Jumat, Februari 28, 2014

Writer's Block?

Pemuda Tanggung ingin menjerit. Berulang kali ia mengetikkan kalimat, menit berikutnya kalimat itu ditelan oleh keganasan tombol backspace mau pun delete. Entah kenapa ia belum merasa pas dengan pilihan-pilihan kalimat yang dimunculkannya. Ia tak merasa sedang terserang writer's block. Ia malah sedang semangat sekali ingin menghasilkan sebuah karya. Tapi entah kenapa tiap kali ia ingin memunculkan kalimat yang bagus, ia memutuhkan dorongan yang sangat kuat. Tiap kali ia mulai menekan beberapa tombol papan kunci di netbook pinjaman, ia selalu tergoda untuk menekan tombol backspace. Seolah apa yang ditulisnya tidak cukup bagus untuk digelontorkan ke dunia.


Sejak kecil Pemuda Tanggung bercita-cita menjadi penulis. Dunia kata telah lama menyihirnya dan membuatnya jatuh cinta. Pada awalnya ia hanya ingin menjadi bagian dari dunia tersebut. Namun, saat tahu sebuah kalimat bisa menciptakan perubahan, juga saat tahu bahwa kitab suci juga merupakan karya sastra, keinginannya untuk menjadi penulis semakin menggebu.

Tapi impian itu tidak mudah untuk diwujudkan. Kendati ia telah menulis karya yang menurutnya, ditambah opini teman-temannya, bagus dan tak kalah dengan karya penulis yang karyanya telah terbit duluan, tetap saja karyanya belum layak terbit. Begitulah kata penerbit di mana ia mengirimkan naskahnya untuk pertama kalinya.

Dulu Pemuda Tanggung semangat sekali ketika menuliskan naskahnya. Hampir setiap hari ia menulis. Pagi. Siang. Malam. Kapan pun ada waktu luang, yang kebetulan banyak dimilikinya, ia menggunakannya untuk menulis. Bahkan waktu “kosong” saat ia harus memenuhi panggilan alam, mengeluarkan sisa hasil pencernaan. Bersenjatakan ponsel pintarnya ia menulis adegan demi adegan. Tapi sekarang semangat itu sedikit meredup. Ibarat lampu minyak, minyaknya perlu diisi ulang agar membuat nyalanya makin terang.
Bukan. Bukan karena penolakan penerbit. Sebab tepat di saat ia menerima penolakan, ia sendiri merasa naskahnya masih perlu perbaikan dan hendak menarik naskahnya. Lantas karena apa? Ia sendiri tidak tahu. Mungkinkah karena ia tidak mempunyai tujuan?
Tidak juga. Ia bertujuan untuk menciptakan perubahan.

Tanpa dirinya menulis pun perubahan akan selalu terjadi. Bahkan saat ia galau memikirkan akan menuliskan kata-kata apa untuk awal kalimat karya barunya. Dan kalau benar itu tujuannya, kenapa ia merasa tidak bersemangat? Harusnya bila ia telah menemukan tujuannya menulis, ia tak akan mengalami hal yang ia alami sekarang.

Tapi kan inspirasi tidak datang setiap saat, suara hati Pemuda Tanggung mencoba membela diri.

Omong-kosong, inspirasi selalu dating setiap hari. Dirimu saja yang tidak peka untuk menangkapnya, jerit suara hatinya yang lain, yang kontra dengan dirinya.

Mungkin aku hanya lelah, pikir Pemuda Tanggung, mungkin aku hanya butuh istirahat. Pemuda Tanggung suka dengan ide soal dirinya yang lelah. Tidak secara fisik. Tapi secara mental. Ya. Ia pasti sedang lelah, apalagi penjelasan yang lebih masuk akal?

Atau mungkin karena kamu butuh alasan menulis yang lebih kuat? Alasan yang berupa seseorang, demi seseorang, bukan demi idealitas?

Pemuda Tanggung terkejut dengan pemikirannya sendiri. Mungkinkah ia memang membutuhkan seseorang? Ia sendiri tidak yakin. Bisa jadi ya. Bisa jadi tidak.

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^