Jumat, April 11, 2014

Laptop vs Sepeda Motor

Saat mencuci sepeda motornya sore itu, entah kenapa Pemuda Tanggung tiba-tiba teringat dengan obrolannya bersama Ayahnya. Obrolan yang terjadi sekitar delapan tahun yang lalu. Obrolan yang tak mudah dilupakannya. Bahkan dia masih hapal kalimat-kalimat yang diucapkan oleh mereka berdua.

"Setelah uangnya cukup, kita bisa beli motor lagi," kata Ayah Pemuda Tanggung yang duduk di belakang punggung anaknya. "Kamu mau motor apa?"


Keluarga mereka sudah punya satu sepeda motor. Tidak, tidak ada masalah dengan motor itu. Motor itu suaranya masih mulus dan belum pernah mengalami kerusakan. Masalah yang sering menghampirinya paling banter cuma ban bocor.

Tapi motor satu tidaklah cukup. Begitulah yang dirasa Ayah Pemuda tanggung. Ayah terkadang ingin mengendarai sepeda motor ke tempat kerjanya. Biasanya beliau menggunakan bus. Namun terkadang, ketika motor dibawa Ayah, Ibu butuh motor juga untuk melakukan sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang seringnya bersifat dadakan.

Karena itulah Ayah memutuskan untuk membeli (dengan cara kredit) motor baru.

"Ayah mau membelikan aku motor? Tapi kita kan sudah punya motor, Yah," jawab Pemuda Tanggung, tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan. "Lagian aku kan jarang pakai motor. Aku ke sekolah naik sepeda."

"Tapi pas waktu pkl dulu kamu kan pakai motor."

Dulu saat Pemuda Tanggung melaksanakan praktek kerja lapangan (dia mengenyam pendidikan di sekolah kejuruan) di luar kota, yang butuh waktu satu jam menggunakan kendaraan bermotor untuk mencapainya. Saat motor dibawa olehnya seharian, Ayah dan Ibu kadang kalang-kabut meminjam motor sana-sini ketika dihadapkan pada sebuah urusan.

"Aku nggak pkl setiap hari."

Kemudian Ayah ngomong panjang lebar. Tentang pengandaian. Tentang situasi di mana semua orang butuh motor untuk melakukan aktifitas. Tentang Pemuda Tanggung yang sudah saatnya mengendarai motor saat pergi ke sekolahnya yang jaraknya puluhan kilometer.

"Tidak ada yang salah dengan Blake," sergah Pemuda Tanggung. Blake adalah nama yang diberikan Pemuda Tanggung untuk sepedanya.

"Apanya yang tidak ada masalah?" Ayah kemudian membeberkan seabrek masalah yang sering dialami Blake. Dari ban bocor, yang sering menyerang Blake seminggu sekali, rantai putus, hingga setir yang goyah dan butuh dilas. "Nanti motor baru ini, stnk-nya atas namamu. Itu akan jadi motormu sendiri."

Tawaran yang menggiurkan. Tapi setelah Pemuda Tanggung berpikir selama lima menit lebih, dengan konsentrasi terbagi dengan memperhatikan jalan sekitar, dia punya satu kebutuhan lain yang lebih diinginkannya. "Daripada buat beli motor, mending buat beli laptop."

"Buat apa laptop?" Ayah terdengar kurang senang. Bahkan kata laptop diucapkan seolah kata tersebut mengotori lidahnya.

"Ya... Buat mengerjakan banyak hal. Mengerjakan tugas sekolah. Main game. Menu—"

"Laptop itu tak ada gunanya. Laptop tidak akan bisa membawamu pergi kemana-mana!"

Aku juga tidak ingin pergi kemana-mana, kata Pemuda Tanggung di dalam hati. Saat Ayahnya menggunakan uratnya ketika berbicara, langkah bijak adalah dengan tidak makin menyulut amarahnya. Lagipula mereka sedang di jalan raya. Malu dilihat orang banyak.

Toh pada hakikatnya, keputusan membeli motor sudah bulat dari awalnya. Belakangan, Pemuda Tanggung tahu alasan sebenarnya dibalik pembelian sepeda motor tersebut: untuk mendongkrak gengsi. Ayah ingin membuktikan pada orang-orang yang sering meremehkannya bahwa dia bisa beli motor lebih dari satu.

Waktu berlalu. Pemuda Tanggung, yang masih remaja, masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti Ayahnya akan membelikannya laptop. "Atau minimal netbook," katanya pada Ibunya saat tahu sebutan untuk laptop berukuran mini.

Namun, hal yang sama terjadi lagi saat pembelian motor ketiga dan mobil. Laptop tak pernah ada gunanya. Laptop tak mendongkrak gengsi. Kekayaan seseorang tidak dihitung dari jumlah laptop, tapi dari kendaraan bermotor.

Bahkan saat Ibu bantu ngomong ke Ayah, jawaban Ayah, "Tidak ada laptop-laptopan. Laptop gunanya cuman dipakai pacaran saja!"

Jelas ucapan dari seseorang yang tak sepenuhnya tahu soal laptop dan internet.

Pemuda Tanggung tersenyum miris mengingat kalimat terakhir soal laptop yang dilontarkan Ayahnya, yang diteruskan oleh Ibunya padanya. Memang ada gitu seseorang yang mau memacari orang lainnya gara-gara seseorang itu memiliki laptop?

Mungkin memang belum saatnya aku memiliki laptop, kata Pemuda Tanggung dalam hati. Bukankah Tuhan memberi apa yang dibutuhkan umatnya saat umatnya memang membutuhkanya?

Sambil terus menggosok dengan sabun motor merah yang dibelikan Ayahnya, motor yang stnk-nya atas nama dirinya, Pemuda Tanggung tenggelam dalam debat yang diciptakannya sendiri di dalam benaknya.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^