Minggu, Juni 23, 2013

Andai BB Q Punya Buku Harian #XLBBQ10

Oktober 2010
Seorang kurir mengantarkanku ke rumah calon pemilikku. Akhirnya aku bisa terbebas dari kardus yang menyelubungiku.

Pemilik baruku, namanya cukup panjang tapi biasa dipanggil Jun, tampak kegirangan ketika melihatku. Seolah-olah telah lama menantikan kedatanganku. Rasanya menyenangkan sekali dinantikan!

Jun mengamatiku. Membolak-balikku, menyerap setiap lekuk tubuhku. Tapi dia tak langsung menjejalkan isi perutku(batja: sim card dan baterai), melainkan membatja buku manual bagaimana cara memperlakukanku dengan baik dan benar. Dia tak ingin merusak hadiahnya yang didapatnya dengan susah payah.

"Halo, Sherina,” sapanya sekaligus memberiku nama, setelah memasukkan isi perutku dan membuat wajahku (batja: layar LCD) bercahaya. "Aku rasa kita berdua akan menjadi teman yang baik."

Di hari yang sama, Jun mengajakku ke warnet. Dia hanya mencoba fitur standar telepon (telepon dan sms), tanpa mencoba fitur yang lain. Tampaknya aku merupakan smartphone pertamanya. Tampaknya dia anak yang suka berhati-hati dan mencari info sebanyak-banyaknya soal sesuatu sebelum memulai percobaan.

Di warnet, Jun mencari tahu soal paket internet blackberry. Bagaimana cara registrasi. Bagaimana cara mengatur settingan internet di dalam tubuhku. Dan tentu saja, menengok biaya penggunaannya.

Di hari yang sama, saat malam bertahta, dia sudah tahu banyak soal paket internet untuk blackberry dan mulai memenuhi memoryku dengan banyak aplikasi.

Desember 2010
Setelah Jun berusaha mempertahankannya, akhirnya dia melepaskan pelindung layarku.

Tahun 2011
Tahun terbaik kehidupanku.

April 2012
Jun frustasi. Aku frustasi.

Hal ini disebabkan oleh tombol "R" atau "3" rusak, tak berfungsi dengan baik. Ketika ditekan, tak ada huruf yang muncul di layar. Kefrustasian Jun disebabkan oleh dilema. Dia ingin membawaku ke service hp, tapi kantongnya kering kerontang. Sementara aku frustasi karena telah membuatnya dilema dan gusar dan sedih dan bentuk emosi-emosi lain, antonim kegemberian.

"Maafkan aku, Sherina," kata Jun sedih. "Kayaknya aku menekan tombol-tombolmu terlalu kasar. Mulai sekarang aku akan lebih lembut memperlakukanmu."

Dia menyatakan kegusarannya di sosial media. Ada temannya yang membantu. Dan ternyata solusinya sederhana sekali: tekan tombol "R/3" dengan kuat dan lamaaaa.

Voila! Tombol "R/3" kembali normal.

November 2012
Akhir bulan November, masalah tombol "R" kembali lagi. Dan solusi sederhana, menekan keras dan lama, tidak bekerja kali ini.

"Kenapa, Sherina? Kenapa, kenapa? Kenapa tombolnya... Apa salahku?" tanya Jun. Dia tampak stres sekali. Dia telah memperlakukanku dengan lembut tapi aku... Mengecewakannya sekali lagi.

Padahal aku telah menjadi ponsel sekaligus komputernya. Aku digunakannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Menulis draft blognya. Dan yang terpenting, merajut kata demi kata yang nantinya menjadi novel bestseller internasional. Btw, Jun seorang penulis. Dan dia belum memiliki sebuah komputer atau laptop.

Dengan kata lain, Jun menggantungkan mimpi dan cita-citanya padaku. Hal itu makin memperburuk rasa bersalahku.

Desember 2012
Awal bulan Desember, dia tahu bagaimana menggunakan huruf "R" dan angka "3" tanpa menekan tombol "R/3."

