Jumat, Oktober 11, 2013

Rasa Bangga itu Teman Sekaligus Musuh

Mobil yang kutumpangi akhirnya mengurangi kecepatan lajunya. Sudah tak tahan rasanya aku ingin segera curhat (baca: mencurahkan hajat). Sambil menunggu sopir menginjak pedal rem, tangan kiriku bersiap-siap di handle pintu. Siap membukanya lebar-lebar saat ban mobil berhenti menggelinding. Namun sayangnya, sebagai seorang yang membanggakan profesionalitasnya, aku harus menunda panggilan alam itu demi tampil menawan di tengah-tengah ingar-bingar teriakan orang-orang. Beberapa merupakan para fansku.

"Jun! Jun!" jerit beberapa fansku, tepat ketika salah satu kakiku menyentuh karpet merah.

"Jun, marry me, Jun!" pekik seorang gadis—yang kemudian diikuti gadis-gadis lainnya. Kedua tangan mengangkat tinggi-tinggi papan bertuliskan Marry Me dengan tinta warna-warni dan dihiasi gambar-gambar hati.

Saking ngebetnya pengen segera nongkrong di toilet, aku nyaris lupa dengan acara yang hendak aku hadiri.


Kilatan ratusan flash menyergapku. Lampu sorot disiramkan ke arahku. Ratusan ponsel disodorkan di depan wajahku, seolah-olah mereka hendak menawarkannya sebagai barang dagangan alih-alih hendak merekam pernyataanku.

"Jun, denger-denger, atau bahasa jawanya krungu-krungu, kamu dan oknum AAAS sudah jadian. Apa itu benar?" tanya salah seorang wartawan.

"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan insan EI, Jun? Mengalami kemajuankah? Atau sampai sekarang dirimu masih belum berani mendekatinya?" tanya wartawan lainnya.

"Kami mendengar kamu punya banyak gebetan. Tapi kami lebih sering melihatmu dengan buku. Mungkinkah kamu punya kelainan dan hendak menikahi buku-bukumu?" tanya wartawan yang bukan satu dan lainnya.

Aku memilih untuk diam dan tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi tersebut. Ala-ala Desa Rinasari gitu: "Tidak Komentar (?)"

Hingga ada satu wartawan yang beda dengan yang lain, yang tidak kepo dengan masalah asmaraku. Dia menanyakan pertanyaan ini, "Apa arti kebanggaan buatmu, Jun?"

Seharusnya aku tak perlu menggubrisnya dan segera melarikan diri ke dalam gedung. Tapi pertanyaan itu menggelitik syarafku. Aku ingin sekali menjawabnya. Aku akan menjawab pertanyaan itu. Apalagi beberapa hari yang lalu aku pernah mendengar kalimat di video book trailer CineUs karya Evi Sri Rezeki, dan gatal ingin menjawabnya.


Semoga perutku masih bisa bertahan sebentar lagi menahan "sesuatu yang berpotensi membuatku sakit" yang protes minta dikeluarkan. Aku menghadap ke arah wartawan yang memberi pertanyaan. 

"Rasa bangga itu teman tapi sekaligus musuh bagiku. Dia akan jadi temanku  di saat hatiku gembira dan bahagia. Dan tak jarang kemudian menyeret orang-orang di sekitarku terpercik kegembiraan tersebut dan ikut bersukaria dan merayakannya." 

"Namun, ada kalanya rasa bangga justru aku anggap musuh tatkala ada oknum yang punya otoritas terhadapku memaksaku melakukan sesuatu yang tak sesuai hati dan nuraniku. Aku sanggup melakukan sesuatu tersebut, dan oknum yang memerintahkannya bangga akan tindakanku, tapi tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa kesal yang menggelayutiku, yang kemudian berimbas pada ketidakbahagiaan. Bukankah rasa bangga itu datangnya dari hati? Kalau hati tak merasa senang, otomatis rasa bangga itu terasa hambar dan, mungkin juga, salah."

Ada semacam tusukan di bawah punggungku. Tampaknya "mereka" sudah tak sabar lagi untuk dibebaskan. Aku harus segera menyelesaikan kalimatku. 

