Sabtu, Oktober 26, 2013

Temanku Bilang Aku dan OPPO N1 Ditakdirkan Hidup Bersama

Aku menghela napas panjang berulang kali. Indikasi yang sangat jelas bahwa aku sedang bermuram-durja. Kesedihan dan kegalauan itu diakibatkan oleh “jatuh sakit”-nya Sherina—nama ponselku, kalau kalian bertanya-tanya dia siapa.

Dia kolaps dini hari tadi. Dan pagi tadi aku langsung melarikannya ke service center terdekat.

Aku menghela napas panjang sekali lagi. Menatap awan kelabu yang menggelayut rendah di langit Nganjuk. Seolah-olah langit pun sedang ikut bersedih bersamaku.

“Kenapa kamu?” tanya Dude, sahabatku, yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingku di emperan rumah.

“Sherina… dia…” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku.

“Bermasalah lagi dia?” tanyanya lagi, dengan nada yang biasa digunakan saat dia berkata, “Sudah kubilang, kan?”

Aku mengangguk.

“Kenapa nggak ganti hape saja sih?”

“Lalu gimana dengan Sherina? Dia ponsel pertama yang membantuku mengerjakan tugas kuliahku. Menulis posting di blog dan bahkan menulis cerpen dan naskah-naskahku yang nantinya akan menjadi novel bestseller di seluruh dunia.”
Share:

Rabu, Oktober 23, 2013

Sherina di Rawat Inap (lagi)

Hari ini, tepatnya dini hari tadi sekitar setengah tiga-an, saat aku hendak menyelesaikan review Kisah-kisah Tengah Malam karya Edgar Allan Poe untuk diposting besok di Story Eater Tales, tiba-tiba saja papankuncinya tidak bisa digunakan. Saat ditekan, tidak tak ada karakter yang muncul di layar. Hanya trackpad yang bisa digunakan. Itu pun hanya terbatas untuk fungsi kursor saja.

Tentu saja rasa panik langsung menyerangku. Semua deadline lomba menulis yang aku ikuti, semua naskahku yang menjerit minta dikelarin, belum lagi hutang review yang masih tersisa dua--dan masih akan terus bertambah seiring berlalunya waktu. Dan jangan lupa kumpulan ebooks yang menunggu giliran untuk kulahap.
Share:

Selasa, Oktober 15, 2013

Kebiasaan Aibileen

Pada awalnya, aku hanya penasaran dengan salah satu sejarah Amerika: soal permasalahan orang kulit putih dan orang kulit hitam. Sehingga saat kak Riri, yang mengadakan giveaway berhadiah buku dan mengatakan aku menjadi salah satu pemenangnya, setelah aku berpikir ulang dan sedang malas membaca buku serial, aku menjatuhkan pilihanku pada The Help karya Kathryn Stockett.
Share:

Senin, Oktober 14, 2013

Dear Crush [5]

Aku terus menunggu dan menunggu. Menunggumu dengan sabar. Menunggumu sendirian. Menunggumu memisahkan diri dari teman-temanmu. Tapi saat itu tak kunjung datang. Padahal aku sudah merasa siap mengajakmu bicara. Tapi tidak di depan mata teman-temanmu atau orang-orang.

Dengan reputasi yang melekat di diriku aku takut... Tentu saja, aku sudah lama tahan omongan buruk mereka tentangku, tapi kalau sampai mereka mencelamu aku takut... kamu tak memberiku kesempatan untuk mendekatimu barang sejengkal.

Namun, anehnya, saat hal itu tiba, kesempatan aku dan kamu tinggal berdua dalam satu ruangan, saking kagetnya aku malah terpaku di tempatku.
Share:

Jumat, Oktober 11, 2013

Rasa Bangga itu Teman Sekaligus Musuh

Mobil yang kutumpangi akhirnya mengurangi kecepatan lajunya. Sudah tak tahan rasanya aku ingin segera curhat (baca: mencurahkan hajat). Sambil menunggu sopir menginjak pedal rem, tangan kiriku bersiap-siap di handle pintu. Siap membukanya lebar-lebar saat ban mobil berhenti menggelinding. Namun sayangnya, sebagai seorang yang membanggakan profesionalitasnya, aku harus menunda panggilan alam itu demi tampil menawan di tengah-tengah ingar-bingar teriakan orang-orang. Beberapa merupakan para fansku.

"Jun! Jun!" jerit beberapa fansku, tepat ketika salah satu kakiku menyentuh karpet merah.

"Jun, marry me, Jun!" pekik seorang gadis—yang kemudian diikuti gadis-gadis lainnya. Kedua tangan mengangkat tinggi-tinggi papan bertuliskan Marry Me dengan tinta warna-warni dan dihiasi gambar-gambar hati.

Saking ngebetnya pengen segera nongkrong di toilet, aku nyaris lupa dengan acara yang hendak aku hadiri.
Share: