Jumat, Februari 14, 2014

Hujan Abu

Saat itu nyaris pukul 3 pagi. Bunda membangunkanku dari peraduanku, memintaku mengantarkan Bapak ke jalan besar, tempat beliau biasa mencegat bus dan menghajarnya yang akan mengantarnya ke tempat kerjanya. Tanpa banyak tanya, juga protes, karena ini sudah menjadi hal yang biasa di bawah atap rumah kami, segera aku bangun dan mengenakan celana panjang dan sweater.

Karena jaraknya tak terlalu jauh, aku memutuskan tidak mengenakan helm. Bapak yang merasa pagi itu dingin yang mengenakan helmku yang bergambar ala kertas koran: bertuliskan banyak artikel dalam bahasa Inggris. Setelah berpamitan dengan Bunda, kami pun berangkat. Tapi... belum sampai 200 meter aku merasa ada yang aneh. Jalanan terasa sedikit licin dari biasanya. Aku merasa hujan rintik-rintik menimpaku. Pada awalnya aku mengira itu embun, tapi entah kenapa aku tak merasa basah. Karena tak menghalangi perjalanan kami, aku pun terus melajukan motor.

Namun, ketika "hujan" itu menerpa mataku, membuatnya kepanasan, aku kontan menghentikan laju motor dan berseru, "Hujan pasir!"


Bapak yang tahu apa yang menimpa kami sontak menyahut, "Kelud meletus."

Ah, itu menjelaskan semuanya. Pasir yang memenuhi udara, juga yang menyebar di atas jalanan aspal, itu abu letusan gunuh Kelud.

"Mau pakai helmnya?" tawar Bapak.

"Boleh," aku menerima usul beliau dengan senang hati. Untung saja tadi Bapak berpikir untuk membawa helmku. Coba kalau tidak, mungkin kami mesti putar balik ke arah rumah.

Sepanjang perjalanan mengantar Bapak dan kembali ke rumah, aku terus memperhatikan jalanan. Aku pernah melihat dampak gunung meletus ini, abu beterbangan di mana-mana, lewat layar kaca. Tapi melihatnya secara langsung, dan ikut menjadi bagiannya, merupakan yang pertama kalinya bagiku. Cukup menganggu, tapi mau bagaimana lagi? Letusan gunung merupakan salah satu siklus alami bumi guna menyeimbankan dirinya sendiri.

Meski telah melihat hujan abu tersebut, di benakku sama sekali tidak terlintas perasaan cemas atau khawatir. Maka dari itu sesampainya di rumah, setelah melepas celana panjang dan sweater, aku kembali membenamkan diriku ke dalam pelukan hangat sang selimut. Menunggu pagi benar-benar merekah.

Sebelum aku benar-benar terbangun, ada satu aktifitas yang berbeda dari biasanya: adikku membangunkanku lebih awal. Katanya, "Mas, Mas, Kelud meletus! Di luar hujan abu!"

Karena aku sudah tahu, jadi aku cuman bilang aku sudah mengetahuinya lalu balik lagi tidur.

Ketika aku benar-benar bangun, barulah aku sedikit keterkejutan itu menghantamku. Halaman depan rumah... berubah menjadi hamparan pasir putih!


Aku kira pasir yang bakal memenuhi halaman bakal tipis, tapi ternyata... Banyak penjual sayuran yang biasanya berkeliling menjajakan dagangannya meliburkan diri. Karena hari ini aku ada jadwal berkunjung ke Puskesmas, yang letaknya berada di daerah pertokoan, otomatis aku bisa meliha-lihat kondisi tempat lain. Tidak sedikit toko yang memutuskan untuk libur sejenak.

Mungkin ini bakal sedikit OOT. Tapi rasanya tidak baik kalau tidak diceritakan juga.

Jadi tadi saat di Puskesmas, ada seseorang yang secara look oke dan memenuhi syarat untuk dijadikan gebetan. Nah, di saat di sekitarku ada cukup banyak orang, termasuk Bunda yang berdiri di sampingku, dia menyapaku. Menyapaku. Hanya menyapaku. Dan itu tidak terjadi sekali, tapi dua kali! Dua kali kata "Mas..." terucap dari bibirnya yang mungil. Pada awalnya aku tidak mau menduga apa-apa, tapi setelah dipikir-pikir kenapa dia melakukannya? Dan kalau tidak ada sesuatu, kenapa dia tidak menyapa Bunda juga yang menjulang tepat di sampingku?

Aku menceritakan hal itu... yah, setidaknya cukup untuk meningkatkan tingkat kepercayaan diriku. Maksudku, ternyata aku ini, yah, tidak jelek-jelek amat. Masih bisa menarik perhatian seseorang. Tapi kenapa orang yang aku ingin dia memperhatikanku justru acuh tak acuh terhadapku? #eaak #akhirnyamuncratjugacurhatnya xD

Oke, kembali ke tanktop #eh

Hujan debu terjadi lagi saat siang. Rumah yang sepagian sudah dibersihkan dari debu kembali kotor. Saat sore hujan debu lagi-lagi datang dan membuat kotor lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tapi aku bersyukur, setidaknya saat sore efeknya tidak seperti pas pagi dan siang, sebab hujan mengguyur tempat tinggalku.

Dan itulah pengalamanku dengan hujan abu. Bagaimana dengan kalian, apakah di daerah kalian juga turun hujan abu akibat letusan gunung Kelud?

Share:

2 komentar:

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^