Senin, Februari 04, 2013

Netbook #2

Aku memutar badanku. Aku tidak percaya aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkan uangnya yang dijambret. Dengan langkah gontai sambil meyakinkan diri bahwa aku harus ikhlas, aku meninggalkan sang pencuri itu yang sedang bersukacita bersama teman-temannya di bangunan yang hampir roboh itu. Say good bye to netbook.

————————————————–
*beberapa menit sebelumnya*
Setelah satu menit berlalu aku masih bengong dan memandangi tanganku yang kosong. Amplop coklatku… impianku…

“HEI! BERHENTI!!” Aku berteriak sambil menghapalkan ciri-ciri seseorang yang merenggut amplopku. Dia mengenakan jaket berbahan jeans dan topi dengan tulisan Freedom.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk mengumpulkan tenaga sebelum mengejar dia-perenggut-mimpiku. Penjambret itu tampaknya tahu dia dikejar. Berulang kali dia menatap ke belakang dan makin mempercepat ayunan kakinya.

Tak ada yang bisa menghancurkan mimpiku, tak kan ada yang bisa!! teriakku dalam hati. Apalagi dia maling!
Dia berbelok ke arah celah sempit antara dua toko baju. Saat aku sampai di mulut gang, dia sudah berada di ujung satunya. Aku menduga, pencopet itu tahu seluk beluk daerah sekitar sini. Dia bahkan tahu ada jalan sempit ini–yang untuk melewatinya harus memiringkan badan. Mana temboknya masih bata lagi. Tanganku tergores ketika melewati celah sempit itu. Luka yang ditimbulkannya tak begitu parah jadi aku mengabaikannya.

Aku melihat pencopet itu berlari makin cepat. Tak mau kalah dengannya, kupercepat ayunan kakiku. Entah berapa kali aku nyaris menabrak orang-orang. Entah berapa kali kata maaf meluncur dari mulutku.
Berulang kali pencopet itu masuk ke halaman rumah orang. Berulang kali pula tatapan heran–dan kadang juga amarah–melayang ke arah kami. Bahkan ada yang hingga berteriak mengeluarkan seluruh penghuni kebun binatang.

Yang membuat aku takjub, pencopet itu lari begitu cepat. Dan dengan lincah lompat sana, lompat sini. Membuat aku yang jarang berolahraga ini kewalahan.

BRUUK!!

Aku menabrak pengendara sepeda. Pengendara itu langsung turun dan menanyakan keadaanku. “Kamu baik-baik saja?”

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sang pencopet. Dia berlari dua kali lebih cepat. Ya ampun, aku bisa kehilangan jejaknya!!

“Hei, kamu baik-baik saja kan?!” teriak pengendara sepeda yang tampaknya kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya.

Aku berbelok ke jalan dimana pencopet itu menghilang. Aku mengutuk dalam hati. Dia telah menghilang!!
Ketika aku memainkan rambutku dengan frustasi, ekor mataku menatap jaket jeans itu. Jaket jeans yang sama yang dipakai oleh pencopet itu. Dia sedang dikerubuti oleh anak-anak kecil.

“Panti Asuhan Kasih Ibu,” aku membaca plank di depan bangunan yang hampir roboh itu.

#bersambung

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^