Selasa, April 30, 2013

Cowok di perempatan Braan

Ini bukan cerpen, bila kalian tanya aku. Atau mungkin cerpen. Sebab aku tidak membuatnya berseri atau sepanjang tembok China.

Ini kisah nyata. Kisahku sendiri. Pengalamanku.

Saat itu Senin malam, tanggal 22 April. Sekitar pukul sepuluh kurang lima belas menit. Aku sampai di perempatan Braan, Jombang.


Perempatan itu ada di dekat perbatasan Kediri (bila terus ke selatan) dan Nganjuk (bila terus ke barat). Ada rel kereta api yang membentang dari selatan ke utara--atau sebaliknya, aku nggak yakin yang mana ujung dan pangkalnya. Ada pos penjaga rel kereta api dan tak jauh dari situ ada pos polantas. Di sisi utara-barat, atau barat laut, ada warung makan--dan bila terus ada pom bensin yang tampaknya tutup jam 8-9 malam. Di depan pom ada barisan truk yang beristirahat--if you know what I mean. Aku memarkir motorku di depan warung makan yang juga telah lama tutup.

Tapi aku tidak sendirian. Ada orang lain yang tampaknya telah lama berada di sana. Tampaknya dia juga sedang menunggu seseorang.

Cowok itu, aku tidak tahu pasti umurnya berapa--mungkin sekitar 18-24 tahun, mengenakan kaos berwarna pink yang dimasukkan ke dalam celana jeans 3/4-nya yang dibelit oleh ikat pinggang cokelat. Kulit cowok itu kuning banget dan matanya sipit--jelas sekali dia keturunan Tionghoa. Di atas bibirnya tumbuh kumis tipis. Tingginya sekitar 170 cm dan kepalanya dihiasi rambut cepak. Cowok itu membawa tas plastik warna merah yang ada tulisannya... entah apa, aku tidak sempat membatjanya. Tas plastik itu tampak penuh. Entah apa isinya. Aku hanya sempat melihatnya dia mengeluarkan sebotol minuman yang mirip kopi, kalau bukan mungkin cola atau teh. Warna minuman itu hitam agak cokelat.

Kenapa cowok itu harus aku ceritakan?

Untuk tahu alasannya, terus-lah membatja. Kisah singkat ini masih belum selesai.

Sekali lihat saja, sebelum aku memarkir sepedaku--aku memarkir sepedaku agak ke barat laut dekat ujung kiri warung makan sementara cowok itu duduk di sisi kanan warung, aku tahu cowok itu supernormal. Atau kalau mau kasar dikit, dia sudah dewasa tapi pikirannya masih anak-anak.

Sejak awal, pikiranku yang sering gelap ini mempertanyakan, kenapa anak itu atau cowok itu ada di sini? Mungkinkah dia menunggu seseorang menjemputnya? Atau mungkin dia minggat dari rumah? Kenapa tidak ada yang mencarinya? Lalu kenapa kalau dia menunggu orang, kenapa lama sekali orang yang menjemputnya itu?

Aku sedang menjemput ayahku, bila kalian mempertanyakan keberadaanku di perempatan Braan itu.

Ayahku kebetulan lama sekali datangnya. Hampir satu jam aku menunggunya datang. Tapi ketika dia datang, ada perasaan tak rela menggelayutiku.

Bagaimana dengan cowok atau anak itu?

Apalagi beberapa menit sebelumnya, dugaanku mengenai bahwa dia supernormal ada benarnya. Ketika itu ada ambulance yang menyalakan sirene-nya lewat di depan kami. Dia melihat ambulance itu seolah melihat mainan paling keren sedunia. Dia bahkan sempat nyaris mengejar ambulance itu, dengan cengiran nangkring di mulutnya.

Tapi dia berhenti mengejar ketika aku melihatnya. Mungkin malu. Lalu dia berjalan mundur. Setelah itu berjalan melewatiku hendak menuju ke pom bensin yang tutup dan gelap. Tapi dia tak ke pom itu. Dia hanya beberapa langkah dari tempatku. Berdiri di tempat remang-remang.

Bila aku orang kebanyakan, mungkin aku akan menanyainya atau setidaknya memberinya saran agar jangan berdiri di tempat remang-remang.

But, I say nothing. Aku bergeming di tempatku.

Kemudian ayahku muncul. Dia memanggilku dari seberang jalan dan memintaku untuk menghampirinya.

Kenapa baru datang sekarang? Kenapa nggak dari tadi pas aku belum ngelihat kesuperan cowok berkaos pink itu?

Sepanjang perjalanan pulang aku teringat pada cowok itu. Aku bahkan tidak mengenalnya, tak tahu namanya, baru ngelihatnya pertama kali, tapi kenapa aku merasa cemas padanya?! Kenapa aku berharap dia baik-baik saja? Kenapa aku berdoa meminta Sang Maha Pencipta mengirimkan bantuannya?

Dan kenapa pikiran-pikiran gelapku tak mau berhenti mencekoki otakku? Kenapa malah membuatnya makin parah dengan menambah lagi awan hitam itu: "Gimana kalau cowok itu sengaja dibuang keluarganya? Bekal itu, tas merahnya itu, bisa saja pemberian dari keluarganya. Keluarganya sengaja menurunkannya di situ, memberinya bekal, memintanya menunggu padahal mereka meninggalkannya."

Memikirkannya saja membuatku mual.

Bukan berarti aku tak menghalau awan hitam yang menggelayuti otakku. Aku mencoba, tapi gagal oleh statement dalam hatiku sendiri: "Tidak mungkin dia tak apa-apa. Dia cowok supernormal. Bagaimana bisa jam setengah sebelas malam dia ada di perempatan? Keluarganya ke mana aja? Kenapa mereka membiarkannya berkeliaran?"

Dan asal tahu saja, badai itu terus berkecamuk di kepalaku bahkan ketika aku menulis cerpen ini.

Bila kalian tanya apakah ada semacam "getaran," seperti di Dear Crush, yang mengguncangku, jawabanku adalah tidak.

Aku terus memanjatkan doa. Terus dan terus. Bahkan sesampainya aku di rumah.

Bila aku nekad, mungkin aku balik lagi ke sana dan memastikan apakah dia baik-baik saja. Apakah keluarganya sudah menjemputnya.

Tapi aku tak punya kenekadan itu. I'm not the brave one. I'm just a little chicken that found, might be, another chicken that need help but can do nothing.

And if I do it, nekad I mean, my parents will ask me and what words that I can use to answer? Helping someone? My father will laugh. Hard. That laugh mean, how I can help somebody when I can't help myself?

I hope that boy--boy in pink shirt--safe and sound. I pray a lot. I believe God will take care of him. Save him from anything evil.

Now, the question is, why I write half of this in English?! ._.


P.S. FYI, when I panic, or nervous, or worry, I often mutter in English--mutter always make me feel better. Yeah, I think it's good habit, too.
Share:

2 komentar:

  1. Did u know..the boy that u told about was me.. #LOL

    BalasHapus
  2. Oh, God. You must be kidding :O

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^