Sabtu, Maret 29, 2014

I miss you so much, buddy!

Pagi ini aku terbangun oleh mimpi yang tidak biasa. Atau mungkin bukan mimpi tapi gambaran dari versi lain diriku di semesta alternatif. Dan setelah terbangun, aku mendapati mataku tak bisa berhenti mengeluarkan cairan bening yang terasa asin bila tersentuh lidah.


Ya, aku menangis. Dan aku tidak malu mengakuinya. Setidaknya aku tidak akan pernah malu menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Butuh seminggu bagiku untuk mengeluarkan luapan emosi ini. Padahal saat hari keberangkatan temanku—yang tepat seminggu dari hari ini (hari ini tanggal 29 Maret 2014), atau saat terakhir aku melihatnya sebelum dia berangkat ke kampung halamannya, tak terpikir oleh indera penglihatanku untuk memproduksi air mata.

Sebenarnya mimpi, atau gambaran versi diriku di semesta yang lain, bisa dibilang cukup absurd. Di dalam mimpi itu, aku berada di hari keberangkatan temanku tersebut dan mendapati laptop kecilnya tertinggal di kampus. Aku tahu dia sudah berangkat. Entah bagaimana pokoknya aku tahu hal itu. Bisa jadi karena, di waktu aku menemukan benda yang kadang aku pinjam untuk aku bawa pulang tersebut, waktu keberangkatan kendaraan yang akan mengantarnya ke kampung halamannya sudah jauh terlewat.

Aku, tentu, tidak dapat meninggalkan laptop mini itu sendirian. Aku membawanya pulang, merawatnya, dengan niatan aku akan mengumpulkan uang untuk pergi mengembalikan benda sakral ini ke pemiliknya.

Dari situ, entah mimpinya telah habis atau mungkin aku memutuskan untuk mengakhirinya, aku terbangun. Dan... Aku tak kuasa menahan desakan air mata yang meminta untuk dikeluarkan. Pipiku basah. Hidungku mendadak disumbat oleh ingus. Bibirku bergetar, seolah-olah tubuhku sedang diserang oleh dingin. Gigiku kukatupkan rapat-rapat, berusaha keras untuk tidak meloloskan satu suara pun.

Yeah, I miss you so much, buddy. Without you, campus felt like somewhere else.

Tapi tentu saja aku tak boleh egois. Maksudku, dia punya kehidupan sendiri. Aku juga punya. Kami tidak akan berhenti dalam satu waktu saja. Dalam rutinitas yang sama: datang ke kampus, ngobrol, nonton film bareng, download film. Tapi kadang aku tidak keberatan terperangkap dalam rutinitas tersebut. Rutinitas tersebut hanya memberiku rasa senang.

Tapi karena ini realita, dan realita itu tersusun dari keseimbangan, di mana ada pertemuan dan perpisahan yang berjalan beriringan.

Good bye, buddy. Hope you'll get a better life in there. And wish me I'll get (a) friends as good as you. Immediately.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^