Selasa, Februari 05, 2013

Netbook #3

Aku menyeret kedua kakiku menjauhi panti asuhan tersebut. Oke, ini adalah hal paling gila yang aku lakukan, merelakan impianku untuk sesuatu yang… mulia. Tapi entah bagaimana aku merasa apa yang aku lakukan ini adalah tindakan yang tepat. Meski hati terasa berat. Meski rasa sesal, yang tanpa perlu ijin, memenuhi dadaku, aku terus menyeret kakiku agar mau menuruti tuannya untuk segera pulang.

Aku tak mengambil rute yang sama dengan saat proses pengejaran–jelas aku tak mau bersempit-sempit di gang antara dua toko tersebut. Saat aku menabrak pengendara sepeda tadi aku ingat itu taman dekat rumah.

Mungkin memang belum waktunya aku memilikinya, kataku dalam hati.

Memiliki netbook adalah impianku sejak dulu. Sejak aku mengenal komputer. Sejak aku bercita-cita jadi penulis. Tapi bukankah tak perlu memiliki komputer untuk bisa jadi penulis? Mr Clive Barker, penulis novel yang aku kenal lewat karyanya yang spektakuler: Abarat, bahkan tidak memiliki komputer. Dia lebih memilih menulis novelnya secara konvensional: di lembaran buku tulis. Mungkin aku bisa menirunya. Siapa tahu aku bisa menjadi penulis besar seperti dirinya?

“Kak Ilham!”

Ada sebuah suara yang sangat familiar memanggilku dari kejauhan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pemanggil. Ternyata Febri, adikku. Dia berdiri di seberang jalan. Sambil tersenyum padaku dia memberi aba-abar agar aku menunggunya menyebrang.

“Weis, selamat ya!” katanya sambil memukul bahuku dengan bercanda. Diantara semua orang di rumah hanya Febri yang aku kasih tahu mengenai pembelian netbook. “Ayah sama bunda pasti bangga!”

Aku tersenyum gugup. Bila aku bercerita yang sebenarnya, kira-kira bagaimana reaksi Febri? Mengingat emosinya yang masih labil. Dan soal ayah bunda, aku rasa mereka tak perlu tahu masalah ini–yang tak menjadi soal selama Febri tak membuka mulutnya.

“Gimana, udah dapat netbook?” Tanya Febri. Kami kemudian berjalan bersisian.

“Aku… ehm, belum. Kayaknya aku harus pikir-pikir lagi deh, Feb. Mungkin lain kali.”

“Kenapa?”

Aku terdiam. Pikiranku masih sedikit kalut. Sebenarnya aku ingin sendiri dulu, untuk menenangkan berbagai pikiran yang berkecamuk.

“Aku ingat… aku masih punya kebutuhan lain yang lebih mendesak.”

Kulihat Febri mengangguk-anggukan kepalanya. Tampaknya dia percaya.

“Jadi, darimana kamu?” tanyaku.

“Dari rumah.”

“Kenapa kamu disini?”

“Tentu saja mencarimu, kakakku yang tersayang. Oia, tadi kamu lupa bawa hape ya?”

Aku memeriksa kantong depan celanaku. Tak ada yang timbul disitu. Mungkin terlalu bernafsunya diriku hingga aku lupa membawa hape.

“Aku tinggal di rumah. Kenapa kamu mencariku?”

“Mengajakmu pulang,” dia terdiam sejenak. “Ada yang ingin bunda bicarakan kepadamu.”

“Penting ya?”

“Penting banget!!”

“Kalo gitu kita harus bergegas.”

Kami berjalan pulang tanpa berbincang-bincang lagi. Apa yang ingin bunda bicarakan denganku ya? Hal penting apa yang membuat wanita yang melahirkan dirinya itu hingga meminta adiknya mencarinya? Apa mungkin sesuatu yang gawat, seperti sesuatu yang buruk?

Pikiran macam apa itu, ilham? Aku memperingatkan diriku sendiri.

Bunda kontan tersenyum sumringah saat melihat kedatangan kami. Dari senyumnya sudah jelas ini bukan berita buruk.

“Ada apa, Bun?” tanyaku saat kami berhenti di depan beliau. “Kata Febri…”

Bunda tidak menjawab. beliau malah memelukku. Matanya kemudian menitikkan air mata. Ada apa sih ini? Tadi senyum sekarang menangis? Apa ada dua berita, baik dan buruk?

“Selamat ya nak, impianmu terwujud!” kata beliau sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

“Selamat? Impian? Maksud bunda apa?” Apa beliau sedang menggigau? Apa tadi Febri menceritakan sesuatu pada beliau? Tapi aku kan baru saja kehilangan… maksudku, impianku tertunda karena suatu sebab.

“Barusan bunda mendapat telepon. Kamu menang lomba blog. Dan kamu menjadi juara satu!”

Bulu kudukku meremang. Aku rasanya hendak meledak. Aku tak menyangka semuanya berkembang di luar dugaan. Aku tadi kehilangan uang untuk membeli netbook. Sekarang, aku mendapat kabar aku akan memiliki netbook–hadiah bagi pemenang pertama.

“Aku mau minum!” kataku. Entah kenapa aku jadi merasa tenggorokanku kering kerontang.

~FIN~

Share:

2 komentar:

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^