Minggu, Maret 24, 2013

Satu Pagi bersama Yamaha Xeon RC

Aku terjebak. Terjebak kemacetan yang lumayan parah. Mobil yang kutumpangi tidak bisa bergerak baik ke depan mau pun ke belakang.

Berulang kali aku menghembuskan napas panjang. Pengennya sih mengucapkan kekesalan dalam bentuk ucapan tapi aku malu dengan dua tetanggaku, pemilik mobil yang kutebengi, yang duduk di kursi depan. Alhasil aku memenuhi timeline sosial mediaku dengan kata-kata keluhan yang, masih demi pencitraan, tersembunyi dalam kata-kata "sehat" (buah dan sayuran adalah "kata pengganti" makian versiku).


Bakal telat nih, batinku. Padahal aku menumpang mobil ini dengan maksud supaya aku bisa sampai kampus lebih awal. Aku ada jadwal presentasi bersama kelompokku. Dan kelompokku telah mewanti-wantiku agar datang pagi-pagi sekali sebelum pukul 9.30.

Bosan bermain dengan ponsel dan hembus-hembus napas seolah hendak melahirkan, aku layangkan pandanganku keluar. Beberapa pengendara sepeda motor meliak-liukkan motornya dengan lincahnya di antara banyak kendaraan-kendaraan yang ukurannya jauh lebih besar. Enak sekali mereka. Bisa terus melaju, melanjutkan perjalanan mereka tanpa terperangkap kemacet---

Tunggu dulu... Itu dia solusinya! Aku bisa coba naik motor!

Hanya saja ada sedikit masalah. Aku naik motor siapa? Aku belum punya motor. Beberapa minggu yang lalu ayahku menawariku hendak membelikanku motor. Tapi aku belum mengiyakan tawaran beliau. Aku bingung. Banyak motor bagus beredar di pasaran membuatku galau harus memilih yang mana. Yang itu desainnya keren. Yang ini super cepat. Yang lainnya sudah menggunakan teknologi canggih di dalamnya.

Tanpa disangka-sangka (Tuhan ternyata masih baik denganku!), sudut mataku menangkap beberapa sepeda motor yang diparkir berjajar. Di belakang deretan sepeda motor beberapa lelaki sedang ngobrol, dua diantaranya menekuri permainan catur, satu ikut menyaksikan dari belakang salah satu pemain. Jelas itu pangkalan ojek!

Nah, sekarang minta izin dulu pada yang punya mobil.

Aku berdeham. Kedua tetanggaku yang, merupakan suami-istri, berhati baik menoleh ke arahku. Aku mengutarakan maksudku: aku buru-buru ke kampus dan aku tidak boleh terlambat (sebab aku yang membawa bahan presentasi). Meminta maaf harus turun di sini dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Mereka tentu saja maklum dan melarangku minta maaf. Justru mereka yang minta maaf malah menggiringku ke dalam kemacetan parah. Si suami yang duduk di kursi kemudi bilang, harusnya tadi dia tidak memilih jalan ini.

Tak lupa aku mengucapkan terima kasih sambil membuka pintu, lalu berlari ke seberang jalan--pangkalan ojek ada di sisi jalan satunya. Aku mengonfirmasi, apakah itu beneran pangkalan ojek atau bukan, dengan bertanya pada gerombolan orang yang sedang bersantai di belakang motor-motor mereka--kali aja showroom kan? Mereka serempak, kecuali yang main catur yang menatapku sekilas sebelum kembali menatap papan hitam putih di hadapan mereka, bilang iya. Namun, sebelum aku memesan satu, tiba-tiba ada motor berhenti tak jauh dariku.

Pengendaranya diajak bicara oleh salah satu pengemudi ojek. Kemungkinan besar dia tukang ojek yang baru saja mengantar salah seorang konsumen. Tapi aku agak menyayangkan motornya digunakan untuk meng-ojek. Ya, itu sih hak masing-masing, tapi motornya keren abis!

Tiadanya pedal untuk gigi menunjukkan motornya motor matic. Warna merah, putih dan hitam melekat erat pada bodinya, dan kalau diperhatikan lebih detail terpasang wheel pin stripe yang sangat kontras dengan warna velgnya... susah untuk menjelaskannya, yang jelas warna-warna itu terasa pas di sana dan bikin mata seolah tak rela untuk mengalihkan pandangan. Dan kesan racingnya terasa sangat kental. Stang kemudinya juga unik. Berdesain racing dan moncongnya berbentuk air scoop. Desain lampunya juga, aku tidak tahu namanya, tapi kelihatan sangat berkelas.

Mumpung motornya masih menyala, jadi aku menghampirinya dan langsung nangkring di boncengan. Kemudian aku mengatakan tujuanku.

"Tapi aku--"

"Saya mau bayar satu setengah kali lipat deh," potongku. Aku tahu dia mungkin capek dan lelah. Tapi aku benar-benar harus segera sampai di kampus. Aku belum siap disate oleh teman-teman sekelompokku.

"Satu setengah?" Dia tampak hendak tertawa.

"Tolong dong, bang, saya belum siap dijadikan sate manusia. Tolong bantu saya. Saya harus segera ada di kampus--" Aku melihat jam tanganku. "Sekitar dua pulh menit lagi."

"Bagaimana ya?" Kali ini jelas dia menahan tawa. Dasar! Tertawa di atas penderitaan orang lain!

"Tolong bang," kataku sambil menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada dan memasang muka sememelas mungkin.

"Okelah," katanya seraya turun dari motor. Otomatis aku mengikutinya.

Aku melongo. Katanya ayo, kok malah turun?

Dia mematikan kunci motornya, menarik kuncinya, menggunakan kunci yang sama untuk membuka bagasi motornya. Gila, bagasinya luas amat! Selain helm, yang ditaruh miring, ada beberapa barang di dalam bagasi itu. Dia mengambil helm itu dan menyerahkan padaku. "Selalu utamakan keselamatan," katanya.

Kemudian dia kembali menyalakan motornya. "Di mana kampusmu ini?" AKu menyebutkan di kampus mana aku menimba ilmu. "Wah, itu artinya melewati jalanan macet itu."

"Tapi motor kan bisa lewat--"

"Aku punya jalan yang lebih cepat dan bisa ditempuh dalam seperempat jam... kalau ngebut."

"Ngebut nggak apa-apa asal sampai di tujuan."

Dan dia pun memutar motornya, ke arah jalan di mana tadi dia datang. Lalu membelokkannya ke sebuah gang, keluar gang, dan jalan kecil. Aku belum pernah lewat jalan ini, jadi aku terpaksa memercayakannya pada di abang tukang ojek ini.

Sesampainya di jalan aspal yang diapit sawah, si abang tukang ojek menaikkan kecepatan motornya. Wuzz! Aku tidak menyangka motor ini bisa berlari kencang. Aku serasa melayang! Otomatis kedua tanganku mencari pegangan. Biasanya kalau dibonceng naik motor, aku berpegangan pada handlebar yang selalu terpasang di bagian belakang motor. Melalui sensor-sensor di telapak tanganku, aku tahu motor ini punya handlebar berpenampang lebar dan terasa kokoh!

Si abang tukang ojek tidak bohong. Perjalanan melalui jalan yang baru saja kami lalui benar-benar memakan waktu lima belas menit. Sebenarnya kurang dari lima belas menit, tepatnya hanya tiga belas menit. Cepatnya si abang melajukan motornya tadi tampaknya menghemat waktu dua menit.

"Tidak usah bayar," kata si abang saat menerima kembali helmnya yang tadi kupakai. "Aku bukan tukang ojek."

Oh, pantesan. Jelas saja, motor ini terlalu keren untuk... yah, dipakai mengojek. Meski kalau dipakai mengojek pun, aku rasa penampilannya yang WOW bakal menarik calon penumpang.

"Motor Yamaha-ku merupakan motor injeksi sehingga irit bahan bakar," tolaknya lagi saat aku bilang uangnya ini sebagai ganti bensin. "Lagipula rumahku dekat dari sini."

"Yakin nih?" tanyaku. Dia mengangkat bahu. "Aku tidak tahu soal dunia permotoran, tapi motor yamaha abang ini lajunya cepat sekali. Secara logika harusnya penggunaan bahan bakarnya--"

"Yamaha Xeon RC ini punya teknologi canggih. Karena motor matik ini didesain sebagai motor racing, motor ini dipersenjatai dengan DiASil Cylinder dan Forged Piston. Dengan penyempurnaan teknologi mesin 125 cc berpendingin cairan dan penambahan YMJET-FI. Semua itu mampu menaikkan tenaganya menjadi 11,4 tenaga kuda dan torsi meningkat jadi 10,4 NewtonMeter. Hal itu menghasilkan akselerasi atau kecepatan yang bagus tapi tetap hemat. Kalau nggak salah hemat sekitar 20 persen."

"RC? Abang tahu kenapa dinamai RC? Biasanya kan nama motor kan ada artinya."

"RC itu singkatan dari Racing Champion."

Aku melongo. "Pantas saja larinya cepat banget!"

Si abang yang aku kira tukang ojek, dan ternyata bukan, itu tertawa. "Oke-lah aku pulang dulu. Dirimu buru-buru, kan?"

"Oh, iya, hampir lupa. Saking tersepona, eh, terpesona dengan Yamaha Xeon RC sih," kataku sambil terkekeh.

Saat dia memutar balik motornya (sekitar sini kok putar balik ya? Ah, sudahlah, kepo sekali aku), aku melihat knalpot Xeon RC. Cover knalpotnya terkesan elegan, warnanya titanium.

***

Setelah habis melaksanakan tugas presentasi, aku tak tahan untuk mencari tahu mengenai Yamaha Xeon RC. Termasuk mencari iklannya di youtube. Aku tidak heran dengan taglinenya yang "Semakin tak Tertandingi."




Ayah, sekarang aku tidak bingung lagi. Aku sudah menemukan motor keren, cepat dan canggih dalam satu paket: Yamaha Xeon RC.


Note: Kisah ini hanya fiksi belaka> Dibuat dalam rangka untuk diikutsertakan dalam Yamaha Blog Contest.
Share:

2 komentar:

  1. 'Kurang dari 5 menit'? 15 menit kali :p

    BalasHapus
  2. iya, emang 15 menit, hahah

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^