Selasa, Mei 20, 2014

Ujian Akhir Nasional - part 2

Aku tidak terlalu terkejut. Setiap tahun, sebelum UAN dimulai, ada saja kasus siswa bunuh diri. Seakan-akan kematian mereka adalah ritual rutin tiap tahun. Bahkan sampai ada istilah populernya untuk "acara tahunan" tersebut: gladi resik-nya UAN.

Yang tidak aku habis pikir, Cantika adalah siswi yang selalu tampak ceria. Tapi siapa tahu keceriaan itu cuma di permukaan saja. Atau siapa tahu, seperti kebanyakan mereka yang telah bunuh diri di waktu pra-UAN, dia merasa yakin tak mampu memenuhi nilai rata-rata UAN hingga dia berpikir untuk menyerah saja di awal daripada menelan pil pahit pemberian orang lain yang mungkin jauh terasa menyakitkan?


Bila benar alasan bunuh dirinya adalah karena UAN, kurang lebih aku bisa memahaminya. Bahkan kalimat penghiburan yang dilontarkan senior kami yang telah lulus, "Tenang saja, UAN tak seseram seperti yang dikatakan orang kok," tidak pernah sanggup mengurangi rasa takut kami.

Terdengar bunyi bel panjang dari dalam sekolah. Gerbang dibuka. Mereka telah siap menerima kami. Dua orang pria berpakaian polisi keluar dan berdiri di kanan-kiri gerbang. Posisi badan tegap, saling berhadap-hadapan.

Para peserta ujian yang tidak membawa apa-apa, seperti aku, Lanang, dan Gadis, langsung bergerak menuju gerbang. Sementara mereka yang membawa barang, di mana peraturan pemerintah nomor sekian (buat apa mengingatnya?) yang melarang peserta ujian membawa benda apapun—termasuk alat tulis, berebutan masuk ke beberapa toko terdekat yang, khusus hari ini hingga 3 hari ke depan, membuka jasa penitipan.

Di lorong lantai satu, di mana ada ruang guru, kantor staf, kantor kepala sekolah, terpasang dua gerbang pemindai identitas dan satu terowongan pendeteksi isi pakaian kita. Dua petugas dari kepolisian berjaga di kiri-kanannya untuk masing-masing peralatan anti-kecurangan itu. Sementara dua guru (duduk) dan seorang polisi (berdiri di belakang mereka) menghadap ke monitor cahaya, di mana nanti muncul data-data peserta ujian beberapa detik setelah melewati gerbang. Sementara untuk pendeteksi isi pakaian diawasi oleh tiga oknum polisi dan seorang guru.

Lanang, Gadis, dan aku tidak mengalami kendala saat melangkahi gerbang identitas. Begitu menuju terowongan, debaran jantungku meningkat, teringat dengan benda mungil yang menempel di kancing kemejaku. Aku langsung bernapas lega ketika mereka mengizinkanku untuk jalan terus.

Kami kemudian diberi kartu yang berisikan nama, kelas asal, nomor identitas dan nomor ujian, ruang tempat kami ujian, dan bangku tempat kami memperjuangkan/mencurangi masa depan. Kami mendapat lantai yang sama. Lantai empat. Tapi kami tidak di ruang yang sama. Atau tepatnya hanya aku. Lanang dan Gadis di ruang yang sama.

Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu bertarung dengan diriku sendiri ketika mereka kesulitan menjawab soal.

"Eh, tadi kalian lihat ada tabung oksigen di lantai dua, nggak?" tanya Gadis ketika kami keluar elevator.

Lanang melihat. Aku tidak. Sejak tadi pikiranku sibuk cari cara, bagaimana memberitahukan satu fakta kecil UAN tahun ini pada mereka tanpa mereka mempertanyakannya dari mana aku mengetahuinya. Tadi saat di lantai satu ada petugas UKS yang ikut naik elevator bersama kami. Dia turun di lantai dua. Di mana tempatnya bekerja, bersama ruang bimbingan konseling, dan ruang olahraga berbagi lantai.

"Kira-kira untuk apa ya tabung-tabung itu?" tanya Gadis. Lanang ikut bertanya-tanya.

Aku, "Mungkin pihak sekolah berjaga-jaga seandainya ada yang pingsan."

Lanang diam saja, sementara Gadis berujar, "Bisa jadi."

Ruang ujianku adalah ruang kelas 11-3. Saat aku masuk, hanya ada tiga orang yang repot menyapaku. Dilihat dari ekspresi muka mereka yang ceria, tak penuh tekanan seperti yang lain, dan percayalah aku tahu kemampuan akademis mereka, tampaknya mereka sama sepertiku: sudah mendapat wangsit duluan.

Masing-masing kelas mendapatkan dua guru pengawas (dari sekolah lain) dan seorang polisi.

Bel pendek dua kali berbunyi. Perintah bagi pengawas membagikan soal, lembar jawaban, dan peralatan menjawab. Walau berada di meja masing-masing, peserta belum boleh menyentuhnya. Kalau dilanggar, peserta akan mendapatkan "hadiah" berupa pengurangan waktu pengerjaan 30 menit. Tapi kami boleh mengisi dan mengarsir nama, mata pelajaran, tanggal dan membubuhkan tanda-tangan di bawah pernyataan, yang buatku tersenyum miris, "Saya mengerjakan ujian secara jujur" di lembar jawaban.

Bel berbunyi lagi. Kali ini pendek dan berteriak sebanyak tiga kali. Tanda ujian dimulai.

Tanganku sedikit gemetar ketika memegang soal. Seraya membukanya, dalam hati aku berdoa, semoga aku mendapatkan soal yang aku ingat kunci jawabannya. Doaku terkabul! Aku lihat teman-temanku, yang aku duga membeli jasa joki juga, keceriaan tak hilang dari wajah mereka. Malahan mereka mengarsir lembar jawaban tanpa memandang ke arah soal sedikit pun.

10 menit pertama, ruang ujian masih hening. 10 menit kedua, si pengawas laki-laki berdiri, berjalan mengelilingi ruangan. Dua orang yang duduk di bangku depan dan kananku mengumpat-umpat. 10 menit ketiga, giliran si pengawas perempuan yang menggerakkan kakinya. Depan, kanan, belakang, kiri, arah jam 3 dan 5, semuanya menggerutu. Temanku di arah jam 3 mengacak-acak rambutnya hingga kusut. Temanku di arah jam 5 izin ke toilet. Dia ke toilet dikawal si polisi. 3 menit kemudian, polisi itu kembali sendiri dan langsung merenggut lembar jawaban temanku yang duduk di bangku di arah jam 5. Jelas sekali temanku itu ketahuan saat mencoba berbuat curanng. Pil pengingat di kancing kemejaku mendadak terasa berat. 10 menit berikutnya terdengar sesenggukan dan tangis tertahan. 5 menit kemudian suara tangis itu membahana disertai teriakan frustasi, "Tuhan, tolong aku. Beri aku keajaiban. Aku belum mau mati!"

Seketika, suasana menjadi gaduh. Teriakan itu mengawali teriakan serupa lainnya. Ketika si petugas polisi ikut berteriak, dengan suara datar menyuruh semuanya tenang, temanku yang duduk di bangku kolom dua dari kanan baris tiga jatuh pingsan.

Pikiranku langsung mengarah pada dua sahabatku. Semoga Lanang dan Gadis tidak terkejut saat menemukan soal-soal ujian yang menyimpang jauh dari soal-soal yang kami pelajari saat try out.

Dan itulah yang tadi hendak kuberitahukan pada Lanang dan Gadis: soal ujian tahun ini 20 kali lebih sulit dibanding tahun lalu!

Hari Ke-2 dan ke-3
Selama 2 hari, suasana ruang kelas 11-3 cukup tenang. Tidak ada ledakan tangis. Tidak ada jerit histeris. Tidak ada lagi senyum miris. Yang ada hanya udara yang dipenuhi oleh rasa optimis.

Penyebabnya mungkin karena pelajaran di hari ke-2 bersih dari hitung-hitungan, sementara hari ke-3 soal yang melibatkan angka bisa dihitung dengan jari tangan.

Hari ke-4
Seperti kata pepatah, mungkin karena aku menuruti perintah ibuku, yakni melaksanakan sarannya, termasuk menjawab salah beberapa soal—tapi masih cukup membuat namaku muncul di daftar lulus (aku sudah menghitung, rata-rata yang akan kudapatkan antara 7,3 atau 7,4, sementara target minimal tahun ini 7,1), selama empat hari berturut-turut aku beruntung: terus berjodoh dengan paket soal yang bocorannya telah terpatri di memoriku. Sehingga aku tidak memerlukan "keajaiban" pil pengingat.

Di ujian hari keempat, kami berhadapan lagi dengan pelajaran yang di dalamnya banyak hitungannya lagi. Tidak sebanyak hari pertama, tapi efeknya jauh lebih dahsyat. Di ruangku ada dua peserta pingsan. Di ruang Lanang dan Gadis ada tiga. Belum di ruang-ruang lainnya. Petugas UKS sibuk sekali hari ini. Ruang UKS yang penuh memaksa mereka mengubah koridor menjadi ruang rawat dadakan.

Isak dan jerit tangis, umpatan hinga doa, bercampur dengan peringatan guru pengawas dan polisi yang tak lagi diindahkan, jadi musik latar. Sementara peserta yang semangatnya masih berkobar, atau telah mendapat wangsit duluan, beberapa merasa (atau pura-pura) kesal karena konsentrasinya pecah, ada yang tenang-tenang saja (tetap membaca soal dan mengerjakan soal sebaik mungkin, sambil kedua tanggannya menutupi telinga).

