Jumat, Maret 07, 2014

Lost Focus

It felt no good when I realized I had lose my focus of chasing my dream for months. Aku tahu tak seharusnya aku mencari kambing hitam, but, honestly, my focus lost track cause someone. Someone that full of my mind. Someone that, might be, I wanna be my future.

Yeah, I think "my future" is strong word, too. Tapi... bagaimana menjelaskannya ya?

Actually, I don't know what I felt exactly. Apakah dia hanya "crush" atau aku benar-benar jatuh cinta padanya. Maksudku, aku terus-terusan membayangkan hidup bersamanya di masa depan belakangan ini. Tapi aku belum yakin, dan tak ada petunjuk dari Sang Maha Kuasa, apakah dia memang benar-benar jodohku atau bukan.

Pertama kali aku melihatnya adalah saat aku kelas 3 MTs. Saat itu aku hanya menatap punggungnya. Bayangkan, hanya punggungnya saja, atau tepatnya bagian belakang tubuhnya, sudah cukup meninggalkan kesan untukku. Pikiran pertama yang melintas dalam benakku adalah, "Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya."

I mean, I had walk million times at that street, jalan di depan rumahnya. But that time was the first time. Pertama kalinya aku melihatnya.

Setelah itu timbul pertanyaan, saat itu aku tak terlalu ingin tahu soal namanya, hanya penasaran di mana dia selama ini hingga baru sekarang muncul. Di mana dia bersekolah? Apakah dia bersekolah asrama? Atau malah dia sudah bekerja? Tapi dia tampak berada di umurku, atau di bawah umurku.

Since that first time, I woke up, and gone to school, earlier. Dia, saat memunggungiku, sedang menyapu halaman. Jadi, aku simpulkan dia bangun pagi sekali untuk membantu ibunya.

But, since I start my high school year, aku tak pernah melihatnya lagi. Kadang-kadang saja, saat aku hendak main PS, atau disuruh ke toko bought something, aku kadang bertemu dengannya.

Kalian pasti menyangka jantungku berdebar kencang saat itu? Sorry dissapointed you, saat itu aku hanya diliputi oleh, hanya, rasa penasaran dan lagi... My first priority that time was study hard, supaya aku bisa lulus sekolah.

Beberapa tahun belakangan ini, aku jadi sering bertemu dengannya. Kadang pas berangkat ke kampus. Atau saat pulangnya. Or when I going to internet cafe. Meski ya, sudah bisa ditebak, I'm too affraid to intro myself. Like the main character of story that I wrote.

I have to stop this lost focus. I mean, aku suka sekali melamunkannya, but, I must be realistic, aku terlalu takut mendekatinya. What have I done so far? Aku belum melakukan pencapaian apa pun. Aku juga belum bekerja. Betapa nekadnya diriku bila berani mendekatinya.

Beberapa dari kalian pasti berpikir, harusnya dia jadi motivasiku untuk mencapai sesuatu, menebalkan fokusku...

Hei, kenapa hal itu baru terpikirkan olehku?!

Maksud hati mencurahkan isi hati, tanpa sadar menemukan sendiri solusi dari masalah yang telah lama mengendap di dalam hati.

Benar kata... istilah, "Terkadang jawaban atas masalah kita tepat berada di depan mata kita, kita hanya perlu menyadarinya." Salah satunya, dengan "mengangkat sedikit beban" yang membelenggu kita, seperti yang baru saja aku lakukan ini.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^