Kamis, November 14, 2013

Review Cerpen Majalah Story edisi 42

Saat aku ulang tahun kemarin, salah seorang sahabatku, Ryana as Roro, mengirimi dua hadiah bacaan: The Rise of Nine karya Pittacus Lore dan majalah Story yang bikin aku penasaran bagaimana cerpen-cerpen di dalamnya—secara di daerah tempatku tinggal majalah ini belum pernah aku lihat batang hidungnya.

Err, meski secara literal dia tak punya hidung ._.

Kebetulan aku sedang suntuk sekali hari ini, dan sedang malas menulis (dan melanjutkan) review buku untuk kupost di Story Eater Tales, pikiranku juga sedang tak tenang sehingga menunda dulu untuk melanjutkan menulis cerpen yang baru ditulis dan membaca Monsters of Men yang aku cemaskan malah akan memperkeruh pikiranku dengan permasalahan yang dihadapi para tokohnya yang kompleks sekali soal perang, jadi daripada membuang waktu sia-sia aku memilih kerjaan yang ringan: mereview cerpen di majalah Story edisi 42. Satu-satunya majalah Story yang aku punya.

Aku akan mulai dari cerpen pertama—dan akan urut hingga ke cerpen terakhir.

Oh ya, aku tak memberi kilasan, langsung ke review, jadi buat teman-teman yang penasaran bagaimana kisahnya bisa mencari majalah edisi ini (yang mungkin bakal susah, secara edisi ini terbit bulan Februari lalu).

Malam Merah di Kota Lampion karya Dodi Prananda
Aku sudah menduga kalau cerpen ini cerpen fantasi. Awalannya agak membingungkan, tapi karena bahasa dan gaya bercerita penulisnya oke, jadi aku lancar-lancar saja membaca cerpen ini.
Nilaiku: 3 dari 5 bintang.

Setelah Kemarau karya Ippal
Cerpen yang punya nama tokoh utama yang, menurutku, paling keren diantara semua cerpen di majalah ini: Elfara. Hanya saja, meski gaya bercerita penulis oke, tapi kisahnya sama sekali nggak oke untuk standarku. Bukannya iba, aku malah jengkel dengan Elfara.
Nilaiku: 2 dari 5 bintang.

Cinta tak Begini, Tan... Karya Cantika Abigail
Ini adalah cerpen yang mengejutkanku. Bukan karena ditulis oleh seleb, tapi karena aku tak menduga bakal menyukainya. Cerpen yang paling aku suka di majalah ini. Gaya bercerita oke, pilihan bahasa oke, plot oke, penokohan dan pewatakannya oke, dan tanpa membuat alisku naik karena kisahnya mudah dinikmati, cuman satu kekurangannya... KURANG PANJANG!
Nilaiku: 5 of 5 bintang.

Beautiful Dirt karya Cindy Hardini
Aku tak membacanya sampai kelar. Kisahnya terlalu sinetron atau terlalu ftv atau terlalu drama korea atau jepang, jadi ya, bukan jenis bacaanku.
Nilaiku: 1 of 5 bintang.

Gadis Kunang-Kunang karya Alfian Daniear dan Hardia Rayya
Sudahkah aku bilang kalau aku pecinta fantasi dan fiksi ilmiah kelas berat? Nah, kisah ini adalah kisah fantasi. Jujur ya, kisah ini tidak terlalu bagus, tapi juga tidak jelek. Kisahnya mudah ditebak, jalan ceritanya mudah ditebak, bahkan endingnya pun mudah ditebak. Yang kemudian jatuhnya jadi membosankan. Gaya berceritanya kadang bagus, kadang kurang bagus. Mungkin karena ditulis dua orang? Aku rasa bukan. Aku rasa mungkin karena para penulisnya kurang komunikasi saja.
Nilaiku: 2 of 5 bintang.

Fiksi Mini
Sendiri Bersama Hujan karya Chika Rei - 3 of 5 bintang
Pelangi karya Angri Saputra - 4 of 5 bintang
Berbagi karya Rikzan - 3,5 of 5 bintang
Mengagumimu dalam Diam karya Ferdiana Rosinta - 2,5 of 5 bintang

Perempuan Berkalung Perban karya Boim Lebon
Gaya bercerita oke. Karakter utama lebih dari oke. Kocaknya oke. Kisahnya oke. Endingnya saja yang menurutku kurang oke.
Nilaiku: 4 of 5 bintang.

When You're Gone karya Desy Ratna C
Cerpen yang pilihan bahasanya paling puitis dibanding cerpen yang lain. Secara gaya bercerita oke, dan untuk kisahnya sendiri, aku cukup menikmatinya.
Nilaiku: 3 of 5 bintang.

Kado Cinta Ilona karya Alvian Hanandi
Satu lagi cerpen yang pada awalnya malas aku baca sampai kelar. Jujur, aku membacanya sampai kelar karena... Yah, karena majalah itu harus dibaca sampai habis kan isinya? Gaya bercerita penulis lumayan. Tapi bahasanya ada yang mesti diperbaiki, semisal pada kalimat ini "... Teriaknya, sedikit memekikkan telinganya hingga..." Tahu di mana letak kesalahannya?
Kisahnya sejenis dengan Beautiful Dirt. Terlalu sinetron atau ftv. Jadi ya, bukan jenis bacaanku.
Meski gitu, cerpen ini mendapat jenis ilustrasi terbaik (atau jenis ilustrasi yang aku suka)
Nilai: 1 of 5 bintang.

Ruang Cinta yang Kujaga karya Sabrina WS dan Julian Juni Khajasa
Cerpen yang secara ide sangat bagus—merupakan cerpen dengan ide terbaik di majalah ini, dan yang paling serius karena membawa hal berat sebagai topiknya . Gaya bercerita para penulis juga bagus dan tak membuat penuturan kisahnya "jomplang" sebelah, karena aku rasa mereka telah berkomunikasi dengan baik.
Nilaiku: karena belum kelar (cerpen ini bersambung), maka aku belum bisa memberinya nilai.

Bitter Sweet Chocolate Love karya Asqarini
Cerita cinta biasa yang dibalut dengan bahasa Inggris yang menurutku agak sedikit formal. Agak membosankan.
Nilaiku: 2 of 5 bintang.

Penguasa Romawi diduga Sebagai Vampir terjemahan dari karya Juwita March oleh Salama Arianty
Hal yang pertama mengusikku saat membaca awal cerpen ini adalah, seperti apa sih penguasa Romawi itu? Maksudku, setting waktuny adalah zaman sekarang, dengan karakter cewek Twihard dan berkhayal pengen banget ketemu Edward. Oke, bagian yang ini sangat-sangat-sangat bikin malas sebenarnya. Jadi, gimana cewek ini ngira cowok yang ada di hadapannya dengan pakaian lelaki normal pada umumnya alih-alih pakai rok ala Romawi?
Gaya bercerita, atau terjemahannya, kurang luwes. Sehingga bolak-balik aku terputus ditengah jalan ketika membaca cerpen terjemahan (dari cerpen bahasa inggris di edisi 40).
Part terbaik dari cerpen ini saat penulis menggunakan POV orang ketiga untuk menyorot Romeo, si cowok yang diduga penguasa Romawi dan vampir oleh si cewek aneh penggila Edward Cullen.
Nama Romeo itu sudah cukup pas untuk Romawinya, secara nama itu sangat Italia. Tapi, kenapa pindahan California? Kenapa tidak ngambil kota dari Roma atau kota-kota di Italia saja untuk memperkuat kesan Romawinya aka sesuai judulnya?
Dan, omong-omong soal teknis: Romawi dan Yunani harusnya ditulis dengan huruf awal kapital. Dan untuk judulnya, judulnya sama sekali bikin ilfeel.
Nilaiku: 1 of 5 bintang (hanya untuk part terbaiknya saja)

Kapok Deh karya Hannisa Ramadhani
Cukup menghibur.
Nilaiku: 2,5 of 5 bintang.

Guru Idola karya Zhiliatun Mawadah
Sama. Cukup menghibur. Nama tokohnya, well...
Nilaiku: 2,5 of 5 bintang.

Hunting Season karya Riska Aryati
Kisahnya cukup oke, meski gampang sekali ditebak bagaimana kisah ini berakhir. Kesalahan terfatal adalah, ada beberapa kalimat yang harusnya digarismiring, lupa digarismiring.
Nilaiku: 3 of 5 bintang.

Tumben Elo Keren, Den kisah Genk Kompor
Denger-denger sih serial (bener kan serial?) serial komedi, tapi entah karena memang nggak lucu atau memang aku nggak nangkap dimana lucunya, jadi ya aku lempeng saja sih bacanya. Tapi... Gaya berceritanya oke banget.
Nilaiku: 3 of 5 bintang.

Putri Mengejar Cinta karya Diah Octivia D.P.
Salah satu kisah yang masih satu jenis dengan Beautiful Dirt dan Kado Cinta Ilona, terlalu ftv. Coba endingnya dibikin beda, mungkin label ftv itu tak akan kusematkan.
Nilaiku: 1 of 5 bintang.

Catatan Hati Alisa karya Putri Utami Istiqomah
Cerpen terbaik kedua versiku. Meski aku sudah tahu apa yang menimpa Raga. Gaya berceritanya yang unik ikut andil dalam merebut perhatianku.
Nilaiku: 4 of 5 bintang.

Senandung Sketsa Putih karya Iyank Ika P.
Karya yang cukup menghibur. Tapi adegan ending itu agak terburu masuknya. Jelas karena terkendala keterbatasan karakter.
Nilaiku: 3 of 5 bintang.

Secarik Kertas Kusam karya Marini
Sama menghiburnya dengan karya Iyank. Cuman satu masalahnya, penggunaan tanda seru yang tidak pada tempatnya.
Nilai: 3 of 5 bintang.

CLBK karya Ayi Tessara
Cukup oke.
Nilaiku: 2 of 5 bintang.

Serbuan ke Markas karya Fatya Na
Cerpen yang paling mengecewakanku. Sebagai penggemar fiksi ilmiah kelas berat, cerpen ini amat sangat jauh dari memuaskanku.
Nilaiku: 1 of 5 bintang.

Saint Vision karya Antonius Pramono
Cerita horor yang tidak seram sama sekali. Adegan endingnya sangat dipaksakan, dengan dimirip-miripkan dengan film horor yang endingnya selalu ngegantung. Anyway, harusnya cerpen ini bukan masuk ke rubrik "Hiii" tapi ke Fiksi Ilmiah (scifi), penjelasan ilmiahnya yang oke sudah memenuhi syarat untuk cerpen ini masuk ke ranah itu.
Nilaiku: 3,5 bintang.

Dan itulah semua cerpen yang dimuat di Story Edisi 42. Cukup kecewa sih karena hanya beberapa saja cerpen yang memuaskanku. Termasuk komik singkat karya September Rain yang pantas kuberi nilai sempurna yang tercetak di halaman 104 dan 105.

Untuk rubrik selain cerpen, tak perlu dikomentari kali ya. Kecuali satu yang gatal pengen aku komentari, yakni di rubrik Buletin. Di kotak warna kuning. Bukan tulisannya, tapi soal ide soal politik yang ditawarkannya. Juga karena ini dibaca oleh kebanyakan kalangan remaja.

Politik memang ranah yang panas. Politik ranah yang akan menimbulkan perdebatan. Tapi tanpa politik, well, harusnya tak ada negara bukan? Tak ada yang namanya kedaulatan negara juga bukan? Jangan salahkan politik hanya karena pelakunya buruk. Politik di beberapa negara bagus kok. Coba tengok New Zealand. Atau negara-negara Skandinavia yang punya politik yang cukup bagus. Coba bayangin kalau tak ada generasi muda yang belajar ilmu sosial lagi, tak ada yang belajar soal politik lagi, apakah Indonesia akan tetap ada?

Dan bagaimana pun, politik adalah akses tercepat dalam menciptakan (atau memaksakan) sebuah perubahan. Baik perubahan yang buruk, maupun perubahan yang baik.

Aku sendiri baru minat belajar politik setelah genre dystopia (baik buku mau pun film) menjadi favoritku. Dulu aku termasuk salah satu orang yang teracuni oleh doktrin, yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, bahwa jurusan IPA lebih baik dari IPS. Karena IPA adalah tempat berkumpulnya orang pintar. Tapi lihat nasib orang pintar Indonesia? Jarang dihargai bukan?

Aku sendiri bukan anak IPS atau pun anak IPA. Aku anak SMK teknik.

Well, tampaknya sudah terlalu panjang coretan itu. Kurang lebihnya, seperti inilah aku menghabiskan waktu luangku. Bagaimana kalau kamu? Apakah kamu juga melakukan hal yang sama? Yup. Aku rasa juga tidak :))

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^