Aku ingin membantu temanku yang duduk di kanan dan kiriku. Tapi aku teringat dengan pesan ibuku, untuk fokus pada soalku sendiri.

Oke, bukan itu saja. Sebab kadang aku membangkang perintahnya. Tapi aku lebih takut bila kami semuanya lulus.

Bila kami semua lulus, seperti yang kita semua tahu, akan diadakan ujian ulang. Dan itu sama dengan menyewa jasa joki lagi—yang tak jadi masalah seandainya aku berasal dari keluarga yang mampu. Tiap tahun harus ada yang tak lulus. Harus ada yang dieksekusi untuk mengurangi kepadatan penduduk.

Dengan terbatasnya tanah, lapangan pekerjaan, dan alasan agar kehidupan di bumi tetap berlangsung (gedung yang terlalu tinggi akan menghalangi sinar matahari sampai ke tanah, dan bila terbuat dari kaca akan meningkatkan pemanasan global), seluruh warga Nusantara sepakat untuk mengurangi jumlah penduduk. Pada awal praktiknya, pengurangan itu dilakukan dengan cara memilih secara acak. Hal yang langsung disesali banyak warga Nusantara karena yang terpilih kebanyakan adalah orang-orang terbaik Nusantara.

Lalu setelah perdebatan alot, mereka (para petinggi dan tokoh masyarakat dari semua kalangan) memutuskan yang mesti dieksekusi tiap tahun adalah anak-anak remaja. Yang masih labil, yang belum teruji kemampuannya, yang seringnya bertindak semaunya sendiri, dan seabrek pertimbangan lainnya.

Tapi saat itu diputuskan, mereka belum menemukan cara eksekusi yang tepat. Hingga seorang Menteri Urusan Pendidikan membawa informasi "bagaimana sebuah negara disebut negara maju" ke meja diskusi. Dan sejak saat itu Ujian Akhir Nasional benar-benar menjadi akhir bagi mereka yang kurang pintar—dan yang kurang lihai.

"UAN tahun ini susah banget, ya?" buka Gadis sambil menyeruput minumannya: teh tarik.

Ini ide Gadis yang mengajak kami mampir dulu ke warung sebelum pulang. Untuk mendinginkan kepala, katanya. Aku dan Lanang setuju saja. Tak baik menolak traktiran.

"Ya," jawabku. "Kalian yakin bakal lulus?"

Lanang mengangguk dengan kedua matanya tertutup. Selama tiga hari ini dia jadi lebih pendiam. Tak seperti dirinya yang biasa.

Gadis menatapku dengan pandangan yang berarti, "Kasih tahu nggak, ya?" Tapi dia lalu memutuskan memberitahuku. Dalam bisikan. Seraya memajukan badannya ke arahku. "Aku yakin lulus."

Rasa penasaran jelas langsung menghinggapiku. Tapi sebelum aku menanyakannya, dia berkata lagi, "Aku beli bocoran."

Aku sontak menatap Lanang. Menanyakan, Kamu juga? lewat sorot mata.

"Aku duit darimana?" katanya.

Gadis menatapnya penuh arti. "Kamu bisa apa tanpa aku?"

Lanang mengangkat kedua tangannya. Senyum kecil tercetak di bibirnya.

Aku memutuskan untuk memberitahu mereka juga soal rahasiaku. "Kira-kira aku bakal dapat rata-rata 7,3 atau 7,4," kataku.

"Syukurlah," kata Gadis lega. "Aku sempat cemas kamu bakal nggak lulus. Traktir—"

Perhatiannya teralihkan. Matanya terpancang pada teli di belakang punggungku. Teli sedang menyiarkan berita singkat pidato Menteri Urusan Pendidikan, Noah Musih. Suaranya yang agak serak itu memasuki gendang telingaku. Aku sama sekali tidak tertarik menontonnya.

"... memang sedikit lebih susah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan kami juga sepakat untuk menaikkan target UAN menjadi 7,5..."

Kata-katanya seolah-olah mendatangkan lubang besar di bawah kakiku. Lubang besar yang menyedotku masuk menuju kawah tak berdasar.

"Ya Tuhan!" Gadis membekap mulutnya. "Perkasa..."

"Sob..." Lanang memulai.

Aku memberi mereka isyarat untuk tidak mengatakan apa yang hendak mereka katakan. Tanpa mereka mengucapkannya, aku tahu aku bakal dieksekusi bulan depan.

Itu pun kalau aku tidak mengikuti jejak kakakku duluan.

====


P.S. Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Cerita Bulanan di Kastil Fantasi.
Share:

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^