Jumat, Februari 01, 2013

Menjadi Bayangan

Andi terkejut saat dirinya merubah penampilannya seperti yang diinginkan–atau begitulah–oleh Luna, menjadi Edward Cullen. Ternyata hal itu sangat mudah sekali. Tak seperti yang dibayangkannya. Bedanya, bila Edward Cullen menjadi pusat perhatian setiap hari, maka dirinya berada di bawah naungan lampu sorot dalam waktu beberapa hari saja.


Banyak komentar mengenai dirinya. Dari yang berkata bahwa Andi makin keren. Ada juga yang tidak peduli. Ada juga yang cekikian tiap kali dia lewat. Bahkan ada yang terang-terangan tak menyukainya di hari kemunculan perdananya di kampus, mereka–yang tak suka–matanya kontan membelalak dan langsung pasang jarak. Seolah Andi mendadak terserang penyakit ayan.

Andi sendiri sih tak ambil pusing. Yang terpenting adalah reaksi Luna. Pendapat cewek yang menggetarkan hatinya itulah yang terpenting.

“Hai,” Andi menyapa Luna setelah berhari-hari mereka tak saling berkomunikasi.

Luna menatap Andi tertegun. Selama beberapa menit awal dia tak mengenali bahwa cowok yang menjulang di hadapannya adalah Andi.

“Andi?” tanyanya ragu.

Andi menganggukkan kepala.

“Kamu… emm, ganteng banget. Mirip…”

“Edward? Ya, demi kamu.”

“Demi aku? Kenapa?” Luna sadar itu pertanyaan bodoh. Dia jelas tahu apa alasannya. Andi pun tampaknya tak tertarik untuk menjelaskannya.

“Jadi… Maukah kau menjadi pacarku?”
———————————————-
Menjadi bayangan. Itulah yang dilakukan Andi lakukan setiap hari. Sikap Luna juga jadi sangat manis terhadapnya. Dengan sabar dia membimbing Andi agar menjadi sangat mirip dengan Edward. Andi tak pernah memprotes. Dia mau saja dikoreksi Luna. Dan menghitung kata-kata Luna “seharusnya…” Atau “Kalau Edward pasti…” menjadi lelucon tersendiri. Hal itu bukan masalah besar untuknya.

Asal dekat dengannya, asal dia jadi pacarku, batin Andi. Meski dia merasa ada sesuatu di sudut hatinya yang akhir-akhir ini mulai menyeruak keluar.

Teman sekost-nya sampai keheranan. Andi sangat berubah drastis. Dari orang yang biasanya banyak omong, mendadak jadi orang yang pendiam agar terlihat cool.

“Cinta benar-benar membuat orang gila,” katanya saat Andi memakaikan celak di bawah matanya.

Andi menghentikan kegiatannya untuk berpenampilan seperti vampir. “Mungkin kamu benar.”

“Tapi apa benar itu yang namanya cinta? Bukannya cinta menerima kita apa adanya?”

Andi menarik napas berat. Seakan dia sedang mengangkat benda berjuta ton di punggungnya.

“Perjalanan cinta itu panjang. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk meraihnya.”

“Dengan menjadi orang lain?”

“Salah satunya itu.” Andi tergelak. “Susah lho berdandan ala vampir gini.”

“Aku sudah membaca novelmu itu. Dan Edward, juga Bella, mereka saling mencintai tanpa merubah penampilan mereka. Tanpa menutupi siapa mereka sebenarnya. Dan menurutku, seberapa keras kamu meniru Edward, kamu nggak bakal bisa menyamai dia.”

“Aku sadar soal itu kok,” Andi terdiam sebentar. “Yang aku bis atiru dari Edward adalah aku hanya bisa mencintai dia. Hanya dia.”


“Dan apakah dia benar-benar tulus mencintaimu? Atau dia mencintai badut di hadapanku?”

“Mungkin awalnya dia hanya menatap penampilanku. Gimana pun Luna itu cewek yang baik. Tak masalah bagiku bila harus berpenampilan seperti ini. Menjadi bayangan. Bagiku, dia mau menjadi pelabuhan cintaku hal itu tak menjadi masalah. Mungkin… dengan seiring berjalannya waktu, dia bisa menerimaku apa adanya.”
——————————————–
Thanks To @yesiiwijaya yang telah membantu memberikan inspirasi ini.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^