kulitnya jauh lebih putih darimu. Tidak sedikit yang tingginya sudah memadai untuk jadi model, tapi entah kenapa mataku hanya tertuju padamu. Seakan-akan lampu sorot diarahkan langsung ke arahmu. Seakan-akan dirimu adalah kutub bumi dan kedua mataku adalah jarum kompas.

Dan entah kenapa aku merasa kita telah bertemu sebelumnya.

Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.

Kemudian mata kita bertemu. Jarak kita sekitar delapan langkah tapi aku merasa seolah kita berdiri berhadap-hadapan. Aku tidak bisa menggerakkan badanku. Leherku mendadak kram. Kakiku seolah dipaku di lantai kampus. Dadaku berhenti naik turun. Mungkinkah aku lupa cara bernapas? Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya guna memenuhi kebutuhan tubuhku akan pasokan oksigen.

Hanya beberapa detik.

Setelah itu pandangan kita terputus. Kamu kembali menekuri ponselnya. Mungkin mengganti lagu yang ingin kamu dengar. Tapi cukup dengan beberapa detik itu, aku tahu bahwa aku telah menyerah pada pesonamu.

Share:

3 komentar:

  1. belajar dari pengalaman orang.. Hehe..

    BalasHapus
  2. kamu menemukan dia ? wew...
    owh si dia itu.. dia toh.. :D

    BalasHapus
  3. >> Dude
    siapa dude? :)))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^