Minggu, Februari 03, 2013

Netbook #1

Aku menarik napas lega. Tinggal selangkah lagi dan aku bakal bisa memilikinya. Benda yang selama ini hanya bisa aku mimpikan. Benda yang selama ini aku idam-idamkan–bahkan hingga mengalahkan wanita hamil yang lagi pengen mangga. Oke, nggak seperti itu. Itu lebay namanya.

Dengan uang yang kini ada digenggamanku–terbungkus amplop coklat–aku bisa membuat benda idamanku tersebut menjadi milikku. Sebuah netbook. Sekarang masih nangkring di etalase toko Elle, tapi dalam waktu beberapa menit benda itu bisa aku bawa pulang.

Setelah sekian lama aku bersusah payah. Sekian lama aku mengumpulkan ranting demi ranting dari uang sakuku. Ayah dan bunda pasti tercengang saat anaknya bisa membeli hal yang paling diinginkannya dengan usahanya sendiri. Terbayang di pikiranku, mereka akan tersenyum bangga. Ayah akan menepuk-nepuk punggungku, dan bunda akan menangis haru sambil menawariku apa aku mau dibuatkan keripik tempe–makanan favoritku? Yang pasti akan kujawab ya.

Toko komputer ada di seberang jalan. Lalu lintasnya sedang ramai, sial. Aku menghembuskan napasku perlahan. Ritualku dalam menenangkan diri. Tenang, Ilham, bentar lagi kamu memiliki sebuah netbook baru, kataku dalam hati.

Karena lalu lintas tak kunjung sepi, jadi aku memutuskan untuk melangkah pelan sambil sedikit-sedikit tangan memberi lambaian.

Aku menghirup nafas dalam-dalam sekali lagi. Ingin membau aroma terakhir sebelum memiliki netbook tersebut. Konyol memang. Tapi aku ingin menikmati setiap momennya.

Kuulurkan tangan kananku untuk mendorong pintu toko Elle yang terbuat dari kaca. Tiba-tiba aku merasa benda yang aku pegang di tangan kiri–amplop coklat tadi–memiliki keinginan sendiri. Melompat dari tanganku dan tak ingin dibelanjakan. Yang baru kusadari kemudian… aku telah dicopet!!

#bersambung

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^