Selasa, Mei 06, 2014

30 Hari Menulis Cinta #1

Hari ke-1: Menghindari Tips Menulis
Baru menyentuh bab pertama. Masih tak yakin dengan kalimat pembuka. Hal itu gara-gara aturan menulis yang kubaca secara tak sengaja, karena terposting di timeline twitter dalam bentuk kalimat yang dikemas dalam beberapa tweet (bukan sebagai link yang mengarahkan pembaca ke sebuah situs), juga karena rasa penasaran.


Aku kemudian teringat dengan Mark Twain. Patrick Ness (dengan cara penulisan novelnya, The Knife of Never Letting Go, yang kalimatnya ditulis dalam bahasa lisan, bukan tulisan, contoh: Attention jadi Attenshun). Cormac McCarty (dengan The Road-nya, yang telah diadaptasi ke layar lebar, dengan kalimat langsungnya yang tanpa diberi tanda petik dua). Dengan memikirkan mereka, aku coba mengusir aturan "menulis yang baik" dari kepalaku. Semua tulisan itu baik. Tidak ada yang buruk. Hanya bagaimana para pembaca menginterpretasikannya.

Walau tidak anti, tips menulis menimbulkan semacam kontradiksi di benakku. Aku ingin mencapai tulisan seperti "standar" dalam tips menulis tersebut. Tapi juga tak ingin seperti itu karena, bagiku, tips dan trik menulis itu seolah-olah membatasi kreatifitas.

Hari ke-2: Kemampuan Multitasking pun diuji
Memiliki darah rendah menyebabkanku gampang sekali tertidur. Dari sejak bangun tidur hingga pukul setengah dua, aku sudah jatuh tertidur sebanyak empat kali!

Pemanfaatan waktu yang sangat baik sekali, kan?!

Dan itu pun aku belum menyentuh naskahku sama sekali!

Siang menjelang sore, sekitar setengah 3, aku memutuskan untuk nonton Sherlock season 2 episode final. Sejauh ini, inilah episode terbaik, menggeser A Scandal in Belgravia dari posisi teratas.

Sebelum mandi, aku menyelesaikan review PJO #3, juga menulis di jurnal ini. Sempat terbersit untuk memberinya judul "The Bulan Narasi Journal of F.J. Ismarianto" tapi aku sedang tak ingin memberinya judul bahasa Inggris. Apalagi isinya juga bahasa Indonesia.

Hari ini aku seolah berada di tempat lain, bukan untuk Bulan Narasi, tapi untuk dua cerpenku yang menjerit-jerit minta dilahirkan.

Hari ke-3: Kecewa
Tidak menjamah naskah sama sekali.

Hari ke-4: Kalau Tak Muat Jangan Dipaksa
Ada beberapa data yang ingin aku masukkan ke dalam naskah. Data-data yang menambah believability cerita. Juga agar kisahku, kisah yang sedang kubuat, terasa "kaya."

Aku amat sangat yakin, dengan data ini ada di dalam kisah, calon pembacanya pasti akan menyukainya.

Namun, data itu sulit dicari. Atau kalau ada pun, datanya masih data lama.

Ketika aku membaca 1984-nya George Orwell, dan menemui kalimat yang bermakna "antipasi tindakan dalam kisah", aku pun tersadar. Aku bersyukur rasanya tidak seperti ditampar. Ditampar itu sakit, sob!

Aku tersadar, kalau aku memasukkan data ini, ceritaku akan jadi rumit. Aku pun diharuskan menjelaskan dan menuliskan hal yang tidak perlu yang mungkin akan menimbulkan kuapan pada pembaca. Padahal data ini munculnya sekilas dan hanya berkontribusi pada believability saja. Unsur yang dibangun juga oleh data lainnya.

Jadi, aku pun menyimpan data itu. Untuk lain kali. Untuk naskahku yang lain. Yang memiliki lubang yang pas, untuk dimasuki (?)

P.S. Sejauh ini perkembangan naskah dengan kode "CJDIA" masih lamban.

Hari ke-5: Kecewa - bagian 2
Jangankan "bercinta" dengannya, membuka filenya saja tidak.

*posting ini di-post juga di web Bulan Narasi*

Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^