Kamis, Februari 07, 2013

The Reviewers #1

Ketika kalian masuk ke sebuah kafe, dan menemukan di salah satu meja ada seorang cowok mengenakan baju berlapis-lapis–bukan karena dia kedinginan tapi memang itulah stylenya, coba untuk melihatnya lebih teliti lagi. Perhatikan apakah tangannya membawa buku atau matanya tampak serius menatap layar notebooknya, apakah ada buku notes kecil dari disket bekas dan sebatang pena warna biru di atas mejanya, apakah dia ditemani oleh secangkir es teh.

Bila ketiga pertanyaan itu jawabannya adalah ya, mungkin saja itu aku.

Namaku Jun. Di sela-sela waktuku belajar guna meraih gelar S1, aku menyibukkan diri sebagai seorang reviewers–aku sengaja menggunakan istilah bahasa asing sebab aku belum nemu padanan kata yang pas untuk jenis pekerjaanku itu (kalau bisa disebut pekerjaan, secara aku tidak dibayar untuk melakukan ini–kalau pun dibayar, bayarannya juga buku).

Sebelum menjadi reviewers, aku hanyalah seorang kutu buku. Kutu buku yang hanya membaca buku sebagai hiburan atau mencari pembelajaran. Aku, saat itu, belum tertarik untuk “mengobrak-abrik” unsur instrinsik-ekstrinsik, keselarasan kisah, masuk akal atau tidaknya kisah hingga chemistry antar tokoh, dan seterusnya dan seterusnya. Bagiku, dulu, sebuah cerita itu bagus ketika bisa membuat pembaca terkejut di akhir dan dilengkapi kalimat-kalimat oenjoe yang bisa di-quote.

Tapi sekarang semua hal menjadi perhatianku. Dari nama tokoh, apakah nama tokoh A ini cocok digunakan di negara ini dan di masa ini dan apakah disertai penjelasan kenapa dia memiliki nama seperti itu. Kita tahu setiap negara memiliki bahasanya masing-masing. Nama Sri, misalnya. Sangat umum di Indonesia dan India, tapi apa kalian akan percaya ada orang pribumi bernama Sri di Jepang?

Lalu masuk akalnya sebuah kisah. Menurut kalian, masuk akal tidak setelah makan bakso, terus dilanjut dengan adegan dua tokohnya ciuman, eh, salah satu tokohnya merasakan rasa buah di bibir tokoh lainnya? Akan masuk akal bila dijelaskan bila si tokoh sempat ke kamar mandi dan memulas lipstik aroma buah-buahan ke bibirnya, atau rasa baksonya adalah rasa buah-buahan–yang akan lebih aneh atau bisa juga terlihat unik di mata orang lain (hebat dong bisa gabungin daging dengan buah dan rasa buahnya masih terasa).

Dibanding novel genre lainnya, aku lebih sering mempertanyakan ketidakmasuk-akalan kisah bergenre fantasi. Apalagi bila tidak disertai penjelasan. Semisal Harry Potter. Mrs. Rowling benar-benar habis-habisan membangun dunia sihir di dalam novel serialnya hingga sulit untuk tidak bisa tidak mempercayai kalau dunia sihir itu ada.

Sifat kritisku itu tidak berhenti begitu saja–oh ya, efek samping menjadi reviewers adalah kamu bakal jadi sangat kritis pada semua jenis media cerita, ini menurutku sih. Aku juga jadi kritis pada film. Aku juga tidak makan bulat-bulat apa-apa yang disajikan oleh sinetron atau film TV. Sampai-sampai aku tidak bisa menikmati jalan sebuah cerita gara-gara terlalu sibuk mencari kesalahan.

Seperti film Lord of the Rings: The Returns of the King dan Two Tower, dimana luka Frodo berpindah pipi, luka Merry juga berpindah, dan Harry Potter and the Sorcerers Stone dimana Harry pindah duduk. Aku harus memaksa diriku bahwa itu biasa. Namanya juga manusia. Kata orang, bukankah manusia tempatnya salah?

Selanjutnya, setiap nonton film dimana aku menaruh ekspetasi besar, aku menaruh buku catatanku, notebook, apapun yang bisa ditulis, jauh-jauh dari ruang teve.

“Mau sampai jam berapa, Jun, disini?” Santi, salah satu waiters di kafe yang jadi langgananku, tiba-tiba saja berada di sampingku dan menanyaiku.

“Bentar lagi mungkin,” kataku tanpa mengalihkan mataku dari bacaanku. Tinggal beberapa bab lagi. Aku bisa menyelesaikannya malam ini. “Kenapa?” imbuhku.

“Baca buku apa sih?” Dia balik bertanya.

“Mockingjay. Buku terakhir dari serial The Hunger Games.”

Meski aku tidak melihatnya, entah kenapa aku merasa dia mengangguk-anggukan kepala. “Bisa nggak kamu lanjutkan bacaanmu nanti?”

“Ada apa?” Kali ini aku menatap ke arahnya, Santi meringis.

“Aku mau minta bantuanmu.”

Bantuan apa nih? “Kalau aku sanggup, aku pasti membantumu.”

“Aku yakin kamu akan mengatakan itu,” Santi tersenyum lebar. “Bantu aku… Bisa nggak kamu pulang sekarang?”

Pulang?

Refleks aku menyapukan pandangan ke sekitar. Kafe sudah sepi. Aku satu-satunya pelanggan. Malahan, semua bangku sudah ditaruh terbalik di atas meja. Bagaimana… bagaimana mereka bisa merapikan kafe tanpa membuat keributan? Atau jangan-jangan telingaku mendadak bolot?

Aku meringis. Santi meringis. Mungkin dunia juga ikut meringis.

Buru-buru aku merogoh sakuku dan menyerahkan bayaran untuk minumanku.

Waktu, terkadang juga kondisi di sekitarku, sering terlupakan ketika aku sedang membaca buku–dan nonton film.

Share:

2 komentar:

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^