"Namun, itu belum seberapa. Yang paling berbahaya, dan paling aku takutkan, adalah ketika rasa bangga itu berlebihan. Yang mana akan membuatku terlena. Yang mana akan mengenalkanku pada rasa puas. Bangga dan puas biasanya bersahabat baik. "Yang kemudian (ini yang aku takutkan), membunuhku secara perlahan-lahan. Bak bola salju yang menggelinding menuruni bukit. Awalnya mereka akan menyerang produktifitasku—"aku sudah hebat, untuk apalagi aku berjuang keras?" Lalu kreatifitasku—"karyaku kan sudah diakui sebagai yang terbaik, mereka menyukainya, buat apa aku berinovasi?" Kemudian menghantam semangatku, yang berimbas pada tumbuh suburnya rasa malas di diriku."

"Rasa bangga itu perlu, sangat diperlukan malah. Sebab tanpa kebanggaan, semisal kebanggaan pada diri sendiri, kita bisa menjadi rendah diri. Kita bisa menganggap diri kita tak berharga, tak pantas memunculkan muka di hadapan dunia, yang kemudian berujung pada terperosoknya kita di jurang depresi. Tapi..." 

"Tusukan" itu datang lagi. Keringat dingin menjalar di punggungku. Kamu harus tenang, Jun. Tinggal sedikit lagi

Aku menghela napas panjang sejenak, sebelum melanjutkan. 

"Tapi..." ulangku. "Rasa bangga yang berlebihan juga tidak baik. Sebab ada kemungkinan, kemungkinan yang sangat besar, bisa mematikan potensi yang kita miliki." 

Wartawan-wartawan yang mengerumuniku serentak terdiam. Entah karena terpukau oleh kalimatku atau jangan-jangan... Secara tak sadar aku telah... Bagian belakang celanaku sudah... 

Kalau hal kedua yang terjadi, tentu aku tak bisa membanggakannya. Atau mungkin bisa? Secara jarang-jarang orang beken yang tampan, rupawan dan masih perawan (?) sepertiku melakukan hal memalukan ditengah-tengah keramaian? 

Dan bila benar hal kedua yang terjadi, maka ini saatnya bagiku untuk melanjutkan perjalananku menemani guruku menuju ke barat... Oops, salah. Maksudku, melanjutkan perjalananku ke dalam gedung. 

 "Itu arti kebanggaan menurutku. Mana arti kebanggaan menurutmu?" kataku sambil menghadirkan senyum ceria pasta gigi (?) 

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kulangkahkan kakiku menuju gedung, tempat acara akbar sebentar lagi digelar. Seraya berjalan, secara tak kentara aku menggerakkan tanganku ke belakang tubuhku. Rasa senang membuncah di benakku. Syukurlah hanya punggungku saja yang basah. Itu pun karena keringat. Sementara celanaku sekering gurun pasir. 

Namun ternyata, ada rasa senang lain yang terasa sedikit berbeda menyusup di benakku: kebanggaan. 

Meski tidak baik, dan aku berharap hal ini hanya sekali ini saja terjadi, tapi ya, aku bangga bisa menahan kebutuhan curhatku demi tidak membuat malu diri sendiri. Ini membuktikan, kebanggaan itu bisa datang kapan dan di mana saja. Dan tak jarang datang dari hal kecil semisal menahan kebutuhan akan "curhat."

 

P.S.
[1] Kisah di atas hanya fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama (wah, nama kita sama :D ), tempat, lokasi juga kejadian, mungkin inilah saatnya mengakui bahwa kebetulan itu memang ada. Atau sebenarnya memang telah ditakdirkan untuk kebetulan sama? Ah, kenapa memusingkan pertanyaan "lingkaran"? :))



Share:

10 komentar:

  1. Kayaknya bangga memang harus punya porsi yang pas ._.

    BalasHapus
  2. Romantis? Kayaknya pas teriakan "Marry Me". Sekian lama punya idola, aku gak pernah sampe segitunya XD

    BalasHapus
  3. Ternyata Jun itu artis? :O huwooooo
    hahaha ia tuh rasa bangga selain berjalan bergandengan tangan dengan bahagia di juga bergandengan tanggan dengan rasa sombong >.<

    BalasHapus
  4. >> Ryana
    Nah, aku juga penasaran dengan kata itu ._.
    Berarti kamu ngefansnya masih baru sekedar ngefans, belum ngefans berat :))

    >> Ananta
    Ya ampun, Nan, saking terkesimanya, kamu sampai typo gitu :P
    Begitulah. Makanya kita emang mesti hati-hati ;)

    BalasHapus
  5. Itu namanya realistis, mas ._.
    Hidup itu harus punya mimpi, tapi tak boleh melupakan kenyataan.
    Yah, kecuali Josh masuk Islam, aku pasti teriak "Josh, marry me, Josh!"

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^