Senin, Maret 11, 2013

Dear Crush [2]

Ketika kerinduanku akan dirimu berkecamuk seperti badai, hal pertama yang akan kulakukan adalah membayangkanmu. Aku tidak pernah kesulitan dalam membayangkanmu. Aku punya daya imajinasi yang tinggi--salah satu hal yang bisa aku banggakan. Cukup menarik ingatanku tentangmu dan wajahmu bakal langsung hadir di hadapanku.
Andai aku tahu namamu, aku bakal sambil menyebut namamu berulang-ulang.

Aku sering berlatih di depan cermin. Berlatih mengajakmu berkenalan. Aku bahkan mengarang percakapan yang akan keluar dari mulutmu. Tentu saja dengan jawaban yang aku inginkan.

Misalnya...


Aku bilang, ”Hai.”

Aku akan buat suara yang lain, suara yang anggap saja keluar dari bibirmu, ”Hai juga,” seraya membayangkan matamu yang memancarkan rasa penasaran.

Aku, sambil mengulurkan tangan kananku, mulai menyebutkan namaku. Kamu membalas uluran tanganku dan kemudian menyebutkan namamu.

Adegan berlanjut ke hal-hal yang bagus lainnya. Adegan yang aku harap terjadi. Seperti bertukar alamat sosial media atau, kalau aku sedang sangat beruntung, bertukar nomor ponsel.

Tapi terkadang aku membayangkan adegan perkenalan lainnya, dimana kamu menjaga jarak dan tidak mau memberikan namamu.

Hal itu malah meningkatkan rasa penasaranku dan membuatku merasa tertantang. Pada akhirnya aku mengecap rasa manis saat kamu memberikan namamu.

Hanya saja, membayangkan, atau boleh disebut latihan, tak semudah ketika mempraktekkannya. Ditambah lagi aku pemuda introvert yang biasanya sulit bicara.
Aku selalu menyemangati diriku. Ayo, kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa. Ajak kenalan dia sekarang. Tapi ketika melihatmu, semangat itu mendadak lenyap dan kembali lagi ketika dirimu berlalu.

Aku tidak berani bertanya perihal namamu pada orang lain. Aku takut kamu mengetahuinya lalu mulai menghindariku.

Bukankah biasanya begitu reaksi seseorang ketika tahu ada seseorang yang menyukainya? Atau kalau nggak kege-eran--sebenarnya bagus bila kamu terlalu tinggi menilai diri, tapi kita sama-sama tahu kamu jelas bukan tipe seperti itu.

Jadi hanya satu yang bisa aku lakukan: bersabar dan mengumpulkan keberanian--ya benar itu lebih dari satu hal.

Kesabaranku membuahkan hasil, meski keberanianku belum mencapai titik maksimum--setengahnya saja belum. Mungkin Yang Di Atas tidak tega padaku, atau bosan menungguku bertindak, hingga kemudian Dia membuatkanku skenario mengetahui namanya secara tak sengaja.

Saat itu masih pagi.

Saat itu sahabatku belum datang.

Saat itu teman satu kost sahabatku sudah datang dan aku melihatnya ada di ruangan yang sama denganmu.

Saat itu kamu dan teman-teman satu angkatanmu sedang mengerjakan tugas kuliah bersama-sama.

Aku mendekati teman satu kost sahabatku yang kebetulan juga temanku di salah satu mata kuliah yang kuambil, menanyakan sudah sampai mana tugas kuliahnya. Dia menunjukkan tugasnya padaku. Aku menanyakan beberapa hal, memberinya saran juga, sambil bola mataku mencuri pandang ke arahmu.

Entah kamu ngerasa diperhatikan atau tidak, tapi aku tahu kamu melihatku dengan mata yang memancarkan keresahan.

Dalam hatiku timbul satu pertanyaan, Apa kamu bisa merasakannya?

Lalu saat itu tiba. Saat dimana salah satu temanmu mengucapkan namamu.

Dan aku pun tahu namamu.

Dan secara kebetulan, atau mungkin telah ditakdirkan, buku presensi angkatanmu ketinggalan di kelas. Tampaknya hari itu anak-anak di angkatanmu pada buru-buru sampai lupa mengembalikan buku itu pada dosen atau kantor yang mengurusinya.

Untunglah seseorang yang punya nama depan namamu itu hanya kamu. Jadi aku tidak kesulitan menemukan namamu. Nama lengkapmu. Dua kata. Sembilan huruf. Lima suku kata.

Aku juga secara tak sengaja menghapal nomor induk mahasiswamu--tampaknya aku sudah gila!

Sayangnya selain introvert, aku juga mengidap OCD. Aku belum yakin namamu itu adalah namamu. Jadi aku... Kembali bersabar. Bersabar mengukirkan namamu di hatiku dan mencari tahu, memastikan apakah nama yang terdiri dari sembilan huruf itu benar-benar namamu atau bukan.

Dan jujur saja, aku nyaris kehilangan kesabaranku sebab perlu waktu yang sangat lama, tepat satu semester, sebelum aku tahu namamu itu benar-benar namamu.

Dengan dalih memperbaiki nilai, itulah yang aku katakan pada teman-teman seangkatanku dan para dosen--yang kurang lebih benar, aku mengulang dua mata kuliah yang pasti kamu ambil. Ya, alasan lain, yang utama, aku sengaja mengulang sebab aku ingin sedekat mungkin denganmu.

Butuh waktu dua kali kegiatan belajar-mengajar sebelum dosen memutuskan untuk mengabsen para mahasiswa--hal yang aku tunggu-tunggu sejak lama sejak!

Lalu dia sampai di nama dengan sembilan huruf itu.

Kamu tidak berkata apa-apa. Tapi tanganmu, teracung dengan malas ke udara.

Jadi... Ternyata benar itu namamu!

Mulai detik itu juga aku punya kegiatan baru: menyebut namamu. Berulang-ulang. Dengan oktaf berbeda-beda, di kesempatan yang berbeda-beda pula.

Dan ketika hari itu nyaris berakhir, namamu telah resmi menjadi merk eklusif narkobaku.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^