Kamis, Mei 01, 2014

Pelantun Warna-Warni Ternyata Robot?

Belakangan ini dunia digegerkan dengan beredarnya foto-foto Renatta yang nyaris tanpa busana di dunia maya. Namun, alih-alih mempertontonkan kulit mulus bak pualam, potret-potret itu malah menunjukkan tubuh gadis kelahiran Neo-Nganjuk tersebut tersusun dari lempengan logam, kulit buatan, dan susunan kabel.


Publik sempat berpikir foto-foto tersebut hasil rekayasa orang iseng yang tidak bertanggung jawab. Bahkan beberapa grenatt (sebutan untuk fans Renatta, red) mengancam akan melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi si penyebar foto. Namun ketika pakar telematika terkemuka, Ryo Mentari, mulai angkat bicara dan memastikan bahwa foto-foto itu asli alias bukan hasil editan, terutama foto yang mengabadikan sosok robot perempuan memperbaiki kakinya yang lepas dengan obeng, banyak pihak yang awalnya yakin Renatta 100% manusia mulai ragu dan mempertanyakan, benarkah pelantun megahits Warna-Warni itu seplat gynoid?

"Aku tidak percaya dia (Renatta, red) gynoid," jawab Riko, seorang grenatt sejati yang saat ini merupakan mahasiswa teknik industri salah satu sekolah tinggi teknologi swasta di Neo-Nganjuk.

Itu artinya dirimu meragukan kemampuan Ryo Mentari? "Mengingat manusia tempatnya salah, bisa saja kan pakar telematika itu salah? Lagipula, robot hanya punya satu ekspresi: Datar. Sementara Renatta, dia punya banyak ekspresi. Terus soal dia yang tidak berkeringat, apa masyarakat lupa kalau make up anti air sudah ditemukan sejak lama?" imbuhnya berapi-api.

Senada dengan Riko, Vika, seorang pramuniagi toko penjual animoid yakin sekali Renatta bukanlah manusia buatan. "Aku bisa dengan mudah membedakan mana robot dan mana yang bukan," tandasnya.

Bila Riko dan Vika terang-terangan membela penyanyi papan atas tersebut, beda lagi dengan Raflesia (bukan nama sebenarnya), yang mengaku sebagai mantan grenatt. Kalau dulu dia selalu menanti-nanti kehadiran Renatta, kini tiap kali mendengar suara atau melihat wajahnya, meski kemunculannya hanya di teli, Raflesia sontak menutup mata dan telinganya atau, kalau di teli dan radio, mengganti saluran.

"Jelas saja aku sakit hati. Secara tidak langsung dia telah membohongiku. Membohongi publik!" solot Raflesia pedas. "Padahal dulu aku ngefans banget dengannya, terutama suaranya. Sempurna, tak pernah fals sedikit pun. Tapi ternyata dia cuman... Seonggok logam. Aku yakin suara merdunya itu sama seperti keberadaannya: buatan dan tidak alami. Malu-maluin warga Neo-Nganjuk saja!"

Mala Sunargo, ibu rumah tangga, mengungkapkan komentar yang kurang lebih sama. "Oh, dari dulu saya sudah nebak dia gynoid, Mas. Lihat saja wajahnya. Bebas kerutan, mulus terus selama bertahun-tahun. Kalau dia manusia biasa, dia harusnya sudah kelihatan tua."

Waduh, itu benar-benar karena kamu memiliki mata tajam, atau karena kamu iri? "Sebenarnya sih memang sedikit iri, heheh. Tapi temannya temanku, yang pernah bekerja pada Renatta saat dia mengadakan konser di Manasol, bersumpah dia pernah melihat Renatta mengkonsumsi stempet, dan dia baik-baik saja. Tidak mabuk seperti umumnya manusia kalau menyesap makanan robot itu," cerocos ibu muda itu.

Lain lagi dengan Lusi Iskandar. Dia yakin sekali yang buatan justru kasus yang menimpa Renatta itu sendiri alias hanya sensasi belaka.

"Biasalah artis. Bikin sensasi buat dongkrak popularitas," cuapnya. "Tapi kenapa pakai susah-susah bayar tukang edit foto? Dan kalau dibanding kasus-kasusnya yang lain yang melibatkan pejabat pemerintah hingga isu lagunya memuat dukungan untuk glbt, kasus ini yang paling membosankan," sambung gadis yang hobi ngemil lolipop rasa pecel ayam itu.

Tapi ada juga yang tidak peduli apakah Renatta itu gynoid atau manusia asli. Salah satunya adalah Jun. Cowok yang hobi berburu buku paperback itu merasa kasus foto-foto "panas" ini terlalu dibesar-besarkan. "Dia bisa nyanyi. Lagunya enak. Kita terhibur. Terus kenapa kalau dia robot? Apa bedanya robot dengan manusia? Apa karena robot tak berhati? Kalau benar itu bedanya, kalau benar seluruh manusia memiliki hati, harusnya peperangan dan kesenjangan sosial di antara manusia sudah terhapus sejak lama," tukasnya.

Hal yang kurang lebih serupa dilontarkan oleh Fifi, penghuni SMP Negeri Sembilan-Enam Neo-Nganjuk. "Aku sayang Rosi (robot pengasuh type Nan-135, red), meski dia robot. Dia baik, dia perhatian sama aku, dia tak pernah mengejekku atau berharap aku melakukan hal yang luar biasa. Dia tak tercipta memiliki hati, tapi dia melayaniku dengan sepenuh hati. Aku juga suka dengan Renatta. Kalau pun dia gynoid, maka dia gynoid tercantik sedunia. Suaranya juga jauh lebih merdu dibanding semua robot Sin-6312 yang pernah aku dengar. Dan aku rasa dia sebaik Rosi. Buktinya dia selalu tampil sempurna, tak pernah mengecewakan para fansnya," paparnya panjang lebar dan sedikit agak ngelantur.

Hmm, masing-masing sangat yakin dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Sebenarnya solusi kontradiksi ini mudah saja. Renatta tinggal membenarkan atau membantahnya. Dengan dia terus bungkam selama berminggu-minggu ini, dan berencana melanjutkan aksinya tersebut tanpa secuap sangkalan, bisa-bisa masyarakat akan berpikir sikap diamnya itu karena sosok dalam foto itu memang benar dirinya.

Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kamu percaya Renatta seplat robot? (MUA)

*cerpen ini diikutsertakan dalam Cerbul Kastil Fantasi edisi Maret.
Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^