Sabtu, Februari 02, 2013

Keluar dari bayang-bayang

Andi memutuskan untuk meninggalkan Luna. Dia sudah tak tahan terus-menerus bersandiwara hanya untuk bisa mendapatkan perhatian cewek yang hingga kini masih menggetarkan hatinya. Juga sudah jengah dengan omelannya “kamu harusnya gini…” dan “Kalau Edward…”

Hampir dua bulan Andi menjelma jadi bayangan. Berpura-pura menjadi orang lain–atau tepatnya tokoh fiksi–mungkin mudah. Tapi hal itu membuatnya merasa lelah. Rasanya seperti berada di penjara. Tak ada napas kebebasan. Tapi itu belum semuanya, Luna juga sangat menghayati perannya sebagai kekasih Edward yang masih berstatus sebagai manusia.Banyak hal konyol–kebanyakan membuat Andi dongkol–yang dilakukan oleh Luna. Misal, Edward tidak bisa makan karena dia vampir. Maka ketika mereka jalan bareng, Andi hanya bisa menelan ludah menatap Luna makan dengan sangat perlahan. Apalagi di hari pertama mereka kencan, Andi mengosongkan perutnya agar bisa menyantap hidangan makan malam bersama gadis pujaannya.

Kemudian dia sadar bukan hanya hatinya yang lelah, tapi badannya pun tersiksa.

Untungnya sih Luna tidak pernah meminta dirinya digendong Andi, seperti Edward yang kemana-mana membawa Bella dengan menggendongnya. Bisa-bisa tulang-tulangnya rontok semua.

2 hari yang lalu…

“Lun, boleh ngomong sesuatu nggak?”

“Ngomong aja, Ed.”

Nama itu lagi, batin Andi. Entah kenapa setiap nama itu dipanggil ada semacam arus listrik yang menyengat hatinya. Membuatnya kesakitan.

“Karena ini sulit, jadi aku langsung saja ngomongnya.”

“Mau ngomong apa sih?” Luna menatap Andi heran.

“Aku… nggak mau jadi Edward lagi,” kata Andi cepat.

“Maksudmu apa, Ed?”

“Bisakah kamu memanggil namaku? Namaku Andi. Bukan Edward.”

“Tapi…”

“Aku udah capek Lun setiap hari bersandiwara jadi tokoh fiksimu. Aku juga capek tiap hari harus dandan dulu hanya untuk bisa duduk disampingmu dan kamu perkenalkan pada teman-temanmu.”

“Tapi, kalo kamu nggak jadi Edward… kita…”

“Kita tak bisa bersama lagi? Ya, aku rasa aku tahu konsekuensinya.”

“Kamu nggak serius kan Ed…”

“Andi, namaku Andi, Luna. Bukan Edward. Dan hingga napas terakhirku, namaku tetap Andi.

Luna kontan terdiam. Dia menangkupkan telapak tangannya di wajahnya.

“Aku ingin pulang,” katanya kemudian.

“Aku antar kamu pulang,” Kata Andi kemudian.

Hingga detik ini, Andi masih mencintai Luna. Bahkan dia yakin dia tak bisa menghapus ingatannya akan gadis itu hingga maut menjemputnya. Dia sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Luna mencintai Edward. Bukan mencintainya–meski dia berusaha menjadi bayangan tokoh fiksi tersebut.

Menyesal? Rasa itu sempat hinggap di hati Andi. Tapi segera ditepisnya. Setiap kali mengingatnya dia tersenyum. Setidaknya sekarang hatinya merasa lega. Dia bisa jadi diri sendiri. Tak perlu berlagak sok cool. Tak perlu bangun pagi untuk mempersiapkan dandanan ala vampir. Dan yang terpenting, tak perlu lagi main kucing-kucingan hanya untuk menikmati sepiring nasi.

“Aku mencintai Luna apa adanya,” Andi merebahkan dirinya di tempat tidurnya. “Sayang dia tidak mencintaiku seperti apa adanya diriku.”

“Yang namanya cinta itu, sob,” Reza yang duduk di depan komputernya menimpali. “Harus seimbang. Take and give. Orang sering bilang, ‘pilihlah dicintai daripada mencintai’ karena mencintai rasanya lebih sakit…”

“Aku telah merasakannya,” sahut Andi, matanya kini terpejam. “Tapi bukan berarti aku kapok untuk mencintai. Masih banyak ikan di lautan yang bisa ditangkap.”

“Dan mungkin kail pancingmu di kali selanjutnya menangkap ikan yang tak terobsesi untuk mengubah penangkapnya menjadi idolanya,” imbuh Reza sambil tertawa sebelum kembali berkutat dengan komputernya.

========================================

Dan akhirnya, selesai sudah Cerita Seri Mencintai bayangan ini. Untuk membaca kisah lengkapnya, bisa klik label tulisan ini.

Cerita seri yang bisa diringkas jadi satu cerita ini sebelumnya pernah diposting di blogku yang lain, Story Eater Tales.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^