Untuk angka 3, dia menggunakan tombol symbol. Sementara untuk "R", Jun menggunakan fitur copy-paste yang kupunya. Agak merepotkan, tapi kegusaran dan kesedihannya lama-lama terhapus dari wajahnya.

Januari 2013
Aku sendiri tak tahu bagaimana tubuhku bekerja. Terlalu banyak komponen, semuanya berukuran mikro, atau mungkin lebih kecil lagi. Atau mungkin, aku terlalu malas untuk mengetahui sistem tubuhku sendiri karena telah terbiasa diatur oleh Jun.

Tapi omong-omong, aku memang dibuat untuk diset oleh manusia bukan untuk bekerja sendiri.

Aku tak bisa menjelaskan kenapa, tapi entah bagaimana tombol "R/3" kembali normal. Bolehkah aku menggunakan kata ajaib?

Maret 2013
Minggu terakhir bulan Maret tahun 2013 adalah salah satu minggu yang tak bisa kulupakan. Aku tahu ada yang salah denganku. Aku merasa tak enak badan sejak bateraiku menggembung. Dan ketika daya bateraiku tinggal sedikit...

"Oh my God, Sherina... Apa yang terjadi padamu?" Jun memandang wajahku (batja: layar) yang seputih awan. "Kali ini apa salahku?"

Dia mencoba melepas bateraiku dan memasangnya, cara standar bila aku mengalami keabnormalan. Setelah beberapa kali percobaan, dia tahu aku bisa bekerja normal ketika bateraiku di atas 70% atau sedang diisi makanan (batja: di-charge).

"Aku nggak mungkin terus-terusin nyambungin kamu ke listrik, Sher," kata Jun muram. "Udah kayak hamil besar tapi di punggung." Jun terkekeh mendengar leluconnya sendiri. Hanya sebentar, sebelum kesedihan menyergapnya kembali.

"Aku tahu usiamu nyaris 3 tahun," kata Jun lagi. "Kalau boleh kutambahkan, kamu adalah 'temanku' yang paling awet dan sampai sekarang belum tersentuh tangan tukang servis."

"Seandainya rusakmu parah, Sherina. Semisal LCD-mu yang rusak, aku mungkin lebih memilih... Mencari penggantimu. Aku tahu kamu teman yang baik tapi..." Jun memalingkan wajahnya. Jemarinya dibenamkan pada kedua matanya yang terpejam. "Tapi bila ini adalah waktumu... Beristirahat, aku akan mengikhlaskanmu. Beneran aku akan mengikhlasmu. Tapi sebelum itu bisakah... Bisakah kamu bertahan hingga aku menemukan penggantimu?"

Juni 2013
Kondisiku tidak 100% bagus. Tapi aku masih hidup. Dan yang terpenting... Jun masih menyayangiku.

Solusi dari masalahku yang dijuluki sebagai white screen, ternyata sangat sederhana: baterai baru. Namun Jun sudah terlanjur menyerahkanku untuk dirawat inap selama kurang lebih nyaris satu bulan di tukang servis. Tapi tak apa, dia tak menyesalinya. Karena OS-ku yang dulunya 4.6, kini telah menjadi OS 5. OS tertinggi untuk jenisku, Blackberry Curve 8520.

Aku tadi bilang kondisiku sudah tak 100%. Akan aku jelasku. Tombol "E" atau "2" bermasalah. Kadang tanpa ditekan dia memunculkan huruf E atau angka 2 di mukaku. Dan tombol "I", tak bisa digunakan sama sekali. Jadi mesti pakai cara merepotkan: copas.

Meski begitu, Jun tak tampak gusar atu sedih. Dia menerimanya seolah tak terjadi apa-apa. Entah karena dia sudah terbiasa, atau karena dia sangat menyayangiku. Aku tak tahu. Jun tak pernah mengatakannya.

Note: Catatan ini diikutsertakan dalam kontes #XLBBQ10 yang diadakan oleh XL.
Share: