Selasa, Juli 08, 2014

Mengurangi Jam Melamun

Salah satu kegiatan yang paling aku suka, sekaligus aku benci, adalah melamun.


Yang aku suka dari melamun: a) mendatangkan inspirasi, b) menjernihkan dan menenangkan hati serta pikiran

Yang tidak aku suka dari melamun: a) terlihat tidak melakukan apa-apa (walau di dalam pikiran sedang terjadi "badai"), b) Kadang saat terlihat tertawa ada yang nyeletuk, "Kamu kesambet ya?" atau "Ada orang gila!", c) menghabiskan waktu, d) tampak seperti seorang penyendiri, e) menghadirkan bayangan seseorang yang mustahil diraih

Tampaknya lebih banyak tidak sukanya ketimbang sukanya, ya? Tapi entah kenapa dalam satu hari aku selalu menyempatkan waktu untuk melamun. Baik disadari maupun tidak.

Poin (e) dari bagian yang tak disuka sebenarnya dulu merupakan penghuni bagian yang disuka. Namun, semenjak aku terbangun bahwa harapan yang aku rawat adalah harapan semu, aku berubah tidak menyukainya.

Tapi sebenarnya, kalau boleh jujur, dan aku rasa aku harus jujur, dari kesemua poin di atas yang paling sering jadi alasan aku melamun adalah poin (e). Itu adalah hal pertama yang selalu hinggap di benakku. Aku ketagihan membayangkannya, mereka-reka banyak adegan dengan dia jadi salah satu pelaku utamanya, tapi sekaligus membencinya karena hal-hal yang kubayangkan itu... lebih condong ke tak mungkin mewujud jadi nyata.

Sementara menyusul ketat di belakangnya adalah inspirasi.

Untuk itulah aku ingin mengurangi jam melamun. Agar harapan itu kian susut. Agar aku bisa membuka pintu lain dan pindah dari titik yang, karena aku mengizinkannya, membelengguku ini.

P.S. Seorang ahli hipnotis pernah berkata, "Orang melamun justru sulit dihipnotis, sebab pikiran mereka menyebar ke mana-mana, sementara keberhasilan proses hipnotis membutuhkan pikiran yang terfokus."

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar. Jangan spam ya ^_^