Senin, Oktober 14, 2013

Dear Crush [5]

Aku terus menunggu dan menunggu. Menunggumu dengan sabar. Menunggumu sendirian. Menunggumu memisahkan diri dari teman-temanmu. Tapi saat itu tak kunjung datang. Padahal aku sudah merasa siap mengajakmu bicara. Tapi tidak di depan mata teman-temanmu atau orang-orang.

Dengan reputasi yang melekat di diriku aku takut... Tentu saja, aku sudah lama tahan omongan buruk mereka tentangku, tapi kalau sampai mereka mencelamu aku takut... kamu tak memberiku kesempatan untuk mendekatimu barang sejengkal.

Namun, anehnya, saat hal itu tiba, kesempatan aku dan kamu tinggal berdua dalam satu ruangan, saking kagetnya aku malah terpaku di tempatku.


Saat itu aku sedang membaca ebook, yang aku lakukan daripada duduk bengong atau ngelamunin dunia yang makin kelam saja sambil menunggu dosen masuk. Ketika mataku lelah, waktunya mengalihkan pandangan, kamu telah duduk di bangku panjang di depanku. Mata menatap lurus ke layar laptopmu. Penghalang kita hanya meja.

Ingin rasanya aku duduk di sebelahmu, namun entah kenapa, tiba-tiba saja sekujur tubuhku gemetar hebat. Seakan-akan mendadak udara berangin Nganjuk, yang tak pernah menjadi tersangka utama saat aku terserang penyakit, secara ajaib telah membuatku meriang.

Aku menyemangati diriku. Ayo, tabahkan dirimu. Dekati dia sekarang. Keburu dosen datang!

Namun, hal yang harusnya mudah, secara biasanya aku pandai berbasa-basi, mendadak kebingungan harus mengatakan apa untuk memulai percakapan.

Hai, boleh kenalan nggak? Jelas cara berkenalan yang tak kreatif yang mungkin bakal bikin kamu ilfeel duluan.

Boleh aku duduk di sini? Di bangku sana mendadak ada tinggi-nya. Tinggi adalah sebutan orang Jawa untuk kutu busuk.

Lagi nonton film, ya? Seperti yang sudah kamu tahu, di kampus kita budaya menonton film di laptop berkembang sangat pesat. Secara di Nganjuk tak ada gedung bioskop. Sejujurnya, aku berharap kamu benar-benar sedang nonton film. Aku bisa menjamin kita tak akan pernah kehabisan topik bahasan. Secara aku sangat membanggakan pengetahuanku akan film-film Hollywood yang di atas rata-rata teman-temanku.

Aku menggoyang-goyangkan kakiku. Mencoba mengusir gemetar yang menjangkitiku. Setelah merasa cukup, aku mencoba berdiri—sumpah, aku merasa sangat konyol—di atas kedua kakiku. Dan berhasil! Tentu saja gemetar itu masih ada di tempatnya, tapi kekuatannya tak sebesar seperti dugaanku. Mungkinkah karena tekadku untuk menyegerakan diri mengobrol denganmu?

Namun belum satu langkah, ada seseorang yang menepuk bahuku.

"Ayo masuk," kata temanku.

"Sekarang?" Aku tak bisa menahan lolosnya kata itu.

Temanku itu hanya mengangkat bahu. Lalu menyusul teman-teman yang lain yang sudah masuk kelas.

Aku menatapmu. Pandanganmu tetap terfokus pada layar laptopmu. Tak terganggu atau tidak kepo dengan sekitarmu.

Selama sesaat aku bimbang. Aku bisa saja membolos, mengajakmu mengobrol. Obrolan yang menanti membuka gerbang pertemanan kita. Tapi ekspresi seriusmu... tampaknya kamu sedang mengerjakan tugas kuliah.

Aku tahu hatiku menangis. Kesempatan yang aku tunggu-tunggu, kesempatan yang jarang sekali terjadi, kesempatan yang mungkin tak akan terjadi lagi menguap sudah. Kenapa aku begitu tolol pakai bingung dan bimbang segala?

Dengan langkah gontai, terseok-seok, tersaruk-saruk, aku menuju ruang kelas tempat kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan.

Tapi aku salah akan satu hal. Atau setidaknya begitulah yang aku percayai. Yang aku mau percayai.

Kesempatan berduaan itu datang lagi!

Namun kali ini hanya nyaris.

Yang salah satu penyebab kenyarisannya adalah kesalahanku sendiri.

Apakah kamu masih ingat kalau ada dua matakuliah yang—setengah niatnya—sengaja aku ulang hanya agar aku bisa sering bertemu denganmu? Dan ada satu matakuliah yang nyaris tengah hari kelarnya (aku lupa apakah itu memang jamnya atau jamnya diganti agak siang). Apakah kamu masih ingat kalau saat itu kamu memutuskan sebagai orang yang terakhir keluar ruang kelas?

Aku tahu mungkin ini seperti tebak-tebak buah strawberry, tapi aku memang berharap beginilah kenyataannya: kamu menunggu hingga kelas sepi, sebab kamu mengira aku akan keluar belakangan secara aku sedang menyalin materi yang tertera di papan tulis putih.
Seandainya itu benar, dan aku berharap itu benar, bukankan itu merupakan pertanda bahwa kamu juga tertarik padaku? Apakah kamu benar-benar tertarik padaku?

Seandainya itu benar, seharusnya, seharusnya aku menyalin semua materi tersebut ke bukuku sehingga aku bukan orang ketiga terakhir yang keluar ruangan!!

Dan seandainya itu benar, aku telah mengacaukan semuanya! Bahkan mungkin aku membuat persepsi yang salah bahwa aku menghindari satu ruangan denganmu!

Penyesalan.

Hanya itu yang kurasakan sekarang. Berita baik pun tak bisa menghapusnya.
Kata orang kesempatan hanya datang sekali. Masing-masing dari kita punya kesempatan sekali, dan aku mengacaukan keduanya. Tapi aku harap orang-orang itu salah. Aku harap aku mendapat kesempatan lagi untuk bisa berduaan denganmu. Maksudku, satu ruangan denganmu. Supaya aku bisa mengenalkan diri secara resmi. Supaya kamu tahu bahwa aku sangat ingin sekali mengenalmu.

Oh Tuhan, aku bisa mendapatkan kesempatan itu lagi, kan?

Share:

2 komentar:

  1. Mudah2an.... :)) btw, itu buah manggis ya, mas yg gantengg.... Bkn stobeli :p

    BalasHapus
  2. Amin :))

    Iihh, suka-suka dong :)))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^