Rabu, Maret 05, 2014

Seandainya itu Nyata

Mata Pemuda Tanggung itu sontak melebar ketika diberi tahu kabar buruk oleh temannya. Kabar buruk yang tak sengaja ditangkap oleh indera pendengaran sang teman.

"Kamu pasti bercanda," kata Pemuda Tanggung, tak mau percaya. Senyum gugup lolos dari bibirnya. "Kamu dapat dari mana info itu?"

Tapi nada suara temannya, seperti yang ditakutkannya, secara jelas menyatakan bahwa ia sama sekali tidak bercanda. Penjelasannya masuk akal, hingga tidak mungkin tidak untuk tidak mempercayainya.

Sang teman menanyakan langkah apa yang akan dilakukan oleh si Pemuda Tanggung.

"Aku rasa kita harus memberi tahunya," jawab si Pemuda Tanggung.

Sang teman meragu dan mempertanyakan keseriusan Pemuda Tanggung. Mereka berdua tahu, Pemuda Tanggung tak pernah bicara sepatah kata pun dengan seseorang yang sedang mereka bicarakan. Seseorang yang sudah lama didambakan oleh Pemuda Tanggung untuk dijadikan kekasihnya. Seseorang yang beberapa menit lagi akan dibunuh oleh seseorang!

"Tentu saja aku serius. Mau bagaimana lagi memberitahunya? Dengan surat? Iya kalau dia mau langsung percaya. Tapi bagaimana kalau dia menganggap suratnya itu sebagai upaya mengerjainya? Atau lebih buruk lagi, sebagai surat ancaman. Aku tidak mau mengambil risiko itu. Satu-satunya jalan adalah dengan bicara langsung dengannya."

Sang teman masih meragu. Walau begitu, ia mengikuti langkah Pemuda Tanggung. Mencari oknum yang jadi objek pembicaraan mereka.

"Aku akan berusaha untuk tidak gagap di hadapannya," kata Pemuda Tanggung sambil kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. "Tapi bila itu terjadi, atau seandainya kata-kata tak mau keluar dari bibirku, aku mau kamu yang ngomong."

Sang teman memprotes. Tapi Pemuda Tanggung tak menanggapinya dan terus melakukan pencarian. Jalan. Kepala berputar ke sana kemari. Lari kecil. Mata memindai sekitar.

Pencarian itu akhirnya berakhir. Mereka menemukan sang oknum di tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Dilihat dari kondisinya yang baik-baik saja—gugup tapi baik-baik saja, tak ada bekas luka atau gores sedikit pun, tampaknya mereka-lah yang menemukannya pertama kali.

Tanpa sadar Pemuda Tanggung menghembuskan napas lega, dan bibirnya meloloskan senyum kecil.

"Apa kamu punya masalah dengan seseorang?" tanya Pemuda Tanggung langsung tanpa basa-basi. Ia berhasil. Ia tak gagap atau kehilangan kemampuan bicaranya. Suaranya sedikit bergetar, tapi artikulasinya jelas. Ia berdiri satu tingkat di bawah gebetannya.

Selama beberapa detik sang gebetan memandang Pemuda Tanggung. Mungkin mempertanyakan, bagaimana si pemuda tahu. Atau mempertanyakan, siapa kira-kira pemuda di hadapannya secara mereka belum pernah berbincang sebelumnya dan tiba-tiba... ia datang dan menanyakan hal pribadi.

Tapi akhirnya sang gebetan menguak mulutnya. "Ya. Aku punya hutang yang banyak. Sementara tanggal jatuh temponya sudah berakhir berminggu-minggu yang lain."

"Kalau begitu, segera bayar."

"Tidak semudah itu. Aku belum punya uang. Apa kamu punya uang? Mungkin bisa aku pinjam?"

"Hutangmu berapa?"

Sang gebetan menyebutkan angka.

"Aku tidak punya uang sebanyak itu," kata Pemuda Tanggung.

Sang gebetan terduduk lesu. Wajahnya semakin pucat dan dipenuhi kebingungan dan ketakutan.

"Aku bisa menyembunyikanmu," tawar Pemuda Tanggung seraya mengulurkan tangannya.

Sang gebetan menatap ragu uluran tangan itu. Tapi akhirnya dia menerimanya.

Seolah terjadi arus pendek, Pemuda Tanggung dan sang gebetan langsung melepaskan tangan masing-masing satu detik setelah bersentuhan. Mereka memandang tangan masing. Saling bertukar pandang, lalu tertawa bersama.

Satu pemahaman timbul di benak mereka.

Pemuda Tanggung mengulurkan tangannya lagi. Kali ini sang gebetan tak memandang tangan tersebut, tapi mata si pemuda. Dengan mata saling mengunci, sekali lagi sang gebetan menerima uluran tangan itu. Arus pendek itu masih ada. Namun, kali ini terasa hangat dan menyenangkan.

Sang teman berdeham. Mereka berdua nyaris lupa akan keberadaannya. Ia hanya ingin memberi tahu, kalau ada sekelompok orang yang hendak menghampiri mereka. Serentak Pemuda Tanggung dan gebetannya melemparkan pandang ke arah yang ditunjukkan temannya. Pemuda Tanggung tak tahu mereka siapa, tapi menilik air muka ketakutan gebetannya, tanpa perlu diberi tahu dia tahu.

"Kamu di sini saja. Jangan terlibat," kata Pemuda Tanggung pada temannya.

Sang teman mengangguk. Ia tak menanyakan tindakan apa yang akan diambil Pemuda Tanggung. Hal itu tersirat jelas dari bahasa tubuhnya.

"Siap?" tanya Pemuda Tanggung pada gebetannya. Sang gebetan mengangguk.

Dengan tangan tetap bergandengan tangan, mereka berdua mulai berlari. Menembus kerumunan. Tak peduli dengan banyak mata yang memandang.

"Hei!" seseorang meneriaki kami.

"Oh tidak, itu mereka!" kata sang gebetan panik.

Mereka makin mempercepat laju mereka. Saat dirasa para pengejar tidak memperhatikan, Pemuda Tanggung membuka pintu sebuah ruangan. Ruangan itu kotor dan penuh dengan barang rusak.

Ketika sang gebetan hendak membuka mulutnya, Pemuda Tanggung membekapkan tangannya pada bibirnya. Indera pendengaran si pemuda menangkap derap langkah orang banyak yang tampaknya terburu-buru. Seolah-olah sedang dikejar hewan buas.

Selama beberapa detik mereka menahan napas. Mereka takut satu tarikan napas bisa memberitahukan lokasi mereka pada para pengejar.

Setengah menit kemudian suara itu bergerak menjauh.

Refleks mereka berdua menghembuskan napas penuh kelegaan.

Ketika suara derap langkap itu benar-benar hilang, baru mereka sadar jarak yang memisahkan mereka tidak sampai 30 cm. Mata mereka kemudian saling tatap satu sama lain. Perlahan Pemuda Tanggung menurunkan sebelah tangannya yang digunakan untuk menutup mulut sang gebetan. Mata yang saling memandang serentak menutup. Masing-masing mendekatkan kepala. Semakin dekat. Bibir mereka sebentar lagi bertemu...

Namun tiba-tiba bumi bergoyang!

Tidak. Bukan bumi. Tapi badannya. Seseorang mengguncang-guncang badannya. Pemuda Tanggung menemukan sosok ibundanya berdiri di sebelah tempat tidurnya. Begitu mata Pemuda Tanggung terbuka lebar, sang Ibunda langsung menyerocos. Dari kebiasaan tidur larut malam Pemuda Tanggung, yang kemudian berimbas pada susah dibangunkan dari tidur saat pagi menjelang, dan kemudian menyinggung soal biaya sekolah yang tidak sedikit.

Diomelin seperti itu, Pemuda Tanggung terpaksa turun dari tempat tidurnya. Menyambar handuk di gantungan di belakang pintu kamarnya, kemudian berderap ke kamar mandi.

Seraya mengusapkan sabun ke seluruh tubuhnya, Pemuda Tanggung membayangkan lagi mimpinya. Tadi nyaris saja. Meski itu hanya mimpi, bunga tidur, tetap saja bibir itu bibir milik sang gebetan. Ah, seandainya hari ini sekolahnya libur... Mungkin bibirnya dan bibir sang gebetan...

Sambil terus menyelubungi tubuhnya dengan busa, Pemuda Tanggung berkhayal. Berandai-andai mimpinya mewujud jadi nyata.

Tentu bukan adegan dikejar-kejarnya. Tapi adegan terperangkap bersama dan...

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^