Senin, Mei 19, 2014

Ujian Akhir Nasional - part 1

Hari Pertama
"Tidak ada yang terlupa, kan?" tanya Ibuku, setelah menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang sekolahku.

Di hari biasa mungkin aku bakal menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya, berusaha sekuat tenaga agar tak terlihat oleh teman-temanku. Siapa sih yang mau dijulukin anak mami? Tapi karena hari ini hari besar, juga aku sudah terbiasa ditempel ibuku kemana-mana selama beberapa minggu terakhir ini, aku tak keberatan ketika dia menawarkan tumpangan ke sekolah.


Kalian tentu bisa menebak hari ini hari apa. Ya, hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Nasional, yang akan berlangsung selama empat hari. Hari pertama pengetahuan dan kemampuan yang didapat selama 12 tahun mengenyam bangku sekolah dipergunakan semaksimal mungkin. Satu dari sekian hari istemewa di mana takdir kami, para peserta ujian, akan ditentukan.

Apa yang ditanyakan ibuku bukanlah tentang perlengkapan ujian.

Sejak insiden (atau skandal) overdosis massal pil pengingat pada sembilan November lima tahun lalu, di mana beberapa korbannya merupakan juara 1 dan 3 olimpiade matematika, pemerintah membuat kebijakan baru: sebab pil pengingat disamarkan sebagai pensil dan penghapus, negara yang akan menyediakan peralatan ujian. Peserta ujian cukup datang dengan pakaian seragam sekolah dan sepatu hitam polos bertali warna senada.

Yang ditanyakan ibuku, apakah aku ingat dengan kunci jawaban 45 paket soal yang kami beli dengan harga fantastis—saking fantastisnya harganya setara 18 sepeda-udara yang sedang tren akhir-akhir ini di seluruh negeri, dari seorang joki sekitar satu bulan yang lalu?

Sebutan joki ini menurutku sedikit irrelevan. Sejak pemerintah memasang gerbang pemindai identitas, kebanyakan mereka enggan masuk kelas, menggantikan peserta ujian. Tapi bukan berarti tak ada joki yang melakukannya. Beberapa masih melakukannya. Tapi biayanya jadi jauh lebih mahal karena ada risiko ketahuan. Tahun lalu saja surat kabar Sang Waktu mencatat ada total 347 kasus perjokian. 37 dihukum mati karena mencuri dokumen negara, sementara sisanya yang dapat salinannya dari terpidana mati diganjar hukuman kurungan puluhan tahun—sejauh yang aku tahu paling lama 20 tahun. Namun, karena mereka hanya orang bayaran, otomatis mereka tak berada dalam sorotan. Yang jadi perhatian justru peserta ujian penyewa jasa. Menenggelamkan sebaris berita yang, tiap tahun selalu ada, mempertanyakan bagaimana para joki itu bisa mendapatkan soal yang segelnya saja baru dibuka saat pelaksanaannya. Setelah itu, selalu diikuti dengan pernyataan dari Presiden yang menyampaikan keprihatinannya di teli nasional: Bagaimana Nusantara bisa jadi negeri yang maju bila anak-anaknya tak mau menghadapi persoalan dengan tangannya sendiri? Sementara Menteri Urusan Pendidikan, Noah Musih, akan menyampaikan keoptimisannya: Jelas mereka bukan anak-anak yang dicari negeri yang kita cintai ini. Saya percaya, masih banyak peserta yang akhlaknya mulia.

Meski tak ingin bikin ibuku tambah cemas, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk kebohongan. Jadi aku mengangguk. "Aku hanya hapal dua tujuh—"

"Pelan-pelan, Peri. Kamu ingin kita masuk penjara?!" desisnya marah. "Kalau mau bicara keras-keras—" matanya memindai kondisi sekitar yang, seperti biasa, tak pernah sepi oleh manusia—"gunakan bahasa sandi."

Tepat di hari kami membeli kunci jawaban, ibuku yang super paranoid sempat menciptakan bahasa sandi yang diambil dari pernak-pernik pakaian seragam sekolah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penciptaan bahasa sandi dadakan ini guna mengelabui: a) orang-orang usil yang, jika mereka mengetahuinya kemungkinan besar meminta salinan kunci jawaban—untuk dipakai anak-anak mereka atau bila mereka bermental bisnis, dijual lagi dengan harga yang lebih miring ketimbang para joki, b) orang-orang yang taat hukum, yang akan melaporkannya pada polisi. Memiliki kunci jawaban UAN sebelum hari pelaksanaannya adalah tindakan ilegal.

Bagiku kata-kata sandi ini tidak ada gunanya. Orang-orang pasti tetap curiga. Untuk apa coba membicarakan pakaian seragam sekolah yang satu sama lain sama semuanya? Lagipula, aku sudah cukup pusing menghapalkan urutan jawaban dari 45 paket soal, tanpa perlu ditambahi beban mengingat bahasa sandi yang penggunaannya pun hanya dalam kurun waktu yang singkat.

Aku mengulang kalimatku dalam suara pelan.

"Ingatan manusia kadang tidak bisa diandalkan," kata Ibu. Tentu saja dia sudah menduga hal ini. Tapi tampaknya aku diharapkan setidaknya bisa hapal lebih dari 27 kunci jawaban.

"Dasimu kotor deh, Per," katanya tiba-tiba. Otomatis aku menatap dasi yang kukenakan. Dan tak kaget sama sekali saat mendapatinya bersih tanpa noda. Andai aku tak mengenal baik ibuku, aku pasti sudah melontarkan, "Dasiku baik-baik saja."

Ibuku meraih tas besarnya yang ditaruh di bangku belakang dan mengeluarkan dasi yang sama persis dengan yang kupakai. Bukan hanya itu, diam-diam dia juga menarik keluar benda super kecil, tipis, tak berwana, berkaki tiga, berbentuk segitiga, yang langsung aku kenali sebagai pil pengingat yang telah dimodifikasi, dengan cara mengempitnya diantara telunjuk dan jari tengah. Ibu pernah memperlihatkan pil itu sekali padaku. Pil pengingat normalnya tidak setipis dan sekecil dan memiliki kaki-kaki kecil berwarna putih di tiap sudutnya seperti pil ini. Entah dari mana dia mendapatkannya.

Ibu memerintahku untuk mendekat. Tangannya masih gemetar dan matanya masih memancarkan rasa cemas. Dia melonggarkan ikatan dasiku yang "kotor," menariknya lepas, memasangkan dasi baru, sambil diam-diam menancapkan pil pengingat di kancing teratas kedua seragamku.

"Gunakan hanya saat kamu yakin kamu lupa."

Pil itu menyamar dengan baik sekali berkat warnanya yang bening, dan menancap sempurna berkat kaki-kakinya. Kancingku, kalau tidak diperhatikan dalam jarak dekat dan secara saksama, tidak kelihatan berbeda dari sebelumnya.

Aku tergoda untuk mengedarkan tatapan keluar mobil. Pantas Ibu pakai akting segala, tak sedikit orang yang memandang curiga ke arah kami.

"Aku harap kamu mendapatkan paket soal yang mudah," kata ibu sambil menyandarkan punggungnya di kursinya, pandangannya lurus ke depan.

Aku mengamininya.

Tiba-tiba saja air mata membasahi pipinya. Aku bingung bagaimana harus bereaksi. Aku tahu emosi Ibuku naik-turun bak roller coaster; satu menit senang, menit berikutnya senang itu tergantikan kesedihan. Tapi Ibuku hampir tidak pernah memperlihatkan tangisannya di depan orang. Termasuk di hadapanku. Bila dirasa tak tertahankan lagi, dia selalu memintaku menjauh.

Ragu-ragu aku mengulurkan tanganku ke arahnya. Ibu menghentikannya dengan mengacungkan sebelah tangannya. "Maaf. Ibu hanya... hanya tak mau... kehilangan dirimu. Ibu tak ingin kamu seperti Emud."

Emud adalah panggilan sayang ibu pada kakakku, Pemuda. Dia tak lulus UAN 2 tahun lalu. Dan hidupnya dia akhiri sendiri di tiang gantungan.

"Aku tidak akan berakhir seperti kak Muda," kataku, mencoba terdengar yakin. Tapi bahkan bagiku sendiri suaraku masih tercemar oleh keraguan. Bagaimana bila aku memperoleh paket soal yang aku tidak ingat? Bagaimana bila aku tak sempat menelan pil pengingat? Bagaimana bila saat hendak menelan pil itu aku ketahuan dan aku diusir, juga tak diperbolehkan lagi mengikuti ujian selanjutnya? Bagaimana bila joki itu penipu, kunci jawaban yang dia jual ternyata palsu?

"Padahal dia anak yang cerdas. Dia hanya... otaknya hanya... tidak berada dalam kondisi prima saat empat hari itu," Ibuku mengusap air matanya yang terus mengalir dengan punggung tangan. Tampaknya dia tak mendengar perkataanku. "Ah, seandainya ujian ini dihapuskan."

Aku tidak bisa tidak setuju dengannya. Tapi mengharapkan hal itu terjadi, seperti mengharapkan daun jatuh jauh dari pohonnya—di hari yang tak berangin.

Saat aku turun dari mobil, Ibu ikut keluar dan berlari ke arahku. Menabrakku. Memelukku erat. Membuat beberapa peserta ujian yang sebagian besar teman-temanku melihat ke arahku. Membuat pipiku bersemu merah. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Dia ibuku. Dan meski aku malu, aku suka dipeluk olehnya. Lagipula, siapa tahu ini pelukan terakhir kami?

"Ingat, Peri, meski kamu harus lulus, kamu tidak boleh benar semua," bisik Ibuku, mata terpancang pada dadaku. Tinggi Ibuku hanya sebatas bahuku.

"Ibu tak perlu mencemaskan hal itu." Aku tak boleh mendapat nilai sempurna. Nilai sempurna akan banyak menarik perhatian.

"Taklukkan soal-soal itu, Perkasa," kata Ibuku sambil melepas pelukannya.

Aku tak menjawabnya. Yang sebentar lagi kulakukan di dalam kelas adalah mengarsir lembar lingkaran A,B,C,D,E dengan jawaban yang telah kuhapalkan. Jadi, secara teknis aku tidak menaklukkannya, tapi mengelabuhinya. Bahkan ketika aku mendapatkan paket soal yang kunci jawabannya aku lupa. Rencana cadangan memastikan jalanku tetap di jalur yang berlawanan arah dengan kejujuran.

"Dan kalau bisa, fokus pada soalmu sendiri," imbuh Ibuku sebelum kembali duduk di belakang setir.

Mobil ibuku sudah menghilang di balik tikungan. Tapi aku tetap berdiri di tempatku berdiri. Tidak bergerak sedikit pun. Gerbang sekolah masih tertutup rapat. Gerbang itu untuk sementara hanya mempersilahkan masuk guru-guru pengawas dan pegawai sekolah. Langkah ini diterapkan demi menghindari kecurangan, semisal peserta ujian menuliskan atau menyelipkan atau merekatkan sesuatu yang dapat membantu mereka menjawab soal-soal ujian sebelum ujian dimulai.

"Gimana Perk, siap untuk menyongsong kematian?" Tiba-tiba saja di belakangku terdengar suara yang familiar. Saat kutengokkan kepalaku melewati bahu, Lanang, sahabatku sedang berjalan ke arahku. Dilihat dari gelagatnya, tampaknya dia baru saja tiba.

"Err, begitulah." Lanang tidak tahu soal aku dan kunci jawaban. Tapi kalau pun dia tahu mungkin dia tak peduli. "Dirimu?"

"Sejak hari pertama try out," dia kemudian mengganti topik pembicaraan, "Belakangan ini dirimu menghilang dari peredaran. Ada sesuatu yang seru terjadi di hidupmu?"

Aku tergoda untuk menceritakan semuanya. Tapi kemudian aku teringat pesan ibuku untuk tidak memberitahukannya pada siapa pun. "Ibuku menyita ponselku. Dan melarangku pergi ke dunia maya. Dan menyuruhku... menghapal," kataku, yang memang benar.

Lanang menjawabnya dengan "Ohh.." saja.

Selama satu-dua menit berikutnya kami sama-sama terdiam. Sama-sama memandang gedung sekolah kami yang berlantai 17 menjulang di hadapan kami.

"Rasanya aneh," katanya, merontokkan keheningan.

"Apanya yang aneh?"

"Aku merasa aku akan merindukan sekolah ini."

"Ya, itu aneh," aku menyetujuinya. Masuk sekolah saja dia nyaris ogah-ogahan. Kalau sekolah tidak diwajibkan, dan kalau penduduk Nusantara tidak menganggap Surat Tanda Tamat Belajar sebagai sesuatu yang sakral, mungkin Lanang tidak akan pernah berdiri di sini sekarang dan jadi temanku.

Hening lagi. Keheningan yang kemudian dipecahkan oleh suara familiar lainnya. "Pagi, semua..." sapa Gadis, sahabat kami, dengan ceria. Masing-masing tangannya merangkul kami berdua. "Gimana, sudah siap menghadapi penentu masa depan kita?"

"Siap," jawab Lanang otomatis.

"Lumayan," sahutku, satu detik di belakang Lanang.

"Oh ya, kalian sudah dengar berita soal Cantika?" tanya Gadis, mengubah topik pembicaraan. Cantika tidak sekelas dengan kami, dan tak satu pun dari kami akrab dengannya, tapi dia murid yang cukup populer di sekolah kami.

"Sudah," jawab Lanang, berbarengan denganku yang bertanya, "Soal apa?"

Gadis melepas rangkulannya padaku, dia sepenuhnya menyandarkan diri pada Lanang sambil melemparkan tatapan, "Kemana saja kamu, Perk?"

"Ponselnya disita, Dis," sahut Lanang.

"Tapi dia kan bisa nonton teli," kata Gadis.

"Aku nonton teli," kataku cepat, sebelum Lanang mencoba jadi juru bicaraku lagi. "Tapi cuman buat nonton Kegelian, Orang Mati yang 'masih' Kelaparan, dan Rebutan Kursi Panas."

Mulut Gadis membentuk huruf "O," sementara matanya mengumandangkan, "Pantesan!"

"Cantika bunuh diri dua hari yang lalu," kata Gadis, seolah sedang membicarakan cuaca.

=====


P.S. Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Cerita Bulanan di Kastil Fantasi.
Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^