Rabu, Februari 06, 2013

Meet Christopher

Aku melempar Eragon setelah tiga malam bergumul dengannya. Dia memantul-mantul di atas kasur. Tak memprotes tindakanku yang kasar padanya.

Bagaimana dia bisa memprotes? Dia hanya sebuah novel. Novel yang aku sayangi. Novel yang membuatku mengurungkan niatku untuk pergi dari dunia ini setelah bab 1 selesai aku tuntaskan.
Lalu kenapa aku melemparnya bila aku menyayanginya? Itu ungkapan iriku pada sang Penulisnya, Christopher Paolini. Dia bisa membuat cerita yang begitu indah. Lebih indah dari novel-novel yang pernah aku baca sebelumnya.

Meski aku suka melempar novel bagus. Bukan berarti aku melemparkan ke sembarang tempat. Kalau sampai tergores sedikit saja–bahkan hanya berupa garis, aku pasti akan menyesalinya.
Dulu, aku pernah tanpa sengaja menjatuhkan pisau ke atas Incognito. Pisau itu menancap. Membuat lubang di cover dan beberapa halaman depan. Untungnya tidak sampai bagian prolog. Namun hal itu membuatku gila. Merawat Incognito seperti pesakitan hingga aku lupa dia hanya sebuah novel. Orang-orang bilang aku sakit jiwa. Tak sedikit juga yang nyeletuk, “Mungkin dia akan menikahi novelnya.” Tapi aku acuhkan. Mereka belum pernah merasa apa yang aku rasakan.
Aku memeluk Eragon. Lalu mencatat dalam hati, “Aku harus bertemu dengan penciptamu.”
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Senyum terus tersungging di bibirku. Aku yakin rumah sakit jiwa tak bisa menanganiku.

Share:

2 komentar:

  1. sepertinya aku pernah baca deh JUN catetanmu ini,,,

    BalasHapus
  2. iya, memang. ini pindahan